BERPEGANGLAH PADA DIDIKAN, JANGANLAH MELEPASKANNYA, PELIHARALAH DIA, KARENA DIALAH HIDUPMU...Amsal 4:13

Wednesday, May 28, 2008

Elemen ke-10 Jurnalisme

Oleh Tanto Yakobus

SAYA baru dengar langsung dari Andreas Harsono, teman sekaligus guru saya ketika belajar menulis panjang dengan model narativ reporting atau istilah lain, jurnalisme sastrawi. Dia bilang buku The Elements of Journalism karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, yang memuat sembilan elemen Jurnalisme sudah direvisi. “Jadi sekarang ada 10 elemen jurnalisme,” ujar AH—sebutan Andreas Harsono, dalam diskusi kecil kami membahas program kerja kami di rumah Pak Kristianus Atok, pekan lalu.

Buku yang membuka cakralawa wartawan dalam menulis itu, kata AH sudah direvisi. Jadi sekarang ada 10 elemen jurnalis yang erat kaitannya dengan dunia teknologi.
Sebelum dia menjelaskan petautan program kerja kami yang memang di bidang jurnalis, yakni memperbaiki mutu jurnalis di Indonesia, dia cukup panjang lebar menjelaskan elemen ke-10 dari gurunya, Bill Kovach.
Bila AH bertekat memperbaiki mutu jurnalis di Indonesia, kami cukup memperbaiki mutu jurnalis di tingkat kampung saja. Itu sudah cukup bearti. Sebab kami akan memulainya dari desa ke kota.
Tapi sayang, ketika itu AH belum bisa membawa buku revisi yang memuat elemen ke-10 karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel itu. “Nanti suatu saat saya kesik deh,” kata AH kepada kami malam itu.
Tapi sebelum mendapatkan bukunya, saya membuka situ www.pena.co.id yang memang sering saya patroli disana untuk mendapatkan info baru. Sebab tak jarang info yang ditampilkan di situs tersebut selain uptude juga banyak kaitannya dengan wartawan.
Karena banyak kebertautannnya itulah, maka saya juga sering mampir ke situs dimaksud. Dan Rabu (28/5) ketika saya patroli kembali ke situs tersebut, saya sungguh beruntung, ternyata ada penjelaskan yang cukup tentang elemen ke-10 tersebut yang dijelaskan secara gamblang oleh saudara Farid Gaban. Kebetulan Farid Gaban sudah mendapatkan buku tersebut sebagai oleh-oleh dari koleganya, Uly Siregar, Paul dan Alana Skiera dari Amerika Serikat.
Jadi saya termasuk orang yang beruntung menemukan resensi yang dibuat Farid Gaban, dan ini saya pikir semakin menambah pemahanan saya tentang ilmu jurnalistik yang dikembangkan oleh Bill Kovach—yang diteruskan oleh muridnya, AH kepada saya.
Ketika AH menyinggung elemen ke-10, saya sudah penasaran seperti apalagi bentuknya. Yang ada sekarang saja, hanya sedikit orang yang mampu memahaminya. Itu pulalah mengapa mutu jurnalis di Indonesia sangat-sangat buruk, tak lebih dari sekedar jurnalisme ludah yang sudah dikatakan oleh pratisi-pratisi jurnalis jauh sebelumnya.
Kasarnya, jurnalis di Indonesia tidak lebih dari sekedar memindahkan bibir orang ke koran atau majalah atau media elektronik saja. Dia minim investigasi yang mempu mengungkap fakta. Yang ada jurnalis yang berpihak kepada pejabat dan bila pejabat bersalah langsung menghakimi seperti hakim di pengadilan.
Itulah gambaran jurnalis kita, dia tidak pekan dan berpihak kepada kepentingan publik, kepentingan rakyat kecil. Dia hanya berpihak kepada pemilik modal dan model baru sekrang jurnalis malah lebih berpihak kepada investor atau pemilik media itu sendiri.
Walau Farid tidak membuat resensinya secara lengkap, tapi sudah cukup memberi pemahaman kepada saya.
Nah, berikut tulisan saudara Farid Gaban, saya posting secara langkap yang diambil dari situ www.pena.co.id.

