BERPEGANGLAH PADA DIDIKAN, JANGANLAH MELEPASKANNYA, PELIHARALAH DIA, KARENA DIALAH HIDUPMU...Amsal 4:13

Sunday, August 17, 2008

Buah Kemerdekaan


Oleh Tanto Yakobus

Misa minggu pagi tadi agak spesial bagiku. Karena bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-63. Ya tak terasa hari ini sudah 63 tahun kita merdeka dari penjajahan bangsa asing. Belanga selama 3,5 abad dan Jepang selama 3,5 tahun menancapkan kukunya di Bumi Pertiwi ini. Para pendahulu kita, terutama Sukarno-Hatta sepakat melepaskan belenggu penjajahan itu pada tanggal 17 Agustus 1945.

Hari itu pun tradisi gereja agak beda dengan biasanya. Seperti di Gereja Katolik Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Jalan Pancasila, Pontianak Kota. Nuansa nasionalisme sangat kental. Bukan hanya hiasan warna bendera merah putih di sekitar dan dalam gereja saja, lagu pembukaan pun diganti dengan lagu Indonesia Raya. Demikian juga lagu-lagu lainnya diganti dengan lagu-lagu perjuangan.
63 tahun bukan waktu yang singkat. Banyak peristiwa yang menyertainya. Ada pasang surut kerjadian di negeri ini. Ada keberhasilan, ada keindahan. Tapi tak sedikit pula kegagalan dan bahkan kepahitan ketika prvinsi ke-27 Indonesia, yakni Timor-Timur lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi lewat jajak pendapat di era Presiden BJ Habibie tahun 1999.
Yang patut kita renungkan juga di usia bangsa kita ke-63 tahun ini, apakah kita betul-betul sudah merdeka? Apakah hari ini seluruh rakyat Indonesia tidak kelaparan lagi? Apakah hari ini seluruh rakyat Indonesia sudah mengecap pendidikan semua? Apakah hari ini seluruh rakyat Indonesia sudah bebas dari berbagai penyakit? atau tidak terkena gizi buruk?
Yang paling fundamental dalam hidup ini, apakah kita sudah benar-benar mendapatkan kebebasan yang hakiki? Misalnya dalam pergaulan? Dalam menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya?
Rasa-rasanya baru sebagian kecil orang merasakan semua itu. Baru sebagian kecil yang yang bisa makan tiap hari. Baru sebagian kecil orang yang merasakan pendidikan memadai, masih sebagian kecil yang bisa memenuhi gizi keluarganya.
Di bidang keagamaan, orang masih diselimuti ketakutan dalam menjalankan ibadahnya. Padahal ibadah itu urusan individu manusia dengan Tuhan bukan dengan sesamanya. Tapi untuk urusan yang sangat pribadi tersebut, masih saja terjadi pelarangan. Mulai dari pelarangan beribadah hingga mendirikan rumah ibadah sendiri.
Mendirikan rumah ibadah jauh lebih baik ketimbang harus mencaci maki orang, harus menteror orang.
Satu hal yang aneh di negeri ini, izin mendirikan rumah ibadah jauh lebih sulit dari izin mendirikan rumah judi, rumah karaoke atau tempat maksiat lainnya. Para penguasa lebih gampang menerbitkan izin yang tidak bermanfaat untuk iman dan ahklak itu.
Di bidang kesejahtaraan. Hari ini entah berapa ribu masyarakat kita yang tidak bisa makan, tidak bisa berobat dan tidak bisa bersekolah. Di sisi lain, para pejabatnya korup.
Sudah 63 tahun kita merdeka, ternyata kita belum bisa merdeka dari penjajahan yang bernama korupsi itu. Korupsi mencapai puncaknya di zaman Orde Baru. Untuk mempertahankan korupsi itu, nepotisme dimana-mana. Setiap tingkatan yang menjabat adalah kerabat dan keluarganya semua, sehingga korupsi betul-betul tidak bisa dibasmi. Bahkan semakin menjadi, dan sekarang kita bisa menyaksikan pemberitaan baik di media cetak maupun elektronik, disana sini masih terjadi korupsi.
Di tengah kegelapan akibat korupsi itu, kini muncul sedikit sinar terang yang menjadi harapan kedepan bisa menerangi negeri ini. Sinar itu adalah KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).
Di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) prestasi dibidang pemberantasan korupsi cukup diacungi jempol. Banyak pihak yang terlibat korupsi diuber-uber dan diseret ke meja hijau. Tak peduli penegak hukum sekali pun seperti aparat kejaksaan tak luput dari jeratan KPK. Kita berharap sinar terang KPK ini tidak memudar sampai korupsi betul-betul bersih. Terlebih korupsi yang dilakukan kerah putih itu.
Semoga setelah sekian lama kita menderita, mulai dari penjajahan Belanda, Jepang dan penjajahan oleh bangsa sendiri lewat korupsi itu, kini kita sebagai rakyat bisa bisa menikmati buah kemerdekaan itu.
Buah-buah kemerdekaan itu adalah keadilan, kesejahteraan dan keamanan. Buah kemerdekaan itu bisa tumbuh subur di negeri ini bila dipupuk dengan cinta kasih sejati. Semoga!

1 komentar:

Hellen said...

ya... semoga.
Semoga yang baik2 yang akan lahir dan tumbuh.