BERPEGANGLAH PADA DIDIKAN, JANGANLAH MELEPASKANNYA, PELIHARALAH DIA, KARENA DIALAH HIDUPMU...Amsal 4:13

Monday, May 26, 2008

"Putri Dayak" dari Paman Sam


Oleh Tanto Yakobus

ADA yang unik selama pagelaran Pekan Gawai Dayak yang berlangsung dari tanggal 18 hingga 24 Mei 2008 lalu di Pontianak. Seorang wanita cantik tampak menonjol dari kaum hawa lainnya di arena Pekan Gawai Dayak itu. Dara berkulit putih, hidung mancung, rambut pirang dan bermata biru itu berasal dari Amerika Serikat. Dia adalah Laura Steckman (31).

Kandidat Doktor Univerty of Wisconsin Medison itu rajin mengunjungi stand-stand pameran selama berlangsungnya Pekan Gawai Dayak. Selain mengunjungi stand pameran, dia juga tampak serius menyimak setiap lagu maupun tarian yang ditampilkan oleh setiap sanggar yang tergabung dalam Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (Sekberkesda) Kalimantan Barat.
Dia ramah menyapa setiap siapa saja yang dia temui. Senyumnya selalu merekah dari bibirnya titip sembari mengikuti pandangan matanya yang biru itu.
Walau baru tujuh bulan di Indonesia, dia sudah fasih sekali berbahasa Indonesia. Bahkan bahasa Indonesianya sempurna sekali baik dari aksen maupun tata bahasanya. Semuanya sudah beraturan menurut ejaan yang disempurnakan (EYD).
Ketika saya meminta mewawancaranya untuk blog, ia sangat antusias menyambutnya. “Oke saya senang sekali, nanti saya telepon mama saya di Amerika membaca blognya,” katanya ramah.
“Mama cukup khawatir dengan saya yang jauh dari dia, bila ada di blog mama bisa tahu saya di mana dan bakar saya tentu baik,” ujarnya.
Setelah berbasa-basi, Laura—demikian ia disapa, tak segan-segan mengatakan kekagumanannya tentang Indonesia. “Indonesia memang hebat, tidak ada duanya di dunia. Selain wilayah paling luas dengan ribuan pulau, juga masih banyak hutannya. Dan yang membuat saya tambah kagum, banyak sekali suku atau etnik yang ada di Indonesia,” katanya dengan mata berbinar-binar.
Menurut Laura, pertama kali ia datang ke Indonesia, dia mendarat di Manado. Namun pertama dia kenal Indonesia, ia mengaku menyukai Indonesia tergantung hari. Ada hari yang menyenangkan namun ada pula hari yang menyebalkan.
Menyenangkan karena orang Indonesia umumnya ramah dan lingkungannya masih asri. Yang tidak menyenangkan manakala ada orang iseng dan mengodanya, mungkin juga punya nita jahat. Tapi yang jelas sambung Laura, persepsi orang tentang Indonesia selama ini memang salah. Ternyata setelah datang jauh beda dengan anggapan orang luar selama ini bahwa Indonesia tidak aman. “Buktinya saya aman-aman saja kok, walau sendirian,” katanya.
Yang lebih menyenangkan lagi, saya punya banyak teman, termasuk di Pontianak, Kalbar. Saya banyak teman dari Dayak, Tionghoa. Mereka sangat terbuka sekali dengan saya, Melayu juga ada.
Pontianak sungguh menyenangkan, sebab banyak tempat wisata. Terutama di daerah pedalaman Kalbar.
Laura juga mengaku dia tidak bermsalah dengan makanan. “Awalnya memang sulit, tapi bila orang bermasalah dengan makanan itu sudah masalah bersar,” katanya.
Di Kalbar, Laura mengaku sudah masuk ke daerah Pontianak dan sekitarnya, Sanggau dan Sintang. Sedangkan di Kalimantan Tengah, Laura pernah mengikuti Gawai Dayak di sebuah kampung di pedalaman Sungai Katingan. Kondisi alamnya sangat bagus. Dia mengaku sangat menyukai pedalaman Katingan, karena selain masyarakat ramah, juga aman bagi dirinya. Orang tidak mengganggap dirinya orang asing.
Kepada saya Laura menceritakan, dirinya bisa membedakan orang itu sukunya apa, dari wajah dan bahasanya. “Wajah dan bahasa yang dia gunakan sangat khas untuk membedakan suku di Indonesia,” jelas Laura yang sudah lima tahun belajar bahasa Indonesia di negaranya, Amerika Serikat atau Paman Sam itu.
Kepentingannya ke Kalbar, itu terkait dengan studinya di University of Wisconsin Medison. Untuk menyelesaikan Doktornya (S-3) ia memperdalami sejarah Dayak di Kalbar. Untuk keperluan itu, ia keluar masuk pedalaman dan rajin mengunjungi tokoh-tokoh adat dan masyarakat termasuk perpustakaan yang mendukung penelitiannya.□

3 komentar:

Billah said...

mudah2 an banyak lagi orang luar sana yang mau belajar budaya Indonesia malah klo bisa bhs indonesia jd bhs internasional biar kita ga usah repot2 belajar bhs org lain hehehehe

campur-campur said...

panggilannya buyak, bule dayak..
hehehe..
pak yak nya mana yah?
=)

Alef beh said...

wah... menarik sekali ketika membaca bahwa Laura yang terjun langsung ke Pedalaman Dayak. mengingatkan saya pada sekelompok Peserta "Youth Exchange Programm" yang berasal dari Canada. tentunya banyak hal yang akan mengubah persepsi mereka tentang Indonesia itu sendiri pada umumnya, dan budaya masyarakat Dayak Sontas setempat pada khususnya. Sayang saya kurang jelas tentang suku dayak apa yang dikunjungi oleh Laura.tapi yang penting.... dan patut dibanggakan adalah betapa beraninya Laura dengan langsung terjun ke daerah setempat, yang tentunya ada banyak sekali kekhawatiran dan warning-earning dari negara asalnya.