BERPEGANGLAH PADA DIDIKAN, JANGANLAH MELEPASKANNYA, PELIHARALAH DIA, KARENA DIALAH HIDUPMU...Amsal 4:13

Monday, October 29, 2007

Dayak Kalbar-Kalteng Ketinggalan Pengkaderan


Oleh: Tanto Yakobus

Suasana hiruk pikuk pengunjung resto tidak menyurutkan semangat kekeluargaan dalam acara temu kangen Kapolda Kalteng Brigjen Pol. Drs. Dinar, SH, MBA dengan pengurus Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalimantan Barat tadi malam di resto Gajah Mada Jalan Gajah Mada Pontianak.

“Sudah 30 tahun saya meniti karier sebagai polisi dan baru sekarang bisa bertemu dengan abang, kakak dan para senior di Pontianak ini. Acara ini tidak ada maksud apa-apa, hanya silaturahmi dan temu kangen saja dengan para senior,” kata Dinar dalam sambutannya di hadapan belasan pemuka masyarakat Dayak.
Sebelumnya, Ketua DAD Provinsi Kalbar, Thadeus Yus, SH, MPH mengatakan, acara ini adalah murni keinginan Dinar yang kebetulan berlibur ke kampung halamannya di Anik, Darit Kabupaten Landak.
“Sebelum bertolak ke Jakarta dan selanjutnya ke Kalteng besok, beliau menghubungi saya dan menyampaikan niat ingin bertemu para tetua dan tokoh-tokoh masyarakat Dayak yang ada di Pontianak. Dan saya fasilitasi dengan pertemuan malam ini,” jelas Thadeus.
Thadeus juga mengatakan rasa bangganya, karena Brigjen Dinar adalah orang Dayak yang pertama menjadi Kapolda. “Mudah-mudahan beliau kelak bisa pindah menjadi Kapolda Kalbar dan malam ini saya minta izin, kami dari DAD akan menghadap Kapolri meminta supaya pak Dinar menjadi Kapolda Kalbar,” kata Thadeus disambut tepuk tangan para tokoh diantaranya, Pdt. Barnabas Simin, SM Kaphat, Rahmat Sahudin, Alamsyah HB dan lain-lain.
Di sisi lain, Dinar mengatakan, dulu susah sekali mencari senior, tidak seperti sekarang ini. “Kita sudah mulai muncul di mana-mana. Ada yang jadi Gubernur (Kalteng), Bupati, politisi dan akademisi. Walau demikian, kita masih jauh ketinggalan soal pengkaderan,” jelas Dinar.
Dinar lalu bernostalgia ketika tahun 1974 setelah dirinya selesai dari SMAN 1 Pontianak, dirinya satu-satunya dari Kalimantan yang lulus Akpol. “Saya berjuang sendirian dari bawah. Hidup serba susah dan tak jarang tinggal di emperan tokoh di Jalan Tanjungpura itu,” kenangnya.
Belajar dari pengalamannya itulah, Dinar berpesan kepada siapa pun orang Dayak yang menduduki jabatan strategis, baik tentara, polisi, gubernur atau bupati/walikota, agar menyiapkan kader untuk menjadi pemimpin di masa depan. “Belum bisa memberi bantuan materi, dorongan moril sudah cukup. Tidak ada orang yang memperhatikan kita kalau tidak dimulai dari kita (Dayak, red) sendiri yang harus mempersiapkan pengkaderan itu,” tegasnya.
Dinar dalam sambutan yang dibawanya dengan gaya santai itu lebih banyak menceritakan perjuangannya semasa kecil di Pontianak. Usia 2 tahun ibunda tercintanya meninggal dunia, tamat SD ayahandanya lagi yang meninggal. Jadilah Dinar sebatangkara. Ia pun hijrah ke Pontianak dan menumpang dengan orang Padang—yang selanjutnya menjadi orangtua angkatnya.
Sambil bekerja sebagi kuli di pasar, ia sekolah di SMPN 1 Pontianak. Selanjutnya ia meneruskan ke SMAN1. “Waktu itu SPP Rp 180 ribu. Saya tidak mampu bayar, alhasil disubsidi oleh mereka yang mampu dan saya tetap sekolah,” katanya.
Tamat SMA, ia tes di Akpol. Dari Kalbar dikirim 5 orang, hanya 1 orang yang diterima. “Saya satu-satunya yang diterima dan Dayak lagi,” katanya bangga.
Lebih lanjut Dinar menceritakan pengalamannya memimpin Polda Kalteng. Ia bukan sektarian, tapi demi pemerataan dan maju bersama membangun bangsa ini, tak salah memberi kesempatan kepada putra-putri terbaik daerah untuk menjadi pemimpin di daerahnya.
“Dari 14 Polres di Kalteng, cari 4 Dayak saja susah. Pengalaman itu saya membuat kebijakan setiap penerimaan 80 persen putra daerah Kalteng,” jelasnya.
Dalam pengalaman itu pula Dinar minta di Kalbar supaya menyiapkan kader sejak dini. “Sejak SMA siapkan kader terbaik untuk menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing,” ingatnya.
“Sedih juga lebih setengah abad kita merdeka, baru saya orang Dayak Kalbar pertama yang menjadi Kapolda,” ujarnya seraya mengatakan lima tahun lagi dirinya bakal pensiun dan belum ada lagi Dayak lain yang mengikuti jejaknya.
Namun begitu, Dinar cukup bangga dengan generasi penerusnya. “Saat ini, anak bungsu saya Akpol dan satunya lagi menantu saya juga Akpol,” kata pria berwajah “pasar” yang pernah menjadi Kapolres Bukit Tinggi itu.
Kebanggaan juga dikemukakan Pdt. Barnabas Simin. “Pak Dinar patut menjadi teladan para generasi muda kita. Belajarlah dari pengalamannya sampai mampu menjadi Kapolda pertama dari Kalangan Dayak Kalbar. Bukan hanya kita Dayak, dari sahabat kita Melayu Kalbar juga mengalami hal sama, soal pengkaderan itu. Setahu saya belum ada Melayu dari Kalbar yang menjadi Kapolda,” timpal Dinar.
“Jadi ke depan, marilah kita bersama-sama mempersiapkan kader kita sejak dini, sesuai dengan bidang masing-masing,” kata Dinar lagi. □

Baca Selengkapnya..

Semua Bergerak dalam Satu Hati


Oleh: Tanto Yakobus

Dalam setiap kesempatannya tampil di depan publik, ia selalu menyuarakan persatuan dan demokrasi untuk kesejahteraan rakyat Kalimantan Barat. Untuk menuju impian rakyat yang sejahtera itu, maka “bersatu kita menang” yang disuarakan dari hati kehati (sehati) adalah jalannya.

Itulah yang dilakukan kandidat Gubernur Kalimantan Barat nomor urut 4, Drs. Cornelis, MH saat berkeliling daerah Kalimantan Barat—dari kampung masuk kampung dan ke kampung lain lagi untuk mensosialisasikan diri menghadapi “pertarungan” politik pada tanggal 15 Nopember 2007 mendatang.
Selain menyuarakan persatuan dan demokrasi, Cornelis berupaya merangkul semua etnis, agama dan kelompok kepentingan yang ada di Kalbar ini. Semua perbedaan itu dirangkul menjadi satu. Ia paham betul bahwa persatuan itu adalah pilar demokrasi untuk mensejahterakan rakyatnya.
Cornelis yang maju berpasangan dengan Christiandy Sanjaya itu dalam setiap kesempatan mengunjungi daerah, termasuk kawasan perbatasan selalui mengingatkan masyarakatnya untuk setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Bagi saya, NKRI itu harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kita wajib menjaganya,” tegasnya dalam setiap orasinya.
Lelaki yang punya pendirian dan bicaranya tegas dan lugas ini setelah ditetapkan sebagai calon Gubernur Kalbar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Kalbar beberapa waktu lalu, rajin mensosialisasikan dirinya ke daerah-daerah.
Bahkan menjelang pelaksanaan kampanye, pasangan yang menumpang perahu PDI Perjuangan ini telah mempunyai grand strategi politis yand dideklarasikan di Pontianak Convention Center (PCC). Grand strategi itu bernama “Tim Thung Sim” atau Sehati.
Sehati adalah jawaban atas sikap diam Cornelis yang selama ini seakan tidak “bergerak” setelah deklarasi politik pasangan mereka di depan halaman Korem 121 Alambhana Wanawai, 27 Agustus 2007 lalu.
“Saya berharap masyarakat jangan terkecoh, hanya memandang calon dari segi agama bukan kredibilitas”, “kita maju tidak didukung oleh partai lain seperti calon gubernur lainnya. Oleh karena itu mari kita bersatu untuk menang”, “Mari kita bersama-sama memajukan Kalbar yang akan datang dengan revolusi, yaitu memilih pemimpin yang peduli dengan kemajuan Kalbar,” tegasnya di hadapan sekitar 10 ribu pendukungnya kala itu.
Sejak resmi sebagai calon Gubernur Kalbar, Cornelis dan pasangannya, Christiandy Sanjaya, rating politis sesuai survey lembaga tertentu cendrung naik, bahkan kini sudah melampaui 27 persen.
Kecendrungan positif tersebut karena Cornelis mulai mendapat simpati—sebagai tokoh politik yang berjiwa nasionalis. Jadi benarlah secara politis bukan lagi persoalan keyakinan “agama” bukanlah masalah “kombinasi etnisitas” atau masalah “sectarian”, melainkan karena kredibilitas figure yang nasionalis itu.
Turiman Fachturahman Nur, Pengamat Psikologi Hukum dan Hukum Tata Negara Universitas Tanjungpura (UNTAN) menyatakan, bahwa simpul-simpul politik di masyarakat belum sinergis dengan “kecepatan membaca secara cerdas” seperti apa yang dimaui UU No. 32 Tahun 2004 dan PP No. 6 Tahun 2005 sebagaimana telah diubah dengan PP No. 17 Tahun 2006, bahwa proses Pilkada bertujuan menghasilkan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang mempunyai peran yang sangat strategis dalam rangka pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan, pemerataan, kesejahteraan masyarakat, memelihara hubungan yang serasi antara Pemerintah dan Daerah serta antar Daerah untuk menjaga keutuhan NKRI
“Maka kita butuh figure Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang mampu mengembangkan inovasi, berwawasan ke depan dan siap melakukan perubahan ke arah yang lebih baik,” tegas Turiman yang rajin menulis opini di Borneo Tribune.
Kata Turiman, mengapa PP No. 6 Tahun 2005 menggunakan istilah “Figur Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah” ini bermakna, bahwa eliminasi politik Pilkada saat ini masih memilih figure KD, WKD, sedangkan “budaya politik” atau “alur berpikir politik” karakteristik sebagian elit politik Kalbar masih terjebak dengan “psikologis etnisitas”, sehingga jika rating politis dari beberapa pasangan calon menurun secara signifikan, maka salahsatu faktor politisnya adalah “alur pikir atau pola pikir politik” yang direkonstruksi PP No. 6 Tahun 2005 jo UU No. 32 Tahun 2004 berbanding lurus dengan kecepatan membaca secara cerdas “pendulum politik” dari pasangan yang tampil beda, yakni seperti mengajak masyarakat membuat revolusi pola pikir untuk merubah keadaan ke arah yang lebih baik.
Sekarang kata Turiman, bandingkan dengan cerdas, pasangan Cornelis-Cristiandy “BERSATU KITA MENANG” ini bukanlah sebuah program tetapi misi yang visinya belum jelas secara politis, ada kecenderungan “dipassword” dahulu dan baru terjawab di PCC misi itu ternyata dikemas dengan grand strategi politis, “Sehati” yang diberi nama “Tim Thung Sim” dan Suhu Ong turut serta di dalamnya. Jadi “bersatu kita menang” secara politis dikemas dengan “sehati” inilah bahasa ruh yang cerdas atau semua bergerak dalam satu hati dalam pencapaian kemenangan, jadi grand strategi politisnya yang berbasis pada “kekuatan kecerdasan emosional” dan efeknya “like and dislike” suka atau tidak masyarakat Kalbar diajak untuk “thawaf politik”, walaupun sendirian atau bersama-sama, karena pasangan ini dianggap lebih mudah menggerakan “satu pesawat” politik yaitu PDI Perjuangan untuk mencapai tujuan kursi Gubernur Kalbar.□

Baca Selengkapnya..

Kado Manis Pemkab Landak


Oleh: Tanto Yakobus

Kolaborasi bunyi gong dan rebana mengiringi tarian Dayak dan Melayu menyambut kedatangan Bupati Landak Drs. Cornelis, MH dan rombongan ke tempat upacara bendera.

Upacara bendera menandakan rangkaian awal peresmian gedung kantor Bupati Landak yang berdiri megah di kilometer 2 Ngabang.
Acara penyambutan berakhir dengan taburan beras kuning dari penari yang mengenakan baju adat Melayu.
Cornelis menjadi inspektur upacara bendera yang dikomandani Camat Ngabang, Wibersono. L. Djait, S.Sos, Sabtu (27/10) pagi kemarin.
Momen peresmian kantor bupati itu menarik perhatian masyarakat umum dan ada juga pejabat sipil maupun TNI dan Polri. Mereka semua ingin melihat peresmian gedung kantor bupati. Bahkan mengabadikan diri mereka dengan kamera handphone.
Suasana tambah semarak dengan umbul-umbul Pemkab yang memenuhi pinggir lapangan upacara. Beberapa dipasang di pinggir Jalan Raya Ngabang - Pontianak. Selain umbul-umbul, tampak ucapan selamat yang berasal dari berbagai kalangan berjejer di sepanjang halaman kantor.
Agar acara seremonial berjalan dengan baik, pengamanan terlihat dilakukan oleh aparat Kepolisian dari Resort Landak.
Usai upacara bendera, dilanjutkan dengan acara peresmian dan penandatanganan prasasti kantor bupati dan dua kantor lainnya.
Frederika Cornelis terlihat mengunting pita untuk menandakan langkah untuk masuk ke gedung tersebut. Lalu pelepasan balon.
Gedung baru pun diberkati oleh seorang Imam Katolik dan secara adat baik Dayak maupun Melayu.
Selain peresmian gedung, juga digelar upacara Hari Ulang Tahun Pemkab Landak ke-8. Untuk memeriahkan acara, digelar pameran pembangunan dan hiburan oleh artis ibukota, seperti Trio Macan dan Ajeng Mamamia Indosiar.
“Hiburan dan pameran pembangunan yang diikuti 30 stand ini berlangsung selama tiga hari,” jelas Ir Jakius Sinyor, Kepala Dinas PU Pemkab Landak.□

Baca Selengkapnya..

Kantor Bupati Landak, Termegah di Kalbar


Oleh: Tanto Yakobus

Mobil kijang Toyota meluncur pelan memasuki halaman luas menuju arah parkir. Sejurus kemudian, setelah memastikan posisi parkir, persis menghadap sebuah gedung megah di tengah “hutan” yang jauh dari suasana metropolitan.

Gedung megah itu adalah gedung kantor Bupati Landak. Saya sempat terpana memandang megahnya bangunan dengan arsitektur kombinasi Dayak tradisional dan modern untuk beberapa saat.
Sementara di halaman depan puluhan pelajar SMA melakukan latihan penggerak bendera. Di depannya lagi, belasan pekerja memasang tenda berwarna biru yang panjangnya kurang lebih 100 meter—yang posisinya sejajar dengan gedung. Tenda itu dipersiapkan untuk acara seremonil keesokan harinya.
Di posisi agak luar arah ke Pontianak berdiri tenda kokoh lengkap dengan panggungnya, kira-kira berukuran delapan meter persegi. Lalu di bawah gedung atau lantai dasar ratusan pekerja tengah menyelesaikan pembuatan stand-stand yang sudah dipesan oleh instansi pemerintah dan swasta sebanyak 30 buah.
“Ini stand untuk pameran pembangunan yang berlangsung selama tiga hari bertepatan dengan momen peresmian kantor Bupati Landak,” jelas Ir Jakius Sinyor, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pemkab Landak kepada saya, Arturio Oktavianus, Lukas dan Nur Iskandar, Jumat (26/10) kemarin.
Hiruk pikuk ratusan siswa dan puluhan pekerja baik tenda maupun stand adalah untuk persiapan peresmian kantor Bupati Landak yang akan dilaksanakan hari ini. “Ini gladiresik untuk acara besok (hari ini, red),” ujar Jakius Sinyor yang akrab disapa pak Jek.
Gladiresik dan finishing pekerjaan hari itu adalah untuk persiapan peresmian kantor yang akan diresmikan oleh Bupati Landak, Drs Cornelis MH, Sabtu (27/10) besok (pagi ini, red).
Sambil memimpin anakbuahnya melaksanakan gladiresik, pak Jek panjang lebar menceritakan kepada saya bagaimana awal dan proses pembangunan kantor yang megah lengkap dengan lapangan helikopter itu.
Persiapan panitia tampak matang dengan berbagai kegiatan. Pun demikian dengan dekorasi mulai dari depan petugas sibuk mengatur dan menanam bunga hingga ke ruangan utama (aula).
Di depan pintu utama terdapat peraga sesajian yang dipersiapkan salah seorang pemangku adat untuk ritual adat Dayak Kayanatn. Adat ini untuk meminta restu dan keselamatan menempati gedung baru maupun berkat bagi mereka yang akan menghuninya.
“Gedung kantor Bupati Landak ini dibangun selama 4 tahun dimulai tahun 2003 dan baru selesai sekarang menggunaka dana multy years,” jelasnya.
Menurut pak Jek, berdirinya gedung ini tidak terlepas dari keinginan Bupati Landak, Drs Cornelis, MH—yang sekarang menjadi calon Gubernur Kalbar yang akan bertarung 15 Nopember mendatang.
“Seperti mimpi bila mengingat awal beliau (pak Cornelis) merencanakan pembangunan gedung yang megah ini dan sekarang benar-benar menjadi kenyataan,” cerita pak Jek.
Saatnyalah Kabupaten Landak memiliki kantor yang respresentatif, dimana secara administratif, kabupaten ini berada di tengah-tengah kabupaten lain seperti Kabupaten Bengkayang di sebelah utara, Sanggau di sebelah timur dan Kabupaten Pontianak berada di sebelah barat dan selatan.
Jadi untuk melayani 10 kecamatan dengan luas 9909,10 kilometer atau 6,7 persen dari luas provinsi Kalimantan Barat dengan jumlah penduduk 282.026 jiwa. “Dengan adanya gedung yang memadai, maka memudahkan pelayanan terpadu kepada masyarakat dan ini juga sesuai dengan tuntutan kebutuhan Pemkab Landak itu sendiri,” kata Jakius.
Proyek multy years ini dibangun oleh kontraktor PT. Panggu Arta Dipta dan konsultan perencana PT. Sarana Aneka Bangunan.
Dengan berdirinya bangunan ini bertujuan memproleh manfaat yang optimal, pengolahan struktur bangunan kantor Bupati Landak melalui pendekatan rancangan yang teliti dan detail pada aspek disain struktur yang kreatif, inovatif, ekspresif dan estetis.
Sedangkan sasarannya adalah mendapatkan system bangunan yang menciptakan komposisi struktur secara nyata dan estetis dalam ruang-ruang secara optimal. Memperoleh bentuk, ukuran, bahan,warna dan tata letak komponen struktur ruang yang tepat serta mampu menciptakan tampilan bangunan Dayak yang khas dan penempatan ruang-ruang secara optimal.
Metode yang dilakukan untuk mewujudkan bangunan yang ideal, maka analisis permasalahan dari skala mikro ke skala makro, yakni analisis makro untuk menunjang pembentukan ruang yang berkaitan dengan fungsi dan kegiatan yang diarahkan pada desain arsitektur Dayak Kalbar.
Sedangkan analisis mikro berpusat pada analisis filosofis bangunan sebagai bangunan yang memiliki makna simbolik.

Bentuk bangunan
Bentuk bangunan secara keseluruhan yaitu gabungan antara elemen yang membentuk bangunan seperti pintu, jendela, atap, tangga (lif) dan lain-lain sebagai komponen arsitektural bangunan yang ditunjang dengan suprasegmen arsitektural seperti proporsi, irama, warna, tekstur dan skala yang menggabungkan model tradisional dan modern.
Sedangkan regionalisme arsitektur tradisional yaitu peleburan atau penyatuan antara kebudayaan tradisional yang dikombinasikan dengan kebudayaan dan teknologi modern yang sedang berkembang saat ini.
“Namun secara umum bentuk bangunan adalah arsitektur tradisional Dayak,” ungkap Jakius.
Bila dilihat dari bentuknya, struktur bangunan juga menunjang struktur organisasi teknis kepegawaian (SOTK), yakni menyesuaikan dengan komposisi dan jumlah pegawai Sekda Pemkab Landak.
Fasilitas dan ruangan sudah mencerminkan kebutuhan wadah dan kegiatan pokok dan rutin, lalu memudahkan jenis pelayanan masyarakat secara langsung yang mengarah kepada efektivitas kerja di tiap tingkatan jabatan, serta menunjang kegiatan kerja administrasi perkantoran.
Lebih lanjut Jakius menjelaskan, kantor Bupati Landak mengemban tugas sebagai penyelenggara pemerintahan tertinggi di wilayah Kabupaten Landak atau dengan kata lain sebagai wadah kegiatan masyarakat dan unsure pemerintahan dalam menjalankan kebijakan-kebijakan pembangunan yang sudah dibuat.
Untuk itu, maka ruangan yang dibuat sesuai dengan aktivitas pemakainya, yang dilengkapi dengan peralatan penunjang yang standar.
Disamping itu, tata ruang disusun sedemikian rupa yang mengambarkan hubungan kegiatan untuk memudahkan pencapaian kegiatan yang berorientasi kepada kegiatan itu sendiri (privacy). Karena itu, maka modul ruang mengacu kepada standar ukuran atau dimensi ruang dan struktur yang masih dilengkapi dengan pencahayaan alami dan buatan serta penghawaan alami dan buatan.
Bangunan kantor yang memiliki luas kurang lebih 11.300 meter persegi itu memiliki empat lantai yakni lantai dasar, lantai satu, lantai dua dan lantai tiga. Di lantai dua ada satu aula besar dan setiap ruang assisten ada ruang rapat.
Pekerjaannya dilaksanakan selama 4 tahun dengan total dana sebesar Rp 38,7 Miliar. Dengan rincian tahun pertama (2003) Rp 5,54 Miliar, tahun dua (2004) Rp 17 Miliar, tahun ketiga (2005) Rp 10,34 Miliar dan tahun keempat (2006) Rp 5,83 Miliar.
“Dalam perjalanannya ada perubahan dan penambahan seperti lif dan jenis bahan yang digunakan dan itu menyebabkan biaya bertamah,” jelasnya pria ramah ini seraya menambahkan dana pembangunan bersumber dari APBD Kabupaten Landak, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khsusus (DAK).
Untuk meramaikan acara peresmian, panitia mengabungkan peresmikan kantor Bupati Landak dengan hari ulang tahun Pemkab Landak serta peresmian beberapa kantor dinas di lingkungan Pemkab Landak.
“Acara HUT Pemkab ke-8 diisi dengan pameran pembangunan bertempat di lantai dasar Kantor Bupati Landak, lalui hiburan rakyat dengan mendatangkan artis ibukota seperti Tri Macam yang ngetop dengan kucing garongnya dan artis jebolan mamamia Indosiar selama tiga malam berturut-turut,” jelas Jakius.□

Baca Selengkapnya..

Sunday, October 21, 2007

Merancang Kota Modern


Oleh: Tanto Yakobus

Dua periode memimpin Kota Pontianak, tak cukup bagi Walikota dr Buchary A Rahman untuk mewujudkan visi misinya menjadikan Kota Pontianak sebagai kota jasa dan perdagangan yang bertaraf internasional. Namun untuk menuju ke arah kota modern tersebut, dalam buku updating profil Kota Pontianak, jelas tergambar rencana kota modern tersebut.

Misalnya, dalam menata kawasan jasa perkantoran, akan kaya dengan aktivitas jasa seperti; Jasa keuangan (money changer, penggadaian dan lembaga keuangan bukan bank lainnya). Jasa konsultan (konsultan arsitek, hukum manajemen, pengembangan wilayah, dan lain-lain).
Jasa wisata (travel biro, pusat informasi kepariwisataan, toko cindera mata/ souvenir dan lain -lain). Jasa perkantoran sewa (rental office) dan aktivitas lainnya yang terkait dengan jasa perkantoran (seperti rumah tempat tinggal, hiburan ruang terbuka, taman dan lain-lain).
Lokasi aktivitas jasa perkantoran menyebar di beberapa wilayah kota, antara lain di koridor Jalan Komodor Yos Soedarso, Jalan Teuku Umar, Jalan Gusti Sulung Lelanang, Jalan Sultan Abdurrahman, dan Jalan Jendral A. Yani. Secara keseluruhan luas lahan yang dialokasikan untuk pengembangan kawasan jasa perkantoran hingga 2012 nanti mencapai 0,45 % (48,65 ha) dari luas Kota Pontianak.

Perkantoran pemerintah
Kawasan perkantoran pemerintah adalah kawasan yang sebagian besar arealnya dimanfaatkan untuk aktivitas perkantoran pemerintah, baik pemerintah kota maupun pemerintah provinsi. Keberadaan kawasan ini harus ditunjang oleh berbagai fasilitas pendukung antara lain seperti masjid, pertokoan, perbankan, perkantoran swasta, perbankan, restoran, pompa bensin dan taman. Karena itu alokasi pemanfaatan ruang untuk kawasan ini adalah seluas 127,81 ha, atau sekitar 1,19 % dari luas Kota Pontianak.
Pengembangan kawasan perkantoran pemerintah dialokasikan sepanjang koridor Jalan Sutan Syahrir, Jalan Jendral A Yani, dan Jalan Letjen Sutoyo. Aktivitas lain yang berada di jalan ini adalah gedung olahraga dan beberapa gedung perguruan tinggi, serta terdapat pula kelompok areal permukiman yang telah tertata dengan baik sehingga keberadaannya tetap dipertahankan.
Sedangkan untuk perkantoran pemerintah kota tetap dipertahankan di lokasi sekarang yaitu areal segitiga Jalan Rahadi Usman, Jalan Sudirman dan jalan Zainuddin, dengan penataan kembali terhadap bangunan-bangunan yang ada. Alokasi kawasan pemerintahan yang baru direncanakan akan dikembangkan pula di wilayah Kecamatan Pontianak Utara, yaitu di jalan Budi Utomo. Rencana Penyebaran Kegiatan Pada Kawasan perkantoran Pemerintah di Koridor Jalan Jenderal A. Yani
Alokasi lahan untuk perkantoran militer di Kota Pontianak adalah seluas 9,80 ha, atau hanya 0,09 % dari luas Kota Pontianak. Perkantoran militer tersebut antara lain tersebar di Jalan Rahadi Usman dan Jalan Gusti Johan Idrus.

Permukiman terpadu
Kawasan permukiman terpadu adalah kawasan yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas sosial dan fasilitas umum. Selain itu, tidak tertutup kemungkinan di dalam kawasan pemukiman terpadu berkembang unit rumah dengan fungsi ganda, seperti ruko (rumah toko), rukan (rumah kantor), ataupun rumah yang memiliki aktivitas memproduksi barang (home industry). Perkembangan luas lahan untuk kawasan permukiman di Kota Pontianak diperkirakan akan mencapai angka 54,41% pada tahun 2012, atau sekitar 5.866,27 ha.
Pengalokasian kawasan permukiman terpadu menurut kepadatan penduduknya relatif tinggi dialokasikan disebagian wilayah Kecamatan Pontianak Barat, kecamatan Pontianak Kota, dan Kecamatan Pontianak Timur, khususnya dikawasan yang saat ini telah terbangun. Sedangkan untuk kepadatan penduduk rendah sampai sedang dialokasikan di wilayah kecamatan Pontianak Selatan dan Kecamatan Pontianak Utara. Untuk wilayah – wilayah di Kecamatan Pontianak Barat, Kecamatan Pontianak Kota dan Kecamatan Pontianak Timur yang kepadatan penduduknya yang saat ini masih relatif rendah, pengembangan kawasan pemukiman terpadu di wilayah tersebut diarahkan untuk tingkat kependudukan sedang.
Di dalam rencana alokasi pemanfaatan ruang Kota Pontianak tahun 2002-2012, aktivitas yang dapat berkembang di kawasan jasa perdagangan adalah perdagangan berskala lokal, regional, dan internasional baik dalam bentuk pasar, ruko, mal dan supermarket. Aktivitas lainnya seperti tempat hiburan, hotel dan ruang terbuka.
Rencana alokasi lahan untuk kawasan jasa perdagangan adalah menyebar di seluruh wilayah kota, dimana luasnya diperkirakan mencapai 4,55% (491,00 ha) dari luas Kota Pontianak. Saat ini, kawasan jasa perdagangan sudah berkembang di pusat kota (Kecamatan Pontianak Barat, Kecamatan Pontianak Kota, dan Kecamatan Pontianak Selatan). Tepatnya di sepanjang koridor Jalan Jendral Sudirman, Jalan Diponegoro, Jalan Gusti Sulung Lelanang, Jalan Patimura, Jalan Tanjungpura, Jalan Gajahmada, hingga Jalan Pahlawan. Sedangkan Jasa Perdagangan lainnya yang menyatu dengan pusat kota di atas, diantaranya terdapat di jalan koridor Pak Kasih, Jalan Komyos Soedarso, Jalan Hasanuddin, dan Jalan Imam Bonjol. Sementara itu, di wilayah Kecamatan Pontianak Utara, kawasan jasa perdagangan terkonsentrasi di koridor Jalan Gusti Situt Mahmud dan sekitarnya.□

Baca Selengkapnya..

Tata Ruang Kota Pontianak

MENUJU KOTA INTERNASIONAL


Oleh: Tanto Yakobus

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK) Pontianak tahun 2002-2012 sebagaimana terdapat dalam buku updating profil Kota Pontianak, terdapat perubahan mendasar terhadap struktur tata ruang pada RUTRK Kota Pontianak Tahun 1994-2004.

Beberapa perubahan tersebut antara lain; Kawasan pusat kota menempati lokasi yang ada saat ini, yaitu sebagian wilayah Kecamatan Pontianak Barat, dan Pontianak Selatan dalam RTRWK Pontianak 2001-2011, kawasan pusat kota diperluas ke arah utara dan timur dari pusat kota yang ada saat ini, sehingga nantinya pusat kota mencakup lima wilayah kecamatan, dimana semua kecamatan memiliki akses yang merata ke pusat kota.
Pada kawasan pusat kota ini akan dijadikan cikal bakal pengembangan lebih lanjut dari konsep Water Front City (WFC), dimana pada masa mendatang diharapkan pengembangan WFC semakin melebar dari kawasan pusat kota ke arah barat maupun timur.
Kawasan wisata (khususnya di Kecamatan Pontianak Utara) lebih dikembangkan lagi, dengan lebih menonjolkan keunikan wilayah yang dilalui garis Khatulistiwa.
Lokasi pengembangan kawasan wisata Khatulistiwa diarahkan pada wilayah yang tepat dilalui garis lintang 00 0’ 0” di sebelah Timur Laut dari lokasi Tugu Khatulistiwa sekarang ini.
Untuk mewujudkan mimpi tersebut, Walikota Pontianak, dr Buchary A Rahman dan Wakilnya Sutarmidji, akan menjadikan kawasan tugu Khatulistiwa beragam objek wisata, seperti:
Lapangan golf, dengan keunikan dapat memukul bola dari Belahan Bumi Bagian Utara ke Belahan Bumi Bagian Selatan, atau sebaliknya.
Boulevard yang di bagian tengahnya (yang dapat dilalui garis Khatulistiwa) dipergunakan untuk pepohonan / jalur hijau. Kawasan pusat olahraga (sport centre). Kawasan rekreasi yang dilengkapi dengan tempat penjualan makanan dan cindera mata khas Kota Pontianak.

Pemanfaatan ruang
Secara garis besar, alokasi pemanfaatan ruang yang dituangkan dalam RTRW Kota Pontianak tahun 2002-2012, sebagian besar diperuntukan untuk kawasan permukiman, dimana pada tahun 2012 nanti diperkirakan mencapai 54,41% (5.866,27ha) dari total luas lahan yang dimiliki Kota Pontianak saat ini. Setelah itu diikuti oleh kawasan konservasi (pelestarian alam) sekitar 12,49% (1.347,16 ha), kawasan sentara agribisnis sebesar 7,42% (800 ha), sempadan jalan 3,28 % (353,89ha) dan kawasan jasa perdagangan seluas 4,55 % (491,00 ha).
Pusat kota yang rencananya terletakan di percabangan sungai Kapuas, sungai Kapuas Kecil, dan sungai Landak. Sehingga kawasan ini akan membangkitkan perjalanan yang cukup tinggi. Untuk itu diperlukan jaringan jalan outer ring road yang berfungsi sebagai arteleri primer di lingkar paling luar kota.
Kawasan pusat kota sendiri akan dikelilingi oleh jaringan jalan inner ring road untuk mempercepat perjalanan dari satu sisi kesisi lainnya tanpa harus melalui kemacetan kota hirarki jalan ini adalah sebagai jalan alteri skunder.
Rencana lokasi pemanfaatan ruang pada prinsipnya merupakan perwujudan dari upaya pemanfaatan sumber daya alam secara optimal di suatu wilayah melalui pemanfaatan yang diyakini dapat memberikan suatu proses pembangunan yang berkesinambungan (sustainable development).

Kependudukan
Ada beberapa kelurahan memiliki kepadatan penduduk yang tinggi (seperti Kelurahan Tanjung Hilir), dan ada beberapa kelurahan mempunyai kepadatan penduduk yang tidak termasuk tinggi, namun lokasinya berada di dalam dan di sekitar cagar budaya maupun kawasan yang akan dikembangkan sebagai Water Front City.
Dalam rancangan penyebaran penduduk tersebut, pertumbuhan penduduk hingga tahun 2005 tetap sesuai dengan hasil proyeksi. Untuk mencapai kepadatan penduduk yang tidak mencolok pada tahun 2011 serta sekaligus untuk mengantisipasi pengembangan Kota Pontianak yang diarahkan menjadi Kota Internasional, maka mulai tahun 2005 hingga 2011 pertumbuhan penduduk untuk beberapa kelurahan (seperti Kelurahan Tanjung Hilir, Mariana, Benua Melayu Laut, Tambelan Sampit, Tanjung Hulu, Darat Sekip, dan Tengah) diarahkan ke kelurahan–kelurahan lain yang lebih rendah kepadatannya (seperti Pal Lima, Saigon, Parit Mayor, Batu Layang, Siantan Hilir, Bangka Belitung, Siantan Tengah, dan Siantan Hulu).


Baca Selengkapnya..

Saturday, October 20, 2007

Saat Sang Saka tak lagi Berkibar


Oleh: Tanto Yakobus
Bila dibanding dengan daerah lain di bidang perfilman, Kalimantan Barat memang belum ada apa-apanya. Tapi di ajang kompetisi film dokumenter nasional, Kalbar boleh berbangga diri, sebab sudah dua tahun berturut-turut menjadi finalis.

Tahun 2006 lalu, para pemirsa televisi di Republik ini terkesima saat menyaksikan cerita tentang kehidupan dokter wanita muda (dr. Diana Bancin) yang bertugas di Pulau Maya–Karimata Kabupaten Ketapang (sekarang Kabupaten Kayung Utara). Setelah 9 tahun pulau itu tidak pernah ada dokter. Film yang disutradarai Deni Sofyan dan Lia Syafitri, dengan judul film “Amtenar–Sahaja Jasa Yang Terabaikan” berhasil masuk final.
Tahun 2007 ini, Kalbar kembali masuk final dengan film dokumenter yang berjudul “Saat Sang Saka Tak Lagi Berkibar”. Film tersebut garapan sutradara, P.S Riyanto Doloksaribu dan Niken Tia Tantina yang mengangkat cerita tentang perjuangan Katarina dalam mempertahankan perekonomian keluarganya dengan menjadi TKW di Malaysia, dan kondisi keluarga Martinus Murdin (Kepala Dusun) mewakili kondisi masyarakat di daerah terpencil perbatasan Indonesia-Malaysia.
EADC (Eagle Award Documentary Competition) adalah even kompetisi pembuatan film dokumenter pemula untuk anak muda Indonesia yang diselenggarakan oleh Metro TV bekerjasama dengan Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia (YMMFI). Kompetisi ini sudah diselenggarakan sebanyak tiga kali sejak tahun 2005, diadakan setiap tahun bertujuan untuk mendidik generasi muda Indonesia yang mempunyai ketertarikan dan potensi .
Tema yang diangkat tahun ini adalah : Hitam Putih Indonesiaku, untuk mengungkapkan cerita tentang perjuangan menghadapi masalah kemiskinan dilihat dari perspektif pendidikan dan kesehatan. Dengan tema ini, diharapkan pembuat film mampu mengangkat cerita tentang kemiskinan yang dapat memberikan inspirasi untuk mengangkat bangsa dan Negara Indonesia ke tingkat kehidupan yang lebih baik.
Kompetisi ini memperebutkan 3 kategori, yaitu : Film Terbaik (penjurian), Film dengan Ide Cerita Terbaik (penjurian), dan Favorit Penonton (polling SMS).
Proses terbentuknya film
Dalam kompetisi ini, yang dilombakan adalah ide cerita yang diangkat oleh peserta kompetisi. Peserta berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Setelah melalui penyisihan administrasi, dewan juri awalnya menetapkan 20 peserta dari 290 pendaftar yang diseleksi melalui proses wawancara via telepon, yang kemudian diseleksi menjadi 10 peserta.
Setelah didapatkan 10 semifinalis selanjutnya dilaksanakan pitching forum, yaitu setiap peserta mempresentasi ide cerita dan hasil-hasil riset awal yang telah mereka lakukan. Pitching forum dilaksanakan di studio Metro TV. Peserta mempresentasikannya di hadapan empat orang juri penilai, semuanya dengan latar belakang orang-orang yang bergerak di bidang perfilman, baik film dokumenter maupun film layar lebar.
Dari sepuluh semifinalis tahun ini, sebenarnya Kalbar sudah berhasil meloloskan 2 kandidat, yaitu pasangan Budi dan Deni, dan pasangan P.S. Riyanto Doloksaribu dan Niken Tia Tantina. Namun keputusan dewan juri pada penyeleksian di pitching forum ini hanya satu dari Kalbar yang lolos menjadi finalis, yaitu pasangan P.S. Riyanto Doloksaribu dan Niken Tia Tantina.
Selanjutnya, kelima pasang finalis mendapatkan beasiswa untuk kelas mengenai penyutradaraan dan proses pembuatan film dokumenter, tutor-tutor adalah pembuat-pembuat film dokumenter profesional yang sekaligus berperan sebagai pendamping (supervisor) bagi masing-masing finalis (sutradara) dalam memproses ide ceritanya menjadi sebuah film dokumenter.
Kelas langsung dilaksanakan selepas dari pitching forum. Setelah materi-materi diberikan finalis sekali lagi melakukan riset ke lokasi pembuatan film. Dari hasil riset lokasi terakhir, para finalis diberikan kelas untuk persiapan melakukan proses shooting (selama 10 hari), produksi film berakhir pada proses editing (selama 2 minggu) di Jakarta.
Ide cerita
Ide cerita yang diangkat dari Kalbar adalah mengenai “kondisi keterpencilan daerah pedalaman di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia, menyebabkan kehidupan ekonomi masyarakat lebih tergantung pada Malaysia”. “Lokasi shooting film di dusun Mangkau, Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau,” ungkap sang sutradara, Riyanto, dalam realeasenya yang dikirim ke Borneo Tribune tadi malam.
Indonesia sudah cukup banyak memiliki kasus-kasus menyangkut hubungan bilateral dengan Malaysia khususnya yang berkenaan dengan pelanggaran tapal batas kawasan dan Negara, mulai dari illegal logging, human trading, sampai kepada penggeseran patok batas, dan pencurian pulau. Yang terlihat jelas di daerah-daerah pedalaman, khususnya yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga, adalah kurangnya fasilitas dan perhatian untuk pengembangan kawasan. Baik fasilitas akses seperti jalan, fasilitas yang menyangkut dengan pengembangan SDM yaitu pendidikan sebagai pondasi pembangunan Negara seperti sekolah dan tenaga pengajar, dan perhatian terhadap lapangan pekerjaan bagi angkatan kerja.
Berhubungan dengan tema besar yang diberikan Metro TV “Hitam Putih Indonesiaku”, di lokasi pembuatan film, kondisinya cukup mengkhawatirkan. Hitamnya Indonesia terlihat dari minimnya fasilitas, lapangan pekerjaan, kesulitan mengembangkan usaha pertanian dan perkebunan. Namun Putihnya Indonesia terlihat dengan masih adanya rasa nasionalisme dan kesetiaan untuk mempertahankan harga diri sebagai warga Indonesia. Masih ada harapan untuk Indonesia. Tapi, sampai berapa lamakah rasa nasionalisme itu dapat bertahan jika kondisi semakin lama semakin terpuruk? Siapa lagi yang akan mempertahankan tanah kita?
Riyanto menuturkan, dari awal proses pembuatan film, banyak pembelajaran yang didapatkan, mulai dari bagaimana mengembangkan ide cerita dengan menganalisa hasil pengamatan dan data yang berkaitan dengan subjek cerita dan lokasi, dan diolah menjadi alur cerita dan script. Mereka juga mendapatkan pembelajaran bagaimana mengkoordinasikan tim kerja mulai dari tim riset, shooting (cameraman), hingga proses editing (editor). “Selama proses berlangsung, setiap kelompok finalis mendapatkan seorang supervisor yang diikutsertakan untuk mendampingi dan memberikan masukan selama proses pembuatan film berlangsung,” katanya.Lebih lanjut Riyanto dan Niken mengatakan, kendala terbesar dalam pembuatan film documenter tersebut adalah pada saat proses shooting berlangsung. Jadwal shooting hanya diberikan selama 10 hari untuk dilaksanakan di tiga lokasi, yakni Kuching Malaysia, Dusun Mangkau, dan Dusun Entabang. Shooting script yang sudah dibuat tidak bisa digunakan karena tokoh utama yang awalnya direncanakan, Ibu Ningsih (guru satu-satunya) di dusun Entabang harus segera berobat keluar dari kampungnya, dan itu sudah memasuki hari keempat. Pada hari itu shooting tidak berlangsung, dan pada hari itu juga terjadi diskusi yang panjang antara sutradara dan supervisor untuk membuat alur cerita dan shooting script yang baru dan tetap pada koridor tema yang diberikan. Tokoh Katarina yang awalnya adalah tokoh pelengkap menjadi tokoh utama dalam alur cerita yang sudah jauh berubah dari yang semula direncanakan. Untuk merangkai cerita, diputuskan untuk menambah satu lokasi shooting, yakni kampung Tepoi Malaysia. Dan judul filmpun berubah yang semula “Saat Sang Saka Kembali Berkibar” menjadi “Saat Sang Saka Tak Lagi Berkibar”.□

versi cetak dimuat di Borneo Tribune tanggal 20 Oktober 2007

Baca Selengkapnya..

Friday, October 19, 2007

Indonesian boy wins UN stamp design award


New York--Bryan Jevoncia, a six-year old Indonesian boy, was presented with United Nations stamp design award at the UN Headquarters here on Wednesday. The presentation of the award was conducted at a park near UN building and was attended by UN Secretary General Ban Ki-moon, Indonesian special representative to UN, Marty Natalegawa, and several other foreign representatives.

Bryan was one of six children between 6 to 15 years old whose picture was the best for 2008 series UN stamp.

The UN stamp design contest titled "We Can Overcome Poverty", was conducted to mark the observance of International Poverty Eradication Day, and participated in by 12,000 children from 124 countries. "Bryan`s dedication to his work is really admirable, because he is the only Indonesian boy elected among thousands of participants as the winner in the contest," Marty Natalegawa said. He said Bryan`s work indicated that Indonesian younger were able to create good work, to build solidarity and to have sensitivity to poverty issue.

The UN stamp, designed by Bryan, depicted children who, after returning from school, help their mothers in the struggle to make ends meet. Born in Pontianak, West Kalimantan, on December 16, 2000, Bryan is at present in the second year of elementary school. He was accompanied by his mother Rosiana Fardimin and his teacher Rosa de Lima in the trip to New York to recive the UN award. Asked what he felt after receiving the award, Bryan said he was delighted with his work and eager to meet one of his country`s prominent figure after returning to Indonesia from New York. "I want to meet `Pak` President Susilo Bambang Yudhoyono to show him the present I get from the United Nations," Bryan said with a chuckle.Antara

Baca Selengkapnya..

Wednesday, October 17, 2007

Buku Jejak Emas Pemuda Kalbar Siap Launching


Oleh: Herkulanus Agus

Sebagai ungkapan syukur kepada Borneo Tribune yang telah sukses sebagai media partner persiapan penerbitan buku Jejak Emas Pemuda Kalimantan Barat, koordinator kepenulisan Buku Jejak emas pemuda Kalbar Yaser Syaifudin, ST menyerahkan 5 persen dari keseluruhan dana sponsorship.
Dana tersebut diserahkan Yaser secara simbolik kepada Tanto Yakobus, Redaktur dan pengasuh halaman filantropi di Borneo Tribune, Rabu (10/10) kemarin. Dana tersebut akan disalurkan ke masyarakat yang sangat membutuhkan melalui program dana amal filantropi ke Borneo Tribune. Dana untuk penyelesaian buku tersebut sebesar Rp 6 juta dari PTPN XIII dan PT PELINDO.

“Kita merasa berterima kasih kepada Borneo Tribune, karena mempunyai semangat yang sama. Apalagi Borneo Tribune juga dikelola orang-orang muda,” ungkap Yaser sapaan akrabnya.
Menurut Yaser, hampir semua prestasi anak Kalbar dapat tercium dari Borneo Tribune. Termasuk prestasi siswa yang terpendam. Contohnya Bryan Jevoncia.
Buku jejak emas pemuda Kalimantan Barat yang akan diluncurkan 29 Oktober mendatang dan bercerita tentang kunci sukses, profil pemuda Kalbar yang dinilai berhasil dari sisi akademisi, atlet, seni, entrepreneur dan aktivis.
Rencananya buku itu akan dicetak selepas lebaran dengan jumlah 3 ribu buah. Buku tersebut akan diserahkan secara gratis kepada warga Kalbar.
Misalnya tentang entrepreneur Suhardiman pemilik waruk Dangau, Kusmindari pengelola Sanggar Andari, Hermayani Putra Aktifis WWF.
Tujuan dari jejak emas ada empat kata kunci motivasi, inspirasi, dokumentasi jejak pemuda Kalbar dan apresiasi atau bentuk penghargaan terhadap kiprah pemuda Kalimantan Barat.
Ditambahkannya persiapan buku jejak emas kurang lebih selama lima bulan yaitu dari bulan Mei-Oktober.
Penerbitan buku ini juga terlaksana atas kerjasama KNPI Kalbar Lembaga Penelitian Pengembangan Ekonomi dan Studi (LP2ES).
Direktur Lembaga Penelitian Pengembangan Ekonomi dan Studi (LP2ES), Endih Supandih mengatakan, pembuatan buku ini juga bertujuan membagi aspirasi dan motivasi kepada orangtua dan pemuda lainnya untuk mengembangkan potensi terbaiknya. Memberi penghargaan kecil kepada pemuda yang telah mengharumkan dan mengangkat nama Kalbar. Menciptakan sinergisitas pemuda guna melahirkan komunitas yang menjadi solusi bagi Kalimantan Barat.
“Kegiatan ini juga bertujuan untuk menciptakan sinergisitas pemuda guna melahirkan komunitas yang menjadi solusi bagi Kalimantan Barat,” kata Endih.
Pembuatan buku hasil kerja sama antara LP2ES dan CV Pasific ini juga mendapat dukungan dari anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Kalbar, Aspar.
Pemuda dengan energi yang besar dan mobilitas yang tidak terbatas merupakan salah satu kunci penggerak dan pemberdayaan masyarakat. “Dengan jumlah pemuda lebih dari setengah juta jiwa. Peran serta pemuda mat dibutuhkan sebagai motor penggerak dan agen perubahan yang menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama membangun Kalimantan Barat,” lanjut dia.

Versi Cetak dimuat Borneo Tribune tanggal 10 Oktober 2007

Baca Selengkapnya..

Cinta dalam Semangkok Nasi


Oleh: Heryanto, SH, M.Kn*)

Kehadiran orang Tionghoa di Bumi Khatulistiwa betul-betul migrasi alamiah demi mencari kehidupan yang lebih baik karena pada saat itu di Negeri tirai bambu daratan Cina lagi pecah perang saudara yang berkepanjangan. Mencari makan jelas susah apalagi bermimpi untuk jadi orang kaya. “andaikan aku jadi orang kaya” saya teringat lirik lagu Opie Andaresta yang pernah ngetop dulunya.

Sore-sore hari sekitar pukul 15.00 WIB tanggal 11 Oktober 2007, saya kedatangan Sdr. Tanto Yakobus, S.Sos editor rubrik Tionghoa Borneo Tribune dengan ditemani rekannya Stefanus Akim yang “menawarkan” saya untuk menuliskan sepenggal kisah mengenai orang Tionghoa. Temanya bebas saja.
Karena tawaran menulis ini tidak resmi, lagi pula sebetulnya Sdr. Tanto kekantor saya tujuannya adalah untuk mengambil akta yang telah selesai dibuat oleh saya sebagai Notaris/PPAT, maka dalam benak saya telah terbayang akan menulis mengenai sekelumit apa saja tentang orang Tionghoa serta asal usul kedatangan orang Tionghoa khususnya di Bumi Kalbar, kota zamrud khatulistiwa.
Asal usul kedatangan orang Tionghoa tersebut merupakan data penelitian saya ketika lagi menyusun thesis untuk menyelesaikan program magister yang saya peroleh dari salah seorang ketua yayasan/perkumpulan yang ada di Pontianak.
Kisah kedatangan tersebut yang juga merupakan cikal bakal adanya marga Lim sebagai marga yang terbesar populasinya hingga saat ini, sungguh adalah kisah heroik yang menyentuh hati.
Sampai-sampai teman-teman saya yang sempat membaca thesis tersebut “mengolok-olok” sebetulnya saya menyusun suatu karya penelitian ilmiah atau mau menyaingi Kho Ping Ho dengan tema cerita silat dalam setiap karyanya.
Tak ayal juga, salah seorang Dosen Pembimbing saya merasa “terhibur” setelah membaca thesis saya. Mungkin dalam menyusun thesis tersebut saya berusaha menyusunnya dengan sesantai mungkin, gaya bahasa lugas serta penempatan teori-teori yang mendukung hipotesa tidak berhimpit-himpitan seperti orang naik bis kota.
Kehadiran orang Tionghoa di Bumi Khatulistiwa betul-betul migrasi alamiah demi mencari kehidupan yang lebih baik karena pada saat itu di Negeri tirai bambu daratan Cina lagi pecah perang saudara yang berkepanjangan. Mencari makan jelas susah apalagi bermimpi untuk jadi orang kaya. “andaikan aku jadi orang kaya” saya teringat lirik lagu Opie Andaresta yang pernah ngetop dulunya.
Sampai saat ini pun orang Tionghoa masih terus berjuang demi mencari sesuap nasi, merencanakan masa depan yang lebih baik bagi anak-cucunya, persamaan hak-hak politik sebagai warga Negara yang terpecah belah karena praktik politik devide et impera pada masa penjajahan Belanda dulunya.
Akibatnya adalah jarang-jarang ada orang Tionghoa yang bisa jadi PNS, Polisi, Tentara ataupun profesi dan kedudukan lainnya selain mayoritas berprofesi sebagai pedagang atau wirausaha atau profesi lain yang dianggap tidak “membahayakan” kedaulatan Negara kita.
Akibatnya adalah jarang-jarang ada orang Tionghoa yang bisa jadi PNS, Polisi, Tentara ataupun profesi dan kedudukan lainnya selain mayoritas berprofesi sebagai pedagang atau wirausaha atau profesi lain yang dianggap tidak “membahayakan” kedaulatan Negara kita.
Saya pernah menyaksikan bagaimana orang Tionghoa yang asli kelahiran Tiongkok sambil makan ia merencanakan usaha dagangannya bersama istrinya dan membincangkan masa depan anak atau anak-anaknya yang kelak akan lahir. Mereka makan nasi yang tersaji dalam sebuah mangkok kecil dengan menggunakan sumpit sebagai pengganti sendok dan garpu. Ada nuansa cinta disana karena mereka menikah belum setahun lamanya, “cinta dalam semangkok nasi” saya sebut demikian saja dan bukan “cinta dalam sepotong roti” seperti filmnya Garin Nugroho, kalau tidak salah.
Mereka berharap banyak akan masa depan yang lebih baik buat anak atau anak-anaknya nanti. Mungkin juga dalam angannya, mereka berharap ada anak, cucu atau keturunannya kelak yang bisa jadi Polisi, Jaksa atau Hakim sebagai aparat penegak hukum ataupun menjadi Tentara agar bisa turut membela Negara.
Angan itu untuk saat ini mungkin masih tergantung diatas awan, hanya hujan reformasi pada suatu saat nanti yang bisa mengubah segalanya sekaligus menghilangkan rasa “ada dusta diantara kita” yang sebetulnya tidak ada.
Kalau saat ini ada beberapa gelintir orang Tionghoa yang bisa menjadi Menteri, Anggota Dewan dan beberapa jabatan yang dulu-dulunya tabu diduduki oleh orang Tionghoa, itu tidak lain menunjukkan bahwa orang Tionghoa tidak hanya pandai berdagang atau berniaga saja.
Kemudian juga sebutan orang Tionghoa itu rata-rata kaya sehingga untuk urusan yang bersifat administratif di pemerintahan bisa diminta uang jasa pengurusan yang lebih tinggi, juga suatu opini yang keliru dan patut dienyahkan.
Orang Tionghoa itu sama seperti golongan penduduk lainnya. Masih banyak juga yang hidup dibawah garis kemiskinan sehingga perlu bersusah-payah berjuang memperbaiki kehidupan ekonominya.
Dari kenyataan tersebut memberi inspirasi kepada saya menulis sebuah novel tentang seorang gadis Tionghoa yang dikarunia paras cantik namum miskin yang berusaha memperbaiki ekonomi keluarganya. Namanya juga novel, dalamnya juga dilatar-belakangi kisah asmara.
Sayangnya sang lelaki pujaan yang ditaksir oleh gadis ini ternyata dari keluarga kaya raya yang tidak direstui hubungan mereka oleh keluarganya. Berbagai cercaan serta hinaan harus diterima oleh si gadis ini beserta keluarganya yang dikira mau merebut harta mereka.
Salah pahampun terjadi. Abang kandung sigadis yang bekerja sebagai kepala tukang bangunan dan berkarakter temperamental naik pitam dan nyaris bentrok fisik dengan orangtua kekasih adiknya karena tidak terima keluarganya dihina.
Tema-tema serta kritikan sosial pun muncul lewat tokoh-tokoh cerita yang muncul dalam novel tersebut. Akhirnya sidara dan sijaka harus juga berpisah setelah tamat SMA dan bertemu kembali setelah puluhan tahun lamanya.
Sigadis tersebut akhirnya menjadi Notaris dan kehidupan keluarganya menjadi lebih baik karena dulunya mamanya adalah penjual kue dan papanya tukang jahit. Sedangkan orangtua silelaki karena angkuh serta serakah harta menjadi buronan polisi karena terlibat pembalakan liar.
Kesetiaan cintapun diperlihatkan oleh sigadis tersebut yang selalu menolak didekati oleh lelaki lain. Salah seorang lelaki yang ditolak cintanya mencapnya sebagai gadis matre dan menyindirnya :”lebih dingin dan beku dari pada gunung es yang pernah ditabrak oleh kapal titanic sekalipun”.
Namum nasib menentukan lain. Lelaki dambaan sigadis tersebut dalam kurun waktu sepuluh tahun tersebut ternyata sudah bertunangan dengan wanita lain. Sigadis yang biasanya tegar menghadapi berbagai gelombang persoalan hidup jatuh pingsan demi mengetahui kenyataan tersebut.
Bayangkan lelaki tersebut adalah dambaannya sampai rela ia menyerahkan “mahkotanya” pada waktu dulunya. Untunglah tidak semua lelaki naïf dan mempermasalahkan keperawanan sebelum married. Seorang lelaki yang berprofesi dokter yang menaruh hati pada sigadis bersimpati pada kesetiaan sigadis. Sigadis merasa lega karena ia ingin jujur sebelum menikah. ”cintailah aku apa adanya”, rasanya cocok untuk judul novel tersebut yang saya tulis secara kredit hampir enam bulan lamanya dengan panjang hampir 150 halaman.
Mengharukan sekilas jalan ceritanya ? kalau iya saya teringat komentar Sdr. A. Alexander Mering, SH lewat SMS yang pada waktu itu novel tersebut baru sekitar 50-an halaman saja :”saya baru selesai membaca novel abang, ceritanya mengharukan sampai saya meneteskan air mata”.
Wah … wah …, kog tulisannya lari ke sinopsis novel ? saya kira semuanya saling berkaitan. Kalau yang tadi tentang serba-serbi kehidupan orang Tionghoa dan dibawah ini adalah kisah asal usul kedatangan orang Tionghoa beserta marganya :
Dari asal usul sejarahnya orang Tionghoa berasal dari negeri daratan Cina dan keberadaan orang Tionghoa di Propinsi Kalimantan Barat sudah ada kurang lebih sejak abad ke-XVII sebagai akibat terjadinya perang saudara antara utara dan selatan yang berkepanjangan.
Terdorong akan keinginan untuk keluar dari situasi peperangan serta mencari penghidupan yang lebih baik, banyak penduduk yang meninggalkan kampung halamannya hanya dengan menumpang perahu layar sederhana. Didalamnya terdapat anak-anak, wanita, orangtua dan juga lelaki dewasa. Jelas juga perahu demikian tidaklah aman untuk mengarungi luasnya lautan samudera. Tidak terhitung betapa banyaknya jiwa yang hilang tertelan ganasnya ombak lautan. Hirup pikuk, jerit tangis dan hati yang hancur karena kehilangan orang yang dicintai harus diterima demi mencapai tanah harapan.
Tercatat penduduk dengan marga Lim merupakan kelompok terbesar yang pertama kali menapakkan kakinya di Bumi Propinsi Kalimantan Barat lewat sebuah pelabuhan kecil di Kota Pemangkat yang berjarak kurang lebih 400 km dari Kota Pontianak. Gelombang perpindahan penduduk ini kemudian diikuti oleh kelompok marga-marga lainnya. Diidentifisir mereka kesemuanya berasal dari Propinsi Kwangtung dan Hakkian Negeri Cina dengan tujuan memperbaiki taraf kehidupan dengan antara lain bekerja sebagai pedagang, petani, buruh, guru dan lain sebagainya.
Pada awal mulanya, leluhur dari marga Lim adalah bernama Pi Kan yang merupakan keturunan Raja Huang Ti yang ke-33 yang lahir pada tanggal 4 bulan empat Imlek pada abad ke-XI sebelum masehi. Ayah Pi Kan yang bernama Thai Tin hanya berkuasa selama 3 tahun (1194-1191 SM). Kakak kandung Pi Kan yakni Ti Ek meneruskan kedudukan ayahnya selama 7 tahun (1191-1185 SM) yang kemudian diwariskan kepada Raja Zhou (keponakan Pi Kan). Raja Zhou berkuasa selama hampir 32 tahun. Dalam masa kekuasaannya, Raja Zhou bertindak kejam dan biadab, sehingga akhirnya digulingkan oleh Jiu Bu Wang.
Raja Zhou yang dikenal kejam, hanya hal sepele saja dia dapat membunuh seseorang kapan saja. Pi Kan yang pada saat itu merupakan seorang pejabat tinggi kerajaan sangat sedih menyaksikan perbuatan Raja Zhou keponakannya tersebut. Timbul keinginannya untuk menasehati sang Raja. Pi Kan berpikir, dengan membiarkan Raja berbuat sewenang-wenang tanpa dicegah, merupakan bentuk ketidaksetiaan pada Negara. Pi Kan berpendapat bahwa jika dia harus mati karena membela rakyat, dia tidak akan menyesal.
Oleh karena itu Pi Kan menasehati Sang Raja selama 3 hari berturut-turut dengan harapan agar Raja Zhou mau mengubah sikap dan perilakunya demi kepentingan Negara dan tidak membunuh rakyat yang tidak berdosa. Mendengar nasehat Pi Kan, Raja Zhou menjadi marah sekali. Dalam hatinya timbul niat untuk menyingkirkan Pi Kan pamannya.
Lantas Raja Zhou bertanya kepada Pi Kan :”atas dasar apa kamu berani menggurui saya ?”
“Atas dasar kesetiaan kepada Raja dan kasih sayang kepada rakyat, itu saja”.
Kemudian Raja Zhou berkata lagi :”saya dengar bahwa jantung orang pintar mempunyai lubang kepintaran. Kamu adalah seorang yang pintar, saya ingin membuktikan apakah benar jantungmu mempunyai lubang kepintaran ?”
Dengan alasan tak masuk akal, Pi Kan dibunuh. Kemudian jantungnya dikeluarkan untuk membuktikan ada atau tidaknya lubang kepintaran itu. Perbuatan Raja Zhou tidak sampai disitu saja, muka Pi Kan dirusak agar tidak bisa dikenali lagi. Begitu juga istri kedua Pi Kan yang sedang hamil tua juga menjadi korban kekejaman Raja Zhou. Kandungannya dikeluarkan untuk melihat apakah janinnya mirip Pi Kan. Kemudian Raja Zhou berteriak lantang dan berkata kepada pembantu-pembantu kerajaannya :”siapa saja yang banyak bicara, inilah akibatnya !”
Istri tua Pi Kan yang sedang hamil 3 bulan karena takut akan menjadi kekejaman Raja Zhou juga, kemudian melarikan diri kehutan daerah Mohya bersama keempat pelayannya. Dia tinggal disebuah gua dihutan tersebut. Ditempat itulah anaknya lahir dan diberi nama Coa.
Raja Zhou yang kejam akhirnya dipaksa untuk bunuh diri oleh anak Si Ciang Pe yang bernama Huat. Dia kemudian mendirikan Negara Ciu dan menamai dirinya sebagai Ciu Bu Wang yang memegang kekuasaan selama 19 tahun lamanya.
Setelah Ciu Bu Wang naik tahta, dikirimlah orang untuk mencari keturunan Pi Kan. Akhirnya keturunan Pi Kan berhasil ditemukan didalam hutan Mohya yang terletak 15 KM sebelah barat daya Kota Wi Hui Propinsi He Nan. Keluarga Pi Kan dijemput dan dianugerahi marga Lim.
Dari riwayat sejarah ini dapat disimpulkan bahwa penduduk orang Tionghoa yang pada saat ini berada khususnya di Propinsi Kalimantan Barat mempunyai nenek moyang yang sama dari Negara leluhurnya yakni Negara Cina. Keberadaan orang Tionghoa sampai saat ini pun masih dipenuhi berbagai perjuangan seperti leluhurnya. Perjuangan yang terutama adalah mencari sesuap nasi dan berharap hari esok anak, cucu atau keturunannya kelak akan lebih baik lagi.
Apabila perjuangan itu dibahas bersama istri tercinta sama seperti yang lazim kita lakukan juga diatas meja makan dengan nasi yang jika kebetulan terhidang dalam sebuah mangkok, maka tidak ada salahnya anda menamakannya juga sebagai “cinta dalam semangkok nasi” seperti judul tulisan ini.

*)Penulis adalah Notaris/PPAT
Berkedudukan dikota Pontianak.

Baca Selengkapnya..

Sunday, October 14, 2007

Lapar Ilmu...


Sejak harian Borneo Tribune launching pada 19 Mei 2007 lalu, sejak itu pula Borneo Tribune tidak pernah sepi dari berbagai kegiatan. Kegiatan rutinitas seperti wartawan mengetik berita, proses editing oleh para redaktur dan layout oleh pra cetak dan proses cetak, itu sudah biasa dalam dunia penerbitan seperti koran atau majalah. Tapi di Borneo Tribune ada rutinitas lain...

Tapi di Borneo Tribune ada rutinitas lain selain berkutat dengan manajemen pemberitaan, menjual koran dan iklan.
Apa itu? Di sini ada lembaga otonom yang diberinama Tribune Institut. Lembaga ini bergerak dibidang pendidikan jurnalis.
Kami menawarkan metode jurnalis yang sangat sederhana. Dan sasaran pelatihan kami adalah para pelajar mulai dari SD hingga SMA atau SMK sederajat.
Aktivitas anak-anak sekolah sebetulnya dasar dari Jurnalis, sebab sehari-hari mereka sudah bergulat dengan dunia tulis menulis.
Program ini mendapat sambutan positif dari berbagai sekolah, bahkan ada yang dari perguruan tinggi, misalnya mahasiswa FKIP Untan juga belajar jurnalis di Borneo Tribune.
Saya sendiri sebagai salah seorang pengampu (instruktur) di Borneo Tribune, sempat kaget dengan antusiasme peserta. Beberapa waktu lalu kami memberi pelatihan jurnalistik kepada lebih 100-an siswa-siswi SMA/SMK Kristen Imanuel.
Di tengah hiruk-pikuk pelatihan jurnalistik di Emanuel tersebut, kami juga mendapat kunjungan dari 38 orang pelajar SMA Ignasius Singkawang. Mereka juga ingin belajar jurnalis di Borneo Tribune. Kesempatan mengunjungi dapur redaksi Borneo Trubune mereka manfaatkan untuk memelototi proses pengetikan berita, editing, layuot hingga proses cetak koran.
Sekarang sudah dua sekolah mengantri untuk pelatihan jurnalistik, sekolah tersebut adalah SMA Katolik Santo Paulus dan SMA Budi Utomo. Mereka adalah para pelajar yang lapar akan ilmu jurnalistik.

Baca Selengkapnya..

Libur Idul Fitri


Menyambut hari raya Idul Fitri, kami para awak Harian Borneo Tribune, libur selama empat hari terhitung dari tanggal 13 hingga 16 Oktober 2007.
Kepada relasi, teman dan sahabat harap memakluminya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H.
Minal Aidin Wal Faizin
mohon maaf lahir dan batin



Baca Selengkapnya..

Tuesday, October 9, 2007

Tanah Leluhur vs Tanah Kelahiran

“Singapura itu tidak ada hutan, tidak ada kayu dan tidak ada tambangnya, ia hanya suatu daerah kecil yang majunya bukan main. Belum lagi Hongkong dan China,” ujar Tan Tjung Hwa saat bincang-bincang dengan kami yang menghadiri undangan buka puasa bersama mantan anggota DPRD Provinsi Kalbar, Andreas Acui Simanjaya di Grand Resto, Senin (1/10) pekan lalu.


Tan Tjung Hwa yang baru saja melakukan perjalanan luar negeri ke negeri lelulurnya Tiongkok menceritakan kekagumannya terhadap perkembangan negera-negara yang dikungjunginya itu.
Pria yang mengenakan kacamata ini dengan telaten menceritakan perjalanannya, mulai dari Singapura, Hongkong kemudian Guangdong. “Saya sungguh terkesan dengan kemajuan tempat-tempat yang saya kungjungi itu, kapan ya kita bisa seperti mereka,” gumamnya.
Negara seperti Singapura yang hanya mengandalkan jasa dan perdagangan bisa membangun sedemikian pesat. Sepanjang pantai mereka mampu menyusun batu-batu alam yang panjangnya puluhan atau mungkin ratusan kilometer.
“Batunya besar-besar lho”. “Mungkin batu-batu alam itu mereka datangkan dari Indonesia, sebab banyak sekali batu serupa di daerah kita, mulai dari Sumatra, Jawa dan Kalimantan sendiri—batu alamnya persis sama,” cerita Tjung Hwa.
“Saya tidak habis pikir bagaimana mereka menyusun batu-batu besar itu. Dan itu cantik sekali dijadikan kawasan rekreasi.”
Bukan hanya itu, Singapura mulai membuat daratan dengan mengangkut tanah dan pasir dari Indonesia. “Mungkin itu tanah dan pasir hasil curian atau perdagangan illegal dengan oknum orang Indonesia,” pikirku yang tekun menyimak cerita Tjung Hwa sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Belum lagi cerita gedung-gedung pencakar langitnya. “Wah kita ini tidak ada apa-apanya, Jakarta hanya terkenal macetnya,” ujarnya.
“Pernah saya di Singapura mau menyewa gaet untuk jalan-jalan. Huh malu saya, justru dia bertanya “mau jalan kemana? Singapura kecil dan tak perlu gaet, ambil saja peta dan jalaan sendiri tak ada sesat,” begitu dia menjawab saya,” kisah Tjung Hwa.
Saya sempat termenung. Ternyata benar di Singapura itu semua jalan tembus. Memang mau jalan kemana? Semua akses jalan lancar dan kendaraan semua tembus. “Satu hari bisa menyisir Singapura dari ujung ke ujung juga tuntas,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak dan disambut tawa kami juga.
Lain Singapura lain Thailand. Kalau Singapura terkenal dengan gedung-gedung pencakar langit, Thailand ada masakan yang terkesan bagi saya. Namanya Tong Yam. “Tong Yam memang masakan khas ala Negeri Gajah Putih tersebut. Saya di Thailand merasakan Tong Yam di Grand Resto. Itu pula yang menghilhami nama resto saya ini,” ungkapnya.
Memang saat karyawannya menghidangkan Tong Yam ala Grand Resto milik Tjung Hwa, rasanya memang mak nyos.
Tjung Hwa bertandang ke Hongkong dan kemudian ke Guangdong salahsatu provinsi di China.
Perkembangan Guangdong luar biasa. Semua gedung bertingkat. “Dulu saya pikir bangunannya tak ubahnya ruko-ruko di Pontianak ini, kan itu tanah leluhur kita, ternyata beda.”
“Maju sekali mereka”. “Soal jalan saja, sebelah kiri enam jalur. Sebelah kanan enam jalur. Uh lebar sekali. Entah berapa besar biaya pembangunannya”.
Demikian juga Hongkong. “Kalau Hongkong memang tidak mengherankan, dari dulu semua orang sudah pada tahu Hongkong itu termasuk Negara maju dengan gedung-gedung pencakar langitnya.
Tapi yang mengagetkan saya kemajuan negeri China itu. Perkembangan mereka pesat sekali.
“Menurut saya, tak ada suatu negara yang maju pariwisatanya tanpa transportasi yang lancar dan lengkap,” kata Tjung Hwa.
Kembali lagi seperti di Singapura saja. Negaranya kecil, tapi transportasinya begitu hidup.
“Tak ada negara berkembang tanpa transportasi yang memadai,” timpalnya.
Ketika di Singapura, Tjung Hwa ditertawakan ketika bertanya tentang city tour. “Tak perlu, semua di sini saling hubung. Semua boleh jadi alternatif. Dan tak akan pernah sesat,” ungkapnya mentertawakan diri sendiri.
“Saya berpikir, betapa kesenjangan kita masih jauh dari maju”.
Dalam perjalanan saya tak habis pikir, mengapa tanah leluhur (China, red) bisa maju pesat seperti itu, sementara tanah kelahiran kita (Indonesia, red) perkembangannya tetap saja seperti ini.
“Kita masih berkutat dengan masalah kemiskianan, pendidikan, kesehatan dan yang utama masalah transportasi tak pernah tuntas-tuntas di negeri ini. Mau buat apa pun susah, karena transportasinya terputus,” keluhnya.
“Saya mimpi suatu saat tanah kelahiran saya juga bisa maju seperti tanah leluhur saya”.
Bayangnya, di tanah leluhur saja, semua provinsi maju. Di tempat tandus dan gersang misalnya. Sekarang sudah berdiri berbagai macam industri. “Kok kenapa kita yang punya kekayaan alam melimpah tidak bisa maju seperti mereka?” tanyanya terheran-heran.
“Kita sudah punya SDM yang handal, tapi mereka justru banyak berkarya di luar negeri. Banyak pakar, tapi laku di luar negeri. Coba undang mereka pulang membangun daerah sendiri”.
Saya memang keturunan Tionghoa, tapi saya asing di Guangdong. Saya harus pakai passport masuk ke sana. Jadi tidak ada alasan bagi kami dan siapapun untuk membangun Kalbar ini, karena ini tanah kelahiran kita,” katanya.
Namun Tjung Hwa menegaskan, dalam membangun tidak bisa dilakukan salah satu kelompok saja, “Kita harus bersatu membangun Kalbar ini. Kebersamaan dalam membangun itu penting dan itulah yang dilakukan mereka di tanah leluhur kita di Tiongkok sana, mereka kompak membangun negerinya, mengapa kita tidak bisa seperti mereka?”
Kebersamaan itu penting. Tjung Hwa mengurai kiat sukses Deng Xiao Ping. “Saya tak peduli kucing hitam atau kucing putih asal bisa menangkap tikus. Sama saja bagi kita di Kalbar, tak peduli mau Melayu, Dayak, Cina atau orang Amerika sekalipun asal bisa membangun dengan adil, bijaksana.
Hemat saya, kata Tjung Hwa, siapa pun yang memimpin Kalbar, ia harus berpandangan seperti Deng Xiao Ping itu. Jadi jangan memilah-milah. Kalau itu yang terjadi, maka kita tetap saja terbelakang. Marilah kita menatap kedepan bagaimana supaya tanah kelahiran kita ini sama majunya dengan tanah leluhur kita.
“Saya juga menghimbau warga Tionghoa khususnya di Kalbar ini, supaya jangan lagi berpikiran ini bukan daerah saya. Tapi inilah tanah kelahiran kita, Tiongkok itu cuma tanah leluhur kita saja, kita tetap menjadi orang asing di sana,” kata Tjung Hwa lagi.□

Versi Cetak dimuat di Borneo Tribune, Selasa tanggal 9 Oktober 2007

Baca Selengkapnya..

Monday, October 8, 2007

HUT Nabi Kong Hu Cu 2558 Berlangsung Meriah


Hujan deras yang mengguyur Kota Pontianak, Minggu (7/10) sore hingga malam, tidak mengurangi antusiasme warga Tinghoa menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Nabi Kong Hu Cu 2558 di hotel Garuda Pontianak.
Sejak pukul 16.00 WIB, secara bergelombang warga Tionghoa yang berasal dari berbagai yayasan di kota khatulistiwa ini memasuki halaman parkiran hotel Garuda. Ada yang masih merapikan mobil maupun sepeda motornya, sebagian lagi menepi ke pinggir gedung menghindari hujan dan tak begitu lama mereka memasuki lobi hotel.

Dari arah pintu hotel sudah berderet panitia yang bertugas menyambut tamu. Lalu di bagian lobi berjejer dua meja panjang yang saling berhadapan. Di tengahnya dibuat lorong menuju tempat upacara—tempat pesta syukuran digelar.
Sebelum masuk ke tempat syukuran, para tamu di wajibkan mengisi buku tamu. Di bagian ujung meja, terletak setumpuk Koran Borneo Tribune—yang secara khusus launching halaman Tionghoa dibagikan gratis untuk tamu yang datang.
Para tamu yang hadir, mulai dari masyarakat biasa, politisi, hingga para pengusaha sukses Tionghoa. Mereka duduk berbaur di meja bundar. HUT Nabi Kong Hu Cu ini betul-betul menyatukan beragam sub suku Tinghoa yang ada di Pontianak.
Mereka tidak hanya berbeda suku, tapi juga agama dan kepercayaan. Sebab yang hadir ini tidak semuanya menganut atau memeluk agama Kong Hu Cu, tapi ada yang Katolik, Kristen Protestan, Hinda, Budha dan ada juga yang menganut agama Islam.
Bagi yang menganut Kong Hu Cu, mereka sudah melakukan ritual keagamaan sejak pagi hari. Dan puncaknya menggelar pesta yang terbuka untuk semua suku dan agama—tentu menu yang disuguhkan masakan khas Tionghoa baik masakan modern maupun yang tradisional.
Tepat pukul 18.15, kelompok paduan suara dari ibu-ibu Yayasan Bhakti Suci naik ke panggung. Mereka yang berjumlah sekitar belasan orang itu dengan apik menyanyikan lagu “selamat ulang tahun”. Selanjutnya menyanyikan lagu-lagu dalam bahasa Mandarin.
Lagu selamat ulang tahun dari paduan suara tersebut menandakan acara dimulai. Usai menyanyikan lagu ulang tahun yang diikuti seluruh peserta itu, dilanjutkan dengan laporan dari ketua panitia pelaksana.
Liau Sin Bun selaku ketua panitia pelaksana HUT Nabi Kong Hu Cu 2558, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh yayasan maupun perkumpulan atas partisipasi mereka sehingga acara ini berlangsung meriah dan sukses tentunya.
Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Ketua Yayasan Bhakti Suci yang mempunyai andil besar dalam setiap acara social kemasyarakatan, termasuk pada acara puncak HUT Nabi Kong Hu Cu tersebut.
“Atas terselenggaranya kegiatan ini, atas nama seluruh panitia, saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada seluruh yayasan, dan terutama kepada para donatur sehingga kegiatan ini bisa terselenggara dengan baik,” ucap Liau Sin Bun yang disambut tepuk tangan hadirin.
Menurut Liau Sin Bun, untuk lebih memeriahkan acara tersebut, panitia juga menyediakan sejumlah doorprize seperti diantaranya, satu unit sepeda motor Jialing, televise, kulkas, ac, kipas angina dan sejumlah barang elektronik lainnya.
Sementara itu Ketua Yayasan Bhakti Suci, Lie Khi Leng yang lebih akrab disapa Lindra Lie dalam kata sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas kebaiknya kita semua dapat berkumpul di ruangan ini dalam keadaan sehat walaufiat.
Lindra Lie juga mengucapkan terima kasih dan selamat datang kepada seluruh pengurus maupun anggota 56 yayasan yang bernaung di bawah Yayasan Bhakti Suci.
“Keberadaan yayasan sangat dirasakan manfaatnya, dia tidak hanya sekadar sebagai yayasan pemakaman saja, tapi banyak kegiatan sosial yang manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat secara luas,” kata Lindra Lie.
Menurut Lindra Lie, walau perayaan seperti ini dilakukan setiap tahun, namun dari tahun ke tahun pasti ada perubahan dan perkemangan. “Tahun ini masyarakat yang datang jauh lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Pada perayaan HUT Nabi Kong Hu Cu ini dihadiri sekitar 1200 undangan dari anggota Yayasan Bhakti Suci yang menaungi 56 yayasan lainnya,” jelas Lindra Lie dalam bahasa Tionghoa disambut tepuk tangan hadirin.
Pada kesempatan itu, Lindra Lie kembali mengajak masyarakatnya untuk lebih banyak melakukan kegiatan sosial, terutama manakala datang musibah seperti banjir, kebakaran maupun bencana alam lainnya.
“Kedepan kehidupan sosial lebih ditingkatkan, untuk itu kepada para pengurus yayasan untuk mensosialisasikannya lebih giat lagi,” pinta Lindra Lie.
Kegiatan seperti ini tambah Lindra Lie lebih pada kebersamaan. Dan bagi warga yang kurang mampu kita mesti saling tolong menolong, termasuk melakukan bhakti sosial seperti yang dilakukan dua bulan lalu di Segedong. “Dalam bhakti sosial tersebut kita melibatkan tujuh orang dokter. Semua obat dan biaya perjalanan ditanggung yayasan,” kata Lindra Lie.
Di Segedong, masyarakat yang datang tidak hanya dari kalangan Tionghoa saja, tapi masyarakat lainnya yang ada di sana. Tak kurang dari 500 orang yang memanfaatkan berobat gratis tersebut.
Kedepan kata Lindra Lie, pihaknya akan mengunjungi Punggur, Jungkat dan daerah-daerah lainnya di Kalbar.
Di sela-sela perayaan, panitia membagikan doorprize yang memperebutkan hadiah utama sepeda motor Jialing.
Selain itu diberikan juga piagam penghargaan kepada donatur khusus pembangunan jalan pemakanan Tionghoa yang bernaung di bawah Yayasan Bhakti Suci di Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. Mereka adalah Lie Kie Leng, Ciu Kui Sim, Lay Cok Fen, Tan Khun Tang, Ngo Po Gap, Lo Cie Khun, Lian Kuang Seng, Lie Seng Kan, Ho Sia Mey dan Rudi Leonard.
Lalu dibagikan juga kenang-kenangan dan piagam bagi mereka yang dinyatakan sebagai pemenang Lomba Chio Kie.
Diumumkan juga para pemenag lomba catur, pemenangnya adalah juara pertama Chen Yu Ming, juara kedua Ling Khe Ciang, juara ketiga Liaw In Chong, juara keempat Chen Chan Seng.
Para donatur yang berpartisipasi membangun jalan pemakaman Tionghoa tersebut adalah mereka yang sukses sebagai pengusaha baik di tingkat lokal (Pontianak) dan nasioanl. Usaha mereka bermacam-macam, mulai dari industri perkayuan, elektronik, auto motif, pelayaran hingga perhotelan.
Diantara para tamu yang hadir, tanpak juga kandidat wakil gubernur dari etnis Tionghoa, Drs Christiandy Sanjaya, SE. Politisi partai Golkar Michael Yan Sriwidodo, SE, MM, politisi partai Demokrat, Drs Hartono Azas, SE dan masih banyak lagi pengusaha yang terkenal yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Acara selesai sekitar pukul 21.00 tadi malam dan para tamu pun pulang ke rumah masing-masing dengan damai.□

Versi cetak muat di Borneo Tribune, Senin 8 Oktober 2007

Baca Selengkapnya..

Saturday, October 6, 2007

Sirene Itu Mengaung Lagi

Kebakaran bisa terjadi kapan saja. Seperti sebuah misteri, ia datang tiba-tiba. Pun demikian dengan petugas pemadam kebakaran. Panggilan hati nurani membuat mereka meninggalkan apapun ketika suara sirene mengaung memanggilnya. Itu tugas mulia—tugas kemanusiaan tanpa pamrih.

Pagi merangkak siang, sengatan matahari sudah mulai terasa. Saya duduk di teras rumah, Sabtu (6/10) kemarin. Pukul 10.00 WIB ada janjian dengan Akim memenuhi undangan Laoya—salah seorang pengurus pemadam kebakaran di Siantan. Tek Lay dan Andika Lay jauh hari sebelumnya sudah menjanjikan untuk berkenalan dengan salah seorang anggota pemadam kebakaran yang juga berprofesi sebagai Laoya.
Pukul 19.50 Akim tiba di rumah. Saya dan Akim bermaksud menyusul Tek Lay yang sudah duluan memawancarai pengurus pemadam kebakaran di Siantan. Tujuan kami selain berkenalan dengan pengurus pemadam kebakaran, juga untuk sebuah wawancara terkait laporan Edisi Khusus Borneo Tribune—Minggu yang khusus mengupas kebakaran yang marak terjadi belakangan di Kota Pontianak.
Tepat pukul 10.00 dengan menunggang kuda besi saya, kami meninggalkan rumah saya di kawasan Jalan Danau Sentarum, Pontianak Kota. Dengan kecepatan sedang kami mengambil jalan ke arah Jalan Diponegoro tembus Jalan Tanjungpura dan lurus ke Jembatan Tol belok ke arah Siantan. Di tengah perjalanan Tek Lay alias Asriyadi Alekander Mering menghubungi Akim, dia sudah menunggu kami di markas pemadam kebakaran UPKGR Jalan Selat Sumba, Siantan.
Pukul 10.30 kami tiba di markas UPKGR. Berlokasi di jalan yang pas-pasan—terbilang sempit menurut saya. Perkumpulan ini mencoba eksis berbuat kebajikan—kerja social yang tanpa pamrih.
Bangunan kecil memanjang pas untuk melindungi dua buah mobil pemadam kebakaran dari hujan dan panas. Di bagian belakang yang posisinya menyisir jalan gang, Tek Lay serius mewawancarai Tjhin Fa Nam yang juga wakil ketua UPKGR.
Akim turun dari boncengan saya dan kami menyeruak masuk. Wawancara terputus, Tek Lay memperkenalkan saya dan Akim kepada Tjhin Fa Nam yang ditemani seorang aktivis pemadam kebakaran lainnya.
Kami pun berjabat tangan. Tjhin Fa Nam mempersilakan kami duduk. Wawancara Tek Lay dilanjutkan—saya sekali dan Akim sekali-kali menyela untuk bertanya terkait kebakaran yang marak di Kota Pontianak akhir-akhir ini. Kebetulan tema wawancara Tek Lay juga tak jauh dari aktivias UPKGR dan rencana pengepakan sayap dengan mendirikan markas baru.
“Kedepan kita ingin UPKGR punya lokasi yang memadai. Kebetulan sudah ada tanah sumbangan donator. Sekarang lagi ngumpul duit buat membangunnya,” Tjhin Fa Nam.
Menurut Tjhin, sekarang perkumpulan ini sudah memiliki lebih dari seratusan anggota. Anggota tidak terikat, tapi mereka tahu dan sadar dengan tugasnya. “Apabila bunyi sirene tiga kali, anggota sudah bergegas dari rumah mereka masing-masing dan bunyi sirene itu tanda sudah ada kebakaran,” jelas Tjhin.
“Ya itu sirene kebakaran,” sambung Andika Lay
Jam di tangan kiri saya menunjukkan pukul 11.00, Andika Lay dan Sehon alias Chang Dji Fa muncul. Hampir bersamaan muncul juga anggota lainnya. Tjhin memperkenalkan anggotanya kepada kami. Setelah berjabat tangan, Tjhin mengajak kami melihat armada yang dimiliki UPKGR, mulai dari mobil, pompa air, selang hingga seragam pemadam kebakaran.
“Semua alat dirakit sedemikian rupa sehingga gampang dioperasi,” jelas Tjhin sambil tangannya memutar kick salah satu mesin pompa. Seketika asap mengepul mengenai saya dan Akim. “Busyet banyak juga asapnya, saya mengerutu”.
Setelah melihat kekuatan armada yang dimiliki UPKGR, Tjhin mengajak kami meninjau tanah sumbangan donator yang akan dibangun markas UPKGR. Tempatnya lumayan strategis.
Usai meninjau tanah, kami kembali ke ruang tamu UPKGR. Banyak hal yang kami diskusikan, mulai dari asal muasal pembentukan UPKGR, rekrutmen anggota hingga cerita heroik saat memadamkan api. “Situ bolah jadi anggota kehormatan kita,” ajak Tjihn kepada saya dan Akim.
“Boleh, sekalian meliput kebakaran.”
Setelah cukup lama kami ngomong-ngomong seputar kebakaran, saya baru tahu ternyata Tek Lay anggota pemadam kebakaran itu. “Jadi tak sia-sia saya memberi nama Tek Lay untuk mengganti nama Alek alias Mering, pikirku.”
“Dasar ngumpul sama aktivis pemadam kebakaran, pembicaraan tak jauh-jauh amat dari kebakaran.”
Kami pun membahas kebakaran yang beruntun akhir-akhir ini.
Dari data yang tercatat di buku laporan kebakaran milik Unit Pemadam Kebakaran Gotong Royong (UPKGR) Siantan, memasuki pekan kedua kwarted ketiga tahun 2007 ini, sudah terjadi 63 kasus kebakaran di Kota Pontianak.
Data tersebut berdasarkan catatan pemadam kebakaran UPKGR--yang mencatat kasus kebakaran sejak Januari hingga Oktober 2007.
Dalam kurun waktu sepuluh bulan tersebut, trend kebakaran meningkat signifikan. Bulan Agustus saja, terjadi 10 kasus kebakaran, September 12 kasus dan Oktober 13 kasus.
Fenomena tersebut hanya berdasarkan catatan dari UPKGR saja, sebab masih ada kejadian yang “mungkin” tidak terangkum dalam catatan UPKGR. Belum lagi kejadian di luar Kota Pontianak, seperti di Sungai Pinyuh, Mempawah, Jungkat maupun di Senakin Kabupaten Landak.
Sementara bulan lainnya, seperti Januari 1 kasus, Februari 8 kasus, Maret 8 kasus, April 4 kasus, Mei 3 kasus, Juni 1 kasus dan Juli 3 kasus.
Dari sekian banyak kasus kebakaran tersebut UPKGR tidak berani mengatakan apa penyebabnya, sebab mereka hanya perkumpulan sosial yang bertugas secara sukarela untuk memadamkan api bila terjadi kebakaran.
“Soal penyebab kebakaran tersebut, tanya saja pada pihak yang berwenang, dalam hal ini aparat kepolisian atau pihak berwenang lainnya,” ujar Tjhin Fa Nam.
Kriuk…perut saya mulai berbunyi. Maklum dari ngantar anak sekolah pagi saya tidak sarapan. Apalagi hari Sabtu sekolah cepat pulang.
Jam menunjukkan pukul 12.10.
“Ayo kita mampir ke rumah,” ajak Chang Dji Fa
Pria yang mempunyai indera ke enam ini juga dikenal masyarakat Tionghoa Siantan Sebagai Laoya.
“Mungkin ada acara makan-makan di rumahnya,” pikir ku.
Nah benar saja, saat istrinya menyambut kami dan mempersilakan duduk di meja sudah tersedia hidangan khas. Tentu enak. “Rasanya pasti maknyos”.
Saya melihat Akim dan rekan-rekan dari aktivis pemadam kebakaran tak sabar menyambar hidangan khas itu.
Kami pun “berlomba-lomba” menyantap hidangan siang itu sambil sesekali menenggak minuman khas Tionghoa.
Itulah cerita siang kemarin. Mulai dari masalah kebakaran, makan siang hingga obat-obatan tradisional Tionghoa. Semoga saja makan siang bersama Laoya itu mengakhiri rentetan kebakaran yang tengah menghantui warga kota. Bunysi sirene bukan lagi berasal dari mobil ambulance tapi dari mobil pemadam kebakaran.
Saya termasuk yang resah dengan suara sirene itu. Pasti kebakaran lagi!□

Baca Selengkapnya..

Friday, October 5, 2007

SDN 11 Terbakar


Kebakaran lagi! Kali ini giliran SDN 11 di Jalan Pangeran Natakusuma Gang Sekolah pukul 16.00 sore menjelang berbuka puasa, Senin (1/10) lalu.
Empat tahun lalu aku sangat familiar dengan sekolah tersebut. Tiap hari aku mengantar adikku, Emilia Nunuk yang bersekolah di SD itu. Nunuk tamat tahun 2003. Setelah itu dia melanjutkan SMP di kampung, Sekadau.

Sore itu raungan sirine pemadam kebakaran mengusik pendengaranku. Suara yang berasal dari mobil milik pemadam kebakaran Panca Bhakti, Budi pekerti, YPKK, Mitra Bhakti, BPAS meraung sejadi-jadinya meminta jalan menuju lokasi kebakaran. Jalanan mendadak macet. Tampak juga warga berhamburan keluar rumah. Mereka ingin menyaksikan si jago merah melahap apa saja di hari yang memang semakin kering lantaran cukup lama tak turun hujan. Sejumlah warga setempat berusaha memadamkan api bersama aparat pemadam kebakaran.
Alunita, siswa kelas 5 SDN 11 menceritakan, api memang menjalar dari gudang kemudian menuju arah WC, dapur sekolah hingga ke ruang kelas dan melahap atap sekolah. 90 persen bangunan terbakar.
“Saya sedih, apalagi saya tadi pagi baru mengikuti ulangan tengah semester, tak tahunya sorenya terbakar. Apalagi bangku saya sudah hangus,” kata Alunita lirih.
Salimah (37), Kepala Sekolah SDN 11 belum bisa memastikan berapa kerugian yang dialami akibat kebakaran tadi. Salimah sore itu menggunakan jilbab hitam. Ia mengatakan, setengah jam yang lalu dirinya masih belanja sayur dan kue untuk berbuka puasa. Sampai di rumah mendapat kabar dari tetangga bahwa sekolah terbakar. “Dari sebelas ruangan yang ada, sembilan hangus terbakar,” kata Salimah.

Baca Selengkapnya..

Demokrasi Meja Makan


SMS yang masuk di Ponsel AA Mering itu tiba sekira pukul 16.00 WIB, Senin (1/10). Ajakan buka puasa bersama di Grand Resto di Jalan Pahlawan berdampingan dengan Hotel Garuda. Yang mengajak itu Ir Andreas Acui Simanjaya kolega dekat Borneo Tribune.

Kami yang sedang bekerja di dapur redaksi merespon positif. Seusai menerima tamu dari Walubi, kami bergerak memenuhi undangan kawan dekat itu. Berangkat dengan kendaraan roda dua saya bersama Tanto Yakobus, Asriyadi Alexander Mering bersama Stefanus Akim dan Maulisa bersama Maningsih. Suryani gontai berkendaraan sendiri. Tepat pukul 17.15 kami tiba di Grand Resto. “Silahkan naik ke lantai dua,” ujar dua dara cantik berbaju merah yang membuka dua lembar pintu berbahan kaca. “Sudah ditunggu di atas,” lanjutnya dengan senyum manisnya.
Kami melangkah di atas lantai berlapis karpet merah dan tampak masih baru. “Saya baru tahu ada resto elegan di sini,” kata saya kepada Tanto. “Ah, sudah cukup lama,” jawab Tanto. Kami terus melangkah naik. Belakangan kami baru tahu resto ini sudah berusia 5 bulan. Nyaris sama waktu kelahirannya dengan Borneo Tribune.
Di mulut tangga sudah ada sosok pria yang sudah kami kenal. “Hei ini dia, ayo masuklah,” ujar mantan anggota DPRD Provinsi Kalbar, Ir Andreas Acui Simanjaya. Ditunjukkannya ruang tempat berbuka puasa bersama di mana di dalamnya sudah ada seorang pria muda berkacamata warna gold yang tak lain adalah Bos Grand Resto, Tan Tjung Hwa.
“Masuk, masuk. Masuk sini,” ujarnya berdiri dan menarikkan kursi, lantas kemudian mempersilahkan kami duduk. Acui turut duduk. Kami juga memilih tempat masing-masing dari bangku yang kosong melingkari meja. Di sini ada 10 kursi. Kami datang bertujuh. Praktis hanya tinggal satu kursi kosong. “Ideal,” pikir saya.
“Maaf, Acui sudah buka puasa,” kata Tjung Hwa bercanda.
Memang di atas meja depan muka Acui terdapat lemon tea yang sudah setengah gelas. “Gak pa pa,” kata saya.
“Kalau godaannya makin besar kan pahalanya makin gede,” kata Acui bercanda seraya tangannya menjemput gelas dan membawanya ke meja pinggir. Ia menyingkirkan minumannya itu. “Toleransi yang tinggi,” pikir saya. Kalau demokrasi kecil-kecil ini terus tumbuh, cikal bakal Kalbar maju pesat karena ada toleransi dan kebersamaan.
Acui tipikal pria demokrat. Ia bisa bergaul di berbagai kalangan. Kami di Tribune senang kepadanya sebagaimana Acui juga senang dengan komunitas Tribune yang multietnis bervisi idealisme, keberagaman dan kebersamaan.
Sebagaimana layaknya pertemuan pertama, Acui mengenalkan kepada Tjung Hwa siapa-siapa koleganya yang datang. “Ini Alex, ini Nur’Is, ini Tanto,” kata Acui.
“Alex saya sudah kenal.”
“Maaf, Mering,” kata Alex protes. Ia memang sedang mempopulerkan nama warisan sanak-sedulurnya itu. Ia kini bangga disapa Mering.
“Dek mana?” kata Tjung Hwa.
“Dia sedang ada acara,” kata saya. Dek (Hairul Mikrad, red) salah seorang redaktur yang kini jadi manager marketing di Borneo Tribune.
“Nur’Is bosnya Tribune,” ujar Acui.
“Wah ndak ada bos-bosan di Tribune, semua setara,” kata saya.
“Ini Maningsih dipanggil Cici. Dia sedang internship programe di Tribune. Ini Suryani wartawati Tionghoa. Ia nyaris seangkatan dengan Cici,” kata saya mengenalkan.
“Ini Maulisa. Wartawati baru kami ini yang tulisannya abang puja-puji itu. Sapaannya Icha,” sambung Mering kepada Acui.
“Ooh. Saya suka Icha menulis anak Long Khiat yang jadi tukang sapu di Mujahidin,” akunya. Lalu kami bercerita tentang Long Khiat Pontianak dan Long Khiat Singapura. Kedua-duanya orang terpandang. Kami cerita tentang muallaf.
Mering memperkenalkan siapa Tjung Hwa. “Abang tahu ndak kalau Tjung Hwa punya foto orang Dayak dari Cina?” ujarnya. “Dia punya. Tanya saja langsung kepadanya,” timpalnya seraya bersandar di kursi.
Tjung Hwa pun mulai bercerita. Ia bertandang ke Hongkong dan kemudian “tembak” ke Guangdong. “Maju sekali mereka,” ujarnya. “Jalan sebelah kiri enam jalur. Sebelah kanan enam jalur. Entah berapa besar biaya pembangunannya.”
Kisah ‘lelaki dan wanita Dayak’ yang dijepretnya itu tak lain adalah warga Suku Fa di daratan Cina. Mungkinkah kata Fa ini yang akhirnya membentuk kata Fa Nyin.
“Dia mengenakan atribut adat yang mirip orang Dayak,” ujarnya.
Kami setuju. Bahkan saya mengutip pendapat Dr Elias Tana Moning bahwa ada kaitan antara Dayak hingga Indian di Amerika.
“Kan orang Melayu asalnya dari Yunan Cina Selatan. Ada dua gelombang kedatangan. Melayu tua dan Melayu muda. Melayu tua itu yang kemudian kita sebut Dayak karena berdomisili di pedalaman, dan Melayu muda di pesisir sebagai Melayu yang kita kenal sekarang. Jadi hakikatnya sama-sama orang Cina,” kata saya.
Icha menimpali. “Iya yah. Rumpun Malanesia!”
“Malayik dan Ibanik,” sambung Mering.
Sejenak kami terlibat diskusi yang demokratis. Disebut-sebut tulisan Dr Yusriadi dan perjalanan HA Halim Ramli serta Borneois, Prof Dr Jim Collins. Dibuka pula fakta arkeologi Ketapang yang menunjukkan peradaban Kalbar sudah maju sejak masa lalu.
Saya sendiri berpikir yang duduk di meja bundar ini multietnis namun bisa diskusi dengan santai dan bergelak tawa penuh canda. Ada saya yang Bugis. Ada Mering dan Tanto serta Akim yang Dayak. (Mering bahkan proklamasi bahwa dirinya sudah pasca Dayak). Dan ada Icha dan Cici yang Melayu. Ada juga Suryani, Acui dan Tjung Hwa yang keturunan Cina yang kita selalu sebut Tionghoa.
“Ini contoh simpel demokrasi,” pikir saya dalam hati.
Pintu ruang khusus di lantai dua terbuka. Pelayan membawa air putih disusul kolak pisang. “Sudah azan,” katanya. Dan kami pun buka puasa bersama. Saya kemudian salat di lantai tiga untuk menunaikan ibadah salat Magrib.
Di atas meja makan telah terhidang Tong Yam, gurami goreng, ayam masak asam manis, cah sawi plus bakso dan rencah udang laut. Kuliner ini dilengkapi dengan sambal dan minum lemon tea.
“Bagaimana rasanya?” kata Tjung Hwa.
“Mantap. Tak kalah dengan Tong Yam di Thailand,” kata saya seraya mencicipi sajian ala Negeri Gajah Putih tersebut. Saya pernah ke Thailand dan merasa Tong Yam di Grand Resto begitu delicious.
“Mak nyos rasanya,” kata Tanto.
“Iya...maknyos juga,” timpal yang lainnya tertawa.
“Saya mau tahu dari kawan-kawan wartawan,” timpal Tjung Hwa.
Bicara soal makanan kami memuji Bondan Winarno seorang Pemred Sinar Harapan yang ide cemerlangnya soal liputan makanan jadi trend di televisi. Nyaris semua TV menyuguhkan acara kuliner.
“Dia investigator ulung. Dialah yang membuka kasus tambang emas di Busang, Kaltim,” urai Mering.
“Dia penulis. Juga menulis di Trubus dan menerbitkan sejumlah buku-buku pertanian,” kata saya.
“Inilah yang kami suka diskusi dengan wartawan,” timpal Acui. “Kami suka diskusi dengan anak-anak Tribune karena hobi baca. Hobi baca itu jangan sampai mati,” katanya.
Acui juga suka dengan perkembangan web log yang dipromotori awak Tribune. Acui punya blog didesainkan dari Tribune.
“Saya semula kagok, tapi sekarang saya sudah bisa meng-update sendiri,” tuturnya. “Saya suka buka blog Nur’Is, Andreas Harsono, Tanto dan adek Mering sekali sekali buka blog Akim,” akunya.
“Nanti untuk Bang Tjung Hwa saya buatkan blognya,” timpal Mering.
“Wow...” sambut Tjung Hwa.
Kami terus bercerita tentang seluk beluk dunia maya. Plus minusnya. Termasuk peran pers dalam blantika ekonomi, politik, sosial dan budaya.
“Saya melihat Kuching, Singapura dan Cina sudah begitu maju. Saya mendendam dalam hati, bagaimana kita juga bisa maju,” ungkap Tjung Hwa dengan jidat mengernyit. Ia menegaskan bahwa dalam Islam dinyatakan, “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke Negeri Cina.”
“Kita bisa, asal kita mau,” kata saya.
“Orang Cina di sini juga banyak. Kita bisa saling belajar,” katanya menyuguhkan senyum.
“Kita bisa maju lewat web,” timpal Mering.
“Soal teknologi kita pasti jauh ketinggalan, tapi kita bisa unggul di bidang pariwisata,” kata Acui.
“Menurut saya, tak ada suatu negara yang maju pariwisatanya tanpa transportasi yang lengkap,” kata Tjung Hwa.
Dia mencontohkan di Singapura. Negaranya kecil, tapi transportasinya begitu hidup.
“Tak ada negara berkembang tanpa transportasi yang memadai,” timpalnya.
Ketika di Singapura, Tjung Hwa ditertawakan ketika bertanya tentang city tour. “Tak perlu, semua di sini saling hubung. Semua boleh jadi alternatif. Dan tak akan pernah sesat,” ungkapnya mentertawakan diri sendiri.
Acui menimpali. “Bupati Agus Salim sudah benar menyediakan kapal ferry untuk naik ke Pulau Temajo agar daerah itu hidup pariwisatanya. Tapi sayang tak ditunjang dengan tempat sandar. Ujung-ujungnya ferry cuma diikat di pinggir pantai.” Dia tertawa.
Saya berpikir, betapa kesenjangan kita masih jauh dari maju.
Sambil makan banyak yang kami bicarakan. Seolah-olah kami bisa membalik dengan telapak tangan bagaimana memajukan Kalbar untuk setaraf dengan negara-negara maju. Banyak teori dan wawasan yang saling kami tumpahkan.
“Diskusi-diskusi seperti ini perlu terus kita jadwalkan,” kata Acui.
Saya mengatakan, untuk memajukan Kalbar pejabat-pejabat kita sudah mau. Cuma tidak gampang bagi mereka untuk mewujudkannya. Mereka berhadapan dengan teamwork yang tidak kompak, SDM staf yang rendah, wilayah yang luas, transportasi yang belum menunjang dan masih banyak masalah.
“Tapi kalau kita mau bersatu, kita pasti bisa. Tak ada yang bisa mengalahkan keyakinan dan kebulatan tekat.”
Saya tekankan siapapun yang jadi pemimpin di Kalbar dalam Pilkada mesti didukung. Masing-masing kandidat punya plus minusnya. Terpenting kita semua bersatu untuk membangun Kalbar. Toh Kalbar tidak bisa dibangun oleh salah satu kelompok atau sektor politik saja. Kita hanya bisa membangun jika ada kebersamaan.
“Saya setuju,” kata Tjung Hwa. Ia mengurai kiat sukses Deng Xiao Ping. “Saya tak peduli kucing hitam atau kucing putih asal bisa menangkap tikus. Sama saja bagi kita di Kalbar, tak peduli mau Melayu, Dayak, Cina atau orang Amerika sekalipun asal bisa membangun dengan adil, bijaksana.”
Diskusi tentang ini begitu hangat. Cuma sayang kami dikejar deadline sehingga untuk sementara diskusi demokrasi dipungkasi dengan pamitan. “Lain kali kita diskusi lagi. Tribune suka diskusi daripada ngerumpi.”□

Baca Selengkapnya..

Thursday, October 4, 2007

Jurnalis Ludah

Jurnalis ludah adalah jurnalis yang hanya mengutif apa yang diucapkan orang atau sumber, tanpa mau meriset dan mencari tahu apa yang diucapkannya.


Saya cukup terganggu dengan hasil karya jurnalis ludah seperti ini, jurnalis yang hanya mencatat apa yang dikatakan narasumber. Akibatnya, masyarakat bingung setelah membaca laporannya. Kebanyakan dari laporan atau beritanya justru menyesatkan…saya juga bingung mau jawab apa? Toh bukan wewenang saya untuk menjelaskan…
Agar tidak dicap jurnalis ludah, maka si wartawan jangan percaya begitu saja dengan ucapan narasumber, mereka harus membuktikan ucapkan itu lewat riset internet, pustaka, lapangan dan cross cek balik--baik terhadap objek maupun subjek pemberitaan. Nah hasilnya akan memberi pemahaman yang benar kepada pembacanya. Itu bagian dari edukasi dari sebuah pemberitaan disamping informatif dan komunikatif.

Baca Selengkapnya..