BERPEGANGLAH PADA DIDIKAN, JANGANLAH MELEPASKANNYA, PELIHARALAH DIA, KARENA DIALAH HIDUPMU...Amsal 4:13

Monday, June 9, 2008

Duan Wu Jie


Oleh Tanto Yakobus

TRADISI Duan Wu Jie atau Peh Cun di kalangan Tionghoa Pontianak dilaksanakan, Minggu (8/6) atau penangalan Cina, Imlek 5 bulan 5 tahun 2559. Ribuan warga Tionghoa di Kota Pontianak dari berbagai umur berkumpul di Dermaga Kong Sun, Siantan. Mereka beramai-ramai menceburkan diri ke Sungai Kapuas untuk menyucikan diri agar mendapatkan berkah dan keselamatan hidup di dunia ini.

Warga seakan tidak memperdulikan keselamatan mereka dengan kondisi arus Sungai Kapuas yang agak deras. Ada yang berenang sampai ke tengah sungai dengan menggunakan pelampung karet, ada juga yang tidak. Ada yang mengantungkan diri ke kapal motor yang melintas dan ada juga yang menyewa sampan. Mereka menaiki beramai-ramai, lalu setelah sampai ke tengah sungai mereka menceburkan diri. Setidaknya mereka saling melempar kantong berisi air. Yah, mereka main perang-perangan dengan kantong air.
Canda tawa diantara mereka membuat suasana menjadi riuh. Sebuah pemandangan yang luar biasa harmoni.
Anak-anak lebih banyak mandi di pinggir sungai dengan ditemani orang tuanya. Bagi anak-anak, ini kesempatan emas untuk berakrab ria dengan orang tua mereka.
Meme, warga Siantan yang mandi, ketika saya temui mengatakan, tradisi menceburkan diri ke sungai, secara pasti dirinya tidaklah tahu, “tapi acara seperti ini sudah tradisi tiap tahunnya,” ujarnya.
Zaman dulu katanya ada seorang panglima perang atau ksatria yang setia pada kerajaan, namun ada enam perdana menteri menuduh dia pemberontak. Karena hasutan tersebut kerajaan langsung percaya dan dia akhirnya diusir dari kerajaan dan diburu oleh orang kerajaan untuk dibunuh.
Nah karena putus asa dikejar terus akhirnya dia mengambil jalan pintas menceburkan dirinya ke sungai. Namun setelah dia wafat barulah masyarakat tahu bahwa bukan dia yang melakukan pemberontakan, maka masyarakat pun berusaha mencarinya. Anehnya, mayatnya tidak ditemukan. Dan masyarakat pun membuat kue bak cang yang terbuat dari ketan dan beras dengan diisi daging babi lalu dibuang ke sungai untuk memberi makan ikan dan penghuni sungai agar tidak memakan jenazah panglima perang tersebut.
“Acara ini hanya tradisi nenek moyang orang Cina untuk memperingati seorang panglima perang yang menceburkan diri ke sungai karena putus asa dianggap sebagai pemberontak, padahal yang melakukan pemberontakan adalah keenam menteri di kerajaan sendiri,” jelasnya mengutif cerita tadi.
Sedangkan menurut sejarahnya pada 339 SM-277 M, ada seorang menteri Raja Hua dari negara Chu namanya Qu Yuan, di masa perang ia seorang pejabat yang berbakat dan setia pada negaranya. Dia banyak memberikan ide untuk memajukan negara Chu yang bersatu dengan negara Qi untuk memerangi negara Qin. Namun sayang dia dikritik keluarga raja yang tidak senang dengannya sehingga dia akhirnya diusir karena cemas akan masa depan negara Chu kemudian dia bunuh diri melompat ke Sungai Yu Luo.
Kisah ini tercatat dalam buku sejarah “Shi Ji” tulisan sejarawan Sima Qian.
Lain halnya dengan Hiu Cse Kung, 64, warga gang Bersatu, Siantan, mengatakan, orang Cina mempercayai mandi tepat jam 12.00 akan menyembuhkan berbagai macam penyakit dan bagi yang tidak mandi biasanya mengambil air sungai disimpan di jiriken dan dibawa pulang ke rumah untuk minum atau bilas.
“Air sungai pada hari ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit asalkan dukun yang menyuruh, selain itu di rumah-rumah juga membuat kue bak cang untuk dibagikan kepada keluarga terdekat,” kata Hiu Cse Kung yang menemani cucunya mandi di pinggir Sungai Kapuas.□

Foto: Warga Tionghoa yang sedang bersukaria mandi di Sungai Kapuas. By Andika Lay/Borneo Tribune

Baca Selengkapnya..

Sambut Peh Cun dengan Pesta Bak Cang


Oleh Tanto Yakobus


PENANGGALAN Imlek 5 bulan 5 tahun 2559 atau 08 Juni 2008, merupakan hari Duan Wu Jie yakni perayaan musim panas bagi warga Cina.

Di Indonesia perayaan musim panas selalu diperingati warga keturunan Cina--Tionghoa sebagai hari ‘Peh Cun’ yang juga dikenal dengan pesta makan bak cang—yang panganan yang terbuat dari ketan dibungkus daun bambu.
Memperingati perayaan musim panas (Duan Wu Jie) termasuk sebuah perayaan yang ditunggu-tunggu setahun sekali. Sebab perayaan musim panas seperti ini semangat patriotisme, kebersamaan dan kesetiakawanan. Maka warga Tionghoa dengan senang hati menyantap makan bak cang atau khie cang (isi bak cang juga bermacam-macam dan bukan hanya daging babi, ada yang isinya sayur-sayuran. Sedangkan khie cang yang dibuat kecil-kecil namun tanpa isi untuk kemudian dimakan bersama serikaya, gula manis), lalu warga biasabta melanjutkan dengan mandi bersama.
Kalau di Kota Pontianak, tujuan mandi bersama warga Tionghoa, tentu tak ada pilihan lain selain Sungai Kapuas. Mereka mandi dan bersampai (Peh Cun) sepuas-puasnya. Tak peduli laki perempuan, tua muda. Semua bersukaria mandi bersama.
Bila acara seperti ini dikemas dengan baik, bisa menjadi aset wisata bagi Kota Pontianak khususnya dan Kalbar umumnya. Sebab sebagaimana diketahui Kalbar ini dihuni oleh tiga suku besar, yakni Dayak, Melayu dan Tionghoa. Peh Cun salah satu daya tarik selain Imlek dan Cap Go Meh.
Ho Liong Hin salah seorang tetua Tionghoa di Pontianak kepada saya mengatakan, permulaan perayaan musim panas bermula dari Kelenteng Toa Pek Kong. Warga Tionghoa selalu memulainya dengan memakan bak cang atau khie cang bersama, setelah itu, warga akan berduyun-duyun turun ke Sungai Kapuas dan tepat jam 12.00 WIB warga akan menceburkan diri ke Sungai Kapuas dan ada pula yang mendayung sampan (Peh Cun).
Ritual seperti itu telah dilakukan warga Tionghoa secara turun temurun, selain mereka mandi di tengah hari, sebagian warga juga ada mengambil dan menyimpan air pada saat mandi. Konon air tengah hari pada perayaan musim panas dipercaya bisa menyembuhkan penyakit bila diminum setelah dimasak.
Tradisi warga Tionghoa yang berkaitan dengan hari Duan Wu Jie ini tidak sedikit, dan tidak hanya satu dongeng saja, umumnya diperkirakan hari Duan Wu Jie berawal dari peringatan Qu Yuan (Chu Yuen).
Warga Tionghoa percaya pada zaman Qun Chiu (722-481 SM), pembuatan bak cang atau khie cang menggunakan daun untuk membungkus beras ketan yang berbentuk tanduk sapi, juga ada yang menggunakan bambu ditutup rapat dan dipanggang sampai matang, disebut “bacang tabung”.
Ini boleh dibilang adalah cikal bakal kue bacang ini lahir dan dikenal di kalangan warga Tionghoa di Indonesia khususnya Kota Pontianak.
Pada bulan 5 tanggal 5 Imlek, saat musim panas memakan kue pendingin tubuh yang terbuat dari beras ketan, yang dibungkus dengan daun dan dimasak sampai matang, aroma wanginya terasa unik, sesudah menyantapnya bisa menetralisir panas dalam dan menurunkan sifat api dalam tubuh, terasa nyaman bagi pencernaan, sungguh suatu makanan yang sesuai dengan musimnya.
Pada saat itu, orang-orang berganti busana musim kemarau dan mengutamakan yang serba ringan dan sejuk. Dilihat dari tradisi berpakaian dan makananya, hari Duan Wu Jie (perayaan musim panas) dianggap ada hubungannya dengan tibanya musim kemarau.□

Foto: Keluarga Tionghoa tengah membuat bak cang di kediamannya di Sintan Tengah, Pontianak. Foto by Andika Lay.

Baca Selengkapnya..

Friday, June 6, 2008

Menyepi Sekaligus Refreshing

Temen-teman blogger dan netter, akhir pekan ini rencananya aku mau bepergian ke suatu tempat yang jauh dari kebisingan kota dan tentu saja bebas dari signal hand phone (HP). Tujuannya jelas, selain menyepi untuk menuntaskan pekerjaan yang masih menumpuk terkait program kantorku, aku juga butuh suasana segar di luar sana, ya refrshinglah.

Ada "proyek" kecil-kecilan yang harus ku selesaikan bersama teman-temanku. maka selama aku di luar kota, tentu saja aku tidak berhubungan baik dengan internet maupun dengan teman-teman yang selama ini lancar berkomunikasi denganku.
Maka selama itu pula, blogku pasti tidak ada posting cerita maupun fakta yang aku jumpai hari-hari. Bagi rekan-rekan yang selalu berkunjung ke blogku, ya untuk sementara maaf anda pasti menemukan posting yang itu-itu saja.
Tapi setelah aku selesai mengerjakan pekerjaan rumah yang masih menumpuk itu, aku akan kembali aktif baik di milis maupun di blogku ini.
Dan bagi rekan-rekan semua selamat berakhir pekan. Isilah hari-hari anda dengan senyum dan bahagia bersama keluarga.
salam

Baca Selengkapnya..

Sunday, June 1, 2008

Dayak Kalimantan Minta Otonomi Khusus

Oleh Tanto Yakobus

RAPAT kerja nasional (Rakernas) pertama Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) yang berlangsung dari tanggal 26 hingga 29 Mei 2008 di Palangka Raya telah mendeklarasikan sembilan tuntutan kepada pemerintah pusat. Diantara tuntutnan agar pemerintah pusat memberikan otonomi ksusus kepada wilayah kawasan Kalimantan, yang meliputi Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

Permintaan otonomi khusus tersebut erat kaitannya dengan pembangunan perbatasan di dua provinsi, yakni Kalbar dan Kaltim, yang selama ini terkesan tertinggal atau terbelakang.
Pemerintah provinsi atau daerah tidak bisa berbuat apa-apa dengan kawasan perbatasan, karena kewenangannya ada di tangan pemerintah pusat. Pemikiran lain, otonomi khusus layak diterima masyarakat kawasan Kalimantan, karena kawasan ini termasuk daerah tertinggal di Indonesia, kecuali Kaltim. Padahal keempat provinsi kawasan Kalimantan ini merupakan daerah yang kaya potensi mulai dari sumberdaya alam, perkebunan hingga pertambangan.
Tapi karena tidak punya kewenangan, daerah tidak bisa berbaut banyak dengan kawasan perbatasan. “Bila kondisi ini dibiarkan berlarut, bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), itu yang melatari kita minta otonomi khusus untuk kawasan Kalimantan ini,” jelas Makarisus Sintong, SH, MH kepada saya di rumah Betang Jalan Sutoyo, Pontianak, Minggu (1/6) kemarin sore.
Selain menuntut otonomi khusus, Rakernas yang dipimpin langsung Ketua Umum MADN, Agustin Terang Narang, SH itu melihat selama ini hak-hak masyarakat adat Dayak terabaikan, baik akibat pembangunan maupun politik. Dengan otonomi khusus bisa mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam yang sepenuhnya diperuntukan bagi peningkatkan kesejahteraan masyarakat, tentu dengan tetap memelihara kelestarian lingkungan alam, sehingga pembangunan tetap berkelanjutan dan hak-hak masyarakat adat terjamin.
Rakernas yang diikuti 400 utusan DAD mulai baik dari provinsi maupun kabupaten/kota se-Kalimantan itu juga menuntut dilakukan audit lingkungan dan audit hukum terhadap ekspoitasi sumberdaya pertambangan dan hutan dengan mempertimbangkan parahnya kerusakan lingkungan dan manfaat yang kecil bagi masyarakat serta perlunya hutan penyangga bagi kelestarian hutan di Kalimantan.
“Kita tidak mau hutan Kalimantan ini rusak, padahal hutan kita ini katanya sebagai paru-paru dunia dan itu erat kaitannya dengan global warning oleh pemerintah,” jelas Makarius yang menjadi utusan DAD dan MADN Kalbar bersama tujuh rekannya, Thadeus Yus, SH, MPA (ketum DAD Kalbar), Drs. Herman Ivo, MPd (wakil ketua DAD Kalbar), Drs. Yoseph Alexander, M.Si (ketua DAD Kapuas Hulu), Drs. Antonius Rawing, M.Si (sekretaris DAD Kapuas Hulu), Martin Rantan (ketua DAD Ketapang), Donatus Gasa, SH, MH (sekretaris DAD Ketapang) dan Kanisius Kuan juga dari DAD Ketapang.
Deklarasi yang berisi sembilan tuntutan itu, juga minta agar pemerintah membuat kebijakan untuk mengubah pola pengelolaan perkebunan sawit dari perkebunan besar swasta menjadi perkebunan rakyat. Perubahan pola tersebut dimaksudkan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat.
Dalam forus Rakernas tersebut cukup alot membahas persoalan sawit ini, mereka melihat selama ini belum ada bentuk pemberdayaan masyarakat di sekitar kebun. Bahkan masyarakat terutama masyarakat adat Dayak cenderung menjadi korban. Karena ketidaktauan mereka. Sudahlah menyerahkan tanah, ujung-ujungnya menjadi kuli di tanahnya sendiri. “Tragisnya malah menjadi penonton di daerahnya sendiri,” ulas Makarius.
Selanjutnya, MADN juga minta agar pemerintah mencabut peraturan pemerintah No. 2 tahun 2008 tentang pemanfaatan kawasan hutan lindung untuk pengelolaan hasil pertambangan. Penolakan ini didasarkan atas pertimbangan kerusakan ekosistem dan punahnya keanekaragaman sumberdaya hayati guna mempertahankan kawasan hutan lindung. Sebab PP tersebut bertentangan dengan UU No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan.
“Kita masyarakat adat Dayak minta kawasan yang sudah ditetapkan menjadi kawasan hutan lindung agar tidak lagi dialihfungsikan, apalagi dirusak. Sebab bila itu terus terjadi, maka kerusakan hutan bukan hanya pada kawasan hutan komersial, tapi juga kawasan lindung dan itu berbahaya untuk jangka panjang,” demikian pemikiran dalam Rapimnas yang berlangsung di gedung Lembaga Pengendalian Mutu Pendidikan (LPMP) Kalteng itu.
Selanjutnya, MADN juga mendesak pemerintah pusat agar membentuk badan pertahanan masyarakat adat Dayak Kalimantan untuk mengawal proses perjuangan masyarakat adat Dayak dan menjaga kedaulatan dan wibawa negara kesatuan Republik Indonesia di daerah-daerah perbatasan.
Masyarakat Dayak yang ada di perbatasan harus dilibatkan dalam tugas bela negara dengan tugas utama mejaga kawasan yang rentan diklaim oleh Malaysia, terutama soal patok batas.
Untuk itu, MADN juga mendesak agar pemerintah pusat segera menerbitkan payung hukum tentang daerah perbatasan yang ditindaklanjuti dnegan pembuatan rencana tata ruang kawasan perbatasan serta membentuk satu lembaga/badan yang mengelola secara khusus wilayah perbatasan guna terpelihara, terciptanya keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan serta bermartabat masyarakat adat Dayak di wilayah perbatasan.
Selanjut MADN juga mendeklarasikan pengakuan dan pelibatan Majelis Adat Dayak Nasional dan perangkat sampai ke tingkat bawah pada setiap penyusunan kebijakan pemerintah, baik pada tingkat daerah maupun pada tingkat nasional.
MADN mendesak pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota agar membuat dan merubah kebijakan pembangunan nasional untuk berpihak dan memberhatikan pembangunan di wilayah Kalimantan yaitu dengan membuat kebijakan agar pembangunan di wilayah Kalimantan dilaksanakan dari industri hulu sampai ke industri hilir. Dengan demikian, kita tidak melulu menjadi negara penghasil, tapi negara lain yang menikmati hasilnya.
MADN juga mendesak agar pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota mengkaji kembali kebijakan yang menyangkut program transmigrasi di wilayah Kalimantn, dengan mempertimbangkan kebersamaan, keadilan serta programnya tidak hanya sekedar untuk memindahkan penduduk yang hidupnya sulit di satu daerah ke daerah yang lainnya. “Kedepan kita tidak mau lagi pemerintah hanya sekedar memindahkan penduduk miskin kedaerah baru, yang pada akhirnya menjadi beban pemerintah daerah. Kita mau transmigrasi juga dibarengi dengan SDM yang memadai, sehingga dia bertanggungjawab dengan pembanguan daerah tujuannya,” jelas Makarius.
Lebih jauh Makarius mengatakan, hasil Rakernas ini sangat strategis bagi kemajuan pembangunan Kalimantan, sebab hasilnya akan disampaikan langsung Teras Narang yang juga Gubernur Kalteng kepada Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta.
Dua bulan lalu Teras Narang juga memimpin empat gubernur se-Kalimantan menghadap Presiden SBY minta percepatan pembangunan di kawasan Kalimantan, terutama pembangunan pendidikan, penuntasan jalan trans Kalimantan, dan persoalan kelistrikan.
Dihadap empat gubernur, Drs. Cornelis, MH dari Kalbar, Drs.Yupenalis Ngayoh dari Kaltim, Rudi Ariffin dari Kalsel dan Teras Narang sendiri dari Kalteng, SBY menjanjikan percepatan pembangunan jalan trans Kalimantan dengan mengucurkan daya awal sekitar Rp 1,3 Triliun. “Dari dana tersebut, Kalbar yang paling banyak, karena harus menuntaskan jalan Tayan hingga ke perbatasan Kalteng,” jelas Terang Narang pada kesempatan lain kepada saya.
Kembali ke Rakernas MADN, selain menghasilkan deklarasi yang berisi sembilan point tuntutan kepada pemerintah pusat, juga dibahas program kerja MADN hingga tahun 2010. dan Rakernas ini dilaksanakan setelah dilakukan Rapimnas dua bulan sebelumnya.
Banyak hal yang dibahas dan disepakati dalam Rakernas tersebut, program jangka pendek, pada September 2008, akan diselenggarakan Raker Budaya se-Kalimantan, selanjutnya pada November 2008, kunjungan hibah budaya ke Kuching dan Sabah. “Disana kita akan melakukan pagelaran tari kolaborasi empat provinsi Kalimantan ini,” jelasnya lagi.
Adapun tim perumus sekaligus penyusunan naskah deklarasi adalah, utusan DAD yang mewakili provinsi masing-masing, yakni Walman Narang, Drs. Lukas Tingkes dan Sidik R. Usop dari Kalteng, Prof. Dr. Ellyono S. Lasan, SE, M.Si, Sony Sebilang, S.Hut dari Kaltim, Rustam Acong, S.Pi dan Admadi Sastra, SE, MM dari Kalsel, Makarius Sintong, SH, MH dari Kalbar.□

Baca Selengkapnya..

Thursday, May 29, 2008

Kepemimpinan SBY di Mata Dino

Peresensi Budi Setiawanto/Antara


Presiden SBY menerima kunjungan Thaksin Shinawatra, mantan PM Thailand, di Kantor Presiden, Rabu (28/5) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)


WIMAR Witoelar pernah menulis buku "No Regret" berisi kesan-kesannya selaku Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid. Kini giliran Dino Patti Djalal menulis buku "Harus Bisa! Seni Memimpin a la SBY" juga berisi kesan-kesannya selaku Juru Bicara Presiden mengenai gaya kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Kedua buku itu mengungkap pencitraan figur Presiden dari kaca mata penulisnya.

Wimar menyebut Abdurrahman Wahid sebagai "the greatest man" (orang termasyhur), Dino menyebut SBY sebagai atasan, sahabat, dan mentor yang tidak ada bandingannya.
Bedanya, Wimar menulis tatkala Gus Dur alias Abdurrahman Wahid telah lengser, sedangkan Dino menulis buku itu saat SBY masih berkuasa. Buku Wimar ditulis dalam bahasa Inggris, buku Dino dalam bahasa Indonesia.
Buku Dino lebih detil dalam penulisan karena ditulis berdasar catatan harian selama mendampingi SBY meskipun tak bisa ditemui hal-hal yang berisi ketidaksetujuan penulis terhadap SBY apalagi kritik penulis terhadap kekurangan SBY.
Padahal SBY telah berpesan, "Dino, kalau engkau ingin menulis tentang apa yang saya pikir dan lakukan, tulislah secara obyektif. Ceritakan tentang kebenaran, say what I do, what I have done. Itu abadi, Din." Dino hanya mengatakan, "Buku ini saya tulis dengan hati nurani yang bersih."
Sebenarnya ada "ketidaksetujuan" Dino ketika SBY memutuskan akan langsung ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dari Jayapura tatkala mendengar kabar terjadi gempa dan gelombang tsunami pada 26 Desember 2004. Saat itu mereka dan rombongan sedang berada di Bumi Cenderawasih untuk menghadiri perayaan Natal.
Dino menyarankan SBY ke Jakarta terlebih dahulu dengan pertimbangan antara lain kondisi korban dan kerusakan di Aceh masih belum jelas dan kedatangan di Jakarta bisa memberi waktu untuk mempersiapkan kunjungan ke Aceh yang lebih matang.
Namun Dino tak berani menunjukkan ketidaksetujuannya secara langsung ke SBY. Ia ungkapkan hal itu pada halaman 4 dengan kalimat "Jujurnya, malam itu saya masih bertanya dalam hati apakah kepergian Presiden ke Aceh merupakan keputusan yang tepat."
Alhasil Dino berujar, "Keputusan Presiden SBY untuk segera `maju ke depan` dan tiba di Aceh pada hari kedua setelah tsunami adalah keputusan yang tepat dan sangat strategis bagi proses pembuatan kebijakan pemerintah setelahnya." (halaman 6).
Sebaliknya Dino mengkritisi Amien Rais yang juga telah berada di Aceh tetapi tidak merespon tawaran SBY saat rapat darurat bersama di Pendopo Gubernur Aceh untuk memberi komentar, tambahan, atau usulan penanganan bencana dahsyat itu.
"Beliau justru memilih mengeluarkan kritik pedas di luar melalui media, ketimbang memberi usulan konstruktif dalam rapat bersama seluruh pejabat," tulis Dino tentang Amien Rais dalam buku yang diterbitkan oleh "Red & White Publishing" itu.
"Saya dulu kebetulan juga pengagum Amien Rais namun dari peristiwa itu ada satu pelajaran penting yang saya petik untuk para pemimpin masa depan: ada masanya di mana semua pemimpin bangsa harus dapat melupakan ego politiknya dan bahu-membahu bersatu menangani suatu krisis nasional."(halaman 8).
Buku setebal 437 halaman plus 18 halaman untuk lembar dedikasi, kata pengantar, dan daftar isi ini berisi penilaian Dino tentang kepemimpinan SBY.
Dalam Bab I bertajuk "Memimpin Dalam Krisis", dari bencana Aceh, Dino menyimpulkan kepemimpinan SBY sangat tepat karena dalam krisis selalu berada di depan dan mengubah krisis menjadi peluang tercipta perdamaian dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Dari kasus penculikan wartawan Metro TV oleh gerilyawan Irak, Dino menilai SBY merespon masalah secara "realtime" (seketika), ketika menaikkan harga BBM pada 2005 Dino menilai SBY pemimpin yang berani mengambil risiko, saat prihatin atas penculikan bocah berusia 5 tahun bernama Raisya, SBY dinilai Dino sebagai pemimpin yang melakukan hal tepat.
Bab II bertajuk "Memimpin Dalam Perubahan" berisi penilaian Dino tentang kepemimpinan SBY dalam birokrasi. Dino menilai SBY sebagai pendobrak birokrasi. "SBY tahu sekali bahwa birokrasi tidak akan mengubah dirinya sendiri kecuali mulai diubah oleh pimpinan politik," tulis Dino pada halaman 78.
SBY juga dinilai sebagai pemimpin yang bisa melakukan transformasi diri. Menurut Dino, sejak SBY dilantik menjadi Presiden pada Oktober 2004 ada empat transformasi diri yang dilakukan yakni menjadi seorang ekonom, menjadi "crisis leader", mendudukkan diri di atas kepentingan golongan (above politics), dan menjadi negarawan internasional.
Pendek kata, menurut Dino, SBY telah memaksa diri dan dipaksa situasi untuk menggali kemampuan baru sekaligus meningkatkan kapasitas kepemimpinannya.

"SBY Tidak"
Bab III bertajuk "Memimpin Rakyat dan Menghadapi Tantangan" menggambarkan kepemimpinan SBY yang merakyat dan penuh ketulusan hati.
Dino memperhatikan ada teknik SBY yang baik disimak oleh calon pemimpin.
Kalau SBY menjabat tangan seseorang maka untuk dua atau tiga detik itu perhatiannya akan terfokus hanya pada orang di depannya: tangannya diremas erat, matanya menatap bola mata orang itu, dan senyumnya diarahkan hanya pada orang itu.
SBY seolah-olah mengatakan kepada orang yang disapanya, "Di sini, detik ini, hanya ada saya dan kamu."
"Hal ini penting karena bagi saya tidak ada yang lebih menyebalkan daripada menjabat tangan seseorang yang matanya menerawang pada orang lain," tulis Dino pada halaman 153.
SBY juga digambarkan Dino sebagai pemimpin yang ingin langsung mendapat masukan dari rakyat untuk mewujudkan demokrasi langsung.
Contoh yang tampilkan adalah ketika dialog SBY dengan para petani di Waduk Jatiluhur pada 11 Juni 2005.
Pada acara itu SBY memberi nomor telepon genggamnya (0811109949, buku Dino tidak menyebutkan nomornya) yang bisa dihubungi 24 jam sehari.
Akibatnya, nomor telepon SBY itu mengalami gangguan karena tak mampu menampung banyaknya orang yang mengirim pesan melalui layanan pesan singkat (SMS).
Hal terpenting dalam Bab III itu adalah kesan Dino bahwa SBY merupakan pemimpin yang konsisten menjaga warna politiknya dan menjunjung tinggi etika politik.
"Yang lain bisa saja berpolitik kotor: SBY tidak. Yang lain bisa menyebarkan isu bohong melalui SMS atau fitnah keji melalui media: SBY tidak. Yang lain bisa bermain politik uang: SBY tidak. Yang lain bisa kampanye hitam: SBY tidak. Yang lain bisa melancarkan politik penghancuran: SBY tidak. Yang lain bisa menyebarkan selebaran gelap: SBY tidak. Yang lain bisa menghalalkan segala cara untuk kekuasaan: SBY tidak." (halaman 178).
Sejumlah penebar fitnah disebut seperti Eggi Sudjana dan Zaenal Ma`arif tetapi terhadap salah seorang mantan petinggi TNI Dino hanya berani menyebut "Jenderal X".
Dino pun menjadi tahu perilaku standar dari penebar fitnah. Pertama, mereka melontarkan fitnah biasanya dengan cara bombastis dan sikap penuh keyakinan. Kedua, mereka dengan keras kepala mengancam membeberkan bukti-bukti untuk mendukung fitnah itu. Ketiga, setelah proses hukum berjalan mereka meminta maaf dengan segala kerendahan hati kepada orang yang difitnah agar terhindar dari bui.
Dari kasus tersebut, Dino menggambarkan bahwa SBY merupakan pemimpin yang pemaaf, tiada dendam.
Surat balasan SBY atas permohonan maaf dari Zaenal Ma`arif pun tertera pada halaman 211-214 buku ini. Surat balasan itu ditulis sendiri oleh SBY dan orang yang membacanya akan melihat dengan jelas akhlak dari SBY, kata Dino.
Bab IV bertajuk "Memimpin Tim dan Membuat Keputusan" memaparkan gaya kepemimpinan SBY yang sangat mementingkan kekompakan kabinet karena banyak menteri yang berasal dari partai politik. SBY selalu menegaskan bahwa selama menjadi menteri maka loyalitas adalah kepada Presiden dan Pemerintah.
Namun kenyataan mencatat bahwa SBY beberapa kali merombak kabinet dengan beragam alasan yang intinya menunjukkan bahwa kekompakan kabinet merupakan salah satu kerikil pemerintahan SBY.
Pada bab ini pula digambarkan bahwa SBY membela juru bicara Andi Mallarangeng atas desakan pimpinan DPR agar jangan terlalu banyak berkomentar dan Dino yang disebut-sebut sebagai agen asing.
Atas tudingan sebagai agen asing, Dino pada halaman 225 menulis, "Saya sudah mengabdi untuk Republik selama 20 tahun lebih dan saya lahir dari keluarga Pegawai Negeri yang nasionalis. Jadi bisa anda bayangkan betapa gregetnya perasaan saya mendengar celotehan `edan` seperti itu."
Dalam pengambilan keputusan, Dino menggambarkan SBY sebagai pemimpin yang mampu mengambil keputusan kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Sangat jauh dari anggapan sementara kalangan yang menyebut SBY sebagai figur peragu, lambat, dan tidak "decisive" (tegas).
Dalam ilmu manajemen ada istilah "thinking on your feet" atau orang yang dapat berpikir sambil berdiri. Bagi Dino, SBY melakukan lebih dari itu: beliau bisa "deciding on the run" atau mengambil keputusan sambil berlari.
Judul buku ini diambil dari subbab bertajuk "Harus Bisa!" dalam Bab IV. Dalam menghadapi setiap situasi, SBY selalu mengatakan kepada pembantunya,"Harus Bisa!".
"Beliau paling tidak suka kalau ada pembantunya yang sudah kalah atau jatuh mental sebelum bertarung. Berkali-kali SBY menyatakan dalam pidato publiknya: Kita jangan menjadi bangsa yang cengeng dan manja," tulis Dino pada halaman 254.
Pada Bab V bertajuk "Memimpin Di Pentas Dunia", Dino menggambarkan SBY sebagai pemimpin nasionalis dan internasionalis.
"Sebagai diplomat profesional, saya berpendapat bahwa SBY adalah salah satu `foreign policy President" terbaik selama ini," tulis Dino pada halaman 284-285. "Foreign policy President" merupakan istilah diplomasi tentang tipe Presiden yang mempunyai perhatian besar pada dunia internasional dan memegang kendali diplomasi.
Selain sebagai sosok nasional dan internasionalis, pada bab ini Dino menggambarkan SBY sebagai pemimpin yang menyentuh hati dan menyembuhkan luka, percaya diri dalam mengambil sikap, peka terhadap situasi, menanam dan memanfaatkan "political capital" dalam diplomasi, mengukir sejarah diplomasi, dan menggagas ide melahirkan inovasi.
Pada bab VI bertajuk "Memimpin Diri Sendiri", Dino menggambarkan SBY sebagai pemimpin yang menghormati ketepatan waktu, menjadi diri sendiri, pemimpin yang tidak mendewasakan kekuasaan, dan pemimpin bermental tangguh.
Bila Wimar tak ada penyesalan menjadi juru bicara Gus Dur, Dino tentu saja sangat bangga menjadi juru bicara seorang Presiden yang ia gambarkan sangat perfeksionis.
"Saya sering merasa seperti kuda lumping yang mengejar kuda balap," tulis Dino dalam epilog.
Banyak pernyataan SBY dan cerita menarik yang belum diberitakan sebelumnya dapat disimak dalam buku yang dihiasi parade ratusan foto kegiatan SBY.
Dalam pengabdian kepada SBY, Dino menulis bahwa yang ada hanyalah kehormatan dicampur kecemasan apakah telah memberikan yang terbaik kalau tiba masanya meninggalkan Istana.□Edisi cetak muat di Harian Borneo Tribune.

Baca Selengkapnya..

Wednesday, May 28, 2008

Elemen ke-10 Jurnalisme

Oleh Tanto Yakobus

SAYA baru dengar langsung dari Andreas Harsono, teman sekaligus guru saya ketika belajar menulis panjang dengan model narativ reporting atau istilah lain, jurnalisme sastrawi. Dia bilang buku The Elements of Journalism karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, yang memuat sembilan elemen Jurnalisme sudah direvisi. “Jadi sekarang ada 10 elemen jurnalisme,” ujar AH—sebutan Andreas Harsono, dalam diskusi kecil kami membahas program kerja kami di rumah Pak Kristianus Atok, pekan lalu.

Buku yang membuka cakralawa wartawan dalam menulis itu, kata AH sudah direvisi. Jadi sekarang ada 10 elemen jurnalis yang erat kaitannya dengan dunia teknologi.
Sebelum dia menjelaskan petautan program kerja kami yang memang di bidang jurnalis, yakni memperbaiki mutu jurnalis di Indonesia, dia cukup panjang lebar menjelaskan elemen ke-10 dari gurunya, Bill Kovach.
Bila AH bertekat memperbaiki mutu jurnalis di Indonesia, kami cukup memperbaiki mutu jurnalis di tingkat kampung saja. Itu sudah cukup bearti. Sebab kami akan memulainya dari desa ke kota.
Tapi sayang, ketika itu AH belum bisa membawa buku revisi yang memuat elemen ke-10 karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel itu. “Nanti suatu saat saya kesik deh,” kata AH kepada kami malam itu.
Tapi sebelum mendapatkan bukunya, saya membuka situ www.pena.co.id yang memang sering saya patroli disana untuk mendapatkan info baru. Sebab tak jarang info yang ditampilkan di situs tersebut selain uptude juga banyak kaitannya dengan wartawan.
Karena banyak kebertautannnya itulah, maka saya juga sering mampir ke situs dimaksud. Dan Rabu (28/5) ketika saya patroli kembali ke situs tersebut, saya sungguh beruntung, ternyata ada penjelaskan yang cukup tentang elemen ke-10 tersebut yang dijelaskan secara gamblang oleh saudara Farid Gaban. Kebetulan Farid Gaban sudah mendapatkan buku tersebut sebagai oleh-oleh dari koleganya, Uly Siregar, Paul dan Alana Skiera dari Amerika Serikat.
Jadi saya termasuk orang yang beruntung menemukan resensi yang dibuat Farid Gaban, dan ini saya pikir semakin menambah pemahanan saya tentang ilmu jurnalistik yang dikembangkan oleh Bill Kovach—yang diteruskan oleh muridnya, AH kepada saya.
Ketika AH menyinggung elemen ke-10, saya sudah penasaran seperti apalagi bentuknya. Yang ada sekarang saja, hanya sedikit orang yang mampu memahaminya. Itu pulalah mengapa mutu jurnalis di Indonesia sangat-sangat buruk, tak lebih dari sekedar jurnalisme ludah yang sudah dikatakan oleh pratisi-pratisi jurnalis jauh sebelumnya.
Kasarnya, jurnalis di Indonesia tidak lebih dari sekedar memindahkan bibir orang ke koran atau majalah atau media elektronik saja. Dia minim investigasi yang mempu mengungkap fakta. Yang ada jurnalis yang berpihak kepada pejabat dan bila pejabat bersalah langsung menghakimi seperti hakim di pengadilan.
Itulah gambaran jurnalis kita, dia tidak pekan dan berpihak kepada kepentingan publik, kepentingan rakyat kecil. Dia hanya berpihak kepada pemilik modal dan model baru sekrang jurnalis malah lebih berpihak kepada investor atau pemilik media itu sendiri.
Walau Farid tidak membuat resensinya secara lengkap, tapi sudah cukup memberi pemahaman kepada saya.
Nah, berikut tulisan saudara Farid Gaban, saya posting secara langkap yang diambil dari situ www.pena.co.id.

Tentang Elemen ke 10 Bill Kovach dan Tom Rosenstiel

Oleh Farid Gaban
Saya baru membaca sebagian dari edisi revisi dari buku The Elements of Journalism (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel). Jadi, belum bisa menulis resensi yang lebih lengkap. Tapi berikut ini quick review.
[Terima kasih buat Uly Siregar, Paul dan Alana Skiera yang telah membawa oleh-oleh buku ini dari Amerika].
Dalam buku baru ini, Kovach dan Rosenstiel memasukkan elemen ke-10: "Citizens, too, have rights and responsibilities when it comes to the news."
Kovach dan Rosenstiel mengkaitkan elemen terbaru ini dengan
perkembangan teknologi informasi (internet khususnya) dalam beberapa tahun terakhir: munculnya blog dan online journalism serta maraknya jurnalisme warga (citizen journalism), community journalism dan media alternatif.
Ini elemen yang memang penting, sesuai dengan sub-judul buku asli
mereka: "What Newspeople Should Know and the Public Should Expect."
Teknologi informasi muatkhir memungkinkan orang, siapa saja,
memproduksi berita. Inilah era yang disebut oleh Alvin Toffler,
seorang futurolog pada 1980-an, sebagai era prosumsi (produksi dan konsumsi). Publik atau masyarakat bisa menjadi produsen dan konsumen sekaligus.
Munculnya blog, jurnalisme warga dan media alternatif sebenarnya
juga diilhami oleh kekecewaan publik terhadap media mainstream yang sekarang ada, sebagian besar karena kesalahan para wartawan dan pemilik media sendiri.
Tingkat kepercayaan publik terhadap media terus merosot. Di Amerika, misalnya, sebuah survai 1999 menunjukkan bahwa hanya 21% masyarakat yang menilai pers peduli pada rakyat, terjun bebas dari 41% pada 1987. Hanya 58% yang mengakui pers sebagai lembaga watchdog, turun dari 67% pada 1985. Kurang dari separo responden, 47%, yang percaya bahwa pers melindungi demokrasi.
Kecenderungan yang sama, kita bisa menduga, juga terjadi di Indonesia. Liberalisasi industri media setelah reformasi tidak serta merta meningkatkan pamor pers. Pengalaman pribadi saya justru menunjukkan bahwa masyarakat sekarang jauh lebih sinis terhadap media dan profesi kewartawanan, ketimbang 20 tahun lalu.
Liberalisasi itu sendiri menurut saya penting. Namun, nampaknya perlu diimbangi oleh peningkatan mutu karya jurnalistik serta ketaatan wartawan terhadap kaidah dan etika jurnalisme.
Kekritisan dan sinisme masyarakat terhadap media mainstream itu
penting dan bermanfaat. Masyarakat memang sebaiknya mamahami kaidah jurnalistik dan dengan begitu bisa mengontrol pers, yang pada gilirannya memacu wartawan dan pemilik media untuk kembali merenungkan eksistensinya sendiri: untuk apa sebenarnya jurnalisme ada?
Kovach dan Rosenstiel kembali mengingatkan kita para wartawan untuk mengkaji serta mengenali kembali prinsip-prinsip dasar jurnalisme agar kita tidak makin tersesat jauh dari publik. Dan khususnya dalam elemen ke-10, buku baru ini mengingatkan publik untuk ikut serta memperkaya jurnalisme dan mengontrol pers.
Jurnalisme terlalu penting untuk hanya dipercayakan kepada para
wartawan, atau mereka yang mengaku wartawan.*** (Farid Gaban]

Baca Selengkapnya..

Monday, May 26, 2008

"Putri Dayak" dari Paman Sam


Oleh Tanto Yakobus

ADA yang unik selama pagelaran Pekan Gawai Dayak yang berlangsung dari tanggal 18 hingga 24 Mei 2008 lalu di Pontianak. Seorang wanita cantik tampak menonjol dari kaum hawa lainnya di arena Pekan Gawai Dayak itu. Dara berkulit putih, hidung mancung, rambut pirang dan bermata biru itu berasal dari Amerika Serikat. Dia adalah Laura Steckman (31).

Kandidat Doktor Univerty of Wisconsin Medison itu rajin mengunjungi stand-stand pameran selama berlangsungnya Pekan Gawai Dayak. Selain mengunjungi stand pameran, dia juga tampak serius menyimak setiap lagu maupun tarian yang ditampilkan oleh setiap sanggar yang tergabung dalam Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (Sekberkesda) Kalimantan Barat.
Dia ramah menyapa setiap siapa saja yang dia temui. Senyumnya selalu merekah dari bibirnya titip sembari mengikuti pandangan matanya yang biru itu.
Walau baru tujuh bulan di Indonesia, dia sudah fasih sekali berbahasa Indonesia. Bahkan bahasa Indonesianya sempurna sekali baik dari aksen maupun tata bahasanya. Semuanya sudah beraturan menurut ejaan yang disempurnakan (EYD).
Ketika saya meminta mewawancaranya untuk blog, ia sangat antusias menyambutnya. “Oke saya senang sekali, nanti saya telepon mama saya di Amerika membaca blognya,” katanya ramah.
“Mama cukup khawatir dengan saya yang jauh dari dia, bila ada di blog mama bisa tahu saya di mana dan bakar saya tentu baik,” ujarnya.
Setelah berbasa-basi, Laura—demikian ia disapa, tak segan-segan mengatakan kekagumanannya tentang Indonesia. “Indonesia memang hebat, tidak ada duanya di dunia. Selain wilayah paling luas dengan ribuan pulau, juga masih banyak hutannya. Dan yang membuat saya tambah kagum, banyak sekali suku atau etnik yang ada di Indonesia,” katanya dengan mata berbinar-binar.
Menurut Laura, pertama kali ia datang ke Indonesia, dia mendarat di Manado. Namun pertama dia kenal Indonesia, ia mengaku menyukai Indonesia tergantung hari. Ada hari yang menyenangkan namun ada pula hari yang menyebalkan.
Menyenangkan karena orang Indonesia umumnya ramah dan lingkungannya masih asri. Yang tidak menyenangkan manakala ada orang iseng dan mengodanya, mungkin juga punya nita jahat. Tapi yang jelas sambung Laura, persepsi orang tentang Indonesia selama ini memang salah. Ternyata setelah datang jauh beda dengan anggapan orang luar selama ini bahwa Indonesia tidak aman. “Buktinya saya aman-aman saja kok, walau sendirian,” katanya.
Yang lebih menyenangkan lagi, saya punya banyak teman, termasuk di Pontianak, Kalbar. Saya banyak teman dari Dayak, Tionghoa. Mereka sangat terbuka sekali dengan saya, Melayu juga ada.
Pontianak sungguh menyenangkan, sebab banyak tempat wisata. Terutama di daerah pedalaman Kalbar.
Laura juga mengaku dia tidak bermsalah dengan makanan. “Awalnya memang sulit, tapi bila orang bermasalah dengan makanan itu sudah masalah bersar,” katanya.
Di Kalbar, Laura mengaku sudah masuk ke daerah Pontianak dan sekitarnya, Sanggau dan Sintang. Sedangkan di Kalimantan Tengah, Laura pernah mengikuti Gawai Dayak di sebuah kampung di pedalaman Sungai Katingan. Kondisi alamnya sangat bagus. Dia mengaku sangat menyukai pedalaman Katingan, karena selain masyarakat ramah, juga aman bagi dirinya. Orang tidak mengganggap dirinya orang asing.
Kepada saya Laura menceritakan, dirinya bisa membedakan orang itu sukunya apa, dari wajah dan bahasanya. “Wajah dan bahasa yang dia gunakan sangat khas untuk membedakan suku di Indonesia,” jelas Laura yang sudah lima tahun belajar bahasa Indonesia di negaranya, Amerika Serikat atau Paman Sam itu.
Kepentingannya ke Kalbar, itu terkait dengan studinya di University of Wisconsin Medison. Untuk menyelesaikan Doktornya (S-3) ia memperdalami sejarah Dayak di Kalbar. Untuk keperluan itu, ia keluar masuk pedalaman dan rajin mengunjungi tokoh-tokoh adat dan masyarakat termasuk perpustakaan yang mendukung penelitiannya.□

Baca Selengkapnya..

Dua Naga Meliuk di Pembukaan Pekan Gawai Dayak



DUA Nara raksasa meliuk-liuk di acara pembukaan Pekan Gawai Dayak Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Selasa (20/5) lalu. Kehadiran dua naga sepanjang kurang lebih 500 meter tersebut menambah semarak acara Display Budaya Dayak yang dilepas Walikota Pontianak, H Buchary A Rahman.

Dispay budaya yang berbentuk karnaval keliling Kota Pontianak tersebut diikuti 36 sanggar yang tergabung dalam Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (Sekberkesda) Kalimantan Barat. Selain sanggar kesenian Dayak, juga tampil berbagai budaya dari beragam etnis yang ada di Pontianak, seperti Melayu, Tionghoa, Bugis, Madura, Batak, Manado dan lain-lain.
“Kota Pontianak memang unik, karena dihuni oleh berbagai etnis dan budaya yang ada di nusantara ini. Keragaman itu justru membuat indahnya kesatuan dan kesatuan suku bangsanya yang membentuk Indonesia ini,” papar Gubernur Kalbar, Drs. Cornelis, MH saat memberikan sambutan pembukaan Pekan Gawai Dayak.
Pekan Gawai Dayak kali ini adalah yang ke-22 kalinya. Gawai ini merupakan repleksi ungkapan syukur masyarakat Dayak usai panen padi. Sebagai ungkapan terima kasih atas panen yang melimpah, masyarakat Dayak menggelar gawai sekaligus mengucap syukur kepada Tuhan atau dalam bahasa Dayaknya, Jubata, Penompa atau Petara.
Selaim mempersembahkan doa agar diberi kemudahan pada tahun berikutnya, juga dalam pesta gawai disuguh atau dihidangkan juga berbagai hasil panen mulai dari padi, jagung, dan sayur-sayuran termasuk buah-buahan.
Selain ungkapan syukur, makna gawai juga sebagai pemisah tahun padi bagi masyarakat Dayak. Biasanya, usai gawai ada waktu jeda dua atau tiga pekan. Setelah itu masyarakat Dayak kembali membuka lahan untuk berladang kembali.
Bila belum dilaksanakan gawai, masyarakat Dayak tidak diperkenankan membuka lahan atau menebas, sebab Tuhan atau Jubata akan murka karena manusia belum berterima kasih atas kemurahan Jubata atau Tuhan yang telah memberikan panen melimpah kepada manusia.
Namun di Kalimantan umumnya dan Kalbar khususnya, pesta panen padi atau gawai ini tidak serentak waktunya. Bahkan lamanya bisa berbulan-bulan. Untuk menyingkatkan waktu gawai tersebut, para tokoh masyarakat Dayak menyepakati membuat waktu gawai itu tetapkan setiap tanggal 20 Mei setiap tahunnya. Namun sebagai pedoman, bulan Mei adalah bulan gawai bagi masyarakat Dayak. Karena pada bulan Mei juga merupakan pemisahan tahun padi.

Anti Diskriminasi Budaya
Gawai Dayak tahun ini sangat bermakna bagi masyarakat Tionghao di Pontianak. Betapa tidak? Dalam merayakan Imlek dan Cap Go Meh 2559 yang jatuh tepat tanggal 7 Februari 2008 lalu, masyarakat Tionghoa khususnya di Pontianak tidak bisa merayakan imlek dengan menampilkan budaya leluhur mereka.
Lazimnya, setiap Imlek masyarakat Tionghoa selalu menampilkan budaya leluhur mereka dengan memainkan naga dan barongsai. Selain itu juga ada permainan petasan. Namun petasan dianggap barang berbahaya dan terganjal UU tentang bahan peledak.
Tapi soal budaya, walau sudah dijamin oleh UUD 1945, namun masih bisa dilarang lewat sebuah surat keputusan (SK) Walikota Pontianak.
Entah karena tekanan kelompok tertentu atau memang demi ketertiban dan kelancaran lalu lintas di Kota Pontianak, SK No. 127 Tahun 2008 tentang jual beli, pemasangan petasan dan pelaksanaan arakan naga, barongsai dalam wilayah Kota Pontianak, sungguh menyakitkan bagi warga Tionghoa.
Banyak kalangan mengecam SK tersebut. Selain sangat diskriminasi juga bertentangan dengan UUD 1945. Padahal sekarang sudah keluar UU anti diskriminasi terhadap salah satu suku bangsa yang ada di negeri ini.
Ada pula pihak-pihak yang menilai SK tersebut keluar kental nuansa politiknya, dimana dalam Pilkada Kalbar 15 November 2007 lalu, Melayu tidak berdaya melawan kekuatan koalisi Dayak dan Tionghoa sehingga tampillah Drs. Cornelis, MH dan Drs. Christiandy Sanyaja, SE, MM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar.
Namun terlepas dari itu semua, event tahunan Pekan Gawai Dayak 2008 ini sungguh berarti bagi masyarakat Tionghoa. Berbulan-bulan mereka mempersiapkan membikin naga, namun pada saat perarakannya di hari Imlek justru dilarang dengan sebuah SK walikota. Tidak ada memang korban materi dari pelarang tersebut, tapi kita sudah kehilangan budaya yang diwariskan nenek moyang ratusan tahun silam.
Maka tak heran Display budaya Dayak yang dimulai sejak pukul 13.00 WIB itu berlangsung hingga pukul 17.00. Kota Pontianak macet total. Masyarakat semua tumpah ruah ke jalan, pun demikian dengan warga Tionghoa yang memang mayoritas di pusat Kota Pontianak, mereka menyeruak keluar rumah menyaksikan dua naga dan tentu saja Budaya Dayak yang rutin melintasi jalan-jalan protokol setiap tahunnya itu. Sungguh pemandangan yang mengasyikan dan memberi nilai dan pelajaran tersendiri bahwa budaya itu kaya dengan keindahan dan keharmonisan di dalamnya.
Semoga tidak ada lagi diskirminasi terhadap budaya-budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat, khususnya masyarakat Kota Pontianak. Semoga.□Tanto Yakobus

Baca Selengkapnya..

PGD Topang Tahun Kunjungan Wisata Kalbar 2010

Perlu Multy Culture Center



EVENT budaya Pekan Gawai Dayak (PGD) memiliki peluang untuk menopang tahun kunjungan wisata Kalbar 2010 yang berbasiskan budaya etnis. Untuk itu diperlukan evaluasi yang mendalam terhadap manajemen penyelenggaraannya yaitu dengan mempertahankan yang sudah baik dan meningkatkan segala sesuatu yang masih dirasakan kurang. Demikian sambutan Wakil Gubernur Kalimantan Barat, yang diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata, Drs. Rihat Nasir Silalahi, M.Si, di Gedung Olahraga Pangsuma, Sabtu (24/5) malam.

Menurutnya, acara PGD yang telah dilaksanakan oleh Panitia, sebagai wujud dari rasa tanggung jawab komunitas etnis Dayak untuk senantiasa memelihara, melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya positif yang telah diwariskan oleh para leluhur. Nilai-nilai yang telah mengkristal dalam kehidupan masyarakat Dayak tambahnya, hakekatnya merupakan perwujudan dan refleksi warisan budaya yang sudah tertanam sejak lama.

“Sebagai bagian integral dari budaya nasional saya berharap masyarakat Dayak dapat memberikan konstribusi positif dalam pembentukan karakter dan pekerti bangsa yang tangguh, ulet, jujur, adil dan bersikap terbuka dengan etnis yang lainnya di Kalbar.”

Karena dengan sikap membuka diri terhadap budaya etnis lainnya menurutnya dapat menjalin persatuan dan kesatuan antarsesama komunitas. Hal ini sejalan dengan perjuangan dr. Wahidin Sudirohosudo pada satu abad yang lalu dalam upaya menumbuhkan semangat nasionalise yang menjadi kekuatan dasar untuk merebut kemerdekaan dan hingga saat ini masih sangat relefan untuk mengisi pembangunan.

Lebih lanjut dia meyebutkan, salah satu upaya untuk menciptakan persatuan dan kesatuan itu dapat diciptakan melalui pagelaran seni budaya. “Oleh karena itu tema yang diusung dalam penyelenggraraan PGD XXII 2008 ini yaitu menjadikan seni budaya sebagai media perekat persatuan dan kesatuan, saya nilai sangat tepat,” paparnya memuji.

Dia menjelaskan persatuan dan kesatuan bangsa hanya mungkin terlaksana apabila setiap komunitas mampu menempatkan budaya etnis dalam kontek multikulturalisme bangsa yang mengedepankan kebersamaan dan mengapresiasi perbedaan dalam kesederajatan.

Heterogenitas masyarakat Kalbar yang terdiri dari berbagai etnis merupakan aset yang tidak ternilai harganya apabila mampu dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Dengan keanekaragaman suku bangsa yang ada, Kalbar berpotensi besar untuk menjadikan dirinya sebagai the truely Indonesia. Artinya untuk melihat seni budaya Indonesia para wisataman cukup hanya dengan mengunjungi Kalbar. “Untuk itu diperlukan pembinaan yang terarah dan sistematis terhadap seni budaya yang berbasis etnisitas serta ditunjang oleh wadah semacam Multy Culture Center yang memungkinkan pementasan atraksi seni budaya daerah secara rutin,” pintanya.
“Dengan cara demikian saya yakin dan percaya pada saatnya nanti PGD dapat menjadi daya tarik tersendiri dalam meningkatkan arus kunjungan wisatawan ke Kalbar,” katanya.

Sementara menurut ketua panitia Drs. Paulus Denggol, PGD XXII 2008 yang diawali dengan ritual “Ngampar Bide” dari Dayak Kendayan yang dibuka secara resmi oleh Gubernur Kalbar Drs. Cornelis, MH tanggal 20 Mei 2008.

Menurutnya pagelaran PGD tahun ini ternyata mendapat sambutan yang hangat dari seluruh masyarakat Kalbar baik yang berasal dari suku Dayak itu sendiri maupun yang bukan dari suku Dayak. Hal ini menunjukkkan kehidupam berbangsa dan bernegara di Kalbar dalam keadaan rukun dan damai. “Pekan Gawai Dayak XXII 2008 telah berlangsung sukses dan meriah,” katanya.□Naskah dan Foto: Hartono/Borneo Tribune

Baca Selengkapnya..

Gubernur Buka Pekan Gawai Dayak

Jangan Jadi Bangsa yang Manja


GUBERNUR Kalimantan Barat, Drs Cornelis, MH meminta rencana kenaikan harga BBM oleh pemerintah seiring tingginya harga minyak mentah di pasar dunia tidak selalu diikuti aksi unjuk rasa.
"Jangan jadi bangsa yang manja. Baru naik sedikit saja (harga BBM) sudah berdemo," kata Cornelis di pembukaan Pekan Gawai Dayak ke-XXII di Rumah Betang Pontianak, Selasa, (20/5) siang.

Menurut dia, pemerintah akan kesulitan membiayai pembangunan kalau harga BBM tidak disesuaikan. "Untuk mengharapkan pajak saja pemerintah kesulitan karena nilainya masih kecil," kata Cornelis.
Ia mengatakan, dibanding negara lain, harga BBM di Indonesia termasuk murah. Ia mencontohkan di Malaysia harga premium per liter mencapai Rp15 ribu. Di beberapa negara Eropa bahkan harga per liternya Rp 25 ribu.
Cornelis juga mengimbau masyarakat melakukan penghematan pemakaian BBM seperti tidak menggunakan sepeda motor untuk jarak tempuh yang dekat. "Kalau mandi ke sungai, jangan pakai motor. Berjalan saja," kata Cornelis dalam bahasa daerah.
Sebagian masyarakat Kalbar terutama di daerah bukan perkotaan masih mengandalkan sungai untuk aktivitas sehari-hari seperti mandi, cuci dan kakus. "Kecuali kalau sungainya jauh, sepuluh kilometer," kata mantan Bupati Landak itu.
Sementara untuk ketahanan pangan, ia mengharapkan masyarakat tidak malu dengan profesi sebagai petani. "Menjadi petani bukan pekerja hina, justru mulia. Tanpa petani, kita tidak akan makan nasi," katanya.
Masa tanam padi khususnya untuk masyarakat Dayak yang umumnya hanya satu kali setahun, perlu ditingkatkan menjadi dua kali. Keluarga petani yang membiarkan lahannya terlantar juga harus menanam kembali. "Ini untuk memenuhi kebutuhan pangan karena negara-negara pengekspor sudah menaikkan harga beras," kata Cornelis.
Wakil Ketua DPRD Kalbar, Arya Tanjungpura juga mengingatkan warga yang merayakan Gawai untuk tidak menimbulkan kesan pesta-pora. "Negara sedang dalam keadaan susah. Jangan sampai ada kesan seperti itu," kata Arya Tanjungpura.
Bagi masyarakat Dayak, Gawai menjadi sarana untuk mewujudkan rasa syukur ke pencipta atas hasil yang diperoleh saat musim tanam padi.
Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalbar, Thadeus Yus mengatakan, padi erat kaitannya dengan religiusitas masyarakat Dayak. "Kehancuran alam akan menjadi faktor serius yang mengancam kelangsungan kehidupan sosial masyarakat Dayak," kata Thadeus Yus
Pekan Gawai Dayak (PGD) Kalimantan Barat XXII yang diselenggarakan 20-24 Mei 2008 di Rumah Betang dan dibuka secara resmi Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH.
PGD ini lahir seiring dengan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 1986. Gawai ini sendiri merupakan pesta panen padi bagi masyarakat Dayak dan telah ditetapkan Gubernur Kadarusno pada tahun 1976 melalui SK pada tahun 1976 dan SK tersebut adalah untuk menyatukan keberanekaragam gawai yang ada di Kalbar ini.
Berbagai adat budaya tradisional yang merupakan warisan leluhur nenek moyang akan disajikan, seperti Balenggang atau Bari’, Nyangahat’t Balale, Nyumpit dan lain sebagainya, dengan harapan seni dan budaya yang belum tergali secara maksimal dapat dikenal secara luas oleh masyarakat Kalbar.
Seni dan budaya yang hidup dan berkembang di masyarakat Dayak merupakan sumber daya tarik wisata dan modal yang besar, artinya bagi pengembangan kepariwisataan. Untuk itu, perlu diupayakan agar seni dan budaya Dayak yang selama ini hanya dikenal pada kalangan tertentu dapat ditampilkan dalam acara khusus sehingga masyarakat luas dapat menikmatinya.
Ketua panitia Drs. Paulus Lukas Denggol mengatakan PGD Kalbar yang sudah menjadi event tetap kalender Pariwisata Nasional ini merupakan sarana untuk mengembangkan seni dan budaya Dayak sehingga menjadi atraksi yang memikat dan dapat dinikmati oleh wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Dengan demikian menurutnya, seni budaya Dayak diharapkan dapat terus berkembang sehingga mampu meningkatkan pendapatan daerah, pendapatan masyarakat dan peluang usaha.
Dalam sambutan singkatnya Ketua DAD Kalbar, Thadeus Yus mengatakan tujuan dilaksanakannya PGD ini untuk memperkuat sendi-sendi kehidupan budaya daerah dalam memperkaya kebudayaan nasional, menyukseskan program pemerintah dalam bidang kebudayaan seni dan budaya pariwisata,
Selain itu menurutnya, untuk menjaga kemurnian nilai-nilai kearifan budaya Dayak dari pengaruh budaya asing sebagai akibat konsekuensi logis dari arus globalisasi dan modernisasi dan mewujudkan visi misi Dayak bersatu, Dayak maju dan Dayak sejahtera sebagaimana yang sudah diamanahkan dalam Musyawarah Nasional II DAD Se-Kalimantan.
PGD tahun ini terlihat meriah. Dimana sebanyak tiga puluh delapan sanggar ikut ambil bagian. Mereka akan melibatkan diri dalam berbagai macam perlombaan. Mulai dari melukis perisai, menyumpit, memasak tradisional dan lain sebagainya.
Pembukaan PGDXXII dihadiri Kapolda Kalbar R. Nata Kesuma, Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Rihat Natsir Silalahi, Bupati Landak Andrianus Asia Sidot, Sekda Kab. Sanggau F. Andeng Suseno, Walikota Pontianak Buchary Abdurrachman, Ketua TP PKK Kota Pontianak Sri Astuti Buchary, Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak Hartono Azas, Ketua Bhakti Suci Lindra Lie, MABM, IKBM, MABT.□ Naskah dan Foto: Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune

Baca Selengkapnya..