BERPEGANGLAH PADA DIDIKAN, JANGANLAH MELEPASKANNYA, PELIHARALAH DIA, KARENA DIALAH HIDUPMU...Amsal 4:13

Tuesday, April 28, 2009

Menunggu Kiprah Srikandi Kalbar di Senayan






Oleh TY

Hasil pemilu legislatif (pileg) 9 April 2009 lalu sudah hampir bisa dipastikan siapa-siapa saja yang berhasil terpilih untuk mewakili Kalimantan Barat di tingkat nasional. Walau Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum menetapkan mereka sebagai calon terpilih, namun berdasarkan hasil rapat pleno KPU Provinsi Kalbar, sudah diketahui nama-nama yang bakal melenggang mulus ke Senayan.

Berdasarkan kuota, Kalbar dapat jatah 10 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan 4 kursi di Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Namun terlepas dari siapa yang bakal duduk di kursi empuk tersebut, ada hal menarik yang patut untuk dicermati—terpilihnya lima perempuan Kalbar yang akan berkiprah di Senayan.
Lima srikandi Kalbar tersebut, satu orang lewat jalur partai politik dan empat orang lewat jalur non partai. Mereka adalah, Karolin Margret Natasa, yang juga putri Gubernur Kalbar, Cornelis. Karolin bukan hanya sihir yang mampu mendongkrak suara PDIP di Kalbar saja sehingga menjadikan partai moncong putih itu sebagai jawara di Kalbar, tapi secara pribadi mendapat dukungan mayoritas masyarakat Kalbar dengan 222.021 suara.
Selanjutnya, Sri Kadarwati, istri almarhum Aspar Aswin—mantan Gubernur Kalbar—yang juga incumbant masih mendapat tempat di hati masyarakat. Buktinya, mantan ketua Dekranasda Provinsi Kalbar itu mendulang dukungan signifikan, dengan 151.602 suara. Lalu, Hairiah, yang berprofesi sebagai advokat di Pontianak—ia cukup dikenal luas lewat aktivitasnya membela para TKI yang bermasalah di luar negeri. Maka tak heran dengan sedikit bergerak ia banyak mendapat simpati dari masyarakat dengan meraup dukungan 124.854 suara.
Berikutnya, Maria Goreti—anggota DPD periode 2004-2009, kini terpilih kembali dengan meraup dukungan masyarakakat sebanyak 157.915 suara, dan yang terakhir adalah Erma Suryani Ranik, mantan wartawan yang kini aktif di lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang lingkungan. Erma—sapaan akrabnya meraup dukungan masyarakat dengan 118.340 suara.
Dengan kehadiran lima srikandi Kalbar di tingkat nasional, kita tidak hanya menunggu mereka membuktikan janji-janjinya pada pemilu lalu saja, tapi lebih pada kiprah mereka kelak.
Apakah kelak mereka bisa kembali bersinar di level yang lebih tinggi, yakni mengulangi kesuksesan mereka ketika memenangi pertarungan yang ketat pada pemilu lalu dengan membuat terobosan-terobosan yang menguntungkan daerah.
Di sisi lain, kita juga boleh berbangga hati. Sebab di tengah kekhawatiran banyak orang akan minimnya partisipasi politik perempuan, Kalbar justru bisa menyumbangkan lima perempuan untuk berkiprah di Senayan.
Itu juga mematahkan anggapan banyak orang yang selama ini berkembang di masyarakat, dimana mereka masih melihat perempuan sebagai kelompok nomor dua. Tapi fakta di lapangan, mereka justru unggul jauh mengalahkan laki-laki yang selama ini selalu dominan di panggung politik kita.
Nah, apakah ini ada hubungannya dengan peringatan hari Kartini 21 April lalu--yang juga tak jauh dari pelaksanaan pileg? Tapi yang jelas semangat juang para perempuan ’perkasa’ itu patut ditunggu.
Sebagai perempuan—terlebih sebagai ibu, mereka jelas melihat segala sesuatunya lebih dengan perasaan. Beda dengan laki-laki yang lebih menonjolkan rasionalitas, bahkan parahnya lagi emosionalitas. Yang penting bisa menguntungkan kelompok atau kalangan sendiri. Dia tidak memikirkan pihak lain, terutama pihak yang selama ini tidak berdaya. Apalagi ini jargon politik. Tidak ada yang abadi, selain kepentingan. Nah, itu agaknya melekat para politisi laki-laki—karena menyangkut harga diri dan kepentingan partainya.
Oleh karena itu kita banyak berharap kepada para perempuan ini. Mudah-mudahan kehadiran mereka bisa memberikan keuntungan ganda bagi Kalbar. Kehadiran mereka bisa memberikan nilai tambah untuk kemajuan daerah Kalbar lewat kiprah mereka di Senayan sana. Nah, mari kita tunggu saja. Setuju?

Baca Selengkapnya..

Friday, April 24, 2009

Isu Kebocoran Soal UN


Oleh TY

Secara umum pelaksanaan ujian nasional (UN) hari pertama di Kalbar berjalan aman dan lancar. Namun di tengah khusuknya para siswa mengikuti UN tersebut, berembus kabar tak sedap. Merebak isu kebocoran soal.

Padahal sehari sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Kalbar, Alexius Akim, telah menjamin naskah dan lembar jawaban UN kali ini tidak akan bocor. Sebab selain pengamanan ketat yang melibatkan Kepolisian dalam distribusinya, juga ada pengawas independen yang melibatkan Perguruan Tinggi, dalam hal ini para dosen dari Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak.
Keterlibatan pihak Perguruan Tinggi dan Kepolisian sejak awal dimaksudkan agar pelaksanaan UN kali ini benar-benar berkualitas. Sebab belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, bahwa setiap pelaksanaan UN selalu saja diwarnai berbagai macam kecurangan, sehingga kualitasnya rendah.
Mulai dari kebocoran soal hingga ditemukannya siswa yang mengunakan contekan. Terkesan siswa menggunakan berbagai cara agar bisa lulus. Sebab dari tahun ke tahun UN adalah momok yang menakutkan bagi para siswa.
Sebetulnya, dalam menghadapi UN ini tidak ada yang perlu ditakutkan, asal siswa betul-betul mempersiapkan diri. Sebab soal yang diujikan juga tidak terlalu mengalami perubahan setiap tahunnya.
Artinya, bila ingin berhasil dalam mengikuti UN, tak ada jalan lain, para siswa harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Perlu ketenangan, jangan gugup dan menganggap beban UN.
Lagi pula, dalam menghadapi UN tersebut, setiap sekolah sudah membuat tip-tip khusus bagi para siswanya. Termasuk memberikan mereka pelajaran tambahan.
Namun demikian, para siswa dalam menghadapi UN ini masih saja tidak punya rasa percaya diri yang tinggi. Mereka sangsi dengan kemampuan mereka; apakah bisa melewati syarat kelulusan nasional minimal 5,50 untuk enam mata pelajaran yang diujikan itu, atau malah tidak berhasil sama sekali.
Mereka menilai syarat minimal itu masih terasa tinggi. Maka tak heran berbagai cara masih ditempuh, termasuk upaya mendapatkan soal.
Di satu sisi, itu merupakan peluang bisnis bagi oknum-oknum tertentu. Namun disisi lain, dalam kondisi yang sempit sekalipun, para siswa bahkan orangtua butuh dengan soal itu. Tak heran isu kebocoran soal justru merebak di hari pertama pelaksanaan UN ini.
Isunya, untuk satu mata pelajaran dipatok dengan harga Rp6 juta. Dan angka itu bagi orang tertentu memang tinggi, tapi bagi yang butuh soal, uang Rp6 tidaklah ada artinya. Prinsip yang penting dapat soal.
Tapi kebocoran soal yang berhembus kencang di masyarakat tersebut hingga kini juga belum bisa dibuktikan. Namanya juga isu, bisa benar bisa angin lalu saja.
Namun sebagai bangsa, kita harus memerangi berbagai praktik kotor tersebut, apalagi praktik kotor itu justru dipraktikan kepada para siswa yang notabene calon pemimpin di masa depan. Nah, mudah-mudah itu hanya isu belaka. Sebab bila isu itu benar, rasanya tidaklah elok kita melaksanakan UN dengan standar tertentu itu.

Baca Selengkapnya..

Thursday, April 16, 2009

Berhenti Mengeluh


Oleh Tanto Yakobus

Mengeluh, mengeluh dan mengeluh! Itu ada di mana-mana. Dia tidak mengenal tempat, tidak mengenal ruang dan tidak mengenal waktu.
Dia meluncur begitu saja dari mulut siapa pun. Tidak pula mengenal status atau pun kasta. Dia begitu akrab dengan siapa saja. Baik dengan si kaya maupun dengan si miskin.
Kita akhirnya juga maklum, sebab dia paling mudah dan gampang dilakukan oleh siapa pun. Siapa sih yang tidak pernah mengeluh di dunia ini?

Mungkin hanya Tuhan yang tidak pernah mengeluh dengan ciptaannya. Atau mungkin juga Tuhan pernah mengeluh dengan ulah manusia yang berlumuran darah dan dosa, cuma kita tidak tahu kapan Tuhan mengeluh?
Tapi kita bisa mengenal tanda-tanda Tuhan murka, dengan berbagai bencana yang terjadi di dunia ini. Itu saja.
Soal mengeluh. Ya mengeluh tentang apa saja yang ada di sekitar kita. Dengan kondisi yang ada, kita hanya pandai mengeluh dan mengeluh. Sedikit yang pandai mencari jalan keluarnya atau mencari apa penyebabnya—selanjutnya mengatasinya.
Sikap atau kebiasaan mengeluh itu sebetulnya bukanlah sifat kodrati manusia, sebab kita sudah diberi akal dan kepintaran oleh sang pencipta, Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan akal dan pikiran yang cerdas itu, kita bisa mengatasi persoalan di sekitar kita.
Sebab, orang cerdas memberikan solusi, bukan menambah masalah. Dan solusi itu tentu ditemukan jalan keluar untuk mengatasi masalah di sekitar kita yang selama ini membelenggu.
Hanya orang-orang yang tidak bisa menggunakan kecerdasan atau kepintarannya sajalah yang tetap mengeluh dengan kondisi sekitarnya. Sampai dunia kiamat pun dia tetap mengeluh dan mengeluh.
Orang yang menghargai kepintarannya memberikan ide-ide alternatif untuk mencari solusi agar bisa keluar dari persoalan yang menjadi keluhannya selama ini. Ibarat dokter dia akan membuat diagnosa terhadap suatu penyakit yang diderita oleh pasiennya. Diagnosa itu untuk mengetahui jenis penyakit apa yang diderita oleh pasiennya. Setelah ditemukan penyakitnya, baru dokter memberikan obat untuk penyembuhannya.
Bila diagnosa salah, maka obat juga salah. Bila diagnosa benar, obat yang diberikan juga akan benar.
Diagnosa dan obat itu ibarat ide-ide atau gagasan dari orang-orang cerdas untuk mengatasi permasalahan yang dikeluhkan selama ini.
Demikian juga dengan kita. Dalam kondisi apa pun atau tempat apa pun, kita selalu ditantang untuk mengatasi masalah kita dengan ide atau gagasan cemerlang itu.
Bila kita selalu berpikir punya gagasan atau ide cemerlang, maka kita semakin kurang mengeluhkan situasi kita. Maka, mulai sekarang berhentilah untuk mengeluh. Gunakan kecerdasan itu untuk mengatasi keluhan yang selama ini mengalir begitu saja dari bibir kita. Dengan kurang mengeluh, kita jadi berpikir lebih rasional dan bukan emosional.
Jangan menjadikan masalah sebagai sesuatu yang membebankan, tetapi jadikanlah masalah itu sebagai tantangan untuk lebih maju lagi. Sebab saya yakin dengan ide-ide cemerlang, kita bisa melakukan apa pun tampa banyak keluhan lagi.

Baca Selengkapnya..

Tuesday, April 14, 2009

Jalan Rusak, Masalah Kita


Oleh Tanto Yakobus

Jalan Negara yang terbentang sepanjang kurang lebih 600 kilometer lebih yang menghubungkan beberapa kabupaten dengan ibukota provinsi, yang menjuntai mulai dari Kota Putussibau di Kabupaten Kapuas Hulu hingga Kota Pontianak, kini kondisinya memilukan.

Keluhan jalan rusak sudah berlangsung dari tahun ke tahun. Tak jarang pula kerusakan jalan jadi jualan politik ketika berkampanye pilkada, pileg maupun pilpres sekalipun.
Namun jualan politik itu tak satu pun yang menjadi kenyataan. Faktanya, jalan tetap saja rusak. Berlubang di sana sini, lubang yang berukuran besar maupun kecil terhampar hampir di sepanjang jalan.
Nah, itulah masalah kita sesungguhnya. Dari dulu kita selalu direpotkan dengan persoalan transportasi kita yang tidak pernah genah, apalagi mulus. Kita boleh iri ketika menginjakkan kaki ke tanah sebelah, yakni tetangga di Sarawak, Malaysia. Jalan mereka begitu mulus, kendaraan butut pun terasa mewah ketika melintasi ruas jalan mereka.
Tidak ada goncangan, apalagi rasa menahan nafas ketika kemiringan kendaraan melewati ambang batas karena saking dalamnya lubang. Parahnya, bila salahsatu bannya terperosok, nafas terasa sesak, jantung berdetak kencang menahan rasa takut.
Ya, bila kondisi jalan seperti itu, jelas nyawa taruhannya.
Jalan mulus saja cukup banyak nyawa yang melayang, apalagi bila jalan buruk seperti kondisi jalan kita—yang menghubungi Pontianak-dengan beberapa kabupaten di wilayah pedalaman Kalbar ini, tentu angkanya cukup pantastis. Dan angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya itu selalu di keluarkan pihak Kepolisisan setiap menjelang akhir tahun.
Itu baru soal nyawa yang melayang. Sebetulnya yang paling krusial akibat jalan buruk tersebut, adalah soal mobilisasi orang dan barang.
Jalan yang jelek, orang jadi malas bahkan takut bepergian. Pertimbangannya, selain keselamatan, jelas kelelahan selama di perjalanan. Badan pasti bergoyang-goyang tampa henti selama 6 hingga 12 jam.
Belum lagi mobilisasi barang. Akibat jalan jelek, ongkos menjadi mahal. Bayangkan saja, pemilik kendaraan harus mengeluarkan biaya perawatan dua kali lipat dari biasanya. Biaya perawatan itu tidak hanya ban kendaraan, tapi juga spare part lainnya, termasuk konsumsi BBM yang juga mengalami dua kali lipat.
Nah, dengan membengkaknya biaya perawatan kendaraan tersebut, jelas berimbas kepada kebutuhan pokok masyarakat. Ujung-ujungnya masyarakat jadi korban karena harus menanggung biaya perawatan itu dengan membeli sembako yang mahal. Nah, mungkinkah ada sembako murah dengan kondisi jalan yang demikian?
Itulah masalah kita sekarang. Biaya untuk bidang infrastuktur baik dari APBN maupun APBD provinsi cukup besar tersedot ke sana, tapi mengapa hingga kini jalan Negara itu belum juga mulus-mulus.
Perlu ada komitmen para pemimpin kita untuk mewujudkan janji-janjinya untuk membenahi infrastruktur tersebut, utamanya jalan Negara yang menghubungi ibukota provinsi, Pontianak dengan beberapa kabupaten di bagian selatan Kalbar ini.
Sebab dengan membenahi jalan, maka sedikit banyak membantu meringankan beban yang harus ditanggung masyarakat. Artinya, bukan slogan sembako murah, tapi jalan mulus baru sembako bisa murah. Sebab jalan rusak itulah yang menjadi masalah kita selama ini.

Baca Selengkapnya..

Thursday, February 26, 2009

Perencanaan


Oleh Tanto Yakobus

Pekerjaan wartawan bukanlah pekerjaan yang rutinitas. Dia dinamis, bukan statis. Dia tidak terbatas pada ruang dan waktu. Tapi menembus semua sekat. Menembus kasta. Singkat kata, wartawan itu tahu segalanya (kecuali Tuhan). Benarkah wartawan tahu segalanya?

Itu sebetulnya standar ideal bagi wartawan. Teori klasik mengatakan, wartawan itu harus mensejajarkan dirinya dengan siapa pun, agar dia bisa menulis dengan baik. Bila mewawancarai presiden, dia harus mensejajarkan diri dengan presiden (jangan minder apalagi merendahkan diri). Termasuk dengan gubernur, bupati, walikota, atau siapa pun. Wartawan harus memposisikan dirinya sejajar dengan mereka.
Sebaliknya, bila mewawancara seorang pemulung, dia harus menjiwai dan memahami karakter pemulung itu. Jangan membuat jarak apalagi menganggap mereka rendah. Tapi perlakukanlah mereka seperti Anda memperlakukan diri sendiri.
Nah, dengan demikian, maka si wartawan bisa menulis dengan baik. Ia bisa melihat persoalan dengan jernih. Beda bila kita membuat jarak, maka banyak hal-hal yang justru tidak terungkap dalam tulisannya, karena memang si wartawan tidak meliput secara mendalam. Akhirnya tulisannya menjadi kering.
Padahal tulisan yang enak dibaca itu, sama dengan sayur yang berkuah dan berdaging. Rasakan saja bila kita makan nasi tanpa kuah sayur dan daging?
Dilema kita, wartawan belum bisa bekerja menembus ruang dan waktu tersebut. Mereka masih terpola dengan kerja PNS yang rutinitas. Wartawan masih tergantung dengan jam kantor pejabat.
Lihat saja, apa yang wartawan kerjakan sejak ia bangun tidur. Dia pasti menunggu jam kantor buka baru beranjak dari rumahnya. Itu pun masih binggung juga mau buat apa? Turun dari rumah dengan kosong, tanpa bekal baik dari kantor (Pemred, Wapemred, Redpel, Korlip atau redaktur) maupun persiapan diri sendiri.
Ya kasarnya, mereka asal berangkat kerja dan meninggalkan rumah. Setelah sampai di jalan SMS sana sini, atau telepon teman cari isu mau liputan apa hari ini. Itulah yang dilakukan wartawan kita di Pontianak ini. Sehingga hasilnya pun tak ada yang wah, segitu-segitu saja.
Agar tulisan kita baik, dan hasil liputannya baik, maka mesti ada rapat perencanaan, buatlah assignment atau penugasan. Lembar penugasan, selain memuat nama rubrik, masalahnya, nama narasumber, dan angle (sudut pandang), tentu saja memuat daftar pertanyaan.
Dan jangan lupa: foto apa dan bagaimana yang dikehendaki. Sangat dianjurkan kepada redaktur yang menugasi untuk (selalu) berdiskusi dengan wartawan yang ditugasi. Sebelum kolom pertanyaan, harus ada kolom mengenai reportase--apa yang harus digambarkan oleh si wartawan. Dalam hal pertanyaan, sekali lagi tuliskan pertanyaan yang strategis--bukan pertanyaan yang biasa-biasa saja. Dan jangan lupa, si wartawan harus mengembangkan penugasan--tidak hanya membebek kaku pada penugasan mati itu.
Bila itu dilakukan si wartawan, maka tiap hari dia akan melangkah pasti dari rumahnya. Tidak ada lagi perasaan ngambang, bingung mau liputan kemana, karena semuanya sudah terencana dengan baik. Prinsipnya, apa pun yang direncanakan dengan baik, maka hasilnya juga akan baik. Gak repotkan?

Baca Selengkapnya..

Wednesday, February 25, 2009

Menjahit Mulut ke Koran


Oleh Tanto Yakobus

Menjahit mulut ke koran. Istilah ini agak ngetrend di kalangan kru Redaksi Harian Borneo Tribune. Awal mula munculnya istilah menjahit mulut ke koran itu dilantorkan oleh Mering, salah seorang redaktur di koran asli milik Kalimantan Barat ini.

Ya maklum saja, setiap hari rekan-rakan redaktur di Borneo Tribune menjadikan beberapa koran lokal sarapan paginya. Kita sering diskusi membedah berita-berita yang disajikan beberapa media itu.
Kalau melihat kualitas dan logika berita yang kadang tidak memenuhi standar jurnalistik, bisa-bisa redakturnya dibikin senewen. Sebab tiap hari mereka pastilah disuguhkan wartawan dengan berita yang asal ada. Berita yang asal jadi. Parahnya lagi, berita asal buat.
Ya kasarnya wartawan yang demikian sama saja dengan menjahit mulut narasumber atau tokoh tertentu ke koran. Apa pun yang diucapnya dipindahkan begitu saja ke komputer. Rekaman dari A sampai Z muncul di tulisannya. Tidak ada analisa apalagi logika beritanya tidak ada dalam tulisan tersebut.
Itulah yang oleh rekan-rekan redaktur sama dengan menjahit mulut ke koran. ”Ambil mulutnya tempel ke koran, langsung print dan cetak saja,” ujar Mering mengomentari tulisan di koran itu.
Kerjaan yang menjahit mulur narasumber ke koran itu adalah kerjaan wartawan yang masa bodoh. Wartawan malas dan tidak mau belajar. Sesungguhnya tidak ada wartawan yang hebat bila dia tidak mau mengembangkan diri dengan belajar dan terus belajar.
Buntutnya, redakturlah yang kerja keras menulis ulang berita itu kembali agar layak di sajikan ke pembaca. Sebab bila tidak diperbaiki oleh redaktur, reputasi dan kredibelitas koran tersebut taruhnya.
Sebetulnya, ada beberapa kriteria agar sebuah berita layak muat. Diantaranya, peristiwanya aktual, menyangkut sebuah nama penting (public figure, selebritas), menyangkut prestasi yang hebat, termasuk kejadian langka, menyangkut publik dalam jumlah (sangat) besar (massa), dan seterusnya.
Singkat kata: luar biasa, spesial. Sebagaimana filosofi berita yang sangat klasik: Anjing menggingit orang, itu berita biasa, bahkan bukan lagi berita. Tapi bila orang menggigit anjing, itu berita luar biasa, sangat layak muat.
Nah, itulah yang terjadi dengan wartawan-wartawan kita. Adalah tugas kita bersama meningkatkan kualitas wartawan tersebut agar tidak lagi menjahit mulut narasumber ke koran. Sanggupkah?

Baca Selengkapnya..

Tuesday, February 24, 2009

Sosialisasi Pemilu


Oleh Tanto Yakobus

Pemilihan umum (pemilu) legislatif (DPRD, DPR dan DPD) yang dijadwalkan pada tanggal 9 April 2009 tinggal 44 hari lagi. Walau pelaksanaan pemilu sudah di ambang pintu, tapi masyarakat kita masih bingung dan tak paham dengan tatacara pemilu tersebut.
Kebingungan tersebut sangat beralasan. Sebab pemilu kali ini jauh berbeda dari pemilu-pemilu sebelumnya. Bahkan ini kali pertama perubahan tatacara pemilu di Indonesia yang selama ini dikenal dengan coblos atau melobangi lambang partai dan, nama atau foto calon.

Pemilu sekarang, tidak lagi menggunakan cara klasik tersebut. Sistemnya tetap saja, namun ada tatacara yang sedikit dimodifikasi, yakni dari cara mencoblos ke mencontreng, atau mencentang, atau conteng.
Bagi orang tua yang kebetulan tidak bisa baca tulis, cara yang sekarang betul-betul rumit bagi mereka. Kerumitan itu ditambah lagi dengan sosiasisasi yang minim dari penyelenggara pemilu maupun pihak-pihak yang berkompeten dengan pemilu.
Sosialisasi itu penting. Terutama untuk menekan kesalahan sehingga suara menjadi rusak atau tidak sah. Dengan cara mencoblos saja, banyak suara yang rusak dan dianggap tidak sah. Ada yang salah coblos, coblos ganda dan lain-lain.
Dengan mencontreng yang rumit sekarang, diprediksi suara yang tidak sah atau rusak persentasenya akan semakin meningkat. Kondisi itu diperparah lagi dengan sosialisasi yang minim tadi.
Penyelenggara pemilu seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) sibuk dengan masalah mereka masing-masing. Sehingga waktu mereka habis tersita untuk mengenahkan persoalan internal maupun eksternal.
Internal menyangkut personel yang tidak siap bahkan belum belum dilantik hingga pada persoalan SDM yang pas-pasan. Eksternal, mulai dari persoalan parpol yang begitu banyak sebagai kontestan pemilu hingga pada persoalan klasik, yakni masalah dana yang selalu menjadi sumber ketegangan mereka akhir-akhir ini.
Demikian juga dengan Panwaslu. Selain dibebani masalah internal dan eksternal tadi, kini mereka justru sibuk mengurus caleg yang sudah gencar melakukan sosialisasi kepada pemilih atau masyarakat luas. Harusnya, Panwaslu berterima kasih kepada para caleg secara mandiri dapat melakukan sosialisasi baik lewat iklan, spanduk, bahilo maupun pamflet-pamflet.
Tapi di lapangan, mereka justru sibuk mendikte para caleg kalau-kalau melakukan pelanggaran kampanye. Sibuk menertibkan baliho caleg yang terpasang di tempat umum. Mestinya dengan kondisi mereka yang terbatas dalam melakukan sosialisasi, Panwaslu cukup menertibkan baliho caleg yang dipasang dan membahayakan penguna jalan atau yang tumbang saja. Sebab di baliho itu sudah jelas sosialisasi bagaimana cara mencontreng yang benar.
Kompleksnya persoalan menjelang pemilu ini, besar kemungkinan kualitas pemilu akan rendah. Reformasi yang dicita-citakan bisa merubah keadaan menjadi lebih baik bakal tidak terjadi. Sebab masyarakat dengan kondisi yang serba gelap karena tak ada sosialiasi pemilu, akan tetap menggunakan hak pilihnya hanya mendengar kata orang, sementara mereka sendiri tak mengerti bagaimana supaya bisa memilih wakil yang betul-betul mereka percaya.
Kalau begini jadinya, maka masyarakat terutama yang tidak bisa baca tulis besar kemungkinan akan kehilangan suaranya, selain salah cara memilihnya, mungkin surat suara rusak. Nah dengan waktu yang tersisa ini, mari semua stakeholder melakukan sosialisasi sesuai kapasitasnya. Sebab kita ingin pemilu berkualiatas. Pemilu berkualitas menghasilkan wakil yang berkualitas pula. Semoga.

Baca Selengkapnya..

Wednesday, February 18, 2009

Selamat Bertugas Bang Muda


Oleh Tanto Yakobus

Hari ini, Selasa (16/2) Kabupaten Kubu Raya resmi memiliki bupati dan wakil bupati definitif. Adalah Muda Mahendrawan dan Andreas Muhrotien—pasangan yang memenangkan pemilihan kepala daerah (pilkada) Bupati Kabupaten Kubu Raya hingga memasuki dua putaran pada Desember 2008 lalu.

Walau kurang diunggulkan, karena memang kuang pupuler dari segi pendanaan ketika kampanye, sebetulnya kemenangan Muda-Andreas sudah diprediksi sejak awal.
Muda-Andreas dalam kampanyenya tidak mengandalkan kekuatan uang, tapi berhasil memenangkan hati rakyat lewat pendekatan strutural yang dibangunnya selama ini.
Jauh sebelum pilkada, dia sudah memenangkan hati rakyat. Dia selalu berjuang bersama rakyat dan bergaul bersama rakyat dari berbagai kalangan dan latar belakang, tanpa memandang suku, agama dan antar golongan.
Perjuangan bersama rakyat itu bermula dari wacana pembentukan Kabupaten Kubu Raya yang semula ‘tidak’ masuk akal. Bahkan kita sering mendengar pengamat, bahwa pemekaran atau pemecahan Kabupaten Pontianak itu mustahil.
Tapi bukan Muda namanya bila tidak bisa mengkoordinir masyarakat lewat forum desa. Secara rutin setiap pekan Muda memobilisasi pertemuan dari desa satu ke desa yang lain, sehingga terbentuklah forum desa yang melahirkan tekad mendirikan daerah otonom baru.
Nah, perjuangan Muda tidak berhenti di forum desa itu saja, tapi bahu membahu baik lewat media massa maupun pertemuan para tokoh, sepuh dan sebagainya, maka bulatlah tekad itu sehingga keluar rekomendasi yang disampaikan Pemerintah Kabupaten Pontianak, DPRD Kabupaten Pontianak, DPRD dan Gubernur Kalbar yang selanjutnya juga mengeluarkan rekomendasi pembentukan daerah otonom baru tersebut.
Singkat cerita, pada pertengahan 2007 Pemerintah Pusat menyetujui terbentuknya kabupaten baru di Kalbar, yakni Kabupaten Kubu Raya (KKR).
Setelah berhasil membentuk struktur pemerintahannya, pada akhir tahun 2008 dilaksanakan pilkada perdana di KKR.
Nah, Bang Muda selaku pengagas lahirnya KKR juga tak tinggal diam. Walau tidak mendapatkan parpol sebagai tumpangan politiknya, Muda tidak hilang akal. Dia maju lewat jalur perseorangan.
Karena maju lewat jalur perseorangan inilah membuat kans Muda untuk mememangkan pilkada KKR hanya dilihat sebelah mata oleh banyak kalangan. Apalagi partai-partai besar mengusung figur yang tidak kalah populernya di KKR.
Berbekal kerendahan hati, niat yang tulus serta kedekatannya dengan masyarakat, Muda akhirnya mendapat simpati dan dukungan luas dari masyarakat KKR. Buktinya, pada pilkada yang diikuti 8 pasangan calon, Muda-Andreas unggul dalam perhitungan suara. Namun karena banyaknya konstentan pilkada, suara Muda-Andreas tidak sampai 30 persen seperti yang disyaratkan UU. Sehingga Muda-Andreas harus bertarung lagi di putaran kedua melawan pasangan Jiwo-Okto yang menjadi pemenang kedua.
Pada putaran dua ini, laju Muda-Andreas tak bisa dibendung lagi. Dukungan mutlak diberikan masyarakat KKR, sehingga mereka menang telak. Walau sempat mampir ke Mahkamah Konstitusi (MK), tapi kemenangan Muda tak bisa dihalang lagi. Sejatinya, itulah kemenangan rakyat KKR.
Pada hari baik ini, kita ingin mengucapkan selamat bertugas buat Bang Muda. Ingat perjuangan Abang baru dimulai. Jalankanlah amanah rakyat itu dengan tulus dan iklas, niscaya Abang pasti sukses. Sekali lagi, Selamat!

Baca Selengkapnya..

Wednesday, February 11, 2009

Jadikan Perbatasan Beranda Depan


MANUSIA PERBATASAN
Masyarakat Kecamatan Sajingan Sambas baik berjalan kaki maupun berkendaraan bermotor sudah mantap keluar-masuk untuk aktivitas perdagangan. Mereka mengaku semakin cinta Indonesia karena sudah mendapat perhatian pembangunan. FOTO Nur Iskandar/Borneo Tribune
============
Oleh Tanto Yakobus

Pemerintah Pusat kini tengah fokus memikirkan pembangunan daerah perbatasan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) baik dalam kampanye pilpres 2004 lalu muapun setelah terpilih menjadi Presiden keenam Republik ini, menegaskkan konsepnya untuk menjadikan perbatasan beranda depan negeri ini.

Memang untuk menuju ke arah sana tidaklah mudah. Butuh pemikiran, butuh konsep, butuh waktu, butuh tenaga, dan tentu butuh biaya yang tidak sedikit pula.
Bahkan presiden-presiden pada pemerintah sebelumnya juga mengatakan tekad yang sama untuk membangun kawasan perbatasan. Sebab keberadaan perbatasan amat penting dan strategis terutama bagi masyarakat yang selama ini tinggal di sana.
Konon beberapa orang mengatakan, masyarakat kita disana lebih kenal pejabat Malaysia ketimbang pejabat di negerinya. Mereka lebih kenal Mahatir Muhammad ketimbang Soeharto ketika itu.
Dan fakta lapangan selama ini, kiblat kehidupan, terutama perekonomian mereka di perbatasan lebih condong ke Malaysia. Sebab selain biaya transportasi yang murah, harga barang juga terjangkau, bila dibandingkan mereka harus membeli kebutuhan sehari-hari ke kecamatan terdekat.
Selain jarak tempuh jauh bahkan bisa berhari-hari, harganya jelas dua kali lipat bila mereka berbelanja di Jiran.
Kondisi itulah membuat Pemerintah Pusat menaruh perhatian besar terhadap pembangunan kawasan perbatasan. Bahkan keinginan pemerintah pusat itu bak gayung bersambung dengan keinginan Gubenur Kalbar, Cornelis, soal konsep pembangunan perbatasan.
Bahkan dalam visi misinya, Cornelis membalik paradigma pembangunan yang selama ini dimulai dari kota ke desa. Tapi Pemprov Kalbar di bawah kendali Cornelis menghendaki pembangunan dari desa ke kota, dan salahsatunya pembangunan kawasan perbatasan dan kepulauan.
Khusus perbatasan, kini dipersiapkan pembukaan Pos Lintas Batas (PLB) di Aruk (Sambas) dan Badau (Kapuas Hulu).
Rencananya, dalam waktu dekat Presiden SBY sendiri akan meninjau dua rencana PLB baru tersebut. Hal itu ditandai dengan kunjungan Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum Departemen Dalam Negeri dan Markas Besar TNI untuk melihat langsung kesiapan pembukaan PLB Indonesia-Malaysia itu.
Hasil peninjauan itu, baru bisa dipastikan kapan PLB bisa dibuka. Namun itu juga mesti melihat kesiapan dari pihak Malaysia juga. Secara teknik, kita lebih siap dari Malaysia.
Peninjauan juga untuk melihat dari segi keamanan yang dilakukan TNI dan Polri di sekitar perbatasan Kalbar-Sarawak, baik dari segi ancaman perdagangan manusia, pembalakan hutan secara liar, penyelundupan dan praktik "illegal" lain yang sangat rawan terjadi.
Nah, dengan dibukanya dua PLB baru tersebut, maka di Kalbar sendiri nantinya ada tiga PLB, yakni Entikong, Aruk dan Badau. Dengan semakin terbukanya perbatasan, maka mau tidak mau pemerintah mesti menjadikan perbatasan sebagai beranda terdepan Republik ini, karena berhubungan langsung dengan pihak luar. Sanggupkah?

Baca Selengkapnya..

Monday, February 9, 2009

Partai Demokrat Harus Mewujudkan Cita-Citanya


Andi Mallarangeng, Ketua SDM DPP Partai Demokrat, mengemukakan, kader Partai Demokrat harus berjuang untuk mencapai seluruh cita-citanya, yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Pencapaian sebagian tujuan dari Partai Demokrat tercermin dari keberhasilan pemerintah Indonesia antara lain dalam swasembada beras, pengurangan kemiskinan dan berbagai program untuk melindungi warga miskin, kata Andi kepada Antara di Jakarta, Senin (9/2).

Sebelumnya Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengklaim bahwa sebagian dari cita-cita Partai Demokrat yang didirikan sejak delapan tahun lalu sudah tercapai.
Pada acara Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat di Hall D, Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Minggu, SBY mengingatkan para kader Demokrat tentang tujuan dan misi Partai yang dibidaninya tersebut.
Menurut SBY yang juga kepala negara itu, Partai Demokrat dibentuk untuk menjadi partai modern yang menumbuhkan demokrasi di Indonesia.
Selain itu, Partai Demokrat juga ingin bersifat terbuka dan menjunjung idealisme dengan cara berpolitik yang bersih, cerdas, dan santun, serta berjuang untuk kepentingan rakyat.
"Saya ingin katakan dengan terus terang, sebagian dari cita-cita itu sudah tercapai. Sebagian dari cita-cita kita mendirikan Partai Demokrat dan jumlahnya cukup banyak belum sepenuhnya dapat kita capai," tuturnya.
Meski demikian, SBY mengatakan, para kader Partai Demokrat tidak perlu berkecil hati dengan tujuan yang belum sepenuhnya tercapai itu, terlebih karena partai berlambang segitiga itu masih berusia belia.
"Perjalanan kita masih panjang, tetapi tidak perlu kecil hati karena Partai Demokrat baru berdiri, belum delapan tahun," ujarnya.
Pada acara Rapimnas itu, SBY mengingatkan para kader Partai Demokrat untuk terus mendukung program-program pemerintah yang pro rakyat.
"Dorong dan awasi, bantu pemerintah daerah, para gubernur, bupati, walikota, mensukeskan program-program yang pro rakyat," ujarnya.
SBY meminta para kadernya untuk berpolitik secara etis serta mempersilakan mereka yang tidak menjalankan amanah partai untuk mundur.
Ia mengingatkan, apabila Partai Demokrat berhasil memenangkan Pemilu 2009, maka kader-kadernya di eksekutif maupun legislatif dapat meneruskan pencapaian yang telah diraih pemerintah sejak 2004.
Rapimnas Partai Demokrat yang diselenggarakan selama dua hari, 8-9 Februari 2009, diikuti oleh 1.900 peserta terdiri atas caleg DPR, caleg DPRD Provinsi Jawa-Bali, pengurus DPP dan DPC Partai Demokrat seluruh Indonesia.
Dinding Hall D PRJ Kemayoran tempat berlangsungnya Rapimnas Partai Demokrat dipenuhi oleh berbagai spanduk iklan politik yang mengklaim keberhasilan pemerintah sejak 2004, di antaranya adalah pelunasan utang Dana Moneter Internasional, jumlah cadangan devisa terbesar selama sepuluh tahun terakhir, serta nilai jaminan kesehatan masyarakat miskin yang diklaim terbesar sejak era orde baru.
SBY beserta Ibu Ani yang mengenakan jaket biru Partai Demokrat langsung disambut pekik "Demokrat", "SBY yes", serta "31 menang", begitu memasuki tempat acara.
Agenda utama Rapimnas Partai Demokrat adalah penguatan internal partai menjelang pemilu legislatif pada 9 April 2009.
Menurut Andi, masih banyak tujuan partai yang belum tercapai dan harus dikerjakan terutama upaya untuk terus menerus mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Untuk itu para kader PD harus berjuang dan memenangkan Pemilu 2009 agar dapat memenangkan kembali SBY sebagai presiden sehingga mampu mewujudkan program yang bersinambung, katanya. (Dimuat di Harian Borneo Tribune, Pontianak, Selasa 10/1)

Baca Selengkapnya..