BERPEGANGLAH PADA DIDIKAN, JANGANLAH MELEPASKANNYA, PELIHARALAH DIA, KARENA DIALAH HIDUPMU...Amsal 4:13

Friday, December 19, 2008

Masihkan Sawit Primadona?


Replanting perkebunan sawit milik PTPN 13 di Ngabang. FOTO AA Mering/Borneo Tribune
===========
Oleh Tanto Yakobus

Sepuluh tahun terakhir, komoditas kepala sawit menjadi primadona di Indonesia. Sebagai daerah tropis, tanaman sawit sangat cocok dikembangkan di Indonesia. Melihat potensi itu, pemerintah terutama jaman orde baru membalak hutan besar-besaran untuk dijadikan perkebunan sawit. Hasilnya, munculah perkebunan kelapa sawit skala besar di Sumatera yang dimotori oleh PT. Perkebunan Nusantara (PTPN).

Perusahaan milik negara itu membuka hampir separoh luas Sumatera Utara dan merembet ke Sumatera Barat, Jambi dan Riau. Selanjutnya ekspansi ke pulau Kalimantan.
Kini hampir semua Kalimantan ada perkebunan sawit baik oleh BUMN, BUMD, PMA maupun swasta murni. Dan di Kalimantan Barat sendiri, hampir seluruh kabupaten dimasuki perkebunan kelapa sawit.
Sebetulnya di kalangan masyarakat kita, perkebunan sawit bukanlah dewa penyelamat, tapi justru sesuatu yang menakutkan. Lihat saja penolakan terhadap kehadiran perkebunan kelapa sawit terjadi dimana-mana.
Penolakan itu, karena masyarakat trauma dengan kejadian masa lampau. Masyarakat kecewa setelah menyerahkan lahan sekian hektare, tapi tidak mendapatkan apa-apa. Masyarakat justru berhutang dengan perusahaan untuk mendapatkan kembali tanah dua hektar. Bahkan bila dibandingkan dengan warga yang selama ini mengandalkan penghidupan dari perkebunan karet, kondisi mereka yang terlanjur menyerahkan lahan kepada perusahaan sawit jauh lebih memprihatinkan.
Didampingi sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kini masyarakat lokal melakukan ’perlawanan’ dengan menolak kehadiran perkebunan sawit di daerah mereka.
Sementara pihak perusahaan sendiri yang sudah terlanjur eksis, kini justru sangat terpukul dengan krisis keuangan global di Amerika Serikat. Krisis tersebut membuat komoditas sawit jatuh. Akibatnya, petani malas panen karena harganya tidak sesuai.
Kondisi itu bukan hanya merugikan pihak petani saja, tapi juga buruh banyak di PHK, perusahaan mengurangi biaya produksi dengan menekan berbagai biaya demi penghematan.
Dengan kondisi ini, apakah kita masih melihat perkebunan kelapa sawit sebagai primadona pendapatan daerah maupun negara?
Kondisi itu membuat Gubernur Kalbar, Cornelis, mengingatkan pengusaha sawit agar bersaing secara sehat dan menjalankan usaha sesuai dengan hati nurani. Gubernur tidak ingin persaingan antar perusahaan sawit justru masyarakat yang dikorbankan. Hal itu ditegaskan Cornelis ketika melantik pengurus Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) daerah Kalbar periode 2008-2011, kemarin. Kita juga berharap kehadiran GAPKI bisa memperbaiki sistem penyerahan lahan maupun kesejahteraan petani sawit itu sendiri. Semoga.

1 komentar:

tunabdulrazak said...

Itu Golden Crop. Go for it!