Oleh Hentakun
Bupati Sekadau, Simon Petrus, menerima award kategori perorangan dari Hotel Gajahmada Pontianak, yang diserahkan langsung General Manager Hotel Gajahmada Suhaili, disaksikan Wakil Pimpinan Redaksi Borneo Tribune, Tanto Yakobus, bertempat di G-lounge Hotel Gajahmada, Selasa (13/1) lalu.
Menurut Suhaili, penghargaan tersebut, sedianya diserahkan waktu peresmian Hotel Gajahmada dan Peony, naik status menjadi Hotel Bintang Tiga, Jumat (9/1), namun waktu itu, Bupati menghadiri perayaan Natal para Bupati dan Uskup se-Kalbar di Sintang bersama Gubernur Kalbar, Cornelis.
Pemberian award atau penghargaan ini juga tak terlepas dari kesetiaan Simon Petrus yang setia menggunakan jasa Hotel Gajahmada sebagai tempatnya menginap maupun acara-acara bupati lainnya.
Simon Petrus, tidak menduga akan menerima award tersebut. Dia mengaku senang karena tidak terbayangkan sebelumnya.
Memang, kata Simon Petrus dirinya maupun keluarga baik sebelum dan setelah menjadi Bupati Sekadau, tetap memilih Hotel Gajahmada sejak awal, karena senang dengan sistem manajemen yang mengutamakan pelayanan. Dalam hal kenyamanan dan keamanan juga diutamakan, selain itu, Hotel Gajahmada unik karena merekrut tenaga lokal, dan adanya keterpaduan antara pejabat struktural hotel.
“Saya tertarik dengan hal ini, saya merasa terlayani di sini, selama saya di sini belum ada keluhan,” ungkap Simon.
Simon Petrus juga mengucapkan selamat kepada manajemen Hotel Gajahmada dan Peony yang sudah menjadi Hotel Bintang Tiga, dan berharap menjadi motivasi positif dan menjalankan fungsi pelayanan yang lebih baik lagi.
Selain itu, Simon mengatakan bahwa dipilihnya Hotel Gajahmada sebagai tepat penginapan dia dan keluarganya karena letaknya strategis, yakni berada tepat di jantung kota. “Jadi kalau kita perlu makan misalnya, banyak sekali pilihan dan dekat-dekat,” katnaya.
Kembali Suhaili menjelaskan, sebetulnya yang menerima award tersebut, bukan hanya Bupati Simon Petrus, tapi juga ada badan usaha, pejabat maupun organisasi. “Kepada mereka itu, telah diserahkan pada malam syukuran kemarin. Sedangkan Pak Simon hanya dibaca saja dan sekarang menyerahkannya,” jelasnya lagi.
Thursday, January 15, 2009
Bupati Sekadau Terima Award
Diposting oleh Tanto Yakobus di 3:41 PM 1 komentar
Kabinet ‘Pelangi’ Cornelis

Oleh Tanto Yakobus
Gubernur Kalbar, Cornelis, konsisten dengan janjinya. Beberapa saat usai dilantik sebagai Gubernur Kalbar pada 14 Januari 2008 lalu, Cornelis mengatakan, tidak akan melakukan perombakan terhadap struktur organisasi perangkat daerah (SOPD) dengan alasan memberikan kesempatan satu tahun kepada para pejabat menyelesaikan tugas-tugasnya.
Dalam waktu satu tahun itu pula, akan dilakukan pemantauan apakah yang bersangkutan profesional atau tidak dalam bekerja. Sebab Cornelis sangat yakin orang yang profesional pasti loyal terhadap pimpinan dan orang yang loyal belum tentu profesional.
Dan itu selalu dikatakan Cornelis manakala ada kesempatan dia pidato. Bahwa pelantikan pejabat baru di lingkungan Pemprov Kalbar tepat setahun setelah pelantikan dirinya sebagai gubernur. Itu dibuktikan Cornelis dengan melantik pejabat eselon II, Rabu (14/1) kemarin. Pelantikan itu persis setahun Cornelis menjabat gubernur. Dan tanggal yang dipilihnya pun sama, yakni tanggal 14 Januari.
Perombakan tidak radikal. Masih ada beberapa wajah lama di kabinet Cornelis. Pejabat itu peninggalan Gubernur Usman Ja’far. Tentu mereka profesional. Namun tak sedikit pula wajah baru yang diambil dari akademisi dan kabupaten/kota di Kalbar.
Prediksi berbagai kalangan bahwa Cornelis akan melakukan perubahan mendasar terutama terhadap pejabat yang akan menempati pos-pos di eselon II, tidak terbukti. Hanya beberapa dinas yang ditempat wajah baru, diantaranya, Dinas Pendidikan. Cornelis menarik Kadis Pendidikan Kabupaten Sintang, Alexius Akim untuk mengantikan Ngatman sebagai Kadis Pendidikan. Sedangkan Ngatman sendiri menempati pos baru sebagai staf ahli gubernur bidang kemasyarakatan dan SDM.
Demikian juga dengan dinas kesehatan. Conelis menunjuk HM Subuh sebagai kadis kesehatan mengantikan Oscar Primadi. Oscar sendiri dipercayakan sebagai Direktur Rumah Sakit Jiwa. Sementara pos yang ditinggalkan Subuh ditempati pejabat baru, yakni Gede Sanjaya sebagai Direktur Rumah Sakit Provinsi Dokter Soedarso.
Pelantikan pejabat eselon II ini merupakan perubahan SOPD sesuai dengan PP No. 41/2007 tentang organisasi perangkat daerah. SOPD baru itu berupa 10 biro di Sekretariat Daerah Pemprov Kalbar, 17 dinas, 16 lembaga teknis daerah, Sekretariat KORPRI Provinsi Kalbar, Satuan Polisi Pamong Praja, Staf Ahli, Sekretariat DPRD Kalbar dan Sekretariat Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID).
Kita berharap dengan dilantiknya pejabat eselon II yang tak lain adalah orang-orang yang akan membantu Gubernur Cornelis dan Wakil Gubernur Christiandy Sanjaya dalam menjalankan roda pemerintahan di daerah, supaya cepat menyesuaikan diri dengan tugasnya itu.
Setelah pelantikan pejabat eselon II, tiga hari kedepan, Cornelis menjanjikan akan melantik pejabat eselon III. Pemilihan personel untuk menduduki jabatan eselon III, sama dengan eselon II, yakni mengutamakan profesionalitas.
Sebagai masyarakat awam, kita berharap pejabat yang ditunjuk jangan bangga dan terlena dengan jabatannya, tapi justru menjadi tantangan untuk membuktikan kemampuan dan profesionalitasnya. Akhirnya kita hanya bisa mengucapkan selamat bekerja.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 3:29 PM 0 komentar
Tuesday, January 13, 2009
Waspada Bencana
BENCANA REZEKI
Banjir yang melanda Kota Singkawang ternyata memberi rezeki bagi warga sekitar. Mereka menyediakan jasa penyeberangan dengan menggunakan sampan maupun rakit kayu. FOTO Mujidi/Borneo Tribune
==============
Oleh Tanto Yakobus
Pulau Kalimantan menurut para ahli geologi memang daerah yang bebas dari gempa bumi dan gunung berapi. Namun demikian, bukan berarti kita yang hidup di pulau terbesar ketiga di dunia ini, terbebas dari ancaman berbagai bencana alam tersebut.
Banyak ragam bencana yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi di daerah ini dan mengancam jiwa dan harga benda kita. Dan yang sudah dirasakan masyarakat saat ini adalah bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi Minggu dinihari lalu.
Di pantai utara mulai dari Singkawang sampai pesisir Sambas banjir kembali terjadi. Ini adalah banjir kedua terjadi di kawasan tersebut, setelah sebelumnya banjir juga merendam sebagian besar lahan pertanian yang memaksa penduduk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Menurut data satuan koordinasi pelaksana (Sakorlak) Bencana Kabupaten Sambas, pada banjir lalu terdapat ribuan pengungsi dan sejumlah lahan pertanian rusak. Tak sedikit pula padi yang mengalami puso. Pengungsian besar juga terjadi di Kota Singkawang.
Dan untuk wilayah pantai utara, kemarin bencana banjir dan tanah longsor kembali terjadi.
Akses menuju Kota Singkawang sempat putus total. Tanah longsor terjadi di empat titik. Yakni di Bukit Lirang, Kaliasin, Bukit H Hamzah dan Sedau. Akibatnya terjadi antrian kendaraan yang hendak ke Singkawang dan sebaliknya.
Pemerintah setempat berupaya membuka akses jalan dengan mengerahkan alat-alat berat guna mengerok tumpukan tanah yang menimbun badan jalan. Sementara banjir hampir merendam seluruh Kota Singkawang.
Bancana banjir juga terjadi di Kabupaten Landak, terutama di Kecamatan Air Besar. Sementara memang tidak ada dilaporkan korban jiwa. Tapi banjir tersebut telah merusak sejumlah fasilitas umum seperti jalan dan jembatan.
Belum lagi karena banjir tersebut masyarakt tidak bisa mencari nafkah. Maklum mereka sangat tergantung dengan alam. Bila kondisi cuaca buruk, apalagi sampai banjir seperti ini, jelas masyarakat tidak dapat melakukan aktivitas. Sementara mengharapkan bantuan dari para dermawan, jelas tidak sampai menjangkau mereka di pelosok daerah seperti itu. Bantuan biasanya terpusat pada tempat-tempat pengungsian di daerah-daerah pinggiran kota saja, sedangkan pedalaman selama ini tidak pernah mendapat bantuan dari.
Banjir yang terparah menerjang beberapa desa di Kecamatan Entikong. Bahkan dikabarkan empat rumah hanyut disapu banjir. Ini adalah banjir terparah yang pernah terjadi di Entikong. Selain rumah hanyut, aktivitas pemerintahan juga lumpuh.
Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di awal tahun 2009 ini patut diwaspadai. Kita harus sadar se sadar-sasdarnya, bahwa ulah kita merusak hutan selama ini yang menyebabkan alam murka. Manusia tanpa ampuh membabat hutan dan mengunduli bukit-bukit yang selama ini menjadi penyanga air di waktu musim hujan.
Kayu-kayu yang baru mau besar lagi itu atau lahan yang sudah gundul tidak mampu menahan laju air. Dalam seketika bila hujan semalaman, beberapa kawasan terjadi air bah. Ketika air bah itu bergerak, maka apa pun yang dilewatinya pasti tersapu. Itulah yang terjadi di Suluh Tembawang Kecamatan Entikong, beberapa rumah warga tersapu bersih.
Kita tahu, selama ini kayu-kayu di perhuluan Sungai Sekayam sudah dibabat habis dan dikirim ke Malaysia lewat jasa illegal logging.
Walau para hali geologi yang telah mempelajari bumi dan menjelaskan bahwa di Kalimatnan ini tidak ada bencana gempa bumi dan gunung berapi, tapi kita boleh takut dengan ancaman bencana lain, seperti banjir dan tanah longsor, penyakit menular dan serbu belalang kumbara.
Memang kalau ditelusuri bencana-bancana yang terjadi itu tak lain, penyebabnya karena ulah manusia itu sendiri. Kita mesti sadar dengan istilah siapa menabur dia yang menuai. Bila sudah tahu penyebabnya, harusnya kita juga cepat sadar bagaimana supaya kita bukan hanya waspada tapi bebas dari bencana itu. Itulah pekerjaan rumah kita.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 3:13 PM 1 komentar
Banjir Terjang Entikong dan Air Besar
TERJEBAK
Antean panjang kendaraan baik roda dua maupun empat yang terjebab banjir di Singkawang, Minggu (11/1). FOTO Mujidi/Borneo Tribune
==============
Oleh Tanto Yakobus
Hujan sejak Sabtu (10/1) akhir pekan kemarin, menyebabkan sejumlah desa di Kecamatan Entikong, Sekayam dan Balai Karangan di Kabupaten Sanggau diterjang banjir. Banjir besar juga merendam sejumlah dusun di Kecamatan Air Besar Kabupaten Landak.
Bahkan akibat banjir besar tersebut, Yoseph Suez dari Entikong melaporkan, Kantor Imigrasi dan Bea Cukai lumpuh total. Ketinggian air mencapai atap rumah warga. Akibatnya, empat rumah warga Desa Suruk Tembawang Kecamatan Entikong hanyut disapu banjir. Keempat rumah warga tersebut tepatnya di Dusun Pala Pasang, Marau dan Serengkang. Umumnya, rumah warga yang ada di sepanjang Sungai Sekayam tak luput dari banjir.
Menurut Agus, warga Balai Karangan yang dihubungi via ponselnya menjelaskan, selain di Kecamatan Entikong, banjir juga terjadi di Kecamatan Balai Karangan dan Kecamatan Sekayam. Air menggenangi rumah warga dengan ketinggian lebih dari dua meter.
Dampak terparah, selain hanyutnya rumah warga, juga lumpuhnya pelayanan di kantor Bea Cukai dan Kantor Imigrasi. Padahal kehadiran kantor pemerintah ini sangat vital bagi keluar masuknya orang baik ke Indonesia maupun Malaysia lewat PLB (Pelabuhan Lintas Batas) Entikong tersebut.
“Banyak rumah yang terendam dan empat hanyut terbawa air sungai akibat meluapnya Sungai Sekayam. Penyebab utamanya, karena bagian hulu sungai hutannya sudah habis dibabat sehingga air tidak terbendung lagi,” jelas Agus.
Banjir yang sudah dua hari itu menenggelamkan pemukiman warga, banyak jembatan penghubung ke Kota Kecamatan terendam dan dikhawatirkan putus karena derasnnya arus.
Untuk sementara, semua aktivitas warga tidak bisa berjalan seperti biasanya. Bahkan aliran listrik juga terputus.
Hal sama disampaikan Hartono, warga Sontas Kecamatan Entikong. Menurutnya, banyak warga yang sudah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi guna menyelamatkan diri dari kepungan air. “Saat ini kami hanya bisa menyelamatkan keluarga saja dan beberapa barang berharga terpaksa kami tinggalkan di rumah karena semakin lama air semakin tinggi,” katanya.
Banjir kali ini banyak simpang siur informasi. Ada yang menyebutkan 30 rumah hanyut, dan ada pula kendaraan yang menjadi korban. Namun hal tersebut belum bisa dikonfirmasikan kebenarannya, sejauh ini baru empat rumah warga ke Kecamatan Entikong yang tersapu banjir.
Banjir besar juga mengancam beberapa dusun di Kecamatan Air Besar. Seperti yang terjadi di beberapa desa di sekitar ibukota Kecamatan Air Besar. Seperti di Desa Serimbu, Hanura, Sepangah.
Menurut salah satu warga Serimbu, Ya’ Habijan, dihubungi via hand phone, Minggu (11/1) kemarin, mengatakan, hujan turun sejak Sabtu menyebabkan air Sungai Serimbu meluap mulai pukul 02.00 dinihari.
Hingga hari ini, belum ada tanda-tanda banjir akan surut. Desa-desa yang kena banjir di Serimbu, yakni Desa Sepangah yang dimulai dari jembatan SMA Air Besar sampai ke SMP Hanura. Di lokasi tersebut jalan terendam banjir dengan ketinggian 3-4 meter.
Demikian juga dengan kantor Polsek sampai ke Serimbu, tergenang banjir sedalam kurang lebih 4-5 meter. Jembatan gantung Serimbu juga tenggelam kira-kira setengah meter.
Akses jalan putus total, akhirnya warga pakai sampan. Warga yang rumahnya terendam banjir mulai ngungsi ke rumah tetangga di dataran tinggi. Sampai kemarin hujan masih menguyur Serimbu.
Sementara di Kota Ngabang, hujan terus menerus turun. Akibatnya, air Sungai Landak juga mulai meluap. Namun air sungai belum sampai masuk ke perkarangan rumah warga.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 3:10 PM 0 komentar
Sunday, January 11, 2009
Jalan Terjal Meraih Status PNS

Oleh Tanto Yakobus
Suatu hari menjelang akhir Desember 2008 lalu, saya pulang kampung untuk Natalan bersama keluarga.
Seperti biasa, bila ada keluarga dari kota datang, pasti tetangga menyambut kedatangannya. Tidak pilih keluarga dekat atau siapa, pokoknya yang kebetulan ada di rumah saat itu pasti menyambut walau hanya sekedar ingin tahu siapa yang barusan tiba di kampung itu.
Di tengah kerumunan warga tadi, mata saya tertuju ke sosok yang sangat saya kenal. Dia adalah Kornelius. Kini pria 43 tahun itu bertugas sebagai guru SD di desaku.
"Dia bukan lagi guru honor, tapi sudah guru PNS," kata salah seorang tetangga yang turut menyambut kedatanganku.
Di tengah carut-marutnya rekrutmen calon pegawai negeri sipil (CPNS) saat ini, ingatan saya langsung tertuju kepada sosok Korneluis, di kampung.
Perjuangannya menjadi PNS bukanlah mudah. Dia diterima menjadi PNS justru di saat dia sudah putusasa, stress dan hanya pasrah pada nasib.
Ceritanya sangat miris. Sejak tamat dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Sekadau tahun 1988, dia sudah sembilan kali ikut tes PNS. Setiap ada rekrutmen CPNS dia selalu ikut. Untuk melanjutkan pendidikan, jelas tidak mungkin lagi.
Tamat SPG sudah sangat luar biasa untuk ukuran Kornelius yang berasal dari keluarga petani yang juga hidupnya pas-pasan.
Menjadi PNS bukan hanya menjadi cita-citanya, tapi mimpi dari kecilnya. Dia pun tak kenal lelah mengikuti tes. Sudah berapa rekrutmen di Kabupaten Sanggau, Sintang maupun Kapuas Hulu diikutinya. Setiap usahanya selalu gagal. Tapi dia tidak putus asa, setiap ada lowongan atau pembukaan CPNS, dia kejar. Hanya sekedar ikut tes, ia rela menjual harta bendanya yang tersisa.
Namun pemekaran Kabupaten Sanggau menjadi Kabupaten Sekadau membawa berkah baginya. Pada tahun 2005 lalu, ia kembali tes untuk yang ke 10 kalinya, dan syukur Kornelius dinyatakan lulus.
Kini dia mengabdi sebagai guru PNS di SDN Desa Pantok Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau. Dia bisa bahagia mengabdi di kampung halamannya sendiri. Tapi yang menjadi kerisauan saya, dia justru mengabdi dengan masa kerja yang tidak begitu lama lagi. Sebab dia lulus PNS dengan umur maksimal. Artinya, masa kerjanya paling untuk 15 atau 20 tahun kedepan saja.
Pada kesempatan pulang kampung kemarin, saya menyempatkan diri menjumpainya. Dia pun cerita panjang hingga bisa menjadi PNS seperti sekarang.
"Sudah banyak harta benda yang terlelang untuk mengejar status PNS itu," ujarnya.
Dari sembilan hingga 10 kali tes baru lulus ini, sudah banyak pula usaha yang dilakukan. Setiap tes selain ikut tes murni, pernah juga main belakang. "Mungkin karena mainnya kecil, ya tetap saja tak lolos," katanya sembari tertawa.
Tapi syukur dengan kabupaten baru, mungkin juga perlu banyak pegawai, sehingga dirinya bisa merengkuh cita-citanya sejak lama itu.
Selain bahagia karena sudah berstatus PNS, rumah kecilnya juga diramaikan dengan istri dan seorang anaknya. "Aku sudah bahagia sekarang, ya beginilah hidup," ujarnya.
Aneh tapi nyata memang. Untuk menjadi PNS di Republik tercinta ini tidaklah mudah. Selain harus berebut dengan ribuan bahkan jutaan tenaga kerja, juga harus merogohkan kocek dalam-dalam. Konon kalau tidak nyogok, susah menjadi PNS.
Entah dari kapan mulai praktik suap atau sogok itu dimulai. Tidak ada data pasti. Tapi istilah sogok itu sudah saya dengar ketika saya masuk SMP tahun 1987. Mungkin sebelum itu sudah dikenal, tapi saya baru paham ketika duduk di bangku SMP.
Kalau sudah begitu, yang menjadi PNS bukan lagi melihat kemampuan atau keahliannya, tapi siapa yang punya duit, dialah yang bisa menjadi PNS. Atau ada juga praktik nepotisme, bila ada keluarga atau saudaranya yang PNS, maka ketika ada rekrutmen, maka keluarga atau saudaranyalah yang diutamakan.
Akibat praktik sogok dan nepostisme itulah yang akhirnya muncul istilah KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). KKN itu bukan saja soal uang, tapi juga kelulusan, pangkat dan jabatan. Bahkan yang paling parah KKN birokrasi.
Beruntung reformasi sekarang ini, praktik tak sedap itu sedikit demi sedikit mulai di kikis. Persoalannya sekarang, tidak mudah memang mengikis habis praktik KKN itu. Perlu waktu, apalagi mereka sudah terbentuk dan melembaga, baik secara struktural maupun individu yang di dalamnya.
Karena individu-individu itu bagian dari keluarganya, maka secara otomatis dia akan melembaga, karena mereka bekerja pada dinas atau instansi tertentu. Itulah mengapa susah menghilangkan praktik KKN itu.
Mungkin suatu saat bisa diberantas manakala mereka sudah memasuki masa pensiun. Tapi harus dengan catatan, generasi atau penganti mereka bukan lagi bagian dari keluarganya, tapi orang-orang yang lulus karena intelektualitas, keahlian dan mempunyai kapasitas untuk itu.
Itulah lika liku menjadi PNS di negeri ini. Negeri yang baru bermimpi. Mimpi yang sama juga kini tengah hinggap pada ribuan bahkan jutaan orang yang mendambakan status PNS itu. Mudah-mudahan kedepan, rekrutmen PNS tidak lagi mengedepankan suap, keluarga dan sebagainya. Tapi bagaimana rekrutmen PNS bisa berjalan sesuai dengan harapan, yakni kelulusan murni sesuai kemampuan, keahlian kepintaran si peminatnya.
Sebagai generasi penerus kita harus berani melakukan perang terhadap praktik-praktik busuk dalam perekrutan PNS. Kita harus berani katakan tidak pada korupsi itu. Semoga!
Diposting oleh Tanto Yakobus di 4:56 PM 0 komentar
Wednesday, January 7, 2009
Aji Mumpung
Oleh Tanto Yakobus
Selasa (6/1) dua hari lalu saya mampir ke kantor sekretariat Partai Demokrat di Jalan Imam Bonjol.
Kebetulan di kantor itu ada beberapa orang yang saya kenal dan kami pun bincang-bincang soal hasil survei yang diumumkan Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI), Saiful Mudjani pada 4 Januari lalu.
Hasilnya, cukup mengagetkan. Dan bagi orang Demokrat jelas menyenangkan. Survei dilaksanakan selama 10-22 Desember 2008 melibatkan 2.200 responden. 70 persen responden menyukai isi iklan Partai Demokrat, 66 persen responden menyukai isi iklan Gerindra, PDIP 59 persen dan Golkar 54 persen. Padahal dari intensitas iklan Gerindra di televisi ditayang secara besar-besaran bersama tokohnya, nyatanya responden menyukai iklan Demokrat, begitu kata Saiful dari LSI.
Mudah-mudahan pengaruh iklan Demokrat yang secara masif itu juga ada imbasnya bagi para caleg yang kini tengah mensosialisasi dirinya di berbagai daerah. Iklan sangat membantu dalam sosialisasi, kata teman saya yang kebetulan caleg untuk DPRD Kabupaten Bengkayang itu.
Obrolan kami loncat sana loncat ini. Saya pun maklum, itulah dunia politik. Topiknya serba tidak pasti, bicaranya bersayap. Konon, hitungan matematika tidak bisa diterapkan di dunia politik, karena hasilnya yang tidak pasti tadi. Bisa ya bisa tidak, meraba-raba mencari pegangan yang enak.
”Musim caleg sekarang, banyak aji mumpung,” celoteh teman dari Sanggau. Entah keturunan dari mana, ada jak ngakunya keluarga. Padahal hari-hari sebelumnya, jangankan keluarga, kenal saja tidak.
Hand phone (HP) pun berdering terus, entah dari mana. Bila diangkat, bicaranya akrab. Bila tidak dilayani, basa basi yang akrab tadi berubah menjadi ancaman. ”Jangan harap dapat suara pemilu nanti”.
Kalau soal pulsa. Itu sudah tak bisa diomongkan lagi, tiap hari dari tiga telepon yang masuk, pasti salahsatunya minta dikirim pulsa.
Banyak ragam orang memanfaatkan caleg. Mulai dari minta kirim pulsa, bantu biaya sekolah anak, tunjangan hari raya, biaya istri berobat ke rumah sakit sampai ada yang minta dibelikan pakaian dalam istrinya.
Saya yang semula mampir sebentar, lalu keasyikan ngobrol bersama para politisi itu. Ya hitung-hitung cari pengalaman juga. Bantuan sih boleh saja diberikan, tapi betul-betul memberi manfaat baik bagi si pemberi maupun yang menerimanya. Kalau yang benar-benar sakit, dan kebetulan kita mampu, apalah salahnya. Hitung-hitung beramal. Tapi kalau soal pulsa dan lain-lain itu juga minta dengan caleg, ya rasanya sudah keterlaluan.
Sebelum ada caleg, siapa pula yang isi pulsanya selama ini? Sampai pakaian dalam istri pun harus dibebankan kepada caleg untuk menggantinya?
Lalu ada pula yang menjadi tim sukses caleg justru untuk memperkaya dirinya sendiri. Padahal dana dari caleg itu untuk sosialisasi, tapi justru dibelikan barang untuk berdagang. Ya banyak macam aji mumpung ada caleg itu.
Sebagai masyarakat, kita semua harus sadar. Inilah konsekuensi kita memilih negara demokrasi yang menganti pimpinannya dengan cara demokrasi pula, yakni lewat pemilihan umum (pemilu). Sebab memilih dan dipilih itu hak dan kewajiban kita sebagai warga negara. Jadi jangan kita memanfaatkan situasi mumpung ada musim caleg. Sebab caleg itu juga bagian dari proses demokrasi tadi.
Sebagai rakyat, kita harus sadar. Bagaimana mengganti para politisi busuk yang selama ini tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Mereka menjadi politisi untuk memperkaya diri sendiri. Jauh dari tujuan demokrasi sesungguhnya, yang mensejahterakan rakyat.
Dan saat pemilu inilah waktu yang tepat bagi rakyat menentukan pemimpin pilihannya. Apalgi Keputusan MK jelas penetapan calon terpilih berdasarkan suara terbanyak. Jadi kenali betul calegnya, apa partainya, baru tentukan pilihan Anda. Bukan malah memanfaatkan musim caleg ini untuk kepentingan sesaat. Sebab masa depan caleg, masa depan negara ini ada di tangan rakyat. Sebab suara rakyat adalah suara Tuhan.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 4:37 PM 1 komentar
Monday, January 5, 2009
Surprise, Danlanud Kunjungi Borneo Tribune
.jpg)
GOSS COMMONITY
Wapimred Borneo Tribune, Tanto Yakobus menjelaskan kecepatan mesin cetak merek Goss Commonity buatan Jerman kepada Danlanud Supadio, Kolonel (pnb) Yadi Indrayadi. FOTO Hentakun/Borneo Tribune.
==============
Oleh Hentakun
Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) TNI AU Supadio, Kolonel (Pnb) Yadi Indrayadi, bersama tiga perwira TNI AU Supadio, masing-masing, Mayor Askari, Mayor (Adm) Hendri dan Kapenlanud Supadio, Lettu (Sus) Rozikin, dan satu bintaranya berkunjung ke Kantor Redaksi Harian Borneo Tribune di Jalan Purnama Dalam nomor 2, Pontianak, Senin (5/1).
Kunjungan silaturahmi tersebut disambut Wakil Pemimpin Redaksi, Tanto Yakobus didampingi Redaktur Pelaksana, Muhhlis Suhaeri, Redaktur, Yusriadi, Budi Rahman, Manejer Umum, Aleksander Mering serta Penasehat Hukum PT. Borneo Tribune Press, Dwi Syafrianti.
Kepada Danlanud dan rombongan, Tanto menjelaskan kondisi Harian Borneo Tribune yang diawaki berbagai latar belakang agama, suku dan pendidikan. “Yang jelas Borneo Tribune di kelola oleh putera puteri asli Kalbar,” ujar Tanto.
Sementara Aleksander Mering menambahkan, sejarah berdirinya Borneo Tribune sebagai sebuah koran publik dan kiprahnya selama setahun lebih ini, dengan Tribune Institute sebagai lembaga sosialnya, serta bagaimana proses pemilihan nama sebuah koran yakni Borneo Tribune dengan logo burung enggang hasil karya pelukis terkenal Kalbar, Zul MS.
Muhhlis Suhaeri menyampaikan, surprise sekali dengan kedatangan langsung orang nomor satu di jajaran TNI AU, karena selama ini para jurnalis dekat dengan Kepolisian, sementara dengan pihak TNI masih renggang. “Dengan adanya kunjungan ini, diharapkan terjalin hubungan baik dan lebih akrab,” kata Muhhlis berharap.
Menyadari bahwa institusi TNI AU tidak terlepas dari media massa, Yadi Indrayadi menyampaikan bahwa, TNI AU khususnya Lanud Supadio memiliki misi sama, yakni ditugasi menjaga dan menggunakan fasilitas TNI AU, dengan harapan media masa bisa turut mempublikasikan, sehingga satu sama lain tercipta kepedulian dan rasa memiliki bersama.
Selain itu, Yadi juga mengharapkan ada kerja sama terutama dalam hal publikasi yang selama ini dirasa kurang, sehingga aktivitas TNI AU kurang diketahui masyarakat luas, apalagi menyangkut rekrutmen, informasinya sangat-sangat terbatas, katanya.
Usai saling mengenal dan menjelaskan peran institusi masing-masing, Danlanud beserta rombongan meninjau mesin cetak milik Borneo Tribune. Yadi yang humoris itu terlihat menyimak penjelasan Tanto tentang rakusnya mesin merek Goss Community buatan Jerman itu dalam melahap gulungan kertas menjadi koran.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 5:37 PM 0 komentar
Solidaritas untuk Palestina

Oleh Tanto Yakobus
Negara manapun di luar Israel dan Amerika Serikat, pasti mengutuk agresi militer Israel di Jalur Gaza. Termasuk Australia yang selama ini menjadi ”tangan kanan” Amerika di wilayah Asia Pasifik. Mereka juga turut mengutuk tindakan biadab Israel dan tidak berperikemanusiaan itu.
Selama dasawarsa ini, apa pun tindakan yang dilakukan Israel, Amerika tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi menghentikan, mencegah saja tidak bisa. Bahkan mereka justru membenarkan apapun bentuk invasi yang dilakukan Israel baik terhadap negara-negara Arab umumnya dan Palestina khususnya.
Dengan dalih memerangi kelompok Hamas yang selama ini dianggap ”pengacau” keamanan Israel, justru rakyat sipil yang tidak berdosa menjadi korban roket-roket dan mortir dari senjata mematikan Israel.
Sudah lebih sepekan ini tentara Israel mengempur Jalur Gaza. Bahkan hari-hari terakhir ini Infanteri dan tank-tank militer Israel mulai masuk ke wilayah bekas pemukiman Yahudi di Gaza City, kota yang dikenal memiliki penduduk paling padat di kawasan Jalur Gaza. Israel sengaja mengempur wilayah padat penduduk itu, karena diyakinan tempat gerilyawan Hamas bersembunyi dan meluncurkan roket dan mortir ke arah Israel.
Bila tidakan itu tidak dihentikan, kita semakin khawatir berapa lagi rakyat sipil yang jadi korban? Sejak pekan lalu, serangan Israel sudah menewaskan 485 orang dan 80 diantaranya anak-anak. Sedangkan korban luka-luka mencapai 2.500 orang, termasuk tentara Hamas. Sementara di pihak Israel hanya tiga warga sipil dan satu tentara tewas, serta 30 orang lainnya terluka.
Kutukan terhadap Israel pun deras mengalir dari berbagai negara, termasuk Indonesia yang mendesak Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi untuk Israel. Sikap Indonesia jelas, selain mendesak PBB, juga mengirim bantuan kemanusiaan dan obat-obatan ke Palestina lewat Mesir.
Selain sikap resmi pemerintah, banyak organisasi kemasyarakat yang membut posko solidaritas untuk Palestina. Posko itu bisa kita lihat di perempatan lampu merah, dimana sejumlah pemuda dan pemudi mengenakan sal atau ikat kepala bertulisakan solidaritas untuk Palestina.
Ada juga spanduk dan famflet-famflet berisi himbauan agar masyarakat menyisihkan sedikit rezekinya lewat organisasi tertentu. Tentu tujuannya sangat mulia, menolong sesama. Kita juga mendukung misi-misi kemanusiaan seperti itu. Sebab kita tahu rakyat Palestina yang menjadi korban selain kehilangan harta benda, mereka juga butuh pertolongan, mereka butuh makanan, pakaian dan yang paling penting perawatan.
Sebab ribuan orang yang terluka itu jelas tidak bisa cepat tertangani oleh petugas medis di sana. Jadi sebaiknya organisasi yang menggalang bantuan untuk Palestina, mereka juga harus berpikir bagaimana mengirimkan tenaga-tenaga medis. Kita tidak perlu mengirim pejuang untuk melawan senjata canggih, tapi jauh lebih mulia kalau kita mengirim obat dan tenaga medis yang mungkin bisa menyelamatkan nyawa-nyawa yang kini sekarat itu.
Mereka butuh pertolongan sesegera mungkin. Karenanya, tidaklah cukup kalau kita hanya teriak-teriak dan mengutuk kekejaman Zionis itu di jalanan saja, tapi bagaimana kita bisa menjalankan misi kemanusiaan itu. Bagaimana kita bisa bertindak cepat menyelamatkan jiwa-jiwa yang sekarat itu. Jangan memandang suku, agama dan aliran tertentu. Karena itu tugas kemanusiaan, tugas kita bersama.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 4:49 PM 0 komentar
Saturday, January 3, 2009
Pensiun Massal
Oleh Tanto Yakobus
Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, mengkhawatirkan terjadinya stagnasi luar biasa di dunia pendidikan di daerah ini. Sebab puluhan ribu guru sekolah dasar (SD) di Kalbar akan memasuki masa pensiun mulai tahun 2010 mendatang. Dan puncaknya diprediksi terjadi pada tahun 2013.
Kondisi tersebut, jelas membuat pemerintah provinsi berpikir keras mencari pengganti guru-guru SD Inpres yang diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) sejak tahun 1978 tersebut. Bila masa kerja guru-guru Inpres tersebut antara 30-35 tahun, maka puncak terjadinya pensiun massal diprediksi pada 2013.
Kekhawatiran Gubernur Cornelis itu sangat beralasan, sebab bila itu benar-benar terjadi, maka akan putus rantai pendidikan berjenjang di daerah ini. Sebab tidak tertutup kemungkinan, ribuan SD yang tidak beroperasional lantaran tidak punya guru.
Sekarang saja gejalanya sudah terasa, terutama di daerah pedalaman. Ada beberapa SD yang mulai mengalami kekurangan guru. Penyebabnya beragam pula, namun tak sedikit akibat guru yang selama ini mengabdi di daerah tersebut sudah memasuki masa pensiun.
Ini memang dilematis. Hanya guru-guru tertentu yang berasal dari pedalaman pula yang sanggup dan mau bertugas di pelosok daerah. Sedangkan guru yang dari kota atau daerah lain, jarang bertahan hingga belasan tahun. Mereka umumnya hanya numpang lulus saja, setelah itu mengajukan pindah ke kota atau daerah asalnya. Dan itu harusnya sudah diantisipasi oleh pemerintah.
Agar tidak terjadi stagnasi terutama pada guru-guru SD, maka mesti ada kebijakan khusus, terutama dari Pemerintah Pusat terkait rawan pensiun massal tersebut. Mesti ada prioritas khusus bagi daerah ini untuk merekrut kembali guru-guru baru untuk dijadikan PNS mengganti yang pensiun tersebut.
Bila tidak ada kebijakan khusus, maka akan sulit menghindari stagnasi pendidikan tersebut. Sebab sesuai dengan Undang-Undang nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, kita akan kesulitan memenuhi kriteria guru yang harus berpendidikan strata satu (S-1) tersebut.
Berdasarkan UU tersebut, maka kedepan guru SD harus tamatan S-1. Itu juga untuk memenuhi syarat sertifikasi bagi guru baik negeri maupun swasta. Dan sertifikasi itu sepintas memang mengiurkan, sebab guru sudah dianggap profesional. Bila sudah profesional, maka ia akan mendapat upah yang layak pula.
Demi kelangsungan pendidikan anak-anak di daerah ini, maka tak ada jalan lain, selain terobosan-terobosan untuk memecah kebuntuan pada puncak pensiun guru SD kelak. Sebagai warga Kalbar, kita mesti satu kata, satu langkah, dan satu tujuan bagaimana supaya pendidikan di Kalbar tetap berjalan. Caranya, mesti ada upaya mengganti guru-guru pensiun itu dengan langkah yang cepat dan tepat.
Kita jangan terlalu berharap kemurahan hati Pemerintah Pusat. Kita mesti berani mengambil kebijakan atau paling tidak minta perlakuan khusus, bagaimana kita bisa melakukan rekrutmen khusus pula terhadap guru-guru SD kelak.
