
Oleh TY
Dalam hidup ini, ada tiga hal yang tidak pernah pasti. Ketiga hal tersebut adalah kekayaan, kesuksesan dan mimpi.
Kekayaan. Setiap orang pasti mendambakan kekayaan. Tak sedikit orang yang menjadikan tujuan hidupnya untuk mengejar kekayaan harta dunia itu.
Untuk mengejar kekayaan tersebut, banyak cara yang mereka dilakukan. Mulai dari jalan yang benar hingga jalan yang tidak benar. Mulai dari cara-cara logika hingga yang tidak masuk akal sama sekali.
Orang mau berbuat apa saja untuk mencapai kekayaan itu. Kekayaan sudah menjadi dewa. Orang tak sadar telah diperbudak kekayaan itu sendiri.
Ada yang berusaha dari kecil-kecilan, ada yang meminjam uang dari bank dengan mengadaikan sesuatau. Namun tak sedikit pula yang mencari kekayaan itu dengan jalan pintas. Mulai dari ilmu pesugihan untuk menebak nomor buntut hingga perjudian.
Ada juga yang mencari kekayaan dengan cara merampok.
Tapi berapa pun kekayaan yang kita kumpulkan, suatu saat bila tidak pandai mengendalikannya, dia pasti akan hilang juga. Jadi kekayaan itu semu adanya.
Kalau sesesorang sudah menjadi kaya, maka dia akan terobsesi menjadi orang sukses lagi. Sukses juga tidak pernah pasti dalam hidup kita.
Kapan seseorang itu dikatakan sukses? Tidak ada ukuran yang pasti. Dia selalu saja merasa kekurangan. Ada saja yang kurang dalam hidupnya. Sebab itu sudah menjadi sifat lahiriah manusia. Dalam hidupnya, ia tidak akan pernah merasa puas.
Kedua hal tersebut bersumber dari mimpi. Walau kadang mimpi itu menjadi kenyataan. Tapi sekali lagi, kekayaan, kesuksesan dan mimpi itu tidak pernah pasti dalam hidup kita ini. Sebab setiap orang senantiasa bebas memimpikan kekayaan dan kesuksesan dalam hidupnya.
Kadang orang memimpikan suatu saat memiliki sebuah villa di tempat yang indah, sehingga ada tempat libur bagi keluarganya. Ada juga orang yang memimpikan hidup enak dan tak perlu capek-capek membanting tulang mencari uang. Bila ingin sesuati tinggal minta atau cukup tekan tombol, maka sesuatu yang diinginkan itu segera datang.
Tanpa kita sadari, tiga hal itu kadang membuat kita malas, karena kita terlalu terobsesi dengan kekayaan, kesuksesan dan mimpi itu sendiri. Kadang kita tak sadar, kita telah diperbudak mimpi yang indah-indah itu, namun jauh dari kenyataan hidup. Memang kadang mimpi meraih kekayaan dan kesuksesan itu bisa menjadi motivasi, tapi jarang orang yang menyadarinya.
Nah, dari ketiga hal tersebut, ada kekayaan yang kekal, yakni kekayaan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan. Dengan pengetahuan dan keahlian yang dimiliki, perlahan tapi pasti kita bisa meraih segala mimpi itu.
Tapi takarannya jelas, kita mesti sadar bahwa kekayaan, kesuksesan dan mimpi itu tidak pernah pasti dalam hidup kita.
Friday, August 21, 2009
Kaya, Sukses dan Mimpi
Diposting oleh Tanto Yakobus di 6:59 PM 0 komentar
Bom Air
Oleh TY
Pepatah yang mengatakan; kemarau setahun tidak berbekas dengan hujan sehari, ternyata tidak berlaku dengan hujan yang menyirami sebagian Kota Pontianak, Senin (10/8) sore kemarin.
Padahal hujan cukup deras membasahi sebagian besar wilayah kota. Dan itu ternyata tidak ada apa-apanya, bila dibandingkan dengan serbuan asap yang kian pekat menjelang malam hari kemarin.
Bahkan hingga tadi malam, kepekatan asap tetap tidak berubah. Kondisinya sama seperti hari-hari sebelumnya.
Ketebalan asap dan tidak sehatnya udara Kota Pontianak sampai-sampai Dinas Pendidikan Kota Pontianak akhir pekan kemarin sempat meliburkan anak sekolah.
Sementara tindakan meliburkan anak sekolah itu sangat baik demi alasan kesehatan. Apalagi di pagi hari, jarak pandang semakin dekat, bahkan hanya mencapai 50 hingga 100 meter saja.
Belum lagi asap tebal itu bercampur partikel-partikel dan zat-zat berbahaya lainya yang setiap saat bisa terhisap lewat pernapasan kita.
Maka tak heran, berbagai penyakit pun mengerogoti masyarakat. Lihat saja rumah-rumah sakit baik dr Soedarso maupun Antonius, semua ruangan hingga lorong penuh sesak dengan pasien.
Mulai dari pasien demam berdarah, diare hingga penyakit yang cukup menakutnya, yakni flu babi (H1N1) yang kini mulai dirawat di rumah sakit Soedarso.
Nah, penularan penyakit sangat rentan terjadi dengan masyarakat, karena sebagian besar diakibatkan daya tahan tubuh yang lemah. Lemah karena pernapasan tidak sehat. Akhirnya, badan lelah dan lemas sehingga kondisi ini rentan dengan penyakit menular. Terutama yang bisa dibawa terbang oleh asap berbahaya tersebut.
Sebetulnya, hujan yang turun sekitar 10 hingga 15 menit kemarin cukup menyejukkan dan membersihkan udara yang sudah kotor ini, tapi asap tetap saja pekat.
Walau demikian, kita tetap mohon kepada Tuhan, supaya Pontianak bisa diguyur hujan dengan intensitas tinggi demi mengurangi kabut asap yang semakin pekat akibat pembakaran hutan dan lahan di Kalbar ini.
Bahkan belakangan ini, intensitas pembakaran lahan semakin tinggi. Akibatnya, asap juga semakin tebal. Kondisi ini membuat Gubernur Kalbar, Cornelis, menyatakan kabut asap yang semakin pekat tersebut sudah masuk kategori bencana daerah.
Sebagai kepala daerah, Ia baru saja menandatangani permohonan bantuan bom air dan hujan buatan ke Departemen Kehutanan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta.
Tentu upaya tersebut kita tunggu, sebab bila melihat bencana asap kali ini sangat luar biasa. Di Kota Pontianak dan sekitarnya asap mulai menyelimuti sejak sore hari hingga pagi pukul 08.00 WIB, dengan jarak pandang kurang dari 50-100 meter saja. Apakah bom air itu jawabannya? Entahlah!
Diposting oleh Tanto Yakobus di 6:50 PM 0 komentar
Monday, August 10, 2009
Temu Kangen Alumni Seminari St Gabriel Sekadau
Foto sarapan pagi bersama para pastor dan bruder di Biara Induk Pasionis Sekadau, sebelum acara reuni di seminari menengah st Gabriel Sekadau.
Oleh TY
Sabtu (1/8) malam pekan lalu, aku dapat telepon dari kompratriotku di Asrama Seminari Menengah Diosesan Santo Gabriel Sekadau dulu. Dari seberang dia menanyakan posisiku dimana? “Di kantor, datanglah,” jawabku.
Seperempat jam kemudian, muncul Elias Ngiuk di kantorku. Aku pun basa basi dan mempersilakannya duduk. Kami lalu ngobrol seputar pekerjaan masing-masing. Kebetulan sama-sama kerja di media; aku di harian Borneo Tribune, dan Ngiuk pemimpin redaksi Majalah Kalimantan Review (KR).
Lama berbincang, Ngiuk mengeluarkan undangan dari tasnya, seraya menjelaskan maksud kedatangannya. “Ini ada reuni asrama seminari Sekadau untuk semua angkatan, kita berdua diundang sebagai narasumber,” kata Ngiuk sambil menyodorkan undangan berikut jadwal kegaitan kepadaku.
Aku pun menerima undangan itu sambil mengatakan, “aku hadir Yuk”.
Ngiuk pun mengatakan tidak akan melewatkan acara yang sudah dinanti-nantinya itu.
Apalagi ini reuni untuk semua angkatan. Ya dapat dibayangkan bagaimana suasana temu kangen para alumni, dari angkatan pertama Tahun 1979 hingga angkatan 2008. Ya, mungkin banyak hikmah yang bisa dipetik dari reuni tersebut, terutama motivasi bagi adik-adik yang tengah menuntut ilmu di asrama tempat mendidik calon biarawan itu.
Bagi aku sendiri, walau tidak menjawab panggilan dengan menjadi imam, tapi aku merasakan manfaat yang luar biasa tinggal di asrama tersebut. Disiplin, kepribadian dan kemandirian telah menuntun langkahku dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi.
Aku tidak bisa melupakan peran Rektor Seminari, Pastor Nicodemus—ketika itu, dengan caranya sendiri membimbing dan mendidik kami. Demikian juga dengan teman-teman sudah seperti keluarga sendiri dan sangat harmonis. Padahal kami semua berasal dari berbagai daerah, suku, bahasa dan latar belakang yang berbeda. Tapi kami bisa hidup rukun sebagai saudara. Tidak ada rebutan nasi, tidak ada pertengkaran, walau kadang-kadang makan hanya sayur kankung, tapi kami sangat menikmatinya.
Demikian juga dengan para alumni (terutama para pastor), kami selalu merindukan mereka ketika berkunjung ke Seminari. Terlebih alumni yang bertugas di Malang dan Jakarta—yang merupakan komunitas Pasionis di Indonesia. Kami ingin mendapat info lebih tentang Malang—yang mejadi pusat pendidikan Seminari Tinggi.
Untuk reuni pertama yang berlansung tiga hari ini, aku berharap semua yang hadir bisa mengenang saat-saat sulit menjawab panggilannya masing-masing. Ada masa-masa indah, namun tidak sedikit pula masa yang betul-betul butuh perjuangan untuk melewatinya. Bahkan saking sulitnya, banyak yang terlempar keluar. Karena itu menyangkut rahasia ilahi—yakni panggilan khusus kepada pribadi-pribadi yang bertahun-tahun mempersiapkan diri baik dengan belajar tekun maupun berdoa yang waktunya sama dengan saudara kita Muslim, lima waktu, cuma jamnya yang beda.
Yang membahagiakan, ketika kenaikan kelas. Dari kelas 1 hingga kelas 3 (semua jurusan), rangking 10 besar diborong anak-anak Seminari. Anak Seminari juga punya andil besar memperkenalkan SMA Karya Sekadau kepada kalangan luar dengan berbagai prestasi, baik di bidang akademik, seni maupun olahraga.
Nah, diusianya yang ke-30 tahun ini, apakah asrama Seminari masih sanggup menorehkan tinta emas seperti yang pernah dilakukan para alumninya baik terhadap Seminari Menengah Diosesan Santo Gabriel maupun bagi SMA Karya Sekadau? Itu semua hanya bisa dijawab dengan prestasi para penghuni sekarang maupun yang akan datang. Selamat berkangenria di reuni asrama Seminari.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 1:22 PM 0 komentar
Monday, July 20, 2009
Rutinitas Kabut Asap
.jpg)
oleh TY
Hari-hari terakhir di Kota Pontianak, kondisi udaranya semakin buruk. Terlebih pada malam hari, udara Kota Pontianak pekat dengan kabut asap.
Kabut asap yang kian menebal itu diduga berasal dari kegiatan pembukaan lahan dengan cara membakar. Disamping pengaruh tanah gambut yang memang rentan terbakar di saat kemarau panjang seperti sekarang ini.
Buruknya udara Kota Pontianak membuat pihak terkait, utamanya Dinas Kesehatan Kota Pontianak menghimbau warganya untuk tidak keluar di malam hari.
Bila udara tidak sehat seperti sekarang, dan masyarakat masih saja keluar di malam hari, resikonya jelas, terkena penyakit pernafasan.
Umumnya, bila kemarau tiba, rumah sakit atau puskesmas banyak merawat pasien yang mengalami penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), disamping penyakit menular lainnya, seperti diara dan muntaber.
Akibat lain dari kabut asap yang seakan sudah menjadi rutinitas ini, selain udara berkabut asap juga muncul abu sisa pembakaran yang terbang terbawa angin. Sisa abu yang terbang tersebut melekat dimana-mana, termasuk di sejulah rumah warga.
Untuk menghindari berbagai penyakit, sebaiknya bila kita berpergian ke luar rumah, jangan ragu untuk menggunakan masker. Tapi sayang, hanya sebagian kecil masyarakat yang mau menggunakan masker. Padahal itu baik untuk pencegahan diri terhadap berbagai kemungkinan penyakit menular tersebut.
Sebetulnya, kabut asap tersebut masih bisa diatasi. Itu pun tergantung kemauan kita bersama apakah kita mulai dari individu punya kesadaran untuk tidak melakukan pembakaran terhadap apa pun di saat memasuki musim kemarau seperti ini.
Sebab sudah bisa diukut, kemarau saja merupakan siklus alam yang juga rutin terjadi setiap tahunnya. Demikian pula dengan kabut asap ini, jelas bila ada kemauan dan kesadaran bersama, niscaya kabut itu tidak akan terjadi.
Berdasarkan catatan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Kalbar, setakat ini ada sekitar 134 titik panas terpantau melalui satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
Titik panas itu tersebar di 12 kabupaten/kota di daerah ini. Celakanya lagi, satelit juga mencatat sebagian besar titik panas itu berada di kawasan perkebunan.
Nah, bila melihat peta kejadian itu, sebetulnya kabut asap tidak perlu terjadi bila semua pihak memahami ada kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan bersama terutama menyangkut kepentingan Negara.
Bila siklus rutinitas ini tidak dipahami, sampai kapan pun tetap terjadi kabut asap. Setelah terjadi, kita sendiri ribut, kita sendiri saling menyalahkan. Padahal pangkal permasalahannya ada pada kita masing-masing.
Banyak hal buruk bila kabut asap terus-menerus terjadi sepanjang tahun. Dampak terburuk, selain mewabahnya penyakit menular juga berdampak pada perekonomian. Kapal baik laut maupun udara tidak bisa melakukan aktivitasnya, karena menyangkut jarak pandang.
Tahun-tahun sebelumnya, beberapa penerbangan sempat menghentikan sementara aktivitasnya. Dan kita berharap kini hal tersebut tidak terjadi lagi. Karena kita tahu kabut asap sebagai rutinitas tahunan, maka kita juga tahu bagaimana mengatasinya. Dan cara yang paling ampuh, menyadarkan diri sendiri untuk tidak membakar!
Diposting oleh Tanto Yakobus di 9:12 PM 1 komentar
Bangsa Korban Psikis
foto Republikanonline/repro
Oleh TY
Ini bukan Mama Lorens, bukan juga Ki Joko Bodo atau Mbah Marijan yang bisa meramalkan nasib seseorang atau kejadian alam di masa kedepan.
Ini hanyalah kegelisahan saya dengan tayangan infotaiment yang kerap menyajikan perceraian para public figure, utamanya para artis. (Itu belum masyarakat awam yang kejadiannya mungkin lebih parah lagi).
Mereka memang sukses di dunianya masing-masing, tapi mereka gagal dalam membina rumah tangga. Artinya mereka sudah menyangkal janji perkawinan mereka yang suci itu.
Padahal saat ijab Kabul (mengucapkan sumpah dan janjinya), mereka sanggup sehidup semati sampai maut menjemput yang memisahkan. Dan cita-cita yang diikrar itu sangat mulia, yakni membentuk keluarga sekinah.
Tapi sekali lagi. Dalam infotainment, seringkali kita saksikan, hanya dalam hitungan tahun, bulan, hari bahkan jam—perceraian bisa saja terjadi.
Bagi kita orang awam kejadian itu memang aneh tapi nyata. Tapi bagi pelaku terutama di infotainment yang ditayangkan setiap oleh stasiun televise, agaknya sudah biasa.
Nah, public figure yang kebetulan dari kalangan artis itu, kini banyak banting stir ke dunia politik. Dan hasil pileg beberapa bulan lalu, memang banyak dari kalangan artis ini berhasil masuk parlemen. Tentu dari sekian banyak itu memang tidak semuanya kawin cerai, tapi ada sebagian yang melakukannya.
Nah, yang menjadi kekhawatiran kita untuk 20 tahun kedepan, anak-anak buah perceraian itu pastilah mengikuti jejak orangtuanya mengeluti dunia hiburan. Beking orangtua mereka pastilah jadi artis.
Setelah mapan dan puas jadi artis, mereka juga akan banting stir ke politik. Dan yakin jumlah mereka juah lebih besar dari para pendahulunya.
Mari kita merenung sekejab. Bagaimana wajah negeri ini bila mereka yang menjadi pemimpinnya?
Saya sendiri sangat mengkhawatirkannya. Ingat sebuah teori yang mengatakan; anak dilahirkan dengan keadaan seperti kertas putih. Warna dominant yang dibubuh diatasnyalah yang kelak akan membentuk sifat dan wataknya. Dan warna itu adalah lingkungan hidupnya. Dan lingkungan terdekatnya adalah keluarganya.
Nah, anak-anak korban perceraian ini jelas mengalami kekerasan psikis. Mereka linglung akibat perpisahan orangtua mereka. Bila kelak menjadi pemimpin, saya tidak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi. Sebab mereka sudah menjadi korban kekerasan psikis oleh kedua orangtua mereka sendiri.
Jelas korban psikis jauh lebih berat dari penyiksaan fisik secara langsung. Mereka mengalami penyiksaan batin selama hidup mereka. Hidup diantara ketidakpastian, keditak-bahagiaan, ketidak-hagatan, marah, dan egois!
Egois mereka dapatkan secara alami dari tingkah polah orangtuanya yang pisah ranjang hingga pisah rumah alias perceraian itu. Berangkat dari rentetan kejadian ini, jelas membentuk watak mereka di pucak kariernya. Beban psikis itu tergambar dari ucapannya, perbuatannya dan gaya hidupnya di masyarakat. Kalau tidak minder, kejam.
Jangan-jangan dari perceraian keluarga lalu merembet ke perceraian bangsa ini yang memang terdiri dari berbagai pulau, suku, agama dan dan kelompok, yang selama ini disatukan dalam perkawinan yang bertajuk “Sumpah Palapa” oleh Gajahmada di era Majapahit--menjadi cikal bakal Nusantara. Akta kelahiranya Proklamasi, Pancasila dan UUD 1945 sehingga kokoh sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ini semua menjadi renungan kita bersama. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk menghentikan kekerasan psikis pada anak. Jangan korbankan mereka. Sebab mereka adalah calon pemimpin bangsa di masa depan. Sekali lagi ini bukan ramalan Mama Lorans dan kawan-kawan yang sering muncul di TV itu. Selamat merenung!
Diposting oleh Tanto Yakobus di 8:56 PM 0 komentar
Friday, June 26, 2009
DEMOKRASI
Oleh TY
Menghadapi pilpres 8 Juli mendatang, suhu politik Indonesia memang panas. Namun bagi para elit, terutama ketiga pasangan capres-cawapres tidak ada persoalan. Walau ada perbedaan pendapat diantara mereka, tapi mereka tidak memperlihatkan permusuhan.
Bahkan dalam bertutur kata, mereka sangat menjaga sopan santun. Itulah yang kita lihat baik di televisi maupun di media-media cetak.
Persoalan bertambah runyam justru di tingkat masyarakat yang menjadi basis massa dari ketiga capres-cawapres tersebut.
Banyak bentuk kampanye negative justru dikembangkan masyarakat di kelompok ini. Setiap hal yang kurang baik dari ketiganya selalu menjadi buah bibir atau tema pokok pembicaraan mereka sehari-hari. Mulai dari teras rumah hingga warung kopi.
Itu fakta. Mereka memang bicara apa adanya. Tapi apa yang mereka bicara itu bukanlah fakta.
Mereka lebih senang membicarakan gossip. Mulai dari isu neolib hingga pelanggaran HAM berat. Itu bumbu sedap saat nongkrong di warung kopi.
Saat ini tidak ada lagi hal yang seru diomongkan, kecuali gossip para kandidat pemimpin bangsa tersebut. Padahal secara umum, masyarakat juga sudah tahu, terutama para kaum intelek dan terpelajar. Rekam jejak ketiga capres dan cawapres tersaji baik di buku-buku.
Singkat kata, mereka semua sudah punya biografi masing-masing. Di situ cukup terekam hitam putih perjalanan mereka.
Jadi kalangan akademisi dan intelektual tak perlu lagi ngerumpi soal mereka. Sebab sudah punya pilihan masing-masing. Bentuk-bentuk propaganda warung kopi tak mempengaruhi pilihan mereka lagi.
Nah, bagi saya yang cukup ngelikan justru kini para tim kampanye atau katakanlah tim suksesnya yang turut membumbui cerita warung kopi tersebut.
Hemat saya yang sedikit mengerti dengan pola komunikasi dan propaganda, untuk ukuran masyarakat kita yang sudah ‘berpengalaman’ dengan pemilihan langsung (pilkada, pilgub, pileg dan pilpres), bumbu negative dan propaganda itu justru blunder bagi kubu yang meniupnya.
Apalagi isu yang ditiupkan itu bertolak belakang dengan rekam jejak masing-masing kandidat. Tentu setiap kandidat juga gencar mengkampanyekan pencitraan yang baik tentang pribadi mereka.
Nah, bila tim sukses tetap mempertahankan propaganda negative tentang figure capres dan cawapres tertentu, maka siap-siap saja ditinggal pemilihnya. Sebab siapa pun yang meniupkan aroma buruk tentang seseorang, ia akan menuainya sendiri.
Ingat, setiap kata yang terlontar itu di dengar oleh Tuhan. Sebab Tuhan tidak pernah tidur dan ada di mana-mana. Bila bicara tanpa fakta dan propaganda belaka, tentu Tuhan sendiri akan marah. Apalagi kita manusia yang punya keterbatasan, tentu akan lebih marah lagi.
Jadi kalau mau damai, berdamailah dengan diri sendiri dengan menghindari kata-kata kotor dan mengantikannya dengan kata bijak dan santun. Sebab siapa pun yang memimpin kelak, ia tetapkan Presiden Indonesia, bukan presiden partai A, partai B, suku C dan bangsa D.
Abjad saja ABCD agar bisa merangkai kata. Jadi tidak ada yang sama di dunia ini, dan itulah DEMOKRASI.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 8:11 PM 0 komentar
Ketika Air Payau
Oleh TY
Aneh tapi nyata. Itulah yang dirasakan masyarakat Kota Pontianak.
Kota yang berdiri di atas air, justru masyarakat Kota Pontianak kerap kesulitan air, terutama air yang layak untuk dikonsumsi.
Selama bertahun-tahun, sebagian besar masyarakat mengandalkan air hujan untuk dikonsumsi. Tapi bila kemarau tiba, bagi keluarga yang tidak memiliki persediaan air cukup, maka akan kesulitan mendapatkan air bersih.
Bagi yang berduit, tak masalah, bisa membeli dari mobil tangki. Tapi bagi masyarakat kebanyakan, air bersih betul-betul menjadi masalah utama.
Tak heran, setiap musim kemarau tiba banyak warga yang terserang diare. Dan diare itu salahsatu penyebabnya adalah karena air yang dikonsumsi tidak layak.
Kini memasuki musim kemarau, air ledeng yang selama ini terpaksa dikonsumsi masyarakat mulai terasa payau. Di mana-mana warga mulai merasakan air asin.
Karena tak ada pilihan, masyarakat tetap saja menggunakan air ledeng yang di suplay dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Pontianak.
Air ledeng tak layak konsumsi itu juga diakui langsung Direktur PDAM, Agus Sutyoso.
Air yang dialirkan ke rumah-rumah tersebut kandungan garamnya sudah melebihi ambang batas, yakni minimal 800 PPm (part per million).
Air payau tersebut akibat kandungan garam air Sungai Kapuas sebagai bahan baku utama terintrusi air laut sebesar 2.000 PPm. Itu terjadi akibat kemarau dan tidak adanya dorongan air dari hulu sungai.
Memang sekarang di perhuluan sungai juga terjadi pendangkalan. Bahkan beberapa dasar sungai sudah timbul, sehingga anak-anak dapat bermain bola di atasnya.
Kondisi air payau tersebut, tak tertutup kemungkinan ada beberapa warga yang terpaksa mengkonsumsinya. Padahal air PDAM itu hanya bisa digunakan untuk mandi, cuci dan kakus (MCK) saja.
Dan itu sebuah ironi bagi warta Kota Pontianak. Sebab setiap tahun selalu saja kita mengalami krisis air bersih, utamanya air yang layak konsumsi.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 8:06 PM 0 komentar
Tuesday, June 16, 2009
Bayi Kembar Siam

Oleh TY
Untuk pertama kalinya, Rumah Sakit Umum Daerah dr Soedarso Pontianak menangani kasus persalinan bayi kembar siam.
Bayi yang berkelamin perempuan tersebut dempet di bagian perut (omphalopagus satu persen) memiliki satu kantung empedu dan satu hati (liver).
Pihak rumah sakit mengatakan, sejak lahir lewat operasi cesar, bayi dalam kondisi sehat.
Kini bayi dengan berat 5,2 kilogram dan panjang 48 centimeter masih dalam perawatan pihak rumah sakit. Keduanya dirawat di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) ruang perawatan perinatal RSUD dr Soedarso Pontianak.
Sementara sang ibu, Rusmiati (36), masih dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) untuk memulihkan kondisi karena cukup banyak mengeluarkan darah mengingat ukuran bayi yang dilahirkan terbilang besar.
Nah, untuk kasus bayi kembar siam yang cukup langka di Kalbar ini, apakah bisa ditangani dengan baik?
Sebab RSUD dr Soedarso belum ada pengalaman menangani operasi bayi kembar siam. Walau kini rumah sakit pemerintah terbesar di Kalbar ini sudah memiliki dokter spesialis bedah anak.
Kita juga tidak tahu bagaimana nasib keduanya, apakah bisa keduanya bisa diselamatkan, mengingat keduanya hanya memiliki satu empedu dan satu hati.
Secara logika, sulit rasanya menangani operasi yang sudah pasti rumit tersebut.
Rumah sakit Hasan Sadikin Bandung atau Rumah Sakit dr Sutomo Surabaya saja masih kesulitan menangani kayi kembar siam. Walau keduanya sudah memiliki reputasi dalam operasi bayi kembar siam.
Nah, kita tunggu saja, apakah para dokter yang kita miliki yang sudah memegang label spesialis bedah anak bisa mengatasi bayi kembar siam di RSUD dr Soedarso tersebut?
Butuh waktu memang, dan kita juga tidak boleh meremehkan mereka. Apalagi RSUD dr Soedarso merupakan rumah sakit terbesar milik pemerintah, pastilah juga dilengkapi dengan peralatan yang canggih pula.
Yang jelas, bila bayi kembar siam itu bisa ditangani dengan baik. Maka para dokter yang menanganinya akan dicatat dengan tinta emas, sebab mereka juga sudah disejajarkan kemampuannya dengan para dokter di rumah sakit umum Hasan Sadikin Bandung yang biasa menangani bayi kembar siam, atau rumah sakit umum dr Sutomo Surabaya.
Untuk sejajar dengan mereka itu mimpi memang. Tapi kadang, mimpi juga biasa menjadi kenyataan. Kita tunggu saja aksinya.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 8:50 PM 0 komentar
Sunday, June 14, 2009
Entahlah…
Oleh TY
Menjadi cerdas tidak berarti mengetahui segala jawaban. Terkadang, jawaban paling cerdas yang kita dapat katakan adalah “Entahlah”. Dan, jawaban itu bikin orang kesal, marah. Diperlukan rasa percaya diri dan kecerdasan extra untuk mengetahui sikap apatis kita. Dan saat kita melakukannya, kita sedang dalam proses mempelajari jawaban sesungguhnya.
Seringkali karena alasan kebanggaan dan mencegah rasa tidak aman, kita mengatakan tahu, padahal sebenarnya kita tidak tahu. Lewat cara ini, kita telah menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar lebih lanjut. Percayalah, tidak ada salahnya kita tidak mengetahui suatu hal. Daripada hasilnya konyol bagi kita maupun orang lain.
Bagian penting dari kebijaksanaan adalah mengetahui batas pengetahuan kita. Mengetahui apa yang kita tahu dan apa yang kita tidak tahu.
Orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang tahu dan mengerti, bahwa tak semua pertanyaan dapat ia jawab. Orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang mau bertanya, mau belajar dan mau berkembang.
Gunakan pengetahuan yang kita miliki, dan miliki pengetahuan yang kita perlukan. Itu adalah jalan terbaik yang kita bisa tempuh.
Untuk menuju ke sana, kita semua tahu jalannya. Dan jalan itu adalah pendidikan.
Pendidikan jembatan emas untuk menuju kesempurnaan hidup. Manusia sejak dalam kandungan sekalipun sudah dididik oleh orangtuanya lewat berbagai cara. Dan cara klasik yang sering digunakan adalah music.
Konon music bisa membentuk karakter dan kecerdasan seseorang sejak masih dalam kandungan. Terutama keseimbangan emosional seseorang.
Dan pendidikan itu berlanjut setelah ia dilahirkan. Ibarat kertas putih, anak yang baru lahir akan terbentuk karakternya oleh lingkungan. Dan orangtua punya tanggung jawab utama untuk memberikan warna dominan pada anaknya itu.
Walau akhirnya pendidikan yang mencerdaskan kita. Dan saya sendiri menempatkan pendidikan di tempat terhormat. Karenanya, Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu (Amsal 4:13). Tapi apakah itu suatu jawaban mengatasi kesulitan hidup dan kebodohan kita? Entahlah….
Diposting oleh Tanto Yakobus di 10:37 PM 0 komentar
Wednesday, June 10, 2009
Eforia Pilpres
Oleh TY
Dalam nuansa eforia pemilu presiden dan wakil presiden (pilpres) 8 Juli 2009, sebagai rakyat kita semua dibuat pusing dengan berbagai pilihan yang ditawarkan oleh ketiga pasangan capres maupun tim kampanye masing-masing.
Bagi kader, pendukung maupun simpatisan mereka jelas sangat merasakan eforia politik lima tahunan itu. Tapi bagi kita yang memposisikan diri non partisan, jelas kita pusing tujuh keliling.
Pusing, bukan karena sulit menentukan pilihan terhadap salah satu capres pada hari H pilres kelak, tapi pusing memikirkan jargon-jargon yang didegungkan maupun progam-program yang diusung semua tidak masuk akal.
Sebagai rakyat, kita maunya yang praktis saja. Kita sudah capek banting tulang mencari makan setiap hari, jadi agak mustahil turut mencermati program-progam yang ditawarkan baik lewat televisi maupun Koran dan termasuk tim kampanye masing-masing kandidat.
Pasangan yang menawarkan ekonomi kerakyatan. Bentuknya juga belum jelas. Sementara bagi orang kampung, mungkin mereka lebih kenal credit union (CU) sebagai fisik dari ekonomi kerakyatan tersebut.
Kita patut khawatir, ekonomi kerakyatan itu tidak lebih hanya kekadar jargon belaka yang tanpa makna. Sebab mereka sendiri yang mengkoordinir, tidak mempraktikan ekonomi kerakyatan itu sendiri.
Apalagi memberi contoh konkrit ekonomi kerakyatan, oh tidak mungkin. Begitupun dengan pasangan yang menawarkan ekonomi jalan tengah semberi melanjutkan apa yang sudah berjalan sekarang.
Yang patut dipertanyakan, apa benda ekonomo jalan tengah itu, apakah kredit lunak yang tanpa agunan itu, sementara praktiknya bank tetap saja menuntut agunan?
Lalu ada lagi capres yang menjual kemandirian bangsa. Juga masih mimpi. Kalau soal kemandirian adalah cita-cita semua orang, tapi untuk bangsa kita ini rasanya seratus abad sekalipun masih sulit mendari. Kita sudah terlanjur biasa menjadi bangsa yang ‘disuap’ terus.
Nah, jargon-jargon seperti itu susah dicerna masyarakat kelas bawah yang mayoritas menjadi pemilih potensial kelak. Mereka tidak terpengaruh dengan berbagai bentuk jualan kempanye yang ditawarkan capres-cawapres maupun tim kampanyenya.
Masyarakat lebih senang menikmati apa yang bisa dinikmati hari ini, apa yang bisa dimakan hari ini. Soal pilihan, ya terserah siapa yang bisa memberi makan hari ini.
Maka tak salah banyak kalangan luar menilai bangsa kita masih sebagai bangsa yang ‘perasa’. Artinya, mereka lebih merasakan apa yang mereka liat langsung, terima langsung.
Sebagai ungkapan dari ‘perasa’ itu, orang juga menilai bangsa kita sebagai bangsa yang pandai berterima kasih. Maka sebagai wujud terima kasih terhadap apa yang dirasakannya secara langsung, maka pilihan suaralah taruhannya.
Singkat kata, siapa yang memberi dan dirasakan langsung masyarakat, maka dialah yang menjadi curahan suara masyarakat kelak. Dan itu bisa kita tebak sendiri, dari ketiga capres ini siapa yang lebih banyak memberikan program pro rakyat, dialah yang akan menerima manfaatnya. Ingat masyarakat kita belum bisa menilai figure, tapi mereka pandai menilai pemberitan.
Mereka juga pandai memeriahkan pesta demokrasi itu, tapi tak lebih dari sekadar eforia belaka. Ada yang meragukan? Mari kita buktikan bersama.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 12:14 AM 0 komentar


