BERPEGANGLAH PADA DIDIKAN, JANGANLAH MELEPASKANNYA, PELIHARALAH DIA, KARENA DIALAH HIDUPMU...Amsal 4:13

Monday, February 2, 2009

Simon Kenalkan Pembantunya ke Warga Sekadau di Pontianak


Oleh Tanto Yakobus

Bupati Sekadau, Simon Petrus, menggunakan moment Natal bersama untuk memperkenalkan pembantunya dalam mengelola pemerintahan di Kabupaten Sekadau kepada warga Sekadau yang ‘merantau’ di Pontianak, Sabtu (31/1) akhir pekan kemarin.

Simon yang menghadiri perayaan Natal bersama Mahasiswa, warga Paguyuban Patih Singaria dan Rukun Ayong Mualang serta Pemkab Sekadau yang digelar di Auditorium Universitas Tanjungpura Pontianak itu membawa serta beberapa kepada dinas dan pejabat eselon II yang baru saja diangkat dan dilantik dalam Struktur Organisasi Perangkat Daerah (SOPD) Kabupaten Sekadau yang baru.
Para pejabat yang hadir itu antara lain, Kadis Kependudukan dan Catatan Sipil, Yoseph Marcus, Asisten Pemerintahan Perekonomian dan Sosial Setda Sekadau, Yohanes Jhon, Inspektur Kabupaten Sekadau, Henry Lisar, dan beberapa pejabat lainnya, termasuk Camat Nanga Mahap, Rupinus.
Kepada warga Sekadau di Pontianak, Simon minta untuk berpartisipasi membangun Kabupaten Sekadau.
“Sumbangan pemikiran bapak, ibu dan saudara sekalian sangat penting untuk membantu kami, bagaimana kita bersama-sama membangun Sekadau tercinta,” ajak Simon disambut tepuk tangan hadirin yang memadati Auditorium itu.
Menurut Simon, dalam mengisi SOPD yang baru saja dilantik, dirinya sudah berupaya mengakomodir semua kepentingan ada yang di Sekadau. Termasuk mencari pejabat dari kalangan masyarakat Dayak.
“Memang saya akui kita ini kekurangan kader, sehingga susah mencari pejabat untuk menduduki posisi tertentu, karena itu menyangkut jenjang dan kepangkatan dan karier seseorang,” katanya.
Simon yang juga Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Sekadau itu juga minta acara Natal bersama seperti itu kedepannya agar diagendakan dan masuk agenda tetap Pemkab Sekadau untuk memudahkan dalam hal pendanaan.
Sebab katanya, Pemkab Sekadau menaruh perhatian yang sama kepada semua warganya, baik yang merayakan Natal maupun yang merayakan Idul Fitri di Pontianak ini. Untuk itu perlu menjadi agenda Pemkab Sekadau.
Pada kesempatan itu Simon juga berpesan kepada para mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Sekadau agar belajar sungguh-sungguh. “Kita berusaha memperhatikan dan mendukung mahasiswa kita agar studinya lancar dengan memberikan beasiswa bagi yang berprestasi maupun yang orang tuanya kurang mampu,” jelas Simon.
Selain memberikan beasiswa, Pemkab Sekadau kini telah membangun dua asrama mahasiswa, satu di lingkungan Universitas Tanjungpura Pontianak dan satunya lagi di Yogyakarta.
Paulus Florus yang mewakili warga Sekadau di Pontianak mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Sekadau terutama Bupati Simon Petrus yang menaruh perhatian besar kepada masyarakat Sekadau di perantauan.
“Perhatian itu terlebih ditujukan kepada anak-anak kita yang berasal dari berbagai daerah di pedalaman Sekadau yang menuntut ilmu di kota ini, agar mereka bisa belajar dengan baik dan kelak dapat mengabdikan dirinya di Kabupaten Sekadau yang memang butuh tenaga-tenaga profesional,” kata Florus.
Sementara itu, Bambang Setiawan selaku ketua panitia Natal bersama mengatakan, sebetulnya Natal kali ini sudah terlambat. Keterlambatan itu kata Bambang, bukan karena kesengajaan, tapi pada akhir Desember dan awal hingga pertengahan Januari rekan-rekan mahasiswa masih liburan di kampung masing-masing.
“Setelah kami berkunsultasi baik dengan Pastor maupun Pendeta, maka Natal kita laksanakan pada hari ini,” jelas Bambang.

Baca Selengkapnya..

Friday, January 30, 2009

SOPD Kabupaten Sekadau


Ir. Muhammad Isa, M.Si Kepala Dinas Kehutanan dan perkebunan Kabupaten sekadau

Drs. Yohanes Yoseph Marcus Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sekadau

Matheus Tius S.Sos, M.Si Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Kesatuan Bangsa dan Pemerintahan Desa Kabupaten Sekadau

Drs. Yohanes Jhon Asisten Pemerintahan Perekonomian dan Sosial Sekretariat Daerah Kabupaten Sekadau.

Drs. Khandra Asmarahady Asisten Administrasi dan Umum Sekretariat Dearah kabupaten Sekadau. H. Abdul Gani, SH,M.Si Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sekadau.
Drs. A. Adrianto Gundokusumo, M.Si Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sekadau.

Ir. Suyitno Kepala Dinas pekerjaan Umum dan Pertambangan Kabupaten Sekadau.

H. Ade racmat Syuhada, SE Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupagten Sekadau

dr. Wirdhan Mahzumi, M.Kes Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sekadau

Drs. Djemain Burhan,MM Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sekadau.

H. Sukarman, S.Sos M.Si Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Sekadau

Ir. Abang Ahmad Yani, Mp Kepala Dinas Perhubungan Telekomunikasi, Informatika, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sekadau.

M. Ramsyah, S.Ip, MM Kepala Badan dan Perencanaan Daerah Kabupaten Sekadau.

Drs. Henry Lisar, M. Pd Inspektur Kabupaten Sekadau

Ir. Slamet, MM Staf Ahli Bupati Sekadau Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia.

Agustinis Agus ,SH Kepala Kantor Lingkunagan Hidup Dan Pertaman Kabupaten Sekadau

Drs. Agustinus, MM Kepala Kantor Kepegawaian ,Pendidikan Dan Pelatihan Kabupaten Seladau

Erna Yulita, SP Kepala kantor penyuluhan dan ketahanan pangan kabupaten sekadau.