Tentang Elemen ke 10 Bill Kovach dan Tom Rosenstiel

Oleh Farid Gaban
Saya baru membaca sebagian dari edisi revisi dari buku The Elements of Journalism (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel). Jadi, belum bisa menulis resensi yang lebih lengkap. Tapi berikut ini quick review.
[Terima kasih buat Uly Siregar, Paul dan Alana Skiera yang telah membawa oleh-oleh buku ini dari Amerika].
Dalam buku baru ini, Kovach dan Rosenstiel memasukkan elemen ke-10: "Citizens, too, have rights and responsibilities when it comes to the news."
Kovach dan Rosenstiel mengkaitkan elemen terbaru ini dengan
perkembangan teknologi informasi (internet khususnya) dalam beberapa tahun terakhir: munculnya blog dan online journalism serta maraknya jurnalisme warga (citizen journalism), community journalism dan media alternatif.
Ini elemen yang memang penting, sesuai dengan sub-judul buku asli
mereka: "What Newspeople Should Know and the Public Should Expect."
Teknologi informasi muatkhir memungkinkan orang, siapa saja,
memproduksi berita. Inilah era yang disebut oleh Alvin Toffler,
seorang futurolog pada 1980-an, sebagai era prosumsi (produksi dan konsumsi). Publik atau masyarakat bisa menjadi produsen dan konsumen sekaligus.
Munculnya blog, jurnalisme warga dan media alternatif sebenarnya
juga diilhami oleh kekecewaan publik terhadap media mainstream yang sekarang ada, sebagian besar karena kesalahan para wartawan dan pemilik media sendiri.
Tingkat kepercayaan publik terhadap media terus merosot. Di Amerika, misalnya, sebuah survai 1999 menunjukkan bahwa hanya 21% masyarakat yang menilai pers peduli pada rakyat, terjun bebas dari 41% pada 1987. Hanya 58% yang mengakui pers sebagai lembaga watchdog, turun dari 67% pada 1985. Kurang dari separo responden, 47%, yang percaya bahwa pers melindungi demokrasi.
Kecenderungan yang sama, kita bisa menduga, juga terjadi di Indonesia. Liberalisasi industri media setelah reformasi tidak serta merta meningkatkan pamor pers. Pengalaman pribadi saya justru menunjukkan bahwa masyarakat sekarang jauh lebih sinis terhadap media dan profesi kewartawanan, ketimbang 20 tahun lalu.
Liberalisasi itu sendiri menurut saya penting. Namun, nampaknya perlu diimbangi oleh peningkatan mutu karya jurnalistik serta ketaatan wartawan terhadap kaidah dan etika jurnalisme.
Kekritisan dan sinisme masyarakat terhadap media mainstream itu
penting dan bermanfaat. Masyarakat memang sebaiknya mamahami kaidah jurnalistik dan dengan begitu bisa mengontrol pers, yang pada gilirannya memacu wartawan dan pemilik media untuk kembali merenungkan eksistensinya sendiri: untuk apa sebenarnya jurnalisme ada?
Kovach dan Rosenstiel kembali mengingatkan kita para wartawan untuk mengkaji serta mengenali kembali prinsip-prinsip dasar jurnalisme agar kita tidak makin tersesat jauh dari publik. Dan khususnya dalam elemen ke-10, buku baru ini mengingatkan publik untuk ikut serta memperkaya jurnalisme dan mengontrol pers.
Jurnalisme terlalu penting untuk hanya dipercayakan kepada para
wartawan, atau mereka yang mengaku wartawan.*** (Farid Gaban]

2 komentar:

Redha Herdianto said...

waduh, telat banget nih saya. Saya kira 9 elemen gak bakalan ada revisinya. Padahal teman2 pers mahasiswa di tempat saya masih belajar 9 elemen dan blm juga rampung.

Ditunggu deh resensi lengkapnya

CheLe4u said...

makasih y atas penjelasan elemen k10 itu.. saya terbantu sekali untuk menyelesaikan tugas saya mengenai buku 9 elemen jurnalisme (sekarang 10)..dtunggu y resensi lengkapnya..^^