Dukungan masyarakat dan utamanya Anggota DPRD Provinsi Kalbar mutlak membantu Pemerintah Provinsi memberikan tekanan pada Pemerintah Pusat agar kita mendapatkan kewenangan melakukan rekrutmen khusus tersebut. Bila itu tidak dilakukan, maka kekhawatiran Gubernur Cornelis akan terjadi stagnasi pendidikan di Kalbar sungguh akan terjadi. Kondisi ini kiranya membuat kita lebih kompak lagi dalam menghadapi persoalan yang sudah di depan mata. Jangan tunggu terjadi baru kita ribut berangkut!
Diposting oleh Tanto Yakobus di 12:09 PM 0 komentar
Thursday, January 1, 2009
Belajar Menghargai Prestasi

MAN OF THE YEAR
Dirut PT Borneo Tribune Press, W. Suwito, SH., MH., menyerahkan penghargaan “Man of The Year 2008” kepada Gubernur Kalbar, Drs. Cornelis, MH., di hotel Gajahmada (30/12). Penghargaan “Man of The Year 2008” Harian Borneo Tribune juga diberikan kepada Ketua DPRD Kalbar, IR. H. Zulfadhli, Anggota DPR-RI IR. Fanshurullah Asa, MT, dan Dirut Bank Kalbar, Djamaluddin Malik, SE. FOTO Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
==============
Oleh Tanto Yakobus
Untuk pertama kalinya di Kalbar—penobatan Man of The Year kepada tokoh-tokoh tertentu dilakukan. Dan Harian Borneo Tribune berani membuat terobosan itu dengan menganugerahkan penghargaan kepada empat orang tokoh yang dianggap berprestasi di bidangnya masing-masing.
Selain berprestasi di bidangnya selama perjalanan 2008, wajah mereka kerap menghiasi media cetak maupun elektronik. Tentu kehadiran mereka terkait prestasi yang dicapainya selama setahun ini. Tokoh pertama yang dinobatkan sebagai Man of The Year 2008 adalah Gubernur Kalbar, Drs. Cornelis, MH. Dia dianggap teladan bidang eksekutif pemerintahan.
Prestasi fenomenal diukir Cornelis dengan “merebut” kursi Gubernur Kalbar pada pemilihan gubernur berpasangan dengan Drs. Christiandy Sanjaya, SE, MM pada 15 November 2007 lalu. Tanggal 14 Januari 2008, dia resmi dilantik sebagai Gubernur Kalbar.
Setahun menjabat Gubernur, Cornelis langsung menerima penghargaan dari Presiden SBY di bidang ketahanan pangan. Selain itu, sosok Cornelis termasuk mudah menyesuaikan diri dalam memimpin pemerintahan di tingkat provinsi, sehingga terjadi harmonisasi antara legislatif dan eksekutif. Dan yang teranyar, Cornelis cukup berperan membantu mengatasi masalah krisis global dengan memperkuat sektor pangan masyarakat Kalbar.
Selanjutnya, Ketua DPRD Kalbar, Ir. Zulfadhli. Beliau dinobatkan teladan bidang legislasi. Di bawah kepemimpinannya, DPRD Kalbar selama empat tahun ini mengalami kemajuan, baik bidang pengawasan maupun pembangunan.
Penghargaan Man of The Year 2008 juga diberikan kepada Anggota DPR-RI Dapil Kalbar, Ir. Fanshurullah Asa, MT. Sosok pria yang akrab disapa Ifan ini dinilai sangat peduli dengan pendidikan anak-anak di Kalbar.
Dia rela merokok koceknya dengan menyisihkan 50 persen gaji pokoknya untuk beasiswa pendidikan anak-anak Kalbar tanpa memandang suku, agama maupun ras. Sudah ribuan anak-anak Kalbar yang dibantunya. Begitu besar perhatiannya pada pendidikan, maka Harian Borneo Tribune memilihnya sebagai teladan bidang pendidikan.
Selanjutnya penghargaan untuk bidang ekonomi bisnis, jatuh kepada Dirut Bank Kalbar, Djamaluddin Malik, SE. Penetapan Djamaluddin Malik sebagai teladan bidang ekonomi bisnis bukan tanpa alasan. Bila kita melihat berbagai dampak krisis multi dimensi yang melanda negeri ini beberapa tahun terakhir, ternyata Bank Kalbar bisa keluar dari jerat krisis tersebut.
Bahkan untuk beberapa cabangnya di kabupaten, Bank Kalbar justru mengukir prestasi dan dinyatakan sebagai salahsatu bank yang sehat.
Setahun terakhir, kepercayaan masyarakat terhadap Bank Kalbar meningkat signifikan. Itu terlihat dari banyaknya pelaku usaha maupun individu yang menggunakan jasa Bank Kalbar sebagai tempat menyimpan uang maupun kredit. Nah melihat prestasi yang diraihnya itu, maka tak salah Djamaluddin Malik menyabet award bidang ekonomi bisnis.
Dan bagi Borneo Tribune sendiri, pemberian award atau penghargaan ini tak lain, kami ingin menghargai prestasi-prestasi yang diukir putera-putera terbaik Kalbar. Kedepan, kami akan terus memberikan perhargaan kepada pihak-pihak yang dianggap sukses di bidangnya masing-masing. Penghargaan ini merupakan wujud sikap kami untuk belajar menghargai prestasi-prestasi yang diraih oleh siapa pun, mulai dari pejabat publik, pelaku usaha, maupun masyarakat luas. Karenanya, teruslah berkarya dan berkarya. Sukses untuk kita semua.
Diposting oleh Tanto Yakobus di 4:17 PM 3 komentar