Yuspia Basilisa, S.Ag Kepala kantor perpustakaan ,arsip dan dukumentasi kabupaten sekadau

Muhammad Arsya, S.Sos Kepala kantor satuan polisi pamong peraja kabupaten sekadau.

Honorius Bruno, SKM Direktur Ruman Sakit umum daerah Kabupaten Sekadau.

Baca Selengkapnya..

SOPD Provinsi Kalimantan Barat


1 Drs. Ignatius Lyong, MM Asisten Adm Pemerintahan Setda Prov. Kalbar
2 Drs. Maryadi, M.Si Asisten Adm Perekonomian dan Kesejahteraan Sosial Setda Prov. Kalbar
3 Drs.M.H. Munsin, MH Asisten Adm dan Umun Setda Prov. Kalbar
4 Drs. Ibnu Setiawan, MM Sekretaris DPRD Prov. Kalbar
5 Drs. Alexius Akim, MM Kepala Dinas Pendidikan Prov. Kalbar

6 Dra. HJ. Utin Kusumawaty, M.Si Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Prov. Kalbar
7 Dr. M. Subuh, MPPM Kepala Dinas Kesehatan Prov. Kalbar
8 Drs. M. Junaidi, M.Si Kepala Dinas Sosial Prov. Kalbar
9 Maksum Jauhari, SH Kepala Dinas Tenaga Kerja dan
Transnigrasi Prov. Kalbar
10 D.L. Denny, SH Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Prov. Kalbar
11 Drs. Kamaruzzaman, MM Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Kalbar
12 Ir. Jakius Sinyor Kepala Dinas Pekerjaan Unun Prov. Kalbar
13 Drs. Dody S. Wardaya, MM Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalbar
14 Ir. H. Hazairin, MS Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Prov. Kalbar
15 Drh. Abdul Manaf M Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan
Hewan Prov. Kalbar
16 Ir. H. Idwar Hanis Kepala Dinas Perkebunan Prov. Kalbar
17 Drs. Kornelius Kimha, M.Si Kepala Dinas Kehutanan Prov. Kalbar
18 Ir. Budi Haryanto Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Kalbar
19 Ir. Agus Aman Sudibyo, MM Kepala Dinas Pertambangan Dan Energi Prov. Kalbar
20 Drs. Darwin Muhammad Kepala Dinas Pendapatan Daerah Prov. Kalbar
21 Drs. Herry Djaung, M.Si Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Prov. Kalbar
22 Ir. H. Fathan A. Rasyid, M.Ag Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Prov. Kalbar
23 Tony Ferdy, S.Sos, M.Si Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Prov. Kalbar
24 Ir. H. Darmawan, M.Sc Kepala Badan Lingkungan Hidup Prov. Kalbar
25 Drs. M. Zet Hamdy Assovie, MTM Kepala Penanaman Modal Daerah Prov. Kalbar
26 Dra. Hj. Ida Kartini, M.Si Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Anak, Masyarakat, dan KB Prov. Kalbar
27 Drs. H. Pieter Allon G, MM Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Prov. Kalbar
28 Drs. Martin Luther D, M.Si Kepala Badan Pengelolaan Kawasan Perbatasan dan Kerjasama Prov. Kalbar
29 Drs. Bontor Panggabean Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Prov. Kalbar
30 Drs. Marselinus Kutjai Apin Kepala Badan Perpustakaan, Kearsipan dan Dokumentasi Prov. Kalbar
31 Drs. John Itang Oe, MM Inspektur Provinsi Kalbar

32 Lensus Kandri, SH, MH Kepala Badan Kepegawaian Daerah Prov. Kalbar
33 Togi Lumban Tobing, SH, MH Staf Ahli Gubernur Kalbar Bidang Hukum dan Politik
34 Drs. M. Aminuddin, M.Si Staf Ahli Gubernur Kalbar Bidang Pemerintahan
35 Prof. Ir. M. Alamsyah HB Staf Ahli Gubernur Kalbar Bidang Pembangunan
36 Drs. Ngatman, M.Pd Staf Ahli Gubernur Kalbar Bidang Kemasyarakatan dan SDM
37 Drs. H.A. Munir HD, MM Staf Ahli Gubernur Kalbar Bidang Ekonomi dan Keuangan
38 Drs. Sumarno Kepala Biro Pemerintahan Setda Prov. Kalbar
39 Marius Marcellius TJ, SH, MM Kepala Biro Hukum Setda Prov. Kalbar
40 Drs. Robertus Isdius, M.Si Kepala Biro Kependudukan dan Catatan Sipil Setda Prov. Kalbar
41 Ir. Anna Verydiana Iman Kalis, MP Kepala Biro Perekonomian dan Pembangunan Setda Prov. Kalbar
42 Dra. Sri Djumiadatin, M.Si Kepala Biro Kesejahteraan Sosial Setda Prov. Kalbar
43 Drs. Ignasius, SH, M.Si Kepala Biro Organisasi Setda Prov. Kalbar
44 Drs. Bachtiar, M.Si Kepala Biro Pengelolaan Keuangan Setda Prov. Kalbar
45 Kartius, SH, M.Si Kepala Biro Pengelolaan Asset Setda Prov. Kalbar
46 Drs. H. Soezarsono Soekran Kepala Biro Umum Setda Prov. Kalbar
47 Dr. Gede Sandjaja, Sp.BO Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soedarso Prov. Kalbar
48 Drg. Oscar Primadi, MPH Direktur Rumah Sakit Jiwa Prov. Kalbar
49 Drs. Nuardi Hefni Sekretaris KORPRI Prov. Kalbar
50 Drs. Moses Ahie, M.Si Kepala Satuan Pol. PP Prov. Kalbar

Baca Selengkapnya..

Lima Jam Boleh Arak Naga


Oleh Andika Lay

Puncak perayaan Cap Goh Meh yang jatuh pada 9 Februari 2009, Pemerintah Kota Pontianak akan mengakomodir pagelaran naga dan barongsai yang merupakan tradisi warga Tionghoa dalam merayakan Imlek di hari ke-15 atau yang lebih dikenal dengan sebutan Cap Goh Meh.

Sesuai Kepres Nomor 6 Tahun 2000 tentang pencabutan Intruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China dalam poin ketiga menyebutkan dengan ini penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat China dilaksanakan tanpa memerlukan izin khusus sebagaimana yang berlangsung selama ini.
“Pemkot memberikan waktu selama lima jam untuk warga Tionghoa untuk menggelar arak-arakan naga di Kota Pontianak. Arak-arakan naga mesti diakomodir agar puncak perayaan Cap Goh Meh tidak mengganggu aktivitas yang lain,” ungkap Walikota Pontianak, H Sutarmidji, Kamis (29/1) usai menerima puluhan perwakilan Ormas yang menolak arakan naga.
Kata Sutarmidji, ritual ini memang perlu dilakukan karena bertujuan tolak bala, dan khusus pemadam kebakaran untuk mencari dana amal. Untuk itu, Pemkot tidak perlu mengeluarkan izin khusus arakan naga dan barongsai tersebut. Dan rute arak-arakan naga dan barongsai itu dipusatkan di Jalan AR. Hakim (lapangan PSP) serta sepanjang Jalan Gajahmada. Mulai pukul 13.00-18.00 WIB atau selama lima jam.
“Tapi kita tetap melarang tatung, karena tatung tidak termasuk yang telah kita bahas, maka akan ada tindakan penghentian apabila ada warga yang mengarak tatung,” tegas Sutarmidji.
Mantan Wakil Walikota ini kembali menjelaskan, arak-arakan naga yang dikehendaki warga Tionghoa merupakan naga perkumpulan pemadam kebakaran, karena tujuan mereka melakukan arak-arakan ini untuk menambah dana operasional bagi pemadam kebakaran, karena pemadam kebakaran untuk kepentingan sosial.
“Kita minta pemahaman dari semua pihak, ini adalah keputusan untuk dapat disosialisasikan agar dapat dijalankan, dan akan ada tim yang memantau untuk mengevaluasi. Apalagi tahun depan merupakan tahun kunjungan wisata, dan keputusan ini sangat membawa dampak ekonomi,” ujarnya.
Sementara Kapoltabes Pontianak Kombes Pol Muhamad Asep Sahrudin mengatakan tidak akan terjadi apa yang diisukan selama ini, bila ada dukungan dan saling memahami. ”Saya harap semua berjalan lancar, artinya tidak ada jaminan apapun dan aparat Polri sudah siap untuk memantau kelancaran dalam pagelaran naga tersebut,” katanya.
Dia juga berpesan agar permainan naga tidak keluar jalur yang telah disepakati. ”Taatilah kesepakatan itu untuk kepentingan bersama. Bila ada yang keluar jalur, kita tidak segan-segan memberi teguran,” tegasnya lagi.

Baca Selengkapnya..

Tuesday, January 27, 2009

Mensyukuri Imlek


Foto Perayaan Imlek
Perayaan Imlek di Pendopo Gubernur Kalbar, Minggu (25/1) FOTO Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
=============
Senin (26/1) atau 2560 Imlek berdasarkan penanggalan China, masyarakat Tionghoa yang menganut agama Katolik berduyun-duyun mendatangi gereja untuk menghadiri misa Imlek.

Sama dengan di tempat lain, setiap tahun baru Imlek, atau tahun baru kalender China, Gereja Katolik di Pontianak selalu menyelenggarakan perayaan misa khusus Tahun Baru Imlek.
Dua gereja yang selalu dipadati saat Imlek tiba, yakni Gereja Gembala Baik di kawasan pelabuhan Shenghie dan Gereja Katedral Santo Yoseph.
Di Gereja Katedral, misa Perayaan Tahun Baru Imlek dipimpin langsung Uskup Agung Pontianak, Mgr. Hieronymus Bumbun, OFM.Cap didampingi Pastor Petrus Rustandy, OFM.Cap.
Dengan hiasan dan pakaian bercorak oriental yang serba merah, termasuk bunga mei hwa, lampion serta pernak pernik bergambar shio kerbau, menghiasi setiap ruang gereja. Lagu puji-pujian pun berirama Mandarin.
Simbol kerbau karena tahun baru ini adalah shio kerbau. Bila shio kerbau, dalam setiap usaha kita mesti keberja lebih keras lagi. Walau kerja keras, tapi peluang keberuntungan tetap ada. Begitu kata tetua-tetua Tionghoa mengomentari tahun kerbau ini.
Usai misa, Pastor Petrus Rustandy membagi-bagikan jeruk keberuntungan yang sudah dikerkati kepada umat.
Setiap umat mendapat dua buah jeruk. Mereka percaya dengan menerima buah jeruk yang sudah diberkati itu akan mendatangkan kebaikan dan keberuntungan.
Ada satu hal yang khas dalam perayaan imlek, yakni bagi-bagi angpao. Imlek dan angpao tidak bisa dipisahkan. Keduanya seperti Yin dan Yang. Saling melengkapi. Bila tahun baru China atau Imlek tiba, anak-anak pasti senang. Sebab mereka pasti dapat angpao dari orang tua, paman, kakak dan orang-orang yang mampu.
Demikian juga di kelenteng-kelenteng atau vihara, malam menyambut tahun baru Imlek selain dipadati umat Konghucu yang akan bersembahyang, juga berjubel kaum duafa yang menantikan pembagian untuk mendapatkan angpao dari orang-orang yang mampu atau berkecukupan.
Memberi angpao adalah berbagi kesenang. Berbag kebahagiaan terutama dengan anak-anak dan orang yang kurang mampu. Sehingga setiap menyambut tahun baru Imlek, di kelenteng-kelentang atau vihara selalu dipadati kaum duafa tersebut.
Tradisi bagi-bagi angpao juga ada di gereja Katolik. Lewat siaran televisi nasional, kita bisa saksikan Uskup Pangkalpinang Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD membagi-bagikan angpao setelah memimpin perayaan misa Tahun Baru Imlek 2560.
Misa khusus untuk warga keturunan Tionghoa di Gereja Katolik Santo Petrus Lubukbaja, Batam itu berlangsung khidmat. Usai misa dilanjutkan dengan pembagin angpao kepada umat yang ikut merayakan misa Imlek.
Syukuran atau doa agar di tahun yang baru kehidupan bisa lebih baik lagi, sebetulnya tidak hanya dilakukan warga Tionghoa yang Katolik saja, tapi semua warga Tionghoa. Tentu bentuknya macam-macam, sesuai agama dan kepercayaannya. Kalau yang Khonghucu mereka bakar hio di kelenteng, Budha bakar hio di vihara-vihara. Demikian juga dengan Tionghoa yang Islam, mereka pasti mensyukuran Imlek itu dengan caranya masing-masing.
Sedangkan kehadiran naga dan barongsai itu adalah untuk tolak bala, mengusir roh-roh jahat agar tidak mengganggu keharmonisan hidup manusia. Gong Xi Fat Cai.

Baca Selengkapnya..

Friday, January 23, 2009

Ketika Hotel Penuh


Oleh Tanto Yakobus

Dari tahun ke tahun. Dari Imlek ke Imlek. Sepertinya sudah mentradisi masyarakat keturunan Cina yang hendak merayakan Imlek menyempatkan diri untuk pulang kampung. Dan bila mereka mudik, keluhannya satu. Susah mendapatkan penginapan. Semua hotel penuh. Mulai hotel berbintang hingga kelas melati.

Tradisi mudik Imlek tersebut sudah berlangsung sejak lama. Bahkan sejak jaman Orde Baru—walau terjadi pelarangan terhadap aktivitas yang berbau Cina, masyarakat keturunan—yang menyebut dirinya—Tionghoa, yang berasal dari Singkawang dan Pontianak tetap merayakan Imlek di tengah keluarga mereka.
Khsusus di Singkawang, sejak pekan lalu semua kamar hotel sudah penuh dipesan calon penghuni. Mereka tidak hanya datang dari Semarang, Jakarta dan Surabaya saja, tapi warga Singkawang yang merantau di Taiwan, Hong Kong dan Singapura balik kampung merasakan Imlek bersama keluarga.
Maka tak heran, setiap Imlek di Singkawang selalu meriah. Masyarakat Tionghoa yang merantau pasti pulang kampung merayakan Imlek dan Cap Go Meh di kota kelahirannya.
Kini perayaan Imlek dan Cap Go Meh menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi para turis baik lokal maupun manca negara.
Dan kota yang menjadi tujuan mereka untuk bisa menyaksikan perayaan Imlek secara semarak dan meriah adalah Kota Singkawang. Sebab di kota Amoy itu tradisi perayaan Imlek selalu meriah dari tahun ke tahun.
Kemeriahan perayaan yang menampilkan berbagai atraksi naga, barongsai dan tatung itu bisa menyedot perhatian ribuan bahkan jutaan pasang mata.
Tapi sayang, momentum itu tidak dibarengi dengan infrastruktur pendukung, macam hotel dan berbagai bentuk penginapan lainnya.
Hampir setiap Imlek kita mendengar keluhan kurangnya fasilitas hotel itu. Hunian hotel penuh. Tidak ada tempat penginapan. Akhirnya warga dengan sukarela menyediakan rumah mereka untuk dijadikan penginapan dadakan.
Nah, bila peluang itu dikelola dengan baik, bukan saja mendatangkan keuntungan dari kunjungan wisatawan itu saja, tapi perekonomian masyarakat sekitar juga akan meningkat. Sebab laju perputaran uang di Kota Seribu Kelenteng itu semakin kencang, bersamaan dengan kencangannya tingkat kunjungan orang. Baik yang mudik Imlek maupun orang-orang yang sekedar datang menyaksikan atraksi naga, barongsai dan tatung itu.
Peluang sudah di depan mata, tinggal kita apakah bisa menangkap peluang itu atau tidak. Entahlah. Gong Xi Fat Cai.

Baca Selengkapnya..

Siti Nurrofiqoh, Pejaung Buruh


"Mbak Fiqoh" begitu ia disapa--adalah penjahit dan aktivis. Dia ketua umum Serikat Buruh Bangkit di Tangerang. Kerja sampingannya, di Yayasan Pantau, mengurus training serta mengerjakan kerja kantor. Dia juga sering merasa malu karena dulu kurang beruntung bisa sekolah macam kita. Mbak Fiqoh hanya lulusan sekolah dasar. Tapi kecerdasan dan ketrampilannya tak kalah dengan mereka yang lulus universitas.

PENGANTAR: Pada tanggal 23 November 2006, saya bersama empat rekan redaktur (Nur Iskandar, Aleksander Mering, Yusriadi dan Hairul Mikrad) dipecat dari Harian Equator (Jawa Pos Grup) di Pontianak, karena dianggap partisan politik Dayak menjelang pilgub Kalbar (15 November 2007). Saya termasuk rajin mempublikasikan tokoh-tokoh tertentu diantaranya, M Akil Mochtar (kini Hakim Mahkamah Konstitusi), Cornelis (kini Gubernur Kalbar), yang masuk daftar blacklis di media tersebut.
Usai dipecat, banyak tawaran kerja di beberapa media Jakarta (cetak dan elektronik). Tapi awal Januari 2007, saya lebih memilih belajar di Yayasan Pantau. Saya ingin mendalami tentang kepenulisan narasi di Pantau. Di Pantau, saya bertemu Siti Nurrofiqoh, salah seorang staf di kantor itu yang ceritannya jauh lebih buruk dari saya. Dia sudah 10 kali dipecat, karena membela kepentingan buruh.
"Mbak Fiqoh" begitu ia disapa--adalah penjahit dan aktivis. Dia ketua umum Serikat Buruh Bangkit di Tangerang. Kerja sampingannya, di Yayasan Pantau, mengurus training serta mengerjakan kerja kantor. Dia juga sering merasa malu karena dulu kurang beruntung bisa sekolah macam kita. Mbak Fiqoh hanya lulusan sekolah dasar. Tapi kecerdasan dan ketrampilannya tak kalah dengan mereka yang lulus universitas.
Jumat (23/1) pagi, saya sengaja datang awal ke kantor cek email. Sudah menjadi kebiasaan, saya tidak pernah melewatkan setiap email Mas Andreas Harsono, sementara yang lain termasuk spam kadang saya abaikan dan tidak membukanya sama sekali. Dan beruntung sekali pagi itu saya menemukan tulisan Mbak Figoh yang menurut saya sangat luar biasa untuk ukuran Mbak Figoh. Dia bercerita tentang tahun baru dan kesepian. Dia gundah dengan usianya yang semakin tinggi, belum mendapatkan tambatan hati.
Terima kasih Mas Andreas telah melemparkan tulisan Mbak Figoh ke milis Komunitas Pantau. Tuliasn itu saya publikasikan kembali di blog saya agar bisa berbagai dengan rekan-rekan di Borneo Raya ini. Selamat membaca!
Salam, Tanto Yakobus
***
Tahun Baru Kali Ini
Oleh Siti Nurrofiqoh

Waktu. Ia terus bergulir tanpa seorang pun mampu mencegahnya. Pelan namun
pasti, masa hidup manusia terlewati dalam keniscayaan. Siapapun tak bisa
menawar. Maka seharusnya, ia begitu berharga.
Banyak manusia merasa resah, ketika menyadari setengah abad masa hidupnya
terlewati. Banyak yang merasa tak rela, ketika pertambahan usia, memberi
gelar tua. Mereka menghibur diri untuk tetap merasa muda, dan kadang
menjadi sensitif tatkala sebuah panggilan menyadarkan usia yang
sebenarnya. Jika mungkin, waktu ingin diputar kembali.
Namun, dalam ruang yang lain, banyak manusia yang dengan kesadaran,
berharap agar waktu cepat berlalu. Jam serasa melaju sangat lamban. Di
pagi hari mendamba datangnya siang, di siang hari mengharap segera sore,
lalu datang malam, dimana jam kerja berakhir.
Ratusan, bahkan ribuan manusia, berada dalam keadaan yang bukan atas
pilihannya. Bergelumut kepulan debu, berbaur bersama bulu-bulu. Amisnya
bulu asli, masih terasa lebih baik dibanding bulu buatan. Mereka bilang,
bulu buatan, kimianya tajam untuk paru-paru.
Cepatlah siang, cepatlah sore, cepatlah datang malam, agar segera pulang.
Segera tinggalkan kepulan debu-debu dan bau amisnya bulu-bulu. Itulah
harapan di balik mulut-mulut bermasker. Setiap bulu-bulu dijejalkan ke
dalam jaket, setiap kali pula debu masuk ke pernafasannya. Sesak. Itulah
salah satu proses pembuatan jaket yang didesain untuk negara bermusim
gugur. Amerika, Jepang, Korea, Canada dan lainnya.
Sebagian lagi, diapit dinamo mesin-mesin, berpacu dengan kecepatan
langkah-langkah jarum, yang kalau patah akan memercikkan api, akibat
panasnya gesekan tanpa henti. Mata temanku, menjadi cacat karenanya. Namun
menjalankan mesin jahit masih lebih beruntung dibanding mesin lobang
kancing yang pisau tajamnya bisa membelas telapak tangan. Sudah banyak
korban, dan aku berdoa agar jangan sampai memegang mesin itu. Yah, doa
yang tamak. Masih saja, aku memikirkan keselamatan diri sendiri dan
membiarkan yang lain untuk ditumbalkan.
Atap terbuat dari seng tanpa plafon, memancarkan hawa panas diterpa sinar
matahari. Ditambah dinamo mesin-mesin dan lampu-lampu pabrik yang
tergantung rendah di atas kepala, membuat tubuh terus mengucurkan
keringat. Sapu tangan dalam aneka warna, (selampek, kami menyebutnya) ,
menempel di di atas kepala. Maksudnya untuk melindungi panas, meski uap
basahnya terasa mendidih menetes di kulit.
Setiap detik, desing mesin berbaur dengan teriakan demi teriakan mandor.
Dari tanganku harus selalu melahirkan karya, yang disebut produksi.
Kerah-kerah terpasang, manset tersambung, saku tertempel. Tidak boleh
meleset selangkah jarum pun, tidak boleh miring barang semili pun. Semua
harus sesuai standar merk ternama berkualitas internasional. Levi Strauss.
Nike. Adidas..
Begitulah kulewati siangku. Memikirkan targetnya, kualitasnya,
komponennya, menjadi bagian mimpi malamku. Temanku yang sudah bersuami,
sering kehilangan nafu berhubungan badan dengan suaminya, karena
pikirannya terganggu. Dalam mimpinya ia memncari-cari komponen baju yang
belum ketemu. Ia pun terbangun, berjalan sambil menyebut-nyebut barang
itu. Paginya, ia panggil kedua anaknya yang lucu-lucu, Kelvin dan Felix
dengan nama komponen baju.
Semua untuk uang. Yah, uang. Tidak yang lain. Aku perlu makan. Makan pagi
agar bisa bekerja hingga siang. Makan siang, untuk mengganjal perutku
ketika sarapan pagiku sudah tergerus hingga jam duabelas saat sirene
menjerit-jerit tanda istirahat. Dan untuk melanjutkan pekerjaanku hingga
malam hari.
Selain nasi, bakwan dan ubi rebus menjadi makananku, juga teman-temanku.
Seribu dapat tiga potong. Temanku yang latah, mulutnya sering reflek
berdoa buat si mamang pedagang ubi. Ia tak bisa membayangkan jika si
mamang absen berjualan. Melihat gerobaknya di depan gerbang, ada kelegaan
tersendiri.
Ribut-ribut kecil terjadi ketika tangan-tangan tak sabaran mengerubuti
gerobak. Semua ingin memilih. Lalu, tangan-tangan gemetar segera
membelah-belah ubi panas yang masih mengepulkan asap. Gumpalan-gumpalan
besar segera berdesakan melewati tenggorokan, membuat muka-muka besemburat
merah. Urat-urat besar menyembul di kiri-kanan leher seperti belut
sersesat di dalam kulit. Sesaat, ada kepuasan yang seolah totalitas.
Ada suatu masa, ternyata hidup tidak hanya sekedar mengisi perut. Naluriah
keperempuananku merasa butuh tampilan yang lain, untuk seorang laki-laki
di pertigaan jalan yang selalu menjumpaiku setiap sore, kadang juga malam.
Di sanalah ia menunggu. Dan hati kecilku kadang mengutuk seragamku. Hem
gomrong dan celana begi, yang menyembunyikan keindahan tubuhku.
Seandaninya saja, aku bisa memakai celana model cantik buatanku itu… Aku
berkhayal. Entah ini disebut manusiawi atau ambisi. Merk mahal, katanya
bisa menaikkan gengsi pemakainya. Apa lagi disaat jatuh cinta begini.
Tapi, toh aku tak bisa memakainya. Ia segera menjadi sesuatu yang asing
ketika terpajang di outlet mall-mall ternama. Aku hanya mendapati
debu-debunya yang masuk dipernafasan, lekat di pori-pori kulitku, dan
menempel di bajuku hingga terbawa masuk ke kontrakan.
Berkali-kali kakiku selalu menyambangi outlet barang terebut setiap kali
aku ke mall untuk mencari obralan kebutuhan kamar mandi. Berkali-kali
kudekati karton bertulsikan discount 30 – 50%. Tapi, masih saja, tak
kurang dari 200 ribu. Jelas, tak terjangkau oleh isi kantongku.
Kini usiaku sudah 30 tahun. Berarti, sudah 13 tahun kuhabiskan umurku di
pabrik itu. Ada kegelisahan lain, ketika rasa ngilu mulai menjalari di setiap
persendian. Badan mudah lelah. Kepala sering pusing. Badanku gampang sakit
sekarang.
Keresahan lain, ketika kusadari, selama di perantauan tak ada hasil yang
bisa kusimpan. Gaji demi gaji yang kuterima setiap bulan, sekedar menjadi
jembatan ringkih untuk mengantarkan nafas demi nafas menyambung hidup
dalam setandar KHL (Kebutuhan Hidup Layak) menurut pemerintah yang aku tak
paham. Yang kutahu, betapa pusing memutar otakku untuk membelanjakan uang
agar makan tak lebih dari sepuluh ribu sehari. Tapi nasi sayur dan tempe
orek di warteg sudah empat ribu lima ratus. Itu artinya, aku hanya perlu
makan dua kali. Teman-teman bilang, belum gajian pusing, sudah gajian
bingung.
Sesekali aku masih ke mall. Untuk mencari sabun atau shampo yang
berbandrol beli lima gratis 1. Temanku sering memasukkan apel merah dan
buah kiwi. Awalnya aku ternganga dibuatnya. Ia hanya tersenyum, dan
barang-barang itu segera keluar dari keranjang menjelang antrian di kasir.
Sesekali juga hatiku, mungkin lebih tepat egoku, tiba-tiba memberontak.
Saat itu tanganku memegang sebuah gaun. Bahan halus berbandrol Rp 129.000.
Dan aku ingin memilikinya. Meski hati berkata tak mungkin, tetap saja
kubawa baju itu memasuki kamar pas. Dan memang batapa luwesnya baju itu
membalut tubuhku. Rasanya, aku semakin anggun saja. Namun akhirnya,
senyuman hambar mengiringi gaun warna biru itu terayun lagi di tempatnya
semula.
Minggu berikutnya aku keturutan memakai model itu. Banyak teman memgagumi,
modis juga meski imitasi. Dan warnanya memudar oleh diterjen di bak
pencucian. Namun ia telah berjasa dalam kencanku yang pertama. Untung saat
kupakai cuaca sedang berpihaak denganku. Cuaca baik-baik saja. Tidak turun
hujan.Ya, tetap saja beruntung.
Minggu depan, kontrakan harus dibayar. Semoga, gajiku di pabrik tidak
ditunda. Kontrakan bisa membuatku menemukan wilayah pribadi. Kebutuhan
akan ini, sangat terasa ketika aku harus nebeng ke sana kemari saat jadi
pangangguran tanpa tempat tinggal. Ketika itu, kebutuhan fisik, tak lagi
menjadi hal penting. Saat itu, bahkan serasa tak berhak atas diri sendiri.
Makan nasi, seperti makan duri.
Aku butuh ruang. Yang penting, bisa untuk berbaring. Aku butuh ruang, agar
ada tempat menaruh barang-barang, tak mengganggu orang lain untuk berbagi
ruang. Sama-sama merasa tak nyaman.
Di bawah atapnya, dibalik pintunya, kudapatkan duniaku. Dunia yang, semua
terserah aku. Dunia yang, menyimpan rapi lapar dan kenyangku, dan aku tak
perlu malu. Dunia, yang kadang bisa sepi kadang juga full musik seharian
jika sedang datang bahagia. Di balik pintu tertutupnya, aku bebas
mondar-mandir, bergerak tanpa komando atau perintah mandor. Setiap saat
bisa kubuka dan kututup pintunya, tak perlu menghitung detik menunggu bel
berbunyi.
Memang tak sepenuhnya. Kadang ada ribut-ribut dari sebelah kanan tetangga,
istri dihajar suami, atau jeritan anak minta jajan dihajar ibunya. Selalu
saja ada yang namanya toleransi. Tentu, aku harus matikan TV.
Besok, kuharus bekerja lagi. Target sudah menunggu. Kontainer sudah
terparkir di lokasi pabrik. Saat-saat ekspor adalah saat paling penting,
lebih tepatnya genting. Apalagi menjelang libuaran. Pabrik tak mau rugi
akibat target ekspor tak terpenuhi.
Buruh tidak boleh sakit, apalagi anak, suami, lebih-lebih kalau hanya
orang tua. Mati juga bukan hal yang penting, apalagi kalau masih sekarat.
Di luar sana, masih banyak lulusan baru yang masih segar-segar dan tak
menuntut. Begitu kata mandorku berulang kali, setiap hari, seperti robot
yang kekurangan program.
Dan tetangga line-ku, seorang kawan tersungkur di mesinnya, dengan darah
segar menyembur dari tenggorokannya, akibat tak mempedulikan rasa sakit
yang dideritanya.
Kepanikan tergambar di wajah mandor. Ia segera mengamankan korban, mencari
pengganti agar proses produksi tak terhenti. Kali itu, kusaksikan
kesadaran nurani kemanusiaannya tampil secara utuh. Namun segera saja
salah tingkah lebih dominan. Dari upaya menyelamatkan korban dan sikap tak
mau dipersalahkan saling mendesak ingin didahulukan, menyentak kesadaran.
Kegoyaahan yang sempat tak terkontrol segera diraih dengan bersikap
wibawa, agar bawahan tidak bersakwa sangka. Padahal bawahan tahu, bahwa
mereka juga korban dalam kadar yang berbeda.
Di suatu sore menjelang pergantian tahun, melalui televisi kulihat
penggalan tanyangan persiapan para presenter menyambut tahun baru. Di
Monas, di Lippo Karawaci dan di mall-mall besar terlihat semarak menyambut
perayaan itu. Usiaku kini sudah 32 tahun. Akankah hidup terus begini?
Pemikiran itu tiba-tiba menyeruak di benakku tanpa kendali. Baru kusadari,
urat-urat besar bertonjolan pada tangan dan kaki. Asam urat sudah mulai
menjelajah tubuhku.
Kudekatkan diri pada tembok. Kuambil benda yang sudah lama tak ingin
kumelihatnya berlama-lama. Sebuah wajah menyembul muram dicermin kusam
penuh debu. Kucoba kerlingkan mata mengenang masa mudaku, namun begitu
beku. Pasangan? Kapan mencarinya…? Minggu pun, kalau harus lembur tak bisa
menentang. Kuhitung uang dalam dompet plastik, tinggal lembar-lembar
ribuan menunggu saat gajian.
Ah. Selalu saja begini. Kuusap kepala kodok dari bahan lempung. Itu
celenganku. Kuterka jumlahnya. Tak mencapai 300 ribu. Apa yang kupunya?
Bagaimana jika aku sakit dan harus opname? Bagaimana jika aku punya suami
dan melahirkan caesar? Aku tak bisa berpikir, membayangkan pun tak berani.
Tiba-tiba di hadapanku, bayangan kerumunaan orang berdesakan. Wajah-wajah
lusuh dibalik bedak menornya. Bedak tebal dalam sapuan kasar dari kosmetik
murahan, bibir biru dibalik lipstik gocengan. Rasanya baru kemarin
kusaksikan wajah segarnya, ketika kami sama-sama menunggu di pintu
gerbang, ketika sama-sama menceritakan tempat asal dan tahun lulusan,
sambil harap cemas menunggu panggilan, sebelum akhirnya sama-sama
menyandang gelar buruh pabrik.
Di pabrik itulah duniaku, dunia kami. Dunia yang, sejauh mata memandang,
hanya terlihat tembok-tembok tebal. Dunia dimana, kuhabiskan waktu untuk
berproduksi.
Datangnya pagi, seringkali menjadi momok yang tak dikehendaki.
Bertambahnya waktu, seolah bukan sebuah anugerah lagi. Apa arti kehidupan
ini? Aku tak mengerti..
Di televisi, presenter muda mulai menyapa pemirsa. “Happy New Year, Heppy
New Year!” Gebyar kembang api berpendaran di udara dalam aneka warna.
”Selamat Tahun Baru 2009....! Yeee!”. Ya, malam ini tahun sudah berganti.
Tapi sepertinya, tak akan ada yang berubah.***

Jakarta, Desember 2008

Baca Selengkapnya..

Thursday, January 22, 2009

124.829 Orang Pemilih di Kabupaten Sekadau


Oleh Tanto Yakobus

Jadwal pelaksanaan pemilu 2009 sebagaimana diatur dalam Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) nomor 20 Tahun 2008, mesti dilakukan tahapan-tahapan pemilu, seperti diantaranya, penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT) di tingkat kabupaten/ kota se-Indonesia. Dan untuk Kabupaten Sekadau, DPT telah ditetapkan pada 10 Oktober 2008 lalu.

Menindaklanjuti hasil keputusan tersebut, KPU Kabupaten Sekadau sudah menetapkan 124.729 orang sebagai DPT di kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Sanggau tersebut pada pemilu 2009 mendatang.
Rinciannya adalah sebagai berikut, pemilih yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 64.387 orang, sementara pemilih berjenis kelamin perempuan sebanyak 60.442 orang.
Daftar pemilih tersebut tersebar di tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Nanga Mahap 15.521 pemilih dengan 52 TPS, Nanga Taman 17.612 pemilih dengan 56 TPS, Sekadau Hulu 17.495 pemilih dengan 60 TPS, Seladau Hilir 38.647 orang pemilih dengan 113 TPS, Belitang Hilir 13. 889 orang pemilih dengan 59 TPS, Belitang 8.075 pemilih dengan 26 TPS dan Kecamatan Belitang Hulu 13.590 orang pemilih dengan 53 TPS.
Ketua KPU Kabupaten Sekadau, Subandrio, menjelaskan, proses penetapan pendaftaran pemilih hingga pada penetapan daftar pemilih tetap sudah dilakukan melalui proses yang panjang dan sudah mengkikuti prosedur sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang nomor 10 Tahun 2008 tersebut.
Termasuk soal proses pendaftran pemilih lanjut Suban sebelumnya diawali dengan penyerahan daftar penduduk potensial pemilih pemilu 2009 atau DP4.
"Untuk daerah Kabupten Sekadau sendiri diserahkan langsung oleh Bupati Sekadau, Simon Petrus, pada tanggal 5 April 2008 yang lalu,” jelas mantan aktivitas mahasiswa itu.
Lebih lanjut Suban mengatakan, setelah menerima daftra tersebut dari bupati, KPU langsung membentuk lembaga penyelenggara seperti PPS dan PPK dan petugas pemuktahiran data pemilih/ PPDP. Proses pemuktahiran tersebut diangkat melalui 419 TPS yang ada di Kabupaten Sekadau.
"Data itu selanjutnya dimuktahirkan oleh petugas pemuktahiran, termasuk mencoret nama-nama yang sudah meninggal, pindah alamat, atau sudah tidak memenuhi syarat sebagai pemilih serta memasukkan nama-nama yang sudah memenuhi syarat, akan tetapi belum terdaftar di dalam daftar penduduk potensial pemilih pemilu 2009," papar Suban menjelaskan.
Selanjutnya kata Suban, daftra pemilih yang sudah disampaikan ini, merupakan daftar yang sudah valid.
"Kami berharap bahwa daftar pemilih tersebut sudah valid dan semua masyarakat yang sudah memenuhi syarat terdaftar sebagai pemilih, karena kita dalam pendataan pemilih sudah melibatkan semua pihak termasuk partai politik," kata Subandrio.□

Baca Selengkapnya..

Monday, January 19, 2009

Free Trade Zone


Oleh Tanto Yakobus

Senin (19/1) kemarin, Presiden SBY meresmikan kawasan perdagangan bebas atau Free Trade Zone (FTZ) di kawasan Pantai Coastarina, Batam.
Dengan diresmikannya FTZ tersebut diharapkan dapat menjadi pilar perkembangan kawasan ekonomi dunia baru di Asia.

Dengan kawasan perdagangan bebas yang meliputi Batam, Bintan dan Karimun (BBK) tersebut, sangat memungkinkan menjadikan daerah itu sebagai kekuatan ekonomi baru di dunia.
Pilihan BBK menjadi kawasan perdagangan bebas, karena ketiga pulau itu memiliki letak geografis yang strategis di jalur perdagangan Indonesia. Kedepan diharapkan BBK dapat menjadi "pintu gerbang" masuknya investasi luar negeri, sentra industri dan pusat pelayanan lalu lintas kapal.
Untuk meningkatkan perkembangan kawasan perdagangan bebas BBK, pemerintah Indonesia juga melakukan kerja sama dengan pemerintah Singapura.
Terus bagi kita di Kalimantan Barat, kita juga boleh bermimpi membuat kawasan perdagangan bebas. Dan lokasi yang sangat memungkinkan dijadikan kawasan perdagangan bebas di Kalbar adalah Entikong.
Bila FTZ di BBK mengandalkan pelabuhan laut sebagai kekuatan utamanya, maka Entikong lebih mengandalkan pelabuhan darat sebagai kekuatannya. Sekarang tinggal apakah kita mau atau tidak. Itu saja.
Modal kita, jalan darat sudah menembus tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam.
Peluang Entikong dijadikan FTZ di Kalbar, sama besarnya seperti Batam. Sebab disitu bisa dijadikan pintu masuk investasi luar negeri, baik ke Kalbar maupun Kalteng—lewat jalur Trans Kalimantan kelak.
Walau belum ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas, tapi praktik di Entikong sebetulnya sudah menjurus ke sana. Sebab lalu lintas barang dan orang semakin hari intensitasnya semakin tinggi.
Lalu lintas orang dan barang itu bukan hanya untuk tujuan Indonesia-Malaysia saja, tapi Indonesia-Malaysia-Brunai.
Bila Jalan Trans Kalimantan kondisinya mulus, maka prospek kemajuan ekonomi masyarakat juga semakin meningkat. Sebab barang produksi masyarakat bisa langsung dijual ke luar negeri lewat FTZ Entikong kelak.
Sekarang tinggal keuletkan kita dan kemauan pemerintah daerah menjadikan Entikong sebagai kawasan perdagangan bebas di Kalimantan. Bila mimpi itu terwujud, maka bisa jadi lebih maju dari FTZ di kawasan BBK.
Tentu untuk mendukung FTZ di Entikong itu, perlu kepedulian semua pihak. Terutama pihak swasta dan dunia usaha harus berbenah, mulai dari perusahaan yang bergerak di biro perjalanan hingga perusahaan ekspor-inpor. Tentu dukungan pemerintah daerah sangat diperlukan, terutama terkait perizinan yang tidak berbelit-belit. Bila kondisinya sudah siap, maka pemerintah pusat akan melihatnya apakah layak atau tidak kawasan Entikong itu dijadikan kawasan perdagangan bebas di Kalimantan. Semoga!

Baca Selengkapnya..

Friday, January 16, 2009

Mengapa Harga Sembako Tak Turun?


Oleh Tanto Yakobus

Turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar sejak tanggal 15 Januari lalu, ternyata tidak berpengaruh terhadap harga kebutuhan pokok masyarakat.
Bahkan menjelang tahun baru Imlek ini, harga kebutuhan pokok cenderung naik. Padahal ini kali ketiga Pemerintah SBY-JK menurunkan harga BBM.

Penurunan pertama pada 1 Desember 2008 dimana harga BBM semula Rp6.000 per liter turun menjadi Rp5.500, dan tanggal 13 Desember diturunkan lagi menjadi Rp5.000. Terakhir pada tanggal 15 Janurai, baik premium maupun solar turun menjadi Rp4.500 per liter.
Namun penurunan premium dan solar tersebut tidak diikuti dengan penurunan harga sembako. Harusnya para pengusaha merespon penurunan BBM tersebut dengan menurunkan harga bahan kebutuhan pokok masyarakat tersebut.
Sebelumnya masyarakat mengeluhkan melambungnya harga sembako karena pemerintah menaikkan harga BBM. Sudah menjadi bahasa ”pasar” bahwa bila BBM naik, maka sembako otomatis naik pula.
Sekarang kita patut bertanya pula kepada para pengusaha, pedagang maupun pengecer. Mengapa ketika harga BBM diturunkan tidak diikuti dengan penurunan harga sembako di pasaran?
Sebab logikanya, biaya produksi maupun transportasi sudah turun. Kok kenapa harga sembako masih mahal?
Tentu pertanyaan tersebut tidak mudah menjawabnya. Banyak faktor yang dikemukakan para pengusaha. Lagian mana ada pengusaha yang mau rugi? Namanya juga pengusaha, pasti mengejar keuntungan. Kita masyarakat hanya bisa mengeluh dan mengeluh. Dan giliran yang disalahkan pastilah pemerintah.
Sebetulnya pemerintah sudah sangat membantu. Bukan hanya BBM yang diturunkan, tapi juga taraf dasar listrik (TDL). Tujuannya, jelas membantu masyarakat golongan ekonomi lemah.
Tapi sayang, kebijakan pemerintah tersebut tidak diikuti para pengusaha, asosiasi maupun pelaku ekonomi lainnya. Seperti ongkos angkutan, walau pemerintah sudah minta diturunkan, namun pengusaha angkutan yang tergabung dalam Organda masih keberatan. Alasan spare part mahal.
Bila kebijakan pemerintah tidak diikuti para pengusaha, maka sama saja memberatkan masyarakat. Padahal butuh BBM dalam jumlah besar adalah para pengusaha tadi. Merekalah yang menikmati kebijakan itu.
Singkat kata, apa pun kebijakan pemerintah yang menikmati keuntungannya selalu para pengusaha, sedangkan masyarakat selalu menjadi korban ketidakadilan itu.
Kondisi ekonomi yang belum stabil akibat krisis global ini, harusnya para pengusaha punya hati nurani. Menyikapi kebijakan pemerintah dengan menurunkan harga sembako. Sebab yang menentukan harga sembako adalah pasar. Dan pasar itu dikuasai pengusaha dan kalangan industri.
Hemat kita, dengan turunnya harga BBM, akan mampu menekan kenaikan harga barang akibat mahalnya distribusi atau biaya angkut dari daerah asal bahan baku ke daerah pemasaran.
Tapi itu hanya teori di atas meja. Lihat saja harga di pasaran, tetap saja mahal. Terlebih menjelang Imlek ini.

Baca Selengkapnya..