BERPEGANGLAH PADA DIDIKAN, JANGANLAH MELEPASKANNYA, PELIHARALAH DIA, KARENA DIALAH HIDUPMU...Amsal 4:13

Friday, January 23, 2009

Ketika Hotel Penuh


Oleh Tanto Yakobus

Dari tahun ke tahun. Dari Imlek ke Imlek. Sepertinya sudah mentradisi masyarakat keturunan Cina yang hendak merayakan Imlek menyempatkan diri untuk pulang kampung. Dan bila mereka mudik, keluhannya satu. Susah mendapatkan penginapan. Semua hotel penuh. Mulai hotel berbintang hingga kelas melati.

Tradisi mudik Imlek tersebut sudah berlangsung sejak lama. Bahkan sejak jaman Orde Baru—walau terjadi pelarangan terhadap aktivitas yang berbau Cina, masyarakat keturunan—yang menyebut dirinya—Tionghoa, yang berasal dari Singkawang dan Pontianak tetap merayakan Imlek di tengah keluarga mereka.
Khsusus di Singkawang, sejak pekan lalu semua kamar hotel sudah penuh dipesan calon penghuni. Mereka tidak hanya datang dari Semarang, Jakarta dan Surabaya saja, tapi warga Singkawang yang merantau di Taiwan, Hong Kong dan Singapura balik kampung merasakan Imlek bersama keluarga.
Maka tak heran, setiap Imlek di Singkawang selalu meriah. Masyarakat Tionghoa yang merantau pasti pulang kampung merayakan Imlek dan Cap Go Meh di kota kelahirannya.
Kini perayaan Imlek dan Cap Go Meh menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi para turis baik lokal maupun manca negara.
Dan kota yang menjadi tujuan mereka untuk bisa menyaksikan perayaan Imlek secara semarak dan meriah adalah Kota Singkawang. Sebab di kota Amoy itu tradisi perayaan Imlek selalu meriah dari tahun ke tahun.
Kemeriahan perayaan yang menampilkan berbagai atraksi naga, barongsai dan tatung itu bisa menyedot perhatian ribuan bahkan jutaan pasang mata.
Tapi sayang, momentum itu tidak dibarengi dengan infrastruktur pendukung, macam hotel dan berbagai bentuk penginapan lainnya.
Hampir setiap Imlek kita mendengar keluhan kurangnya fasilitas hotel itu. Hunian hotel penuh. Tidak ada tempat penginapan. Akhirnya warga dengan sukarela menyediakan rumah mereka untuk dijadikan penginapan dadakan.
Nah, bila peluang itu dikelola dengan baik, bukan saja mendatangkan keuntungan dari kunjungan wisatawan itu saja, tapi perekonomian masyarakat sekitar juga akan meningkat. Sebab laju perputaran uang di Kota Seribu Kelenteng itu semakin kencang, bersamaan dengan kencangannya tingkat kunjungan orang. Baik yang mudik Imlek maupun orang-orang yang sekedar datang menyaksikan atraksi naga, barongsai dan tatung itu.
Peluang sudah di depan mata, tinggal kita apakah bisa menangkap peluang itu atau tidak. Entahlah. Gong Xi Fat Cai.

1 komentar:

Igo said...

Banyak dapat angpaw keh ?