BERPEGANGLAH PADA DIDIKAN, JANGANLAH MELEPASKANNYA, PELIHARALAH DIA, KARENA DIALAH HIDUPMU...Amsal 4:13

Saturday, February 16, 2008

Kisah Para Istri Tahanan

Tiap Hari Berurai Air Mata


Waktu masih menunjukan pukul 12.10 waktu Indonesia barat (wib), saat sekitar enam orang wanita dan beberapa anak kecil serta dua orang pria paruh baya duduk di pos penjagaan pintu masuk markas polisi resor (Mapolres) Sintang. Mereka adalah keluarga para tahanan yang mendekam di sel Polres Sintang.

Mereka harus menunggu hingga jam besuk tiba yaitu pukul 14.30. Namun Kaur Bin Ops Polres Sintang, T. Saragih yang mengantarkan saya berbaik hati dengan mengizinkan mereka langsung menjenguk anggota keluarga yang ditahan. Namun dengan cara bergilir, setiap 2 orang mendapatkan kesempatan untuk menemui anggota keluarganya yang ditahan selama 15 menit.
”Kami mau besuk suami, sekalian mengantarkan makanan. Anak-anak juga sudah rindu ingin ketemu ayah mereka, ” ujar Gusmayani, istri Alfred kepada saya yang menemuinya, Jumat lalu.
Wanita berkulit kuning langsat ini tengah mengawasi anak-anaknya yang bermain batu di depana pos penjagaan. Selanjutnya kepada saya, enam orang ibu ini berkenan membagi cerita duka yang selama 26 hari ini menghantui mereka siang dan malam.
”Tiap hari kami hanya bisa menangis dan bersedih. Kami tak tahu bagaimana nasib suami dan kami sendiri. Apalagi di kampung kami telah meninggalkan hutang yang banyak,” tambah Dayang Kumang yang juga ingin membesuk suaminya.
Dayang membawa satu anak perempuannya yang berumur kurang lebih 5 tahun. Kepada saya, ia mengaku mengumpulkan uang untuk bisa menjenguk suami di Polres ini. “Kami tadi bepupu (mengumpul) uang dapatlah berenam kami pergi ke sini,” katanya.
Saat ini kapal yang menjadi tempat berteduh mereka ditambatkan di pelabuhan SDF di Sungai Durian Sintang. Untuk pergi ke Polres mereka harus naik oplet dengan membayar Rp2.000 per orang.
Saat ditanya bagaimana dengan kebutuhan hidup mereka sehari-hari, Dayang mengatakan bahwa bekal yang mereka bawa dari Kapuas Hulu dulu hanya bisa auntuk bertahan seminggu kedepan. Selanjutnya ia tak tahu, dari mana akan memberi makan anak-anak mereka. Di dalam tiga kapal yang mendorong 800 batang kayu tersebut menurutnya ada belasan ibu-ibu dan anak keluarga para tahanan.
“Kami heran, kenapa baru kali ini kami ditahan. Padahal menjual kayu sudah kami lakukan turun-temurun,” ujarnya.
Dengan polos Dayang juga bercerita bahwa hampir di setiap pos penjagaan sampai ke Sintang ini mereka selalu memberikan sopoi (uang sogokan) kepada petugas keamanan. Namun, baru kali ini petugas keamanan yang menahan mereka. Dan di Sintang tidak mau diberikan sopoi.
”Kami tidak tahu mengapa kayu-kayu kami di tahan. Padahal biasanya kalau sudah di kasik uang kami bisa melanjutnya perjalanan. Tapi sekarang ini mereka tidak mau. Entah kurang banyak atau karena apa,” ujarnya seraya menitikan air mata.
Hal yang sama juga diungkapkana oleh Biyata, istri Anyuk yang datang menjenguk sang suami. ”Saya sudah mintakan izin anak saya untuk tidak masuk sekolah selama 2 bulan, tapi ini sudah hampir sebulan kami belum juga sampai ke Pontianak dan bisa menjual kayu-kayu itu,” katanya.
Satu pemadangan yang sangat menyentuh hati saat itu adalah seorang wanita yang rambutnya telah berwarna putih mengenakan kaos duduk bersimpuh di lantai pos. Di mulutnya masih terlihat potongan daun sirih yang terus di kunyahnya. Sri (80), sengaja ikut rombongan penjual kayu tersebut dimana ada dua anaknya karena ingin melihat Pontianak. Namun ia tidak tahu mengapa harus berhenti lama di Sintang. Dia juga tidak mengerti rakit kayu mereka telah ditahan aparat berwenang.
Saat mendapat giliran untuk menjenguk anggota keluaraga yang ditahan, Sri harus digandeng penjenguk yang lain. Karena Sri sudah lemah dan tidak bisa berjalan dengan cepat. Kepada saya ia juga mengaku sering pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Bahkan menurutnya ia pernah tersungkur jatuh.
Pemandangan lain yang sangat menyentuh hati saat itu adalah saat melihat Eka Julianti Pina (13). Putri salah satau tahanan ini badannya sangat kurus, matanya cekung. Sehingga tulang pipi dan tulang tangannya terlihat menonjol. Menurut pengakuan sang ibu yang masih mengendong balita berumur 8 bulan, Pina sudah 3 hari ini muntah-muntah dan tak bisa makan. Namun Pina tidak juga dibawa untuk berobat.
”Bagaimana mau pergi berobat, untuk makan saja kami susah,” ujar ibu ini lirih.
Siaran TV swasta nasional yang ada di dalam pos penjagaan menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak. Mata mereka tetap memancarkan kebahagiaan. Mereka tidak tahu jika kesedihan sedang bergelayut manja di hati para orang tua mereka. Saat sejumlah anggota polisi yang ada di pos penjagaan menikmati ransum makan siang, anak-anak kecil ini dengan pandangan lugu menyaksikannya. Bahkan kemudian salah satu dari mereka ada yang bercerita kalau sudah besar nanti ingin menjadi polisi.
Namun, tiba-tiba anak perempuan Dayang Kumang menangis, melihat anak Biyata menyuruput aqua gelas yang dibeli sang ibu. Dengan menangis ia meminta agar ibunya membelikan air yang sama juga. Tak kurang akal, Dayang memintakan air yang disediakan dengan dispenser kepada salah satu anggota polisi. Satu gelas plastik air putih itu pun akhirnya dinikmati oleh sejumlah anak yang ikut sang ibu menjenguk ayahnya.
Ditambahkan lagi oleh Gusmayani yang mengaku berasal dari Tayan Hilir, bahwa untuk melakukan perjalanan sampai ke Pontianak di perlukan kurang lebih dua drum solar sebagai bahan bakar kapal. Untuk di daerah Kapuas Hulu, per drum solar dijual dengan harga Rp1,5 juta. ”Ini pun masih utang, entah kapan kami bisa membayaranya,” ujaranya.□Endang Kusmiyati, Tanto Yakobus/Borneo Tribune

1 komentar:

Doushura said...

For a more complete comments, I would advise you to be more detailed information, for example
here or here