BERPEGANGLAH PADA DIDIKAN, JANGANLAH MELEPASKANNYA, PELIHARALAH DIA, KARENA DIALAH HIDUPMU...Amsal 4:13

Saturday, September 12, 2009

Tiga Hal dalam Hidup

Oleh TY

Beberapa hari lalu saya berselancar di rumah paman Google. Di situ saya temukan sebuah artikel menarik dalam bentuk pdf. Ada tiga hal penting di dalam hidup kita yang perlu perhatikan. Nah, berikut artikelnya, semoga bermanfaat.

Tiga hal (three things) di dalam hidup yang, jika hilang, tidak akan pernah kembali: waktu, kata-kata dan kesempatan.
Seberapa banyak waktu terbuang yang kita sesali sekarang. Seorang bapak berkata bahwa dia menyesal ketika tidak bisa bermainmain dengan anak-anaknya ketika mereka masih kecil. Kini mereka tidak lagi dekat dengannya. Kata-kata seperti anak panah yang, sekali melesat, tidak mungkin kita tarik kembali dan jika menembus hati seseorang, bisa saja kita cabut, tetapi terlanjur membuat hati orang berdarah.
Kesempatan juga jarang datang untuk kedua kalinya. Oleh sebab itu, kita harus menangkapnya saat dia menghampiri kita.
Tiga hal di dalam hidup yang akan menghancurkan seseorang: amarah, kesombongan dan tidak bisa mengampuni. Orang marah tidak bisa berpikir dalam bertindak, setelah semuanya hancur lebur baru datang penyesalan. Dan itu tidak bisa kembali seperti semula. Demikian juga orang yang sombong, baru berhenti menyombongkan dirinya saat kepalanya pecah karena terlalu besar atau karena membentur atap di atas kepalanya. Orang yang tidak bisa mengampuni mengalami kerugian besar karena tidak akan diampuni oleh Tuhan.
Tiga hal di dalam hidup yang jangan pernah hilang di dalam hidup kita: harapan, kedamaian dan kejujuran. Para tahanan Nazi yang tidak punya harapan cepat mati. Sebaliknya, mereka yang punya harapan hidup tetap survive meskipun mengalami siksaan yang berat. Di samping itu, kita jangan sampai pernah kehilangan rasa damai, walaupun sikon tidak memungkinkan untuk itu. Sedangkan kejujuran yang hilang di dalam kehidupan kita membuat kita tidak bisa merasakan sukacita yang sejati.
Tiga hal di dalam hidup yang paling penting: kasih, keluarga & sahabat, dan kebaikan. Firman Tuhan katakan: ”Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Korintus 13:13).
”Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” (Amsal 17:17). ”Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” (Filipi 4:5).
Tiga hal di dalam hidup yang tidak pernah pasti: keuntungan, keberhasilan, dan mimpi. Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang membuat rencana untuk pergi ke kota anu untuk mendapatkan untung bisa saja mati sebelum keinginannya berhasil. Demikian juga kesuksesan belum tentu menghampiri kita, kadang kita kerja pun malah lari. Apalagi mimpi.
Seorang ibu suatu kali berkata kepada suaminya bahwa semalam dia bermimpin mendapat kalung berlian dari suaminya. Ternyata oleh suaminya dia dibelikan buku tafsir mimpi.
Tiga hal yang membuat seorang menjadi manusia seutuhnya: komitmen, ketulusan, dan kerja keras. Lewat komitmen yang tanpa kompromi, ketulusan hati yang takut akan Tuhan dan kerja keras yang tidak jemu-jemunyalah yang membuat kita sukses.
Tiga hal yang selalu konstan: Bapa-Putra-Roh Kudus. Amin!

Baca Selengkapnya..

Operasi Pasar


Oleh TY

Sejak memasuki bulan Ramadan ini, barang kebutuhan pokok satu persatu merangkak naik. Kenaikan harga itu dipicu permintaan yang tinggi di tingkat konsumen.
Barang yang mengalami kenaikan itu mulai dari beras, gula, kopi, minyak goreng, tepung terigu, telur dan banyak lagi kebutuhan pokok lainnya, termasuk daging dan sayur- mayur.
Bila tidak ada upaya pengendalian harga kebutuhan pokok tersebut, dikhawatirkan masyarakat menjerit menghadapi hari raya Idul Fitri mendatang. Kondisi itu diperburuk lagi dengan masih rendahnya daya beli masyarakat akibat sisa-sisa krisis lalu.

Salah satu upaya mengerem laju kenaikan harga kebutuhan pokok tersebut, perlu dipikirkan untuk melakukan operasi pasar.
Operasi pasar mesti dilakukan untuk menahan laju kenaikan harga menjelang Idul Fitri mendatang. Sekarang saja masyarakat sudah mengeluhkan tingginya harga sejumlah kebutuhan pokok. Apalagi menjelang hari H lebaran nanti, bila tidak ada upaya pengendalian harga, maka harga di pasaran semakin melambung dan masyarakat bakal menjerit karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hari-hari maupun hari rayanya.
Dan kondisi itu bisa mengancam stabilitas pasar yang selama ini sudah cukup baik. Namun sayang para pelaku pasar tidak berpihak kepada konsumen. Mereka seenaknya menaikan harga barang dengan berbagai alasan, mulai dari tingginya biaya angkutan atau transportasi, hingga pada mahalnya biaya produksi sehingga mereka terpaksa menjual harga jauh diatas kemampuan daya beli masyarakat.
Untuk menghadapi puasa ini saja, ibu-ibu rumah tangga sudah mengeluhkan tingginya harga kebutuhan pokok di pasaran, apalagi menjelang Idul Fitri nanti, permintaan semakin tinggi, dan pedagang dengan semaunya menaikan harga barang. Itu jelas tidak menguntungkan masyarakat konsumen. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihak pemerintah, dalam hal ini instansi atau dinas terkait mesti peka dengan kondisi masyarakat saat ini.
Walau kita termasuk satu dari tiga negara yang dapat bertahan dari dampak krisis keuangan global, bukan berarti daya beli masyarakat kita meningkat. Justru sekarang pemerintah kita perlu memikirkan bagaimana mempertahankan harga agar terjangkau masyarakat.
Dan operasi pasar itu adalah salahsatu upaya menekan lajunya kenaikan harga barang kebutuhan hari-hari masyarakat di pasaran. Operasi pasar itu bisa dilakukan menyeluruh terhadap semua kebutuhan pokok masyarakat. Terlebih kebutuhan menyambut hari-hari besar keagamaan.
Perlu ada koordinasi pemerintah dan para pelaku usaha bagaimana menstabilkan harga barang di pasar tersebut. Kalau perlu pemerintah melakukan sidak terhadap sejumlah pasar baik tradisional maupun modern. Bila ditemukan pelaku usaha yang sengaja menjual barang terlampau jauh, maka si pedagang tersebut langsung saja ditegur bahkan kalau perlu dikenakan sanksi.
Bila itu dilakukan, maka itulah hakekat pemerintah yang berpihak kepada rakyatnya. Pemerintah yang melindungi rakyatnya. Sebab sesungguhnya pemerintah jugalah yang berwenang melakukan intervensi baik terhadap pelaku pasar maupun produsennya, demi untuk menstabilkan harga jual di pasaran. Dengan demikian, maka barang-barang kebutuhan pokok itu tetap terjangkau oleh kocek masyarakatnya.
Kita berharap satu dua minggu kedepan, dilakukan operasi pasar, setidaknya bisa menstabilkan harga menjelang Idul Fitri ini. Sebab biasanya setiap jenis barang bisa naik namun tidak bisa turun. Dan itu mesti diperhatikan aparat terkait, terutama dinas yang berurusan dengan perdaganan dan pangan masyarakat.

Baca Selengkapnya..

Mawas Diri


Oleh TY

Coba amati berbagai peristiwa yang terjadi sekarang ini di sekitar kita. Mulai wabah virus flu burung, flu babi, demam berdarah, gizi buruk, kecelakaan hingga bencana alam yang meluluh lantakkan Jawa Barat dan sekitarnya, Rabu kemarin.
Kita miris dan takut dengan rentetan peristiwa alam itu. Memang semuanya sudah rencana Tuhan yang murka dengan umatnya. Tapi, peristiwa itu kadang juga membuat kita bersikap acuh saja. Kita tidak peduli, karena jauh dari tempat tinggal kita.

Sebaiknya buang jauh-jauh sikap acuh tak acuh itu. Saya khawatir bila sikap itu dikembangkan, kita menjadi bangsa yang tidak saling kenal. Tolong-menolong tinggal cerita. Lalu bagaimana pada suatu saat kita dihadapkan pada satu keadaan yang menakutkan, entah itu bencana alam hebat, atau pergolakan masyarakat. Bagaimana kita dapat selamat, karena tidak ada yang mempedulikan kita?
Saling tolong dan hidup tentram sudah menjadi dambaan kita. Dan itulah yang kita harapkan, tentu campur tangan Tuhan sangat besar dalam mewujudkan hidup seperti itu, asal kita mau mensyukirinya.
Mensyukurinya cukup dengan memperhatikan sesama. Janganlah seperti orang bebal, tapi berbuatlah arif dan bijaksana dalam hidup. Artinya, dalam kita harus bisa menjaukan diri dari hal-hal jahat.
Sebab begitu banyaknya ajaran-ajaran yang menyesatkan sampai orang rela mengobankan nyawanya demi membunuh orang lain dengan bom bunuh diriu misalnya. Dan itu jelas tidak masuk akal sehat kita. Dan wajar kadang Tuhan kejam, dengan mengirim bencana seperti gempa dan sebagainya itu.
Karenanya, kita harus mawas diri. Kita harus menjaga hati, jangan kotorkan dengan kebiasaan pesta pora dan mabuk-mabukan. Itu hanya kepentingan duniawi semata. Maka berjaga-jagalah sambil berdoa supaya kita luput dari berbagai godaan hidup itu.
Mawas diri juga kita bisa menghindari godaan yang maha dahsyat, yakni harta, tahta dan wanita. Semoga!

Baca Selengkapnya..

Friday, August 21, 2009

Puasa dan Toleransi


Oleh TY

Sabtu (22/8) besok, umat Islam memasuki hari pertama puasa Ramadan. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, mereka menyambut bulan suci itu dengan beragam cara; yang paling sederhana mengirim sms (pesan singkat) permintaan maaf ke sejumlah koleganya. Dan bagi pemerintah maupun organisasi keagamaan membentang spanduk dan poster yang berisi ucapan selamat atas datangnya bulan yang sarat berkah itu di tempat-tempat strategis.

Saat Ramadan ini, adalah kesempatan mengemban kewajiban menunaikan ibadah puasa. Ibadah ini sendiri melahirkan ragam tradisi di hampir semua komunitas masyarakat, diantaranya tradisi berbuka bersama, salat tarawih disambung tadarus, hingga tradisi sahur bareng-bareng. Kaum mudanya punya tradisi ngabuburit; kongkow sore-sore menungggu buka.
Demikian juga dengan kaum perempuan yang tak lazim menggunakan jilbab, mereka mengisi Ramadan dengan busana yang membalut seluruh tubuh. Sedangkan prianya memakai baju koko sehingga tampak lebih islami dan religius dari hari-hari biasanya.
Puasa Ramadan memang wajib bagi kaum muslim, namun tradisi yang mengikutinya, turut pula dilakukan oleh orang atau komunitas tertentu di lingkunganya yang non muslim, terutama untuk berbuka puasa bersama. Mulai dari lingkungan tempat tinggal, kantor hingga komunitas yang lebih luas lagi.
Begitu pun dengan kami di Harian Borneo Tribune, Ramadan bukan hal aneh bagi kami. Kami menjadikan Ramadan itu sebagai tradisi untuk membuktikan kebersamaan dalam keberagaman seperti yang tertulis di moto koran yang kami gawangi ini; Idealisme, Keberagaman dan Kebersamaan.
Kami selalu melakukannya bersama-sama, ya mungkin juga ada yang ikut-ikutan puasa. Tapi bagi kami itulah semangat toleransi yang ingin kami tunjukan baik di lingkungan kantor maupun masyarakat sekitar termasuk pembaca sekalian. Karena apa yang kami lakukan itu justru menjadi kebiasaan untuk saling menghormati dan mengembangkan sikap toleran antar sesama.
Dan sesunggunya puasa itu tidak hanya di kenal di kalangan Islam saja, tapi umat lainnya juga mengenal puasa, seperti Kristen (Katolik), Budha dan Hindu juga mengenal puasa. Artinya, ibadah puasa tak murni dari Islam, dan itu diakui dalam Al-Quaran. Sebab, sejak Nabi Nuh, Nabi Musa, hingga Yesus Kristus (Nabi Isa) sudah mempraktekkan ibadah puasa di zamannya, walau waktu dan tata caranya mungkin berbeda dengan yang dilaksanakan umat Islam sekarang ini.
Dalam Alkitab, terutama Perjanjian Baru disebutkan, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik..” (Matius, 6:16).
Itu artinya, dalam menjalankan ibadah pausa, jangan karena keterpaksaan, atau tekanan dari pihak lain, tapi betul murni dari hati dan keyakinan. Dan bagi umat Islam yang sukses menjalankan ibadah puasa adalah mereka yang kian toleran dan respek terhadap umat agama lain. Orang yang berpuasa tak akan terbakar amarahnya dan menghancurkan pihak lain. Hemat kita, Ramadan adalah titik terpenting bagi upaya peningkatan toleransi dan kerukunan antar-umat beragama.
Akhirnya, kita ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan kepada umat Islam yang menjalannya, mohon maaf lahir dan batin.

Baca Selengkapnya..

Introspeksi Diri


Oleh TY

Senin (17/8) kemarin, genap 64 tahun usia negeri tercinta yang bernama Republik Indonesia. Semua anak bangsa menyambutnya dengan hangat. Mulai dari acara seremonial, seperti upacara bendera, hingga berbagai permainan rakyat digelar. Itu semua sebagai ungkapan syukur perayaan hari ulang tahun kemerdekaan RI.
Acara biasanya berbentuk berbagai macam perlombaan yang diikuti oleh semua jenjang usia mulai anak-anak sampai orang tua. Di mana-mana ada permainan rakyat, mulai dari kampung, kompleks hingga gang-gang, tampah meriah. Semua merasakan suasana gegap gempita.

Lepas dari semua gegap gempita itu, lalu apakah makna sesungguhnya tanggal 17 Agustus ini bagi kita?
Dia tidak hanya sekedar upacara bendera, tanggal merah yang berarti libur nasional. Tapi tanggal 17 Agustus kita diajak kembali mengenang moment-moment bersejarah yang perlah dilakukan para pendahulu bangsa ini.
Mereka dengan kucuran keringat dan tetesan darah membebaskan bangsa dari belenggu penjajah. Dan pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI, sehingga sekarang usianya sudah 64 tahun.
64 tahun perjalanan bangsa ini, apakah kita semua hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial dan formalitas sesaat saja? Pernahkah kita berpikir tentang perjuangan para pahlawan perang kemerdekaan di masa lalu? Sehingga seharusnya makna 17 Agustus itu bisa lebih mendalam?
Kemerdekaan Indonesia adalah buah pengorbanan para pahlawan. Para pahlawan yang berjuang tanpa meminta balas jasa. Mereka mengorbankan apa saja bahkan nyawa mereka sendiri karena melihat penderitaan bangsa ini akibat kekejaman penjajah, terutama Belanda dan Jepang saat itu.
Perjuangan para pahlawan yang rela berkorban demi lepasnya bangsa Indonesia dari penderitaan penjajah seharusnya bisa kita teladani dan ditindaklanjuti. Saat ini memang bukan masa perang kemerdekaan, tapi perang terhadap kemiskinan dan kebodohan juga harus diperjuangkan. Kalau bukan kita yang memperjuangkan perang tersebut lalu siapa lagi? Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah yang penuh keterbatasan, tapi mari kita mulai dari diri sendiri.
HUT RI ke 64 ini, saatnya kita introspeksi diri terhadap semua hal yang telah dilakukan. Bagi pemerintah, apakah saat ini rakyat sudah merasakan keadilan dan kesejahteraan atau malah sebaliknya semakin sengsara? Bagi rakyat, apa yang telah dikorbankan bagi negeri ini, atau jangan-jangan negeri ini yang telah dikorbankan untuk kepentingan pribadi?
Introspeksi diri penting, karena kita tidak pernah mau berubah ke arah yang lebih baik. Lalu, apalagi makna 17 Agustus bagi Anda?

Baca Selengkapnya..

Kaya, Sukses dan Mimpi


Oleh TY

Dalam hidup ini, ada tiga hal yang tidak pernah pasti. Ketiga hal tersebut adalah kekayaan, kesuksesan dan mimpi.
Kekayaan. Setiap orang pasti mendambakan kekayaan. Tak sedikit orang yang menjadikan tujuan hidupnya untuk mengejar kekayaan harta dunia itu.
Untuk mengejar kekayaan tersebut, banyak cara yang mereka dilakukan. Mulai dari jalan yang benar hingga jalan yang tidak benar. Mulai dari cara-cara logika hingga yang tidak masuk akal sama sekali.

Orang mau berbuat apa saja untuk mencapai kekayaan itu. Kekayaan sudah menjadi dewa. Orang tak sadar telah diperbudak kekayaan itu sendiri.
Ada yang berusaha dari kecil-kecilan, ada yang meminjam uang dari bank dengan mengadaikan sesuatau. Namun tak sedikit pula yang mencari kekayaan itu dengan jalan pintas. Mulai dari ilmu pesugihan untuk menebak nomor buntut hingga perjudian.
Ada juga yang mencari kekayaan dengan cara merampok.
Tapi berapa pun kekayaan yang kita kumpulkan, suatu saat bila tidak pandai mengendalikannya, dia pasti akan hilang juga. Jadi kekayaan itu semu adanya.
Kalau sesesorang sudah menjadi kaya, maka dia akan terobsesi menjadi orang sukses lagi. Sukses juga tidak pernah pasti dalam hidup kita.
Kapan seseorang itu dikatakan sukses? Tidak ada ukuran yang pasti. Dia selalu saja merasa kekurangan. Ada saja yang kurang dalam hidupnya. Sebab itu sudah menjadi sifat lahiriah manusia. Dalam hidupnya, ia tidak akan pernah merasa puas.
Kedua hal tersebut bersumber dari mimpi. Walau kadang mimpi itu menjadi kenyataan. Tapi sekali lagi, kekayaan, kesuksesan dan mimpi itu tidak pernah pasti dalam hidup kita ini. Sebab setiap orang senantiasa bebas memimpikan kekayaan dan kesuksesan dalam hidupnya.
Kadang orang memimpikan suatu saat memiliki sebuah villa di tempat yang indah, sehingga ada tempat libur bagi keluarganya. Ada juga orang yang memimpikan hidup enak dan tak perlu capek-capek membanting tulang mencari uang. Bila ingin sesuati tinggal minta atau cukup tekan tombol, maka sesuatu yang diinginkan itu segera datang.
Tanpa kita sadari, tiga hal itu kadang membuat kita malas, karena kita terlalu terobsesi dengan kekayaan, kesuksesan dan mimpi itu sendiri. Kadang kita tak sadar, kita telah diperbudak mimpi yang indah-indah itu, namun jauh dari kenyataan hidup. Memang kadang mimpi meraih kekayaan dan kesuksesan itu bisa menjadi motivasi, tapi jarang orang yang menyadarinya.
Nah, dari ketiga hal tersebut, ada kekayaan yang kekal, yakni kekayaan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan. Dengan pengetahuan dan keahlian yang dimiliki, perlahan tapi pasti kita bisa meraih segala mimpi itu.
Tapi takarannya jelas, kita mesti sadar bahwa kekayaan, kesuksesan dan mimpi itu tidak pernah pasti dalam hidup kita.

Baca Selengkapnya..

Bom Air

Oleh TY

Pepatah yang mengatakan; kemarau setahun tidak berbekas dengan hujan sehari, ternyata tidak berlaku dengan hujan yang menyirami sebagian Kota Pontianak, Senin (10/8) sore kemarin.
Padahal hujan cukup deras membasahi sebagian besar wilayah kota. Dan itu ternyata tidak ada apa-apanya, bila dibandingkan dengan serbuan asap yang kian pekat menjelang malam hari kemarin.
Bahkan hingga tadi malam, kepekatan asap tetap tidak berubah. Kondisinya sama seperti hari-hari sebelumnya.

Ketebalan asap dan tidak sehatnya udara Kota Pontianak sampai-sampai Dinas Pendidikan Kota Pontianak akhir pekan kemarin sempat meliburkan anak sekolah.
Sementara tindakan meliburkan anak sekolah itu sangat baik demi alasan kesehatan. Apalagi di pagi hari, jarak pandang semakin dekat, bahkan hanya mencapai 50 hingga 100 meter saja.
Belum lagi asap tebal itu bercampur partikel-partikel dan zat-zat berbahaya lainya yang setiap saat bisa terhisap lewat pernapasan kita.
Maka tak heran, berbagai penyakit pun mengerogoti masyarakat. Lihat saja rumah-rumah sakit baik dr Soedarso maupun Antonius, semua ruangan hingga lorong penuh sesak dengan pasien.
Mulai dari pasien demam berdarah, diare hingga penyakit yang cukup menakutnya, yakni flu babi (H1N1) yang kini mulai dirawat di rumah sakit Soedarso.
Nah, penularan penyakit sangat rentan terjadi dengan masyarakat, karena sebagian besar diakibatkan daya tahan tubuh yang lemah. Lemah karena pernapasan tidak sehat. Akhirnya, badan lelah dan lemas sehingga kondisi ini rentan dengan penyakit menular. Terutama yang bisa dibawa terbang oleh asap berbahaya tersebut.
Sebetulnya, hujan yang turun sekitar 10 hingga 15 menit kemarin cukup menyejukkan dan membersihkan udara yang sudah kotor ini, tapi asap tetap saja pekat.
Walau demikian, kita tetap mohon kepada Tuhan, supaya Pontianak bisa diguyur hujan dengan intensitas tinggi demi mengurangi kabut asap yang semakin pekat akibat pembakaran hutan dan lahan di Kalbar ini.
Bahkan belakangan ini, intensitas pembakaran lahan semakin tinggi. Akibatnya, asap juga semakin tebal. Kondisi ini membuat Gubernur Kalbar, Cornelis, menyatakan kabut asap yang semakin pekat tersebut sudah masuk kategori bencana daerah.
Sebagai kepala daerah, Ia baru saja menandatangani permohonan bantuan bom air dan hujan buatan ke Departemen Kehutanan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta.
Tentu upaya tersebut kita tunggu, sebab bila melihat bencana asap kali ini sangat luar biasa. Di Kota Pontianak dan sekitarnya asap mulai menyelimuti sejak sore hari hingga pagi pukul 08.00 WIB, dengan jarak pandang kurang dari 50-100 meter saja. Apakah bom air itu jawabannya? Entahlah!

Baca Selengkapnya..

Monday, August 10, 2009

Temu Kangen Alumni Seminari St Gabriel Sekadau

Foto sarapan pagi bersama para pastor dan bruder di Biara Induk Pasionis Sekadau, sebelum acara reuni di seminari menengah st Gabriel Sekadau.

Oleh TY

Sabtu (1/8) malam pekan lalu, aku dapat telepon dari kompratriotku di Asrama Seminari Menengah Diosesan Santo Gabriel Sekadau dulu. Dari seberang dia menanyakan posisiku dimana? “Di kantor, datanglah,” jawabku.
Seperempat jam kemudian, muncul Elias Ngiuk di kantorku. Aku pun basa basi dan mempersilakannya duduk. Kami lalu ngobrol seputar pekerjaan masing-masing. Kebetulan sama-sama kerja di media; aku di harian Borneo Tribune, dan Ngiuk pemimpin redaksi Majalah Kalimantan Review (KR).

Lama berbincang, Ngiuk mengeluarkan undangan dari tasnya, seraya menjelaskan maksud kedatangannya. “Ini ada reuni asrama seminari Sekadau untuk semua angkatan, kita berdua diundang sebagai narasumber,” kata Ngiuk sambil menyodorkan undangan berikut jadwal kegaitan kepadaku.
Aku pun menerima undangan itu sambil mengatakan, “aku hadir Yuk”.
Ngiuk pun mengatakan tidak akan melewatkan acara yang sudah dinanti-nantinya itu.
Apalagi ini reuni untuk semua angkatan. Ya dapat dibayangkan bagaimana suasana temu kangen para alumni, dari angkatan pertama Tahun 1979 hingga angkatan 2008. Ya, mungkin banyak hikmah yang bisa dipetik dari reuni tersebut, terutama motivasi bagi adik-adik yang tengah menuntut ilmu di asrama tempat mendidik calon biarawan itu.
Bagi aku sendiri, walau tidak menjawab panggilan dengan menjadi imam, tapi aku merasakan manfaat yang luar biasa tinggal di asrama tersebut. Disiplin, kepribadian dan kemandirian telah menuntun langkahku dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi.
Aku tidak bisa melupakan peran Rektor Seminari, Pastor Nicodemus—ketika itu, dengan caranya sendiri membimbing dan mendidik kami. Demikian juga dengan teman-teman sudah seperti keluarga sendiri dan sangat harmonis. Padahal kami semua berasal dari berbagai daerah, suku, bahasa dan latar belakang yang berbeda. Tapi kami bisa hidup rukun sebagai saudara. Tidak ada rebutan nasi, tidak ada pertengkaran, walau kadang-kadang makan hanya sayur kankung, tapi kami sangat menikmatinya.
Demikian juga dengan para alumni (terutama para pastor), kami selalu merindukan mereka ketika berkunjung ke Seminari. Terlebih alumni yang bertugas di Malang dan Jakarta—yang merupakan komunitas Pasionis di Indonesia. Kami ingin mendapat info lebih tentang Malang—yang mejadi pusat pendidikan Seminari Tinggi.
Untuk reuni pertama yang berlansung tiga hari ini, aku berharap semua yang hadir bisa mengenang saat-saat sulit menjawab panggilannya masing-masing. Ada masa-masa indah, namun tidak sedikit pula masa yang betul-betul butuh perjuangan untuk melewatinya. Bahkan saking sulitnya, banyak yang terlempar keluar. Karena itu menyangkut rahasia ilahi—yakni panggilan khusus kepada pribadi-pribadi yang bertahun-tahun mempersiapkan diri baik dengan belajar tekun maupun berdoa yang waktunya sama dengan saudara kita Muslim, lima waktu, cuma jamnya yang beda.
Yang membahagiakan, ketika kenaikan kelas. Dari kelas 1 hingga kelas 3 (semua jurusan), rangking 10 besar diborong anak-anak Seminari. Anak Seminari juga punya andil besar memperkenalkan SMA Karya Sekadau kepada kalangan luar dengan berbagai prestasi, baik di bidang akademik, seni maupun olahraga.
Nah, diusianya yang ke-30 tahun ini, apakah asrama Seminari masih sanggup menorehkan tinta emas seperti yang pernah dilakukan para alumninya baik terhadap Seminari Menengah Diosesan Santo Gabriel maupun bagi SMA Karya Sekadau? Itu semua hanya bisa dijawab dengan prestasi para penghuni sekarang maupun yang akan datang. Selamat berkangenria di reuni asrama Seminari.

Baca Selengkapnya..

Monday, July 20, 2009

Rutinitas Kabut Asap


oleh TY

Hari-hari terakhir di Kota Pontianak, kondisi udaranya semakin buruk. Terlebih pada malam hari, udara Kota Pontianak pekat dengan kabut asap.
Kabut asap yang kian menebal itu diduga berasal dari kegiatan pembukaan lahan dengan cara membakar. Disamping pengaruh tanah gambut yang memang rentan terbakar di saat kemarau panjang seperti sekarang ini.

Buruknya udara Kota Pontianak membuat pihak terkait, utamanya Dinas Kesehatan Kota Pontianak menghimbau warganya untuk tidak keluar di malam hari.
Bila udara tidak sehat seperti sekarang, dan masyarakat masih saja keluar di malam hari, resikonya jelas, terkena penyakit pernafasan.
Umumnya, bila kemarau tiba, rumah sakit atau puskesmas banyak merawat pasien yang mengalami penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), disamping penyakit menular lainnya, seperti diara dan muntaber.
Akibat lain dari kabut asap yang seakan sudah menjadi rutinitas ini, selain udara berkabut asap juga muncul abu sisa pembakaran yang terbang terbawa angin. Sisa abu yang terbang tersebut melekat dimana-mana, termasuk di sejulah rumah warga.
Untuk menghindari berbagai penyakit, sebaiknya bila kita berpergian ke luar rumah, jangan ragu untuk menggunakan masker. Tapi sayang, hanya sebagian kecil masyarakat yang mau menggunakan masker. Padahal itu baik untuk pencegahan diri terhadap berbagai kemungkinan penyakit menular tersebut.
Sebetulnya, kabut asap tersebut masih bisa diatasi. Itu pun tergantung kemauan kita bersama apakah kita mulai dari individu punya kesadaran untuk tidak melakukan pembakaran terhadap apa pun di saat memasuki musim kemarau seperti ini.
Sebab sudah bisa diukut, kemarau saja merupakan siklus alam yang juga rutin terjadi setiap tahunnya. Demikian pula dengan kabut asap ini, jelas bila ada kemauan dan kesadaran bersama, niscaya kabut itu tidak akan terjadi.
Berdasarkan catatan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Kalbar, setakat ini ada sekitar 134 titik panas terpantau melalui satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
Titik panas itu tersebar di 12 kabupaten/kota di daerah ini. Celakanya lagi, satelit juga mencatat sebagian besar titik panas itu berada di kawasan perkebunan.
Nah, bila melihat peta kejadian itu, sebetulnya kabut asap tidak perlu terjadi bila semua pihak memahami ada kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan bersama terutama menyangkut kepentingan Negara.
Bila siklus rutinitas ini tidak dipahami, sampai kapan pun tetap terjadi kabut asap. Setelah terjadi, kita sendiri ribut, kita sendiri saling menyalahkan. Padahal pangkal permasalahannya ada pada kita masing-masing.
Banyak hal buruk bila kabut asap terus-menerus terjadi sepanjang tahun. Dampak terburuk, selain mewabahnya penyakit menular juga berdampak pada perekonomian. Kapal baik laut maupun udara tidak bisa melakukan aktivitasnya, karena menyangkut jarak pandang.
Tahun-tahun sebelumnya, beberapa penerbangan sempat menghentikan sementara aktivitasnya. Dan kita berharap kini hal tersebut tidak terjadi lagi. Karena kita tahu kabut asap sebagai rutinitas tahunan, maka kita juga tahu bagaimana mengatasinya. Dan cara yang paling ampuh, menyadarkan diri sendiri untuk tidak membakar!

Baca Selengkapnya..

Bangsa Korban Psikis

foto Republikanonline/repro
Oleh TY

Ini bukan Mama Lorens, bukan juga Ki Joko Bodo atau Mbah Marijan yang bisa meramalkan nasib seseorang atau kejadian alam di masa kedepan.
Ini hanyalah kegelisahan saya dengan tayangan infotaiment yang kerap menyajikan perceraian para public figure, utamanya para artis. (Itu belum masyarakat awam yang kejadiannya mungkin lebih parah lagi).
Mereka memang sukses di dunianya masing-masing, tapi mereka gagal dalam membina rumah tangga. Artinya mereka sudah menyangkal janji perkawinan mereka yang suci itu.

Padahal saat ijab Kabul (mengucapkan sumpah dan janjinya), mereka sanggup sehidup semati sampai maut menjemput yang memisahkan. Dan cita-cita yang diikrar itu sangat mulia, yakni membentuk keluarga sekinah.
Tapi sekali lagi. Dalam infotainment, seringkali kita saksikan, hanya dalam hitungan tahun, bulan, hari bahkan jam—perceraian bisa saja terjadi.
Bagi kita orang awam kejadian itu memang aneh tapi nyata. Tapi bagi pelaku terutama di infotainment yang ditayangkan setiap oleh stasiun televise, agaknya sudah biasa.
Nah, public figure yang kebetulan dari kalangan artis itu, kini banyak banting stir ke dunia politik. Dan hasil pileg beberapa bulan lalu, memang banyak dari kalangan artis ini berhasil masuk parlemen. Tentu dari sekian banyak itu memang tidak semuanya kawin cerai, tapi ada sebagian yang melakukannya.
Nah, yang menjadi kekhawatiran kita untuk 20 tahun kedepan, anak-anak buah perceraian itu pastilah mengikuti jejak orangtuanya mengeluti dunia hiburan. Beking orangtua mereka pastilah jadi artis.
Setelah mapan dan puas jadi artis, mereka juga akan banting stir ke politik. Dan yakin jumlah mereka juah lebih besar dari para pendahulunya.
Mari kita merenung sekejab. Bagaimana wajah negeri ini bila mereka yang menjadi pemimpinnya?
Saya sendiri sangat mengkhawatirkannya. Ingat sebuah teori yang mengatakan; anak dilahirkan dengan keadaan seperti kertas putih. Warna dominant yang dibubuh diatasnyalah yang kelak akan membentuk sifat dan wataknya. Dan warna itu adalah lingkungan hidupnya. Dan lingkungan terdekatnya adalah keluarganya.
Nah, anak-anak korban perceraian ini jelas mengalami kekerasan psikis. Mereka linglung akibat perpisahan orangtua mereka. Bila kelak menjadi pemimpin, saya tidak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi. Sebab mereka sudah menjadi korban kekerasan psikis oleh kedua orangtua mereka sendiri.
Jelas korban psikis jauh lebih berat dari penyiksaan fisik secara langsung. Mereka mengalami penyiksaan batin selama hidup mereka. Hidup diantara ketidakpastian, keditak-bahagiaan, ketidak-hagatan, marah, dan egois!
Egois mereka dapatkan secara alami dari tingkah polah orangtuanya yang pisah ranjang hingga pisah rumah alias perceraian itu. Berangkat dari rentetan kejadian ini, jelas membentuk watak mereka di pucak kariernya. Beban psikis itu tergambar dari ucapannya, perbuatannya dan gaya hidupnya di masyarakat. Kalau tidak minder, kejam.
Jangan-jangan dari perceraian keluarga lalu merembet ke perceraian bangsa ini yang memang terdiri dari berbagai pulau, suku, agama dan dan kelompok, yang selama ini disatukan dalam perkawinan yang bertajuk “Sumpah Palapa” oleh Gajahmada di era Majapahit--menjadi cikal bakal Nusantara. Akta kelahiranya Proklamasi, Pancasila dan UUD 1945 sehingga kokoh sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ini semua menjadi renungan kita bersama. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk menghentikan kekerasan psikis pada anak. Jangan korbankan mereka. Sebab mereka adalah calon pemimpin bangsa di masa depan. Sekali lagi ini bukan ramalan Mama Lorans dan kawan-kawan yang sering muncul di TV itu. Selamat merenung!

Baca Selengkapnya..