BERPEGANGLAH PADA DIDIKAN, JANGANLAH MELEPASKANNYA, PELIHARALAH DIA, KARENA DIALAH HIDUPMU...Amsal 4:13

Wednesday, February 4, 2009

Menjadi Pemain


Oleh Tanto Yakobus

Sampai hari ini mungkin masih ada teman kantor maupun di luar bertanya-tanya mengapa saya pilih bergabung dengan Partai Demokrat dan menjadi calon legislatif (caleg) Provinsi Kalimantan Barat daerah pemilihan Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Sekadau untuk pemilu 9 April mendatang?
Tak sedikit pula rekan-rekan wartawan komentar; dengan masuknya saya ke parpol tertentu, saya sudah partisan. Sementara jurnaslisme adalah profesi yang mandiri dan tidak partisan.

==========
BERSAMA BUPATI SEKADAU
Saya (kanan) Bupati Sekadau, Simon Petrus, S.Sos., M.Si, Ibu Skolastika Simon Petrus dan Bonifatius Benny, saat pelantikan pengurus DPC Partai Demokrat Kabupaten Sekadau. Simon Petrus terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Sekadau.
==========

Terhadap komentar rekan jurnalis itu, saya katakan, saya ingin menjadi pemain, bukan pengamat apalagi penonton.
Tentu, setiap orang punya keinginan, cita-cita dan prinsip hidup. Jadi untuk menentukan arah hidup, saya punya hak dong.
Nah, jika begitu, lepas dong jurnalistiknya? Oh tidak, sebab jurnalis itu bukan sekedar profesi, tapi keterampilan yang sudah melekat pada pribadi saya. Kapan pun saya mau bisa menulis dan dimana pun.
Kalau soal partisan, saya rasa semua profesi itu bersayap. Tidak ada yang bisa berdiri sendiri. Seorang dokter spesialis sekalipun, tidak ada larangan baginya untuk menjadi caleg. Apalagi di negara demokrasi seperti kita. Cuma yang tak boleh jadi caleg TNI-Polri. Tapi setelah purnawirawan, mereka bisa masuk partai apa pun.
Beda dengan saya, dengan niat yang tulus saya ingin menjadi pemain profesional. Dan saya sangat yakin, karena sebelum memutuskan masuk lapangan, saya sudah mengenal luar dalam lapangan tersebut. Mulai dari teori (sesuai pendidikan) hingga praktik di lapangan. Praktik lapangan lebih gila lagi, saya pun tak sanggup menceritakannya. Istilahnya sama dengan bermain bola, dari bermain cantik sampai tekling kasar. Saya pahamlah itu.
Beda dengan teman-teman yang terjun lapangan dengan masih meraba-raba. Konyolnya lagi mencari pekerjaan. Ya caleg untuk mencari kerja. Maka wajar bila terpilih betul-betul kerja, sehingga tidak tahu fungsi sesungguhnya. Apalagi mikir kepentingan rakyat, jauhlah itu.
Sebagai jurnalis, saya tahu fungsi legislatif. Saya juga tahu apa kerja mereka selama ini, karena sudah sembilan tahun saya meliputnya. Ibarat pengamat bola, saya hanya pandai mengkritik lewat tulisan, tapi tidak ada juga perubahan. Memang di Indonesia pengamat lebih pandai dari pemain. Lihat saja ketika Timnas PSSI tampil di Stadion Utama Bung Karno. Sudah susah payah mengalahkan lawan tangguh, masih saja dicemooh. Pengamat pandai menilai person pemain. Dia tidak berkembang di posisinya, perlu diganti.
Saya juga merasa begitu, setelah sembilan tahun menggunakan tangan dan pikiran saya istilah teman di kantor, ”menjahit mulut” (komentar) dewan ke koran menyorot kebijakan tak memihak rakyat, ternyata tidak ada juga perubahan. Jadi mustahil juga ada perubahan bila kita hanya pengamat. Yang bisa mengubah sesuatu adalah pemain. Sebab pemain jugalah yang bisa melewati lawan dan mencetak gol. Jadi saya ingin ada perubahan dengan pemikiran-pemikiran dan pengalaman saya selama ini bila kelak saya dipercayakan rakyat menjadi wakilnya. Itu saja sih.

3 komentar:

LEMBAGA BINA MASYARAKAT DESA said...

Positive reasoning: harus terlibat dan jadi pemain, jangan hanya penonton.
Harap nanti jangan lupa jalan kita yang banyak lobang, jalan yang bengkok dan kecil; dusun yang masih gelap dan tidak ada air ledeng; tidak ada jalanraya menuju ke dusun, pendidikan yang mundur: demi pembangunan kita Dayak

Tanto Yakobus said...

so pasti, bila rakyat menghendaki
saya paham betul kebutuhan masyarkaat, terutama masyarakat pedalaman, sebab bagaimana pun asal saya dari pedalaman, salam

alris said...

Mantap pak. betul harus jadi pemain.