Menkumham Mengesahkan Kepemimpinan Endung
Oleh Tanto Yakobus
Dualisme kepemimpinan di tubuh Dewan Pimpinan Pusat Partai Penegak Demokrasi Indonesia (DPP PPDI) berakhir sudah. Itu setelah Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Andi Mattalatta, mengesahkan struktur dan personalia DPP PPDI masa bhakti 2007-2012, dengan Ketua Umum, Drs. H. Endung Sutrisno, MBA, MM.
Dengan SK Menkumham itu pula, maka kepengurusan versi Mentik dinyatakan tidak berlaku lagi. Sebab SK nomor: M.HH-69.AH.11.01 Tahun 2008, tertanggal 7 Agustus 2008, sudah jelas mengakui kepengurusan Endung Sutrisno sebagai Ketua Umum dan Drs. V. Joes Prananto sebagai Sekretaris Jenderal DPP PPDI yang sah.
SK tersebut juga memperkuat hasil musyawarah luar biasa di Kupang, Nusa Tenggara Timur, sebagaimana juga telah diputuskan di tingkat Pengadilan Negeri Jakarta Selatan nomor: 756/Pdt.G/2008/PN Jkt.Sel.
Oleh DPP PPDI, SK Menhumkam tersebut segera di teruskan kepada seluruh DPD maupun DPC di seluruh Indonesia untuk disosialisasikan ke pengurus maupun kader partai di masing-masing tingkatan.
Konsekuensi dari SK Menkumham tersebut, kepengurusan DPD muapun DPC versi Mentik di seluruh Indonesia juga gugur dengan sendirinya. Dan di Kalimantan Barat sendiri, DPD yang sah adalah DPD PPDI yang dipimpin F.M. Musadi dengan Sekretaris Raymundus Yanto.
Saat bertandang ke kantor Redaksi Borneo Tribune, Jumat (21/8) pagi, Musadi mengatakan, sebetulnya konflik di DPP tidak berpengaruh di daerah. Cuma yang menjadi masalah sekarang justru setelah teman-teman versi Mentik mendaftarkan calegnya di KPU.
”Kemarin saya sudah berkonsultasi dengan ketua KPU Provinsi (AR Muzzamil), beliau mengatakan, akan mengikuti keputusan Menkumham. Artinya, caleg yang kita ajukan yang dipakai,” kata Musadi.
Tapi Musadi dengan bijak mengatakan, dirinya tidak mau mempersoalkan kepengurusan ganda tersebut, tapi dirinya mengharapkan teman-teman di DPD yang selama ini bersama Darwin Abubakar untuk segera bergabung dengan dirinya.
”Marilah kita bersama-sama mengurus caleg yang sudah terlanjur didaftarkan ke KPU baik di provinsi maupun kabupaten/ kota itu dengan memakai PPDI yang sah, bagaimana pun kita ini sama,” katanya.
Musadi mengantongi SK DPP PPDI nomor: 356/SK-DPD/DPP/PPDI/VIII/08 tentang struktur, komposisi dan personalia DPD PPDI Provinsi Kalbar masa bhakti 2008-sampai dengan Musda yang akan datang.
SK tersebut menetapkan Musadi sebagai ketua dan Raymundus Yanto sebagai sekretaris DPD PPDI Provinsi Kalbar. SK yang dikeluarkan tanggal 9 Agustus 2008 itu juga mencantumkan lima orang wakil ketua, empat orang wakil sekretaris dan dua orang wakil bendahara.□
Sunday, August 24, 2008
Dualisme Kepemimpinan DPP PPDI Berakhir
Diposting oleh Tanto Yakobus di 3:50 PM 0 komentar
Sunday, August 17, 2008
Buah Kemerdekaan

Oleh Tanto Yakobus
Misa minggu pagi tadi agak spesial bagiku. Karena bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-63. Ya tak terasa hari ini sudah 63 tahun kita merdeka dari penjajahan bangsa asing. Belanga selama 3,5 abad dan Jepang selama 3,5 tahun menancapkan kukunya di Bumi Pertiwi ini. Para pendahulu kita, terutama Sukarno-Hatta sepakat melepaskan belenggu penjajahan itu pada tanggal 17 Agustus 1945.
Hari itu pun tradisi gereja agak beda dengan biasanya. Seperti di Gereja Katolik Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Jalan Pancasila, Pontianak Kota. Nuansa nasionalisme sangat kental. Bukan hanya hiasan warna bendera merah putih di sekitar dan dalam gereja saja, lagu pembukaan pun diganti dengan lagu Indonesia Raya. Demikian juga lagu-lagu lainnya diganti dengan lagu-lagu perjuangan.
63 tahun bukan waktu yang singkat. Banyak peristiwa yang menyertainya. Ada pasang surut kerjadian di negeri ini. Ada keberhasilan, ada keindahan. Tapi tak sedikit pula kegagalan dan bahkan kepahitan ketika prvinsi ke-27 Indonesia, yakni Timor-Timur lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi lewat jajak pendapat di era Presiden BJ Habibie tahun 1999.
Yang patut kita renungkan juga di usia bangsa kita ke-63 tahun ini, apakah kita betul-betul sudah merdeka? Apakah hari ini seluruh rakyat Indonesia tidak kelaparan lagi? Apakah hari ini seluruh rakyat Indonesia sudah mengecap pendidikan semua? Apakah hari ini seluruh rakyat Indonesia sudah bebas dari berbagai penyakit? atau tidak terkena gizi buruk?
Yang paling fundamental dalam hidup ini, apakah kita sudah benar-benar mendapatkan kebebasan yang hakiki? Misalnya dalam pergaulan? Dalam menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya?
Rasa-rasanya baru sebagian kecil orang merasakan semua itu. Baru sebagian kecil yang yang bisa makan tiap hari. Baru sebagian kecil orang yang merasakan pendidikan memadai, masih sebagian kecil yang bisa memenuhi gizi keluarganya.
Di bidang keagamaan, orang masih diselimuti ketakutan dalam menjalankan ibadahnya. Padahal ibadah itu urusan individu manusia dengan Tuhan bukan dengan sesamanya. Tapi untuk urusan yang sangat pribadi tersebut, masih saja terjadi pelarangan. Mulai dari pelarangan beribadah hingga mendirikan rumah ibadah sendiri.
Mendirikan rumah ibadah jauh lebih baik ketimbang harus mencaci maki orang, harus menteror orang.
Satu hal yang aneh di negeri ini, izin mendirikan rumah ibadah jauh lebih sulit dari izin mendirikan rumah judi, rumah karaoke atau tempat maksiat lainnya. Para penguasa lebih gampang menerbitkan izin yang tidak bermanfaat untuk iman dan ahklak itu.
Di bidang kesejahtaraan. Hari ini entah berapa ribu masyarakat kita yang tidak bisa makan, tidak bisa berobat dan tidak bisa bersekolah. Di sisi lain, para pejabatnya korup.
Sudah 63 tahun kita merdeka, ternyata kita belum bisa merdeka dari penjajahan yang bernama korupsi itu. Korupsi mencapai puncaknya di zaman Orde Baru. Untuk mempertahankan korupsi itu, nepotisme dimana-mana. Setiap tingkatan yang menjabat adalah kerabat dan keluarganya semua, sehingga korupsi betul-betul tidak bisa dibasmi. Bahkan semakin menjadi, dan sekarang kita bisa menyaksikan pemberitaan baik di media cetak maupun elektronik, disana sini masih terjadi korupsi.
Di tengah kegelapan akibat korupsi itu, kini muncul sedikit sinar terang yang menjadi harapan kedepan bisa menerangi negeri ini. Sinar itu adalah KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).
Di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) prestasi dibidang pemberantasan korupsi cukup diacungi jempol. Banyak pihak yang terlibat korupsi diuber-uber dan diseret ke meja hijau. Tak peduli penegak hukum sekali pun seperti aparat kejaksaan tak luput dari jeratan KPK. Kita berharap sinar terang KPK ini tidak memudar sampai korupsi betul-betul bersih. Terlebih korupsi yang dilakukan kerah putih itu.
Semoga setelah sekian lama kita menderita, mulai dari penjajahan Belanda, Jepang dan penjajahan oleh bangsa sendiri lewat korupsi itu, kini kita sebagai rakyat bisa bisa menikmati buah kemerdekaan itu.
Buah-buah kemerdekaan itu adalah keadilan, kesejahteraan dan keamanan. Buah kemerdekaan itu bisa tumbuh subur di negeri ini bila dipupuk dengan cinta kasih sejati. Semoga!
Diposting oleh Tanto Yakobus di 9:01 PM 1 komentar
Friday, August 15, 2008
Indonesia Bisa!
Tema Sentral Pidato Kenegaraan Presiden SBY
Oleh Tanto Yakobus
Momentum peringatan 17 Agustus tahun 2008 ini punya banyak makna bagi bangsa kita. Sejarah telah mencatat tahun ini kita memperingati 100 tahun kebangkitan nasional. Selain itu, tahun ini kita juga memperingati kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-63, bertepatan dengan peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 10 tahun Reformasi.
Peristiwa-peristiwa sejarah ini, membuktikan jati-diri Indonesia sebagai bangsa yang besar, bangsa yang tangguh, bangsa yang selalu mampu mengatasi tantangan zaman dan bangsa yang bermartabat.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidato kenegaraan tanggal 15 Agustus 2008, tadi siang mengatakan, pada abad ke-21 ini Indonesia diharapkan akan menjadi salah satu negara yang maju dan bermartabat di dunia.
Pidato kenegaraan SBY kali ini patut juga dicatat dalam sejarah kenegaraan kita. Dia telah mematahkan tradisi presiden-presiden sebelumnya, dimana pidato kenegaraan selalu disampaikan setiap tanggal 16 Agustus. Perubahan tradisi ini baru pertama kali terjadi di Indonesia, yakni di era Presiden SBY.
"Maju di segala bidang. Karena kita adalah bangsa yang besar, yang bangkit dengan usaha kita sendiri," kata Presiden dalam pidato kenegaraannya serta keterangan pemerintah atas RUU APBN 2009 beserta nota keuangannya di depan Rapat Paripurna DPR RI, Jakarta, Jumat.
Untuk itu Presiden mengajak segenap komponen bangsa untuk mengokohkan persatuan, kebersamaan dan kerja keras untuk membangun bangsa dan negara Republik Indonesia yang besar, maju, jaya, dan gemilang.
Pada rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPR Agung Laksono itu, Presiden mengatakan, kesejahteraan dan keamanan Indonesia semakin erat berkaitan dengan situasi internasional.
Karena itu, pemerintah terus menjalankan politik luar negeri bebas aktif yang diabdikan untuk kepentingan nasional. "Postur diplomasi Indonesia yang semakin tampil mengemuka, tidak terlepas dari perkembangan demokrasi kita yang semakin mapan, stabilitas politik yang semakin mantap, situasi hak asasi manusia yang terus membaik, serta ekonomi yang terus tumbuh," kata SBY.
Ia mencontohkan, bulan Desember 2007, Indonesia mengukir sejarah diplomasi dengan keberhasilan menjadi tuan rumah Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim (UN Conference on Climate Change) di Bali yang berhasil melahirkan kesepakatan historis berupa "Bali Road Map". "Kita akan terus berjuang agar `Bali Road Map` tersebut dapat menghasilkan suatu kesepakatan global mengenai perubahan iklim yang diharapkan dapat dituntaskan dalam `Conference of Parties` ke-15 di Kopenhagen akhir tahun 2009," kata SBY.
Presiden juga menyebutkan dalam dua tahun terakhir, Indonesia sukses merampungkan kepemimpinan dalam kelompok Developing Eight (D-8) yakni kelompok negara berpenduduk muslim yang aktif melakukan kerjasama ekonomi dan pembangunan. "Bulan Juli lalu, saya menyerahkan tongkat kepemimpinan D-8 kepada Malaysia," katanya.
Presiden SBY tak lupa mengatakan bahwa Indonesia juga diundang untuk pertama kalinya menghadiri KTT G-8 plus 8 "Outreach Summit" di Hokkaido, Jepang, pada Juli.
Dalam pertemuan tersebut, katanya, Indonesia bersama ekonomi-ekonomi besar dunia membahas isu-isu global dari perubahan iklim, ketahanan pangan, energi, dan pembangunan.
Sementara itu, Indonesia juga terus berperan aktif dalam menjaga perdamaian internasional sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
Indonesia juga berperan aktif dalam merumuskan Piagam Organisasi Konferensi Islam yang baru sebagai hasil pertemuan puncak negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Senegal pada tahun ini.
Piagam OKI yang baru itu telah memuat enam hal penting yaitu demokrasi, "the rule of law", tatanan pemerintahan yang baik, keadilan sosial, hak asasi manusia, dan hak-hak kaum perempuan. Piagam OKI yang baru itu, katanya, membawa angin segar dan sejarah baru dalam pembangunan dunia Islam di masa depan.
Indonesia juga telah memprakarsai dan mendorong ASEAN untuk melakukan transformasi, tidak lagi menjadi organisasi yang hanya didasarkan atas deklarasi atau komunike tetapi menjadi organisasi yang mempunyai status dan kerangka hukum (legal personality) yang jelas. Dengan demikian, ASEAN dapat beradaptasi agar terus relevan menghadapi perubahan lingkungan strategis internasional, katanya.
Sementara hubungan Indonesia dengan Timor Leste juga disebutkan SBY mengalami perkembangan penting. Ia menyebutkan, pada 15 Juli lalu, Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) telah menyerahkan laporan akhir kepada Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Timor Leste. "Kita menyambut baik laporan itu, dan akan menindaklanjutinya. Kita telah menutup lembaran lama, dan membuka lembaran baru. Membangun semangat baru, penuh kedamaian, kemanusiaan, dan persaudaran di antara kedua negara," katanya.
Presiden juga mengatakan, bangsa Indonesia sudah pulih dari krisis moneter yang dulu melumpuhkan, telah melaksanakan reformasi yang menyeluruh di berbagai sektor, sudah berhasil menjalani transisi demokrasi yang penuh tantangan, yang kini menjadikan Indonesia negara demokrasi ketiga terbesar di dunia.
"Kita juga berhasil mengembangkan budaya politik baru yang demokratis, yang mengedepankan keterbukaan, kebebasan berpendapat, dan akuntabilitas pada rakyat, di mana sekarang hukumlah yang menjadi panglima," kata Kepala Negara.
SBY menilai Indonesia juga berhasil dalam tahun-tahun terakhir ini memperkokoh integritas NKRI yaitu Aceh yang damai, Papua yang stabil, serta Maluku, Poso, dan Sampit yang tenteram.
"Kita berhasil mengatasi bencana alam paling dahsyat di dunia, yaitu tragedi tsunami tahun 2004 dengan semangat solidaritas dan gotong-royong. Dan kita telah kembali menempatkan Indonesia di garis terdepan percaturan regional dan internasional," katanya.
Semua itu, menurut Presiden, bukanlah prestasi individu atau kelompok namun prestasi dan kerja keras seluruh bangsa Indonesia.
Sejarah kebangkitan dan perubahan Indonesia, dari 1908, 1928, 1945, sampai 1998 semua diukir oleh pejuang-pejuang yang bermental "Harus Bisa!".
"Apapun masalahnya, kapan pun masanya, seberapa pun keterbatasannya, kalau kita bermental bisa kita semua bisa, dan Indonesia pasti bisa!" kata Kepala Negara menyerukan.
Pidato kenegaraan Presiden SBY tersebut disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun televisi termasuk TVRI.
Di Pontianak, pidato kenegaraan presiden ditayangkan secara langsung di ruang audio Kantor Gubernur Kalbar. Namur sayang Gubernur Cornelis tak ikut menyaksikan pidato tersebut, karena pada sore harinya harus menghadiri puncak peringatan hari Pramuka se-Kalbar yang dipusatkan di Kabupaten Bengkayang.□
Diposting oleh Tanto Yakobus di 8:27 PM 0 komentar
Bendera Berkibar Terbalik di Perbatasan

Oleh Tanto Yakobus
Mendengar kesaksian tokoh masyarakat Desa Segumun, Suwito, dalam Temu Wicara Gerakan Merah Putih di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar, Pontianak, Senin lalu, bikin miris saja. Entah karena ketidaktahuan mereka atau memang bukti ketertinggalan pembangunan kawasan perbatasan. Atau tanda-tanda lunturnya rasa nasionalisme mereka?
Tapi itulah faktanya. Warga Negara Indonesia yang tinggal di kawasan perbatasan Indonesia (Kalbar) dengan Malaysia (Sarawak) memasang bendera terbalik menjelang peringatan 17 Agustus 2008 ini.
Waktu menerima ribuan bendera merah putih yang dibagikan oleh Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBPPP) beberapa waktu lalu, ada sebagian warga perbatasan memasang bendera terbalik. Bagian putih di atas dan merah di bawah. Pembagian bendera merah putih itu dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-63.
Ya maklum saja, sejak negeri ini memerdekakan diri pada tanggal 17 Agustus 1945, mereka yang bermukim di wilayah perbatasan belum terjamah pembangunan, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga perekonomian.
Hari-harinya mereka lebih berkiblat ke Malaysia, baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maupun pergaulan. Penyebabnya tak lain, infrastruktur Malaysia jauh lebih maju. Mereka membangun jalan-jalan mulus hingga perbatasan. Sementara Indonesia, jangankan jalan mulus, akses untuk mencapai perbatasan saja sulit.
Selama ini masyarakat yang kebetulan etnis Dayak untuk sekedar mencapai ibukota kecamatan atau sebaliknya hanya mengandalkan jalur transportasi sungai saja. Jalur darat belum ada. Ada pun jalan yang dibangun oleh PT Yamaker di sepanjang perbatasan tahun 80-an hingga awal 90-an sudah kembali seperti hutan lagi, karena tidak ada perawatan.
Seperti yang dialami masyarakat Desa Segumun, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, warga memasang bendera merah putih terbalik, putih di atas dan merah di bawah.
"Pada tahun-tahun lalu tidak sedikit masyarakat kami salah ketika memasang bendera," kata tokoh masyarakat Segumun, Suwito, dalam Temu Wicara Gerakan Merah Putih di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar, Pontianak, Senin.
Warga yang memasang bendera terbalik itu umumnya mereka yang berumur di atas 40 tahun, dan mereka yang lebih muda sudah lebih mengerti cara memasang bendera merah putih dengan benar.
"Tetapi kalangan generasi sekarang masih banyak yang belum pas atau banyak salah ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mereka lebih hafal menyanyikan lagu kebangsaan negara tetangga ketimbang lagu Indonesia Raya," ujar Suwito.
Menurut dia, kondisi tersebut akibat desa mereka sangat terpencil dan putus hubungan dengan kecamatan terdekat, yaitu Kecamatan Ketungau Hulu di Kabupaten Sintang, yang bisa ditempuh enam jam perjalanan melewati jalan tanah berlumpur.
"Kami dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari lebih banyak bergantung dari Malaysia. Selain karena mudah didapat, juga bisa ditemput satu jam perjalanan dengan jalan kaki," katanya.
Desa Segumun (Sanggau) berbatasan dengan Mongkos (Sarawak, Malaysia).
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Kalbar Syakirman mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan Keluarga Besar Putra Putri Polri memberikan ribuan bendera merah putih secara gratis kepada warga lima kabupaten yang berada di perbatasan, yaitu Kabupaten Sambas, Bengkayang, Sanggau, Sintang, dan Kapuas Hulu.
Ia mengatakan, lunturnya semangat nasionalisme di kalangan masyarakat tidak terlepas dari pengaruh globalisasi, sehingga masyarakat dengan mudah mengakses setiap informasi dari luar tanpa diimbangi informasi dari bangsa Indonesia.
"Sehingga masyarakat di perbatasan lebih kenal para pemimpin maupun tokoh pejuang di negara tetangga ketimbang Indonesia, karena di sana dengan mudah bisa nonton TV Malaysia. TV kita tidak dapat diterima di sana," katannya.
Syakirman mengatakan, untuk itu dalam rangka HUT ke-63 Kemerdekaan RI, pihaknya menyebarkan bendera merah putih sebanyak-banyaknya, dengan bentuk yang lebih besar dan dibuat dari bahan yang tidak mudah sobek.
Kepala Kepolisian Daerah Kalbar, Brigadir Jenderal Polisi Raden Nata Kesuma mengatakan, dibagikannya ribuan bendera Merah Putih kepada masyarakat perbatasan diharapkan bisa meningkatkan kembali semangat nasionalisme dan patriotisme.
"Sudah saatnya kita secara bersama-sama menumbuhkan semangat nasionalisme yang saat ini sudah mulai memudar," kata Nata Kesuma sebagaimana dikutip Borneo Tribune.□
Diposting oleh Tanto Yakobus di 3:41 PM 0 komentar
SBY Instruksikan Demokrat Pakai Suara Terbanyak

Oleh Tanto Yakobus
Ketua dewan pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menginstruksikan langsung kepada seluruh pengurus dan kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia dalam menghadapi pemilu 2009 mendatang, calon legislatif (Caleg) Partai Demokrat memakai suara terbanyak.
Merespon instruksi SBY tersebut, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat langsung merevisi petunjuk pelaksana (Juklak) nomor 02/Juklak/DPP.PD/VI/2008 dengan Juklak nomor 03/Juklak/DPP.PD/VIII/2008, tentang mekanisme penjaringan calon legislatif Partai Demokrat.
Sebetulnya Juklak No. 02 itu untuk menjawab keresahan Caleg menghadapi pemilu 2009 mendatang, dimana nomor urut masih jadi rebutan. Sehingga dalam juklak tersebut diatur selisih interval 10 persen suara sah BPP (bilangan pembagi pemilih) bagi caleg yang akan duduk di parlemen.
Namun aturan itu juga dianggap belum adil, padahal itu jalan tengah menyikapi UU Pemilu No. 10/2008 yang mengsyaratkan BPP 30 persen. Namun dengan multi partai sekarang, untuk mencapai BPP 30 persen itu mustahil.
Dukungan pemerintah (SBY) selaku presiden dan respon positif DPP Partai Demokrat dengan Juklak 03 tersebut, kontan disambut sukacita seluruh pengurus dan kader maupun simpatisan di seluruh Indonesia. Mereka lebih bergairah menghadapi pemilu mendatang, sebab nomor urut bukan lagi jaminan untuk duduk di parlemen, tapi suara individulah yang menentukan.
Juklak revisi itu tengah mengatakan, bahwa untuk memotivasi caleg untuk berkompetisi secarat ketat pada daerah pemilihan legislatif maka nomor urut tidak mutlak, tetapi menggunakan suara terbanyak murni untuk calon legislatif DPR-RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/ Kota Partai Demokrat seluruh Indonesia.
Juklak tertanggal 13 Agustus 2008 itu ditandatangani Ketua Umum, Hadi Utomo dan Sekjen, H Marzuki Alie, SE, MM. dan hari itu juga langsung disebarkan ke seluruh DPD dan DPC Partai Demokrat seluruh Indonesia.
Upaya pembenahan kedalam yang dilakukan Partai Demokrat itu sangat beralasan, sebab pada pemilu 2009 nanti, partai yang dibidani dan dipakai Presiden SBY sebagai kendaraan politiknya itu mentargetkan perolehan suara 20 persen. Maka wajar DPP menginginkan visi dan persepsi seluruh pengurus Partai Demokrat di berbagai tingkatan seluruh Indonesia perlu disamakan. “Dan Juklak 03 ini adalah dasar pijakan menyatukan persepsi tersebut,” ujar Nicodemus R Toun, Sekretaris DPD Partai Demokrat Provinsi Kalbar, Kamis (14/8) sore kemarin.
Sukacita
Kabar Demokrat menggunakan suara terbanyak dalam penentuan caleg terpilih sudah beredar dari di kalangan pengurus partai sejak Rabu (13/8) malam kemarin. Untuk memastikan kabar itu, beberapa fungsionaris partai berinisiatif menelpon person di DPP malam itu juga.
Belum puas dengan jawaban pengurus DPP via telepon, Kamis pagi beberapa caleg makin penasaran dan mereka berkumpul di sekretariat DPD Partai Demokrat Jalan Imam Bonjol Pontianak. Puluhan caleg yang kongko-kongko di sekretariat itu tak ada pembicaraan lain. Diskusi hanya terfokus pada kebijakan DPP yang menggunakan suara terbanyak murni.
“Kalau itu yang dipakai, beda satu suara pun dia yang duduk,” kata NCH Saiyan memecah ketegangan.
Orang makin ramai di sekretariat. Ada yang mengurus kelengkapan pencaleg-kan, ada pula yang sekedar ingin tahu soal kebijakan baru tersebut. Sebab beberapa jam sebelumnya, Presiden SBY sudah menegaskan Partai Demokrat memakai suara terbanyak. Dan itu tersiar luas lewat beberapa strasiun televisi.
Telepon di ruang Pak Margono, kepala sekretariatan, tak henti-hentinya berdering. “Itu telepon dari daerah, mereka menanyakan sudah ada belum fax revisi Juklak soal suara terbanyak itu,” jelas Margono mengontentari telepon yang berdering terus itu.
Pukul 15.30, Nico berinisiatif menelpon Iskandar, salah seorang Korwil Kalbar di DPP. Nico minta di-fac-kan revisi juklak dimaksud. Dari ujung telepon, Iskandar mengatakan oke.
Kami dan beberapa pengurus DPD termasuk para caleg mengerubut mesin facimile di ruang pak Margono. Rasa sesak dan panas tak peduli lagi, yang penting menyaksikan facimile masuk.
Pukul 16.03, mesin facimile berdering, perlahan kertas polos ukuran kwarto bergerak masuk ke dalam mesin dan keluar lagi dengan dengan tulisan di baliknya.
Semua mata tertuju ke facimile tersebut. Nicodemus yang duduk paling depan mengambil kertas itu. Ternyata fac pertama berisi instruksi soal pembagian logistik kampanye. Suasana yang agak tegang mencair setelah fac kambeli masuk.
Ternyata benar, facimile berjumlah empat halaman kertas kwarto itu adalah revisi juklak yang ditunggu-tunggu. Suasana tegang berubah menjadi keceriaan. Ada yang mengekpresikannya dengan tertawa terbahak-bahak dan ada juga yang langsung menelpon teman-temannya di kabupaten atau daerah.
Mengomentari kebijakan DPP tersebut, Nico mengatakan, ini mempermudah kerja pengurus di semua tingkatan. “Selama ini kita cukup stress dengan penempatan nomor urut. Sebab itu dari pemilu ke pemilu selalu jadi rebutan,” kata Nico.
Jadi kata Nico, sekarang caleg-caleg Partai Demokrat tidak lagi berebut ke atas atau berebut nomor urut caleg, tapi mereka harus berusaha ke bawah. Mereka harus dikenal masyarakat bila ingin terpilih.
“Nomor urut itu tinggal gengsi saja sekarang. Tapi kalau tidak terpilih malunya besar,” kata Nico dengan wajah berseri-seri.
Memang wajah Nico terlihat berubah seketika, beberapa saat sebelumnya bawaannya marah melulu. Dia orang yang paling tertekan dalam penyusunan nomor urut caleg, tapi dengan Partai Demokrat menggunakan suara terbanyak, maka beban Nico pun jadi ringan, para caleg tidak rebutan lagi dengan nomor urut. ”Yah, sekarang berusahalah memperkenalkan diri dengan masyarakat agar dipilih pada pemilu nanti. Disini figur sangat menentukan,” kata Nico lagi.□
Diposting oleh Tanto Yakobus di 9:37 AM 0 komentar
Monday, August 11, 2008
Interval 10 Persen

Oleh Tanto Yakobus
UNDANG-Undang pemilu nomor 10 tahun 2008 dirasa belum ideal. UU tersebut masih mensyaratkan 30 persen suara yang memenuhi BPP (bilangan pembagi pemilih) yang dapat duduk di parlemen.
Dengan multi partai seperti sekarang ini, rasanya mustahil calon legislatif (caleg) yang sanggup memenuhi target BPP 30 persen tersebut. Maka untuk menentukan siapa saja caleg terpilih dan duduk di parlemen, larinya ke nomor urut.
Maka menjelang penyerahkan berkas caleg dari partai ke KPU (komisi pemilihan umum) di masing-masing tingkatan, para caleg sibuk ngomongkan nomor urutnya.
Untuk menetapkan nomor urut ini tiap partai tidaklah sama. Semua punya mekanisme sendiri. Namun ada juga partai yang ”bijak” dalam menentukan nomor urut ini. Yakni melihat potensi caleg bersangkutan. Tapi ada pula partai yang penentuan nomor urut dengan cara diam-diam atau kucing-kucingan dengan calegnya.
Tapi yang ideal dalam penentuan caleg itu, ditentukan secara terbuka dengan menggelar rapat pleno atar caleg di sebuah partai bersangkutan. Ini penting untuk meraih suara sebanyak-banyaknya. Bila partai salah menempatakan orang, maka siap-siaplah tidak mendapat dukungan pemilih (masyarakat).
Dengan 34 partai peserta pemilu, partai harus pintar menempatkan figur mana yang punya nilai jual. Dan yang tidak kalah penting adalah figur yang mempunyai ikatan primordial dengan pemilihnya.
Sebab sekarang orang atau pemilih tidak lagi melihat partai, tapi orangnya. Masyarakat menilai semua partai itu bagus. Sebab tujuannya selain kekuasaan, jelas kesejahteraan masyarakat. Maka penting mendekatan figur dengan pemilihnya bila ingin memenangkan hati rakyat.
Pengalaman saya beberapa hari terakhir, ternyata menjadi caleg bukan lagi tujuan kebanyakan orang. Buktinya, ada beberapa partai kesulitan mendapatkan caleg. Mereka sudah telepon sana sini mengajak orang untuk bergabung menjadi caleg di partainya.
Tak tanggung-tanggung, nomor yang ditawarkan nomor 1. Tapi anehnya, tetap saja tak menarik. Itu terjadi baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota.
Alasan menolak jadi caleg memang beragam. Mulai dari kesulitan keuangan, takut dimanfaatkan partai hingga persoalan tak mampu mencapai BPP 30 persen seperti disyaratkan oleh UU 10/2008.
Ini belum lagi persoalan memenuhi kuota caleg perempuan 30 persen. Untuk menjaring caleg saja susah, apalagi caleg perempuan. Sungguh memusingkan pengurus partai peserta pemilu 2009.
Untuk memotivasi caleg agar mau berkompetisi secara ketat dah sehat di dapilnya masing-masing, maka DPP Partai Demokrat mengeluarkan petujuk pelaksana (juklak) nomor 01/Juklak/DPP.PD/VI/2008 tentang kriteria caleg Partai Demokrat.
Juklak ini untuk menyikapi UU 10/2008 soal caleg terpilih yang harus memenuhi ketentuan BPP 30. Maka bagi Partai Demokrat nomor urut tidak mutlak, setapi menggunakan suara terbanyak dengan interval selisih suara 10 persen atas nama langsung dari BPP yang sah.
Untuk memperkuat Juklak tersebut, DPP Partai Demokrat selanjutkan mengeluarkan Petunjuk Teknis (Juknis) nomor 02/Juknis/DPP.PD/VII/2008, tentang mekanisme penjaringan caleg. Hal-hal yang perlu diperhatikan jelas bahwa caleg harus memiliki hubungan emosional dan kultural dengan pemilihnya. Selanjutnya memiliki aksebilitas dan ketokohan. Jadi figur betul-betul mampu menjadi daya magnit bagi pemilihnya.
Interval 10 persen itu hitungannya jelas. Misalnya caleg terpilih untuk DPRD Provinsi dari Partai Demokrat di Dapil Kalbar 1 misalnya. Caleg ada 10 orang, BPP-nya 200.000 suara. Caleg urut 1. 70.000 (36 persen), 2. 20.000 (10 persen), 3. 20.000 (10 persen), 4. 62.000 (31 persen), 5. 8.000 (4 persen), 6. 12.000 (8 persen), 7. 40.000 (20 persen), 8. 40.000 (20 persen), 9. 64.000 (32), 10. 86.000 (43 persen). Total suara caleg Partai Demokrat 422.000.
Dalam perhitungan 422.000 dibagi 200.000, maka Partai Demokrat dapat 2 kursi di Dapil Kalbar 1. Sesuai UU 10/2008, karena tidak ada yang memenuhi 30persen maka No 1 yang mendapatkan kursi.
Namun demikian sesuai dengan Juklak No 02/Juklak/DPP.PD/VI/2008, maka caleg terpilih mewakili Partai Demokrat adalah nomor urut 1 dan 10.
”Juklak ini tidak main-main, ini ditandatangani langsung oleh Ketum Hadi Utomo dan Sekjen H Marzuki Alie, jadi kader partai tidak bisa membantah Juklak itu,” tegas Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Kalbar, H Henri Usman, beberapa waktu lalu.
Selain itu, tambah Henri, bagi caleg yang tidak terpilih, jelas ada kompensasi yang sudah disepakati sebelumnya antar caleg pada tiap-tiap Dapil. ”Jadi masih ada semangat persaingan dengan interval 10 persen tersebut,” kata Henri lagi.□
Diposting oleh Tanto Yakobus di 4:56 PM 0 komentar
Saturday, August 9, 2008
Mencari Blog Terbaik dan Favorit
Wah, asyik juga kalo ada lomba blog. Ini gawenya teman-teman di Telkom Speedy. Menyambut kebangkitan nasional yang ke-100 tahun, mereka coba kreatif dengan menggelar kompetisi blogger.
Cuma aku belum begitu jelas, maklum Mering yang hari-hari bergaul dengan mereka belakangan lebih sering keluar masuk kampung. Dia lebih enjoy di Tribune Institute.
Kalo dia ada, aku pasti dapat info lengkap tentang lomba blog ini. Maklum para dedengkot blog di Pontianak tak jauh dari Mering cs, termasuk bung Yaser yang baru saja melepas keperjakaannya. Selamat menempuh hidup baru ya bung Yaser. Moga enjoy deh tidurnya…., hiks…….hiks…….
Sebetulnya kompetisi blogger bukan barang baru. Sudah sering dilaksanakan di kota-kota besar, termasuk di kantorku sendiri, kami pernah buat lomba design blog atar pelajar.
Tapi tak ada salahnya juga sih kalo teman-teman di Telkom Speedy menggelar hal serupa. Ya hitung-hitung promo internet murah ala speedy juga, hahahahaa……….
Apalagi kompetisi blogger itu dalam rangka kebangkitan nasional yang ke 100. Nah, rekan netter n blogger yang perlu diperhatikan dalam kompetisi tersebut adalah hal-hal sebagai berikut (sesuai dengan postingan http://hernawan.web.id):
Peserta adalah pelajar SMP (atau sederajat), SMA (atau sederajat) dan kalangan umum.
Kategori yang dilombakan ada 2, yaitu Blog Terbaik (didapat dari hasil penjurian) dan satu lagi Blog Favorite (diperoleh dengan menggunakan Polling Web dan SMS Flexy ke nomor 7006).
Juri adalah Praktisi Blogging Kalimantan, Telkom dan Netter.
Kriteria penilaian oleh dewan juri adalah:
1. Kesesuaian dengan tema (20%)
2. Design (15%)
3. Aktifitas update (25%)
4. Konten tulisan (40%)
5. Tambahan nilai (10%) jika menulis blognya di blog2.plasa.com atau di myflexyland.com
Anda tertarik? Silakan klik di LINK ini. Pendaftaran ditutup pada tanggal 14 Agustus 2008. Bagi peserta lomba yang sudah mendaftarkan blognya dalam kompetisi ini, diwajibkan untuk memasang logo: Speedy Blogger Kompetition 2008.□
Diposting oleh Tanto Yakobus di 4:31 PM 3 komentar
Friday, August 8, 2008
Partai “Menjual Orang”

Oleh Tanto Yakobus
PEMILU legislatif kurang lebih delapan bulan lagi. Namun pemilu kali ini agak beda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Kali ini waktu kampanyenya terlama, yakni sembilan bulan. Yang sudah-sudah kampanyenya hanya berlangsung satu atau tiga bulan saja. Dan ini tentu sejarah baru dalam demokrasi di Indonesia.
Masa kampannye terlama ini jelas pemerintah punya tujuan tertentu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di hadapan kader Partai Demokrat di kediamannya Puri Cikeas, usai pelatihan kader Juni lalu, menjelaskan tujuan kampanye panjang pemilu tersebut adalah agar orang atau figur yang ditampilkan partai untuk maju sebagai calon legislatif benar-benar dikenal dan mengenal masyarakat pemilihnya. Kedekatan emosional antara pemilih dan calon legislatif (caleg) itu penting untuk mensinergiskan aspirasi dengan program pembangunan kedepan.
Jadi tidak ada lagi istilah “keren” dalam politik, dimana masyarakat memilih kucing dalam karung. Atau pameo lain, tak ada kawan abadi selain kepentingan. Artinya kesuksesan seseorang lebih karena faktor figur atau ketokohannya di masyarakat, bukan karena kedekatan dengan pimpinan partai atau ada kepentingan lain dengan pimpinan partai.
Dengan kampanye panjang seperti ini, masyarakat dan kandidat sendirilah yang menentukan sukses tidaknya si kandidat tersebut. Bila sang kandidat kredibel, maka masyarakat tidak ragu menaruh kepercayaan kepada dirinya dengan memilihnya secara langsung dalam pemilu mendatang. Bila tidak, maka dengan sendirinya ditinggalkan masyarakat. Sekarang masyarakat pemilih sudah pintar. Mereka sudah bisa menilai orang atau figur yang dapat dipercaya.
Janji-janji kampanye atau visi misi partai yang ditawarkan ke masyarakat itu sifatnya sangat normatif. Masyarakat sangat berpengalaman dengan janji dan visi misi partai tersebut. Ya, partai apapun bentuknya, jelas punya tujuan yang baik. Tapi itu hanya diucapkan saat kampanye saja, setelah terpilih dia akan melupakan janji-janji itu, apalagi menjalankan visi misi partai. Jauh panggang dari api!
Start kampanye sudah dimulai pada 8 Juli lalu dan berakhir menjelang pemilu 9 April 2009 mendatang. Namun bentuk kampanyenya bukanlah pengerahan massa atau rapat umum di lapangan terbuka, tapi cukup dengan tatap muka atau pertemuan dari rumah ke rumah.
Dan metode kampanye seperti itu sangat efektif untuk mendekatan calon dengan pemilihnya. Selain pemilih atau kontituen memahami figur yang akan di pilihnya, juga ada saling kepercayaan di antara mereka. Muaranya, figur yang dipercaya kelak betul-betul orang yang aspiratif dan memahami konstituennya.
Jadi sekarang partai betul-betul “menjual orang”. Beda dengan dulu yang mengandalkan nama besar partai, nama besar pimpinan partai secara nasional. Tapi sekarang bila hendak memenangkan hati rakyat, partai harus betul-betul menempatkan orang yang kredibel, punya ikatan emosional dengan pemilihnya dan punya daerah basis.
Bila itu diabaikan, maka sebesar apa pun partai itu pasti tidak akan mendapat dukungan masyarakat.
Di era keterbukaan sekarang ini, kejujuran adalah harga mati. Masyarakat tidak mudah lagi dibohongi. Sekarang masyarakat sudah pintar. Pintar menilai, pintar mengukur kemampuan, dan pintar pula memilih.
Pilkada yang sudah berlangsung beberapa kali di Kalbar, cukup memberikan pemahaman dan pembelajaran politik kepada masyarakat. Buktinya, masyarakat bisa memilih calon atau tokoh yang diinginkannya untuk menjadi kepala daerah sesuai hati nuraninya.
Kembali ke penjelasan SBY tadi, kedepan pemerintah ingin wakil-wakil rakyat yang akan duduk, mulai dari DPD, DPR dan DPRD baik provinsi maupun kabupaten/ kota, betul-betul pilihan rakyat. Bukan lagi orang-orang titipan, orang dekat dan lain sebagainya.
Disamping itu, perlu ada keterwakilan dari kelompok-kelompok tertentu. Karenanya, figur atau calon perlu punya basis massa. Karenanya, SBY minta kader partainya membina masyarakat, memberi contoh berpolitik yang baik kepada masyarakat dan tidak menebar janji-janji palsu.
Hal senada dikatakan Bupati Sekadau, Simon Petrus. Dalam pengarahannya kepada sejumlah kader Partai Demokrat Sekadau usai dirinya dilantik akhir bulan lalu, Simon menegaskan menghadapi pemilu mendatang bukan perkara gampang. Butuh pengorbanan, baik waktu, tenaga maupun dana. Tapi itu semua bisa diatasi apabila setiap kader partai mau bersatu padu memenangkan partai.
Tentu untuk memenangkan partai tidak cukup hanya bersatu, figur yang ditampilkan juga menentukan. Sebab dalam pemilu kita menjual orang, beda dengan dagang yang menjual barang. Apalagi dengan kampanye panjang sekarang ini. Bila figur tidak berkualitas, maka masyarakat cepat menilainya. Namun bila figur berkualitas, maka masyