Oleh TY
Sejak awal, orang mengenal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai partai yang penuh dengan sensasi dan kejutan. Tentu sensasi yang mereka bangun bukan asal-asal, tapi yang bermanfaat bagi orang banyak, terlebih bagi yang tertimpa musibah.
Dan itu bukan rahasia lagi bagi PKS yang dari awal membangun citranya sebagai partai yang peduli dengan masalah-masalah sosial kemasyarakatan, termasuk terhadap masyarakat yang tertimpa bencara seperti korban gempa bumi di Sumatera Barat.
Seperti dilakukan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat dari PKS yang berkomitmen menyumbangkan gaji pertama mereka untuk membantu korban gempa di Sumatera Barat.
Menyumbangkan gaji pertama itu sudah menjadi komitmen PKS mulai dari pusat hingga provinsi.
Seperti dikatakan dikatakan Ketua DPW PKS Kalimantan Barat, Fatahillah Abrar sebagaimana dikutif Antara, komitmen itu harus diwujudkan. Kemudian untuk kabupaten/kota Fatahillah mengatakan akan disosialisasi pada acara halal bi halal partai berbasis masa Islam tersebut.
Karena itu juga, mereka berkomitmen dan tidak merasa kesulitan untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang dalam kesulitan akibat gempa.
Sebagaimana kita ketahui bahwa gempa yang meluluhlantakan Sumatera Barat itu telah menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Bahkan menurut data Pemerintah Kota Pariaman memperkirakan sementara ini jumlah kerugian materil yang dialami Kota Pariaman saja mencapai Rp 1 trilun lebih menyusul rusaknya puluhan ribu bangunan di wilayah itu.
Taksiran itu belum termasuk di daerah lain di Ranah Minang tersebut.
Walikota menyebutkan puluhan ribu bangunan yang terdiri dari fasilitas umum, rumah ibadah, perkantoran, sekolah dan rumah penduduk di wilayah itu mengalami kerusakan. Kategori pun beragam. Ada yang rusak ringan, rusak sedang hingga rusak berat.
Belum lagi fasilitas lainnya seperti jaringan listrik, komunikasi,dan air bersih masih mengalami kendala hingga belum dapat digunakan.
Untuk meringankan bebas saudara kita yang tertimpa musibah, bukan banyak bantuan logistik yang mengelir ke sana, tapi juga sejumlah relawan baik dalam negeri maupun luar negeri bahu membahu menuju Kota Padang sebagai daerah terparah karena gempa.
Sebagai sesama anak bangsa, kita berharap tidak hanya PKS dan kadernya yang bisa mengulurkan tangan, tapi juga partai maupun pihak lain agar tergugah hatinya membantu meringankan beban para korban.
Keiklasan dan kebaikan kita semua yang disalurkan dengan benar akan membawa berkah bagi kita semua. Berkah itu tidak langsung dibalas ketika itu juga, tapi dengan cara lain Tuhan membalasnya. Semoga.
Tuesday, October 27, 2009
Gaji Pertama Buat Gempa
Diposting oleh Tanto Yakobus di 8:22 AM 0 komentar
Setia pada Profesi
Oleh TY
Kita sering mendengar orang mengucapkan kata setia pada pasangan, setia pada pekerjaan, dan setia pada janji yang pernah diikrarkan.
Namun pada kesempatan ini saya ingin mengulas sedikit tentang pekerjaan yang kadang membosankan, namun tak jarang mengasyikkan karena penuh tantangan.
Yakni pekerjaan sebagai jurnalis. Ya pekerjaan jurnalis adalah pekerjaan profesi (walau kadang masuk kelompok buruh). Maka tak jarang teman yang kebetulan jurnalis ketika ditanya apa aktivitas atau pekerjaan sekarang? jawabannya; masih setia pada profesi.
Bila saya yang tanya, tentu langsung paham, pastilah itu jurnalis. Tapi bagi orang awam, taksirannya bisa macam-macam. Sebab profesi juga berlaku bagi dokter, pengacara, notaris, apoteker, psikolog, akuntan, desainer, arsitektur, dll.
Menurut Wikipedia, profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut.
Seseorang yang memiliki suatu profesi tertentu, disebut profesional. Walaupun begitu, istilah profesional juga digunakan untuk suatu aktivitas yang menerima bayaran, sebagai lawan kata dari amatir.
Contohnya, pemain sepakbola profesional menerima bayaran mengguirkan dari klubnya, sementara sepakbola sendiri umumnya tidak dianggap sebagai suatu profesi.
Berapa banyak pekerja yang menjalani profesi tak sesuai dengan ilmu yang didapat di kuliahan. Memangnya kalau lulusan fakultas hukum harus jadi jaksa, hakim, pengacara, notaris atau kerja di bagian legal perusahaan? Tentu juga tidak. Termasuk para jurnalis, adalah profesi yang tidak sejalan dengan apa yang didapat di bangku kuliah. Walau ada juga jurnalis yang lulus dari fakultas komunikasi jurusan jurnalistik.
Tapi kebanyakan jurnalis yang ada, justru bukan jebolan sekolahnya. Tapi karena kecintaan mereka pada profesinya. Dan kecitaan itu pula yang membentuk karakternya sehingga menjadi idealisme.
Jurnalis idealisme itulah yang dapat melahirkan karya-karya baik. Tulisannya bisa membuka cakrawala berpikir orang. Tidak asal kutif, tapi betul-betul analitis dan mendidik.
Kecintaan pada profesi itulah yang kadang-kadang membuat dirinya rela berkorban apa saja. Pasang badan untuk setiap kasus yang ditulisnya. Termasuk tindak tanduknya di masyarakat. Tak jarang ia cenderung melawan arus.
Kita sadar perbuatan melawan arus itu benar setelah beberapa tahun kedepan. Mereka umumnya tidak mementingkan kekayaan, tapi kepuasan karena karyanya bisa mengubah dunia. Karyanya bisa membentuk karakter seseorang. Tulisannya bisa mempengaruhi pikiran dan tindakan orang yang membacanya. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh profesional. Itulah jurnalis, yang karya-karyanya bisa menghebohkan.
Mudah-mudahan kita semua, tidak hanya setia pada pasangan, tetapi juga pada profesi? Saya sendiri masih belajar apakah bisa setia pada profesi? Kalau pasangan sudah pasti harga mati.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 8:19 AM 0 komentar
PNS Semakin Diminati
Oleh TY
Setelah beberapa media memberitakan akan ada rekrutmen calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun ini, khususnya di Kalimantan Barat benar-benar membawa angin segar bagi para pencari kerja.
Memang setiap tahun angkatan kerja selalu bertambah jumlahnya. Sementara lapangan kerja yang tersedia tidak memadai.
Maka kita maklum saja, ketika ada rekrutman CPNS seperti ini langsung diserbu para pencari kerja yang rata-rata baru tamat dari pendidikan mereka.
Seperti yang diungkapkan Kabid Tenaga Kerja Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Pontianak, Kusyadhi, bahwa sejak awal September ini jumlah pembuat kartu kuning meningkat tajam.
Kartu kuning digunakan sebagai salah satu syarat untuk dapat melamar sebagai CPNS di semua tingkatan.
Padahal menurut catatan kantor yang khusus mengeluarkan kartu kuning, atau kartu pencari kerja itu dari Januari-Agustus dalam satu bulannya hanya sekitar 100 orang saja yang membuat kartu kuning.
Namun bila dibandingkan dengan awal September ini dalam satu hari bisa mencapai 100-200 orang pembuat kartu kuning.
Meningkatnya jumlah pembuat kartu kuning ini karena di beberapa media sudah mengabarkan akan dibukanya lowongan kerja pada sejumlah dinas maupun instansi pemerintah.
Bahkan di media elektronik sudah mengumumkan lowongan kerja tersebut termasuk kriteria yang dibutuhkan di dinas instasni pemerintahan.
Sejauh ini, Dinsosnaker Kota Pontianak sudah melayani pembuatan kartu kuning sejak Kamis (24/9) lalu seusainya libur bersama.
Dari pukul 07.15 wib sudah memberikan pelayanan hingga pukul 15.15 wib, sedangkan pukul 12.00 wib kami istirahat siang tapi formulir tetap kami terima namun belum dibawa ke pencatatan.
Selama meningkatnya jumlah pembuat kartu kuning ini, Dinsosnaker tidak menambah petugas untuk pelayanan.
Dalam pelayanan pembuatan kartu kuning tersebut, Dinsosnaker tidak memungut biaya.
Karena blanko AK 1 tersebut sudah ditanggung dalam anggaran APBD Kota Pontianak. Sepanjang warga kota yang memiliki KTP Kota Pontianak gratis buat kartu kuning.
Sejauh ini memang belum ada keluhan para calon pelamar yang membuat kartu kuning di Dinsosnaker. Semuanya mengaku terlayani dengan baik.
Tingginya minat orang membuat kartu kuning ini menandakan pekerjaan sebagai PNS itu masih sangat menjanjikan.
Kondisi ini kembali pada masa lalu dimana pekerjaan sebagai pegawai pemerintah menjadi tujuan utama orang menempuh pendidikan.
Dengan harapan setelah tamat bisa bekerja sebagai PNS.
Nah, apakah PNS sekarang beda dengan yang dulu? Yang jelas setiap penerimaan PNS tidak lepas dari KKN. Mudah-mudahan penerima kali ini benar-benar murni dan terjaring orang-orang yang betul-betul memiliki keterampilan dan punya kapasitasan itu pekerjaan sebagai PNS.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 8:16 AM 0 komentar
Friday, September 25, 2009

Oleh TY
Kecanggihan teknologi informasi telah membawa kemajuan pesat bagi kehidupan kita. Khususnya di dunia maya.
Berapa banyak kawan lama yang kembali bertemu berkat situs jejaring rekaan Mark Zuckerberg bernama Facebook. Berapa banyak bisnis yang berkembang berkat distribusi dan jaringan melalui internet yang bertebaran di dunia maya.
Namun dibalik manfaat kecanggihan internet itu tidak sedikit pula mudharat yang bakal menimpa penggunanya. Dari hal sepele, seperti menyantumkan status ’single’ di Facebook bisa bikin berantam dengan istri, dll.
Tidak sedikit juga pengguna internet menjadi tidak produktif karena waktunya habis terbuang hanya untuk memperhatikan perkembangan Facebooknya.
Jika Facebook dan produk internet lainnya telah melalaikan dan menurunkan produktivitas kita, maka sebagai penguna kita wajib waspadainya.
Sebab sesungguhnya, kita adalah “manusia produktif”, sehingga alangkah ruginya bila waktu habis hanya gara-gara dimanjakan internet dengan sebagai fasilitasnya.
Jejaringan di internet tidak melulu Fabebook, tapi banyak lagi, seperti Friendster, Blogspot, email dan banyaknya lagi.
Tapi alangkah baiknya, bila kita bisa memanfaatkan Facebook dan produk internet lainnya itu sebagai sarana atau media yang memberikan kemudahan kepada kita untuk meningkatkan produktivitas kita.
Meningkatkan kinerja kita sesuai bidang masing-masing. Bukan malah sebaliknya, menjadi sarana yang menjerumuskan kita kepada kesia-siaan belaka, waktu yang terbuang dan berbagai kemudharatan lainnya.
Singkat kata, teknologi canggih diciptakan untuk membantu kita mengatasi berbagai kesulitan. Membantu memecahkan berbagai persoalan jarak, waktu dan ruang. Dengan teknologi macam internet, maka kita tidak lagi dipisahkan oleh jarak, ruang dan waktu itu. Jadi kita jangan menjadi manusia yang diperbudak Facebook. Tapi jadikanlah Facebook itu sebagai media yang bisa meningkatkan silaturahmi kita, meningkatkan produktivitas kita dan meningkatkan derajat kita. Semoga!
Diposting oleh Tanto Yakobus di 9:44 PM 0 komentar
Menghargai Lingkungan

Oleh TY
Sebagai kota berkembang, Pontianak tidak lepas dari masalah sampah. Perhari sampah bisa mencapai puluhan ton.
Karena jumlahnya semakin bertambah, Pemerintah Kota termasuk kita warganya, semakin dibuat pusing dengan masalah sampah ini.
Padahal barang itu sepele kalau saja kita punya mental dan budaya hidup bersih. Tapi itu kembali ke orangnya, yang dengan serampangan dan seenaknya membuang sampah dimana saja.
Bagi sebagian masyarakat sampah mungkin sebagai sumber penghasilan, tapi mayoritas kita risih dengan sampah yang menumpuk atau bahkan berserakan di mana-mana itu.
Melihat sampah yang awut-awutan itu, Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) mengimbau masyarakat untuk menaati jadwal pembuangan sampah. Himbauan itu terkait dengan misi Kota Pontianak yang bersih, sehat dan indah.
Untuk itu, kepada warga kota DKP telah memberikan jadwal pembuangan sampah pada jam-jam tertentu, yakni Pukul 06:00 hinga Pukul18:00 WIB.
Hal tersebut dilakukan agar menghindari tumpukan sampah di Tempat pembuangan Sampah (TPS) yang akan mengganggu keindahan dan kenyamanan masyarakat, semua itu juga diutamakan untuk TPS-TPS yang terletak di tepi jalan raya utama.
Penetapan jadwal itu tidak lain adalah upaya maksimal dari pemerintah untuk menciptakan suasana nyaman dan bersih bagi masyarakat.
Nah, sekarang tinggal masyarakat lagi, apakah mau peduli dengan program pemerintah atau tetap dengan kondisi bau tak sedap dan sampah berserakan dimana-mana itu?
Demi menjaga kebersihan tersebut, DKP juga sudah memberi bantuan gerobak sampah ke setiap RT (Rukun Tentangga) yang ada. Upaya tersebut diharapkan masyarakat dapat mengumpulkan sampahnya sesuai jam yang telah ditentukan tadi.
Selain itu, masyarakat diajak untuk berprilaku hidup bersih, terutama tidak membuang sampah sembarangan di jalan maupun lingkungan tempat tinggalnya.
Sebab lazim kita temukan, para pengguna jalan seperti pengendara kendaraan roda dua , roda empat maupun pejalan kaki seenaknya membuang sampah makanan ringan maupun buah-buahnya di sepanjang jalan.
Jika ingin berperilaku hidup sehat, maka mulai sekarang biasakanlah diri kita masing-masing untuk membuang sampah pada tempat dan sesuai jadwal yang sudah ditentukan DKP tersebut.
Bila itu bisa kita praktikan, maka perilaku hidup bersih dan sopan terhadap lingkungan ini secara tidak langsung akan menular kepada anak-anak kita maupun keluarga yang lainnya. Itulah bentuk penghargaan kita terhadap lingkungan sekitar. Selamat mencoba.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 9:39 PM 0 komentar
Thursday, September 17, 2009
Selamat Idul Fitri
Oleh TY
Besok malam, dengan sedikit perbedaan waktu, umat Islam di seluruh dunia akan merayakan malam takbiran untuk menyambut hari kemenangan setelah sebulan menahan diri dari lapar, dahaga dan kegiatan lain yang dilarang dilakukan selama bulan Ramadan.
Pada saat itu akan terdengar gema kalimat-kalimat Takbir yang dikumandangkan dengan penuh rasa ikhlas. Itulah ritual yang sudah mentradisi dalam menyambut Idul Fitri yang membahagiakan bagi Umat Islam.
Walau tidak merayakan Idul Fitri, saya bisa merasakan nikmatnya teman-teman di kantor saat berbuka puasa. Mereka menikmati saat berbuka walau hanya dengan sepotong kue dan segelas air dingin.
Dari wajahnya perpancar kepuasan, meraka telah melewatkan puasa pada hari itu. Bagi yang sukses menunaikan ibadah puasa, tentu akan menyambut nikmat hari Raya Idul Fitri ini dengan penuh sukacita. Sebab itulah hari kemenangan baginya.
Kemenangan dari hawa nafsu. Dan sudah pasti merupakan sesuatu yang menyenangkan untuk dirayakan. Itulah nikmatnya. Kegembiraan terpancar dari setiap orang, setiap rumah. Orang saling berkunjung dan saling berucap salam dan bermaaf-maafan.
Kemudian ada tradisi khas di masyarakat kita, mudik ke kampung halaman. Merayakan Idul Fitri di tengah keluarga punya arti tersendiri. Kita bisa saling mengunjungi sanak saudara bahkan tetangga atau teman sejawat, atasan dan bawahan.
Untuk alasan itu, orang berbondong-bondong mudik, bepergian jauh hanya sekedar menjumpai orang tua atau sanak famili. Sekedar menjumpainya dan bersilaturahmi, menyegarkan ikatan kekerabatan, menyambung dan mempererat tali persaudaraan.
Kesempatan Idul Fitri tidak akan dijumpai pada momen lain. Untuk itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Bagi yang masih punya masalah dengan sanak saudaranya, kesempatan ini sangat cocok untuk saling bermaafan. Kepada mereka yang sudah mulai renggang, kesempatan ini sangat baik untuk merapatkan kembali. Kepada yang sudah akrab dan dekat, kesempatan ini tetap lebih baik untuk memupuk tali persaudaraan.
Akhirnya, kepada teman-teman kantor, sahabat maupun relasi yang merayakan Idul Fitri, dari lubuh hati yang terdalam saya dan keluarga mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1430 H. Minal Aidin Wal Faizin. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Tuhan Beserta Kita!
Diposting oleh Tanto Yakobus di 8:11 PM 0 komentar
Menyoal Parsel

Oleh TY
Setelah Walikota Sutarmidji menghimbau pejabat di lingkungan Pemkot untuk tidak menerima parsel, hal sama dilakukan Gubernur Cornelis.
Gubernur menghimbau pejabat di lingkungan Pemprov untuk tidak menerima parsel, terlebih parsel itu diberikan terkait jabatannya.
Jelas himbauan ini akan membingungkan perusahaan penyedia parsel. Dimana mereka tentu berharap parsel yang hanya bisa dijual musiman itu, bakal laris manis menyambut hari raya Idul Fitri ini. Dan konsumen yang lebih dominan, tentu dari kalangan pejabat dan dunia usaha.
Parsel umumnya diberikan oleh masyarakat kepada rekan kerja dan teman sebagai ungkapan silaturahmi yang diikuti pemberian makanan yang dihias agar menarik dilihat.
Bagi orang yang memberikan parsel belum tentu bisa dikaitkan dengan indikasi suap, karena kalau suap tidak berbentuk parsel melainkan berupa uang. Dan harga parsel paling berkisar antara Rp100-500 ribu per paket parsel.
Karena itu, Sutarmidji mengatakan, walau dirinya menghimbau pejabatnya, tapi ia melihat parsel dari lebih dari sekedar seni untuk makanan yang marak menjelang lebaran sehingga tidak perlu dipermasalahkan.
Kalau suap kepada pejabat negara pasti jumlahnya besar, dan kecil kemungkinan parsel yang isinya hanya makanan dan minuman ringan dari berbagai jenis, kecuali parselnya berbentuk lain yang harganya puluhan hingga ratusan juta.
Disamping itu, pemberian parsel juga ada nilai positifnya, karena dengan membeli parsel secara tidak langsung bisa menggerakkan ekonomi masyarakat, karena bisnis parsel melibatkan banyak orang mulai dari pengrajin keranjang, pedagang buah-buahan, makanan ringan hingga jasa pengirim parsel itu sendiri.
Kita sangat memahami pelarangan penerimaan parsel di kalangan pejabat itu erat kaitannya dengan kemungkinan penyalahgunaan paket parsel ke arah yang merugikan pejabat itu sendiri.
Dengan himbauan ’bosnya’ tersebut, sebagai pejabat tentu berpikir dua kali untuk menerima parsel dari siapa pun, termasuk dari teman, karena sesuai undang-undang yang berlaku memang ada larangan pejabat menerima parsel.
Padahal maksud pemberian parsel itu sangat bagus sekali, selain membina hubungan juga bisa mempererat silaturahmi antara pemberi dan penerima.
Namun urusan yang sederhana ini bisa saja berbuntut panjang, karena bagi pejabat negara bila menerima parsel harus dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena parsel dikategorikan gratifikasi.
Aturan ini diatur pada Pasal 12B UU No 20 tahun 2001 yakni pemberian dalam arti luas meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya.
Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik. Namun dengan pengecualian, Undang-Undang No. 20 Tahun 2001, Pasal 12 C ayat (1) maka ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12B ayat (1) tidak berlaku bila penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada KPK.
Bagi mereka yang melanggar aturan ini maka akan terkena ancaman pidana hukuman minimal satu tahun, maksimal lima tahun dan atau denda minimal Rp50 juta, maksimum Rp250 juta. Sanksinya cukup mengerikan.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 8:04 PM 0 komentar
Saturday, September 12, 2009
Berpikir Positif

Oleh TY
Sebagai manusia lemah, kita cenderung berpikir negatif. Kita gampang menyebut hal negatif yang melekat pada seseorang. Namun disisi lain, kita sulit menyebut hal positif dari seseorang tersebut.
Kalau dibuat tabulasi, maka daftar hal-hal yang negatif itu lebih panjang daripada yang positif.
Lihat saja di sekitar kita, mulai dari keluarga, lingkungan tempat tinggal, komplek, kantor atau pun mitra kerja. Kita gampang menilai hal negatif pada mereka.
Memang sebagai manusia kita diciptakan tidaklah sempurna. Tetapi itu tidak berarti kita menyerah pada pikiran negatif. Tapi bagaimana kita harus membatasi pikiran negatif itu.
Memang kadang pikiran negatif tidak selamanya buruk. Artinya, kita bisa mewaspadai sesuatu sebelum betul-betul terjadi. Misalnya soal perselingkuhan, korupsi, dan banyak lagi yang bisa muncul di pikiran terutama menyangkut pekerjaan.
Pikiran seperti itu dalam takaran tertentu baik. Kita bisa membantu mencegah agar sesuatu itu tidak terjadi. Misalnya tadi seperti perselingkuhan, korupsi dan lain-lain.
Kecurigaan itu boleh-boleh saja sebagai upaya berjaga-jaga. Tapi harus diingat, kita mesti bisa membatasi pikiran negatif itu. Kita tidak boleh curiga tanpa bukti yang jelas. Jangan membiarkan pikiran negatif itu meracuni diri kita baik dalam keluarga, lingkungan maupun dalam pekerjaan. Bila pikiran negatif itu dikembangkan, akibatnya bisa fatal.
Kita harus bisa mengendalikan pikiran negatif itu. Kita harus membiasakan diri dengan berpikir rasional. Mankala pikiran negatif muncul, kita harus melatih diri kita untuk berpikir rasional, berpikir jernih, menimbang dan mencoba mencari bukti atau penjelasan yang logis. Terutama tentang hal yang mendorong terjadinya hal negatif tadi.
Kita mesti sadari bahwa banyak hal di dunia ini memiliki sisi positif dan negatif, ada kelebihan dan ada kekurangan. Penyadaran tentang dua sisi ini dapat membantu agar tidak berat sebelah. Tidak terlalu memuji atau mengagungkan sesuatu, dan tidak terlalu merendahkan atau meremehkan sesuatu.
Menyadari kedua sisi secara utuh dapat mempersiapkan kita memutuskan dengan bijak dan menerima risiko. Artinya, kita tidak hanya asal curiga, tapi harus mawas diri (mengevaluasi diri).
Berpikir positif berarti menggunakan cara pandang yang positif. Misalnya, belajar dari pengalaman. Hikmah apa yang bisa diambil dari pengalaman itu. Dengan berpikir positif, kita tidak lagi terpaku pada kekuatiran, kesedihan, kedukaan atau bahkan kehancuran yang kita alami. Tetapi kita dapat melihat hal-hal yang lebih berarti, yaitu pelajaran hidup yang dapat mengembangkan atau mengubah kehidupan kita.
Nah, pendek kata, siapa pun kita, kapan dan di manapun berada, ketika pikiran negatif mulai muncul, bersiaplah membatasinya dengan pikiran yang rasional, yakni pikiran positif!
Diposting oleh Tanto Yakobus di 1:15 PM 0 komentar
Jangan Bohongi Rakyat Lagi
Oleh TY
Senin (7/9) kemarin, 35 orang caleg terpilih di Kabupaten Sintang dan 45 caleg terpilih di Kabupaten Sambas yang berasal dari berbagai partai politik resmi dilantik sebagai Anggota DPRD masa bhakti 2009-2014.
Namun yang perlu dicatat, pelantikan tersebut bukanlah akhir dari perjuangan mereka sebagai wakil rakyat, tapi itu baru awal dari perjuangan mereka menyalurkan dan memperjuangkan keinginan rakyat yang telah memilih mereka pada pemilu legislatif 9 April 2009 lalu.
Disinilah kepemimpinan mereka sesungguhnya diuji. Apakah mereka mengejar kursi empuk itu karena demi harta kekayaan atau memperkaya diri? Atau hanya sekedar mengejar kekuasaan atau kedudukan?
Memang sangat manusiawi, kekayaan dan kekuasaan itu melekat pada jabatan atau posisi yang dikejar tersebut. Tapi ada yang lebih penting, yakni hak-hak rakyat kecil yang selama ini terabaikan. Dan hak itu ada di pundak mereka sebagai wakil rakyat. Hak itu senantiasa melekat pada jatidiri mereka baik secara individu maupun lembaga yang mereka wakilkan.
Namanya juga wakil rakyat, mesti memahami ensensi fungsi dan tugas yang akan diembannya tersebut. Jangan seperti pepatah kacang lupa akan kulitnya.
Ketika membutuhkan suara, apapun diserahkan dengan rakyat, namun pada gilirannya, rakyat membutuhkan mereka sebagai penyambung lidah, mereka justru tidak berpihak kepada rakyat.
Dan itu fakta yang terus menerus terulang selama ini. Wakil rakyat tidak berpihak kepada rakyatnya. Mereka lebih memihak penguasa daripada mengkoreksinya. Mereka lebih membela penguasa daripada rakyatnya yang telah menghantarkan mereka meraih kursi empuk tersebut.
Nah, momen seremonial pelantikan itu sudah seharusnya menjadi awal untuk terus menerus memperjuangkan kepentingan rakyat, kepentingan orang banyak. Bukan kepentingan pribadi, kepentingan kelompok atau kepentingan partainya.
Tapi bagaimana mereka bisa berlaku adil baik bagi diri sendiri, kelompok, partai maupun masyarakat banyak. Itu penting dilakukan demi percepatan kesejahteraan rakyat. Sebab bila tidak melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik, apa hebatnya mengemban cap sebagai wakil rakyat?!
Apalagi saat kampanye lalu, banyak sudah janji yang ditebarkan untuk memikat hati rakyat. Dan rakyat sekarang tidak bodoh lagi. Tidak seperti dulu yang hanya mendukung, tapi sekarang selain mendukung, rakyat sudah bisa mengontrol dan mengkoreksi wakil mereka sendiri.
Intinya, selama dipercaya memegang amanah rakyat, bekerjalah sesuai amanah yang dititipkan selama lima tahun itu. Jangan pernah sekali-kali menyakiti hati rakyat. Jangan pernah sekali-kali membohongi rakyat. Sebab bila itu terjadi, maka nama Anda akan dicatat dengan baik oleh rakyat. Ingat lima tahun kemudian Anda akan butuh rakyat kembali untuk mempertahankan kursi Anda.
Nah, itu artinya, investasi Anda bukan pada kekuasaan atau memperkaya diri, tapi investasi Anda ada pada rakyat. Sebab merekalah sesungguhnya menentukan masa depan politik Anda.
Mulai sekarang perlakukanlah masyarakat itu sebagai investasi. Caranya dengan berteriak dengan lantang dalam memperjuangkan pentingan rakyat banyak. Jangan jadi macan ompong di tengah padang gurun. Tapi jadilah macan yang siap mengaung setiap saat. Setiap rakyat membutuhkan pertolongan Anda. Akhirnya kami ucapkan selamat bekerja.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 1:12 PM 0 komentar
Derita Kadaluarsa
Oleh TY
Tindakan yang diambil Komnas HAM Perwakilan Kalbar menindaklanjuti pengaduan masyarakat Desa Semunying Jaya, Kabupaten Bengkayang dan Walhi Kalbar, sehingga fungsi pemantauan berdasar pasal 89 ayat (3) Undang-Undang No. 39/1999 tentang HAM atas dugaan pelanggaran HAM khususnya hak-hak masyarakat adat Desa Semunying Jaya terkait pembangunan perkebunan Kelapa Sawit oleh PT Ledo Lestari (Grup Duta Palma) bolehlah diberi aspresiasi.
Artinya, Komnas HAM masih ada kepedulian terhadap penderitaan rakyat. Setidaknya mereka masih peka terhadap informasi, data dan fakta baik yang disampaikan masyarakat maupun pihak lain.
Buktinya, mereka turun langsung ke lapangan bersama Bupati Bengkayang melihat langsung fakta lapangan serta kehidupan masyarakat yang jauh dari layak.
Secara ekonomi, sosial dan budaya mereka sangat tertindas. Adalah sangat manusiawi bila Komnas HAM bersikap keras terhadap kasus tersebut.
Bahkan ada yang mencengangkan dari penelisikan lapangan tersebut, yakni menyangkut ijin lokasi PT. Ledo Lestari yang berlaku tiga tahun telah habis tanggal 20 Desember 2007 dan belum ada pengajuan perpanjangan ijin lokasi atas nama PT. Ledo Lestari. Itu artinya, ijin PT Ledo Lestari sudah kadaluarsa.
Berangkat dari kasus ijin yang kadaluarsa itulah yang menjadi awal penderitaan masyarakat. Saat pembukaan lahan dan penanaman sawit terus berlangsung, namun masyarakat sekitar makin tertekan. Akibatnya, masyarakat hilang kesabaranya dan terjadilah penyitaan alat bersar berupa dua buldoser dan enam unit gergaji mesin (chain saw).
Penahanan alat berat tersebut sangat jelas penyebabnya, masyarakat merasa kebutuhan mereka tidak diperhatikan, bahkan cenderung tertindas di tanah sendiri. Sebagai masyarakat adat, indentitas budaya mereka juga tergerus begitu saja, sehingga muncullah perubatan melawan hukum itu.
Permintaan masyarakat sebetulnya sangat sederhana sekali, mulai dari ganti rugi tanam tumbuh dan areal persawahan dan sumber air, fasilitas pendidikan, kesehatan hingga penerangan.
Nah, hal-hal demikian disepelekan pihak perusahaan. Seharusnya itu tidak perlu terjadi, harusnya kehadiran perusahaan memberi kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat sekitar, bukan malah sebaliknya menyengsarakan masyarakat. Seakan lagu lama diputar kembali, ijin perkebunan hanya sebagai kedok mencuri kayu di sekitar areal dan dijual ke cukong, terlebih itu daerah perbatasan, bisa saja kayu-kayu hasil pembersihan lahan itu dijual ke Jiran, Malaysia.
Nah, akibatnya masyarakat menjadi korban, sudahlah perusahaan ijinnya kadalursa, masyarakatnya semakin sengsara. Hahaha, itulah derita kadaluarsa.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 1:07 PM 0 komentar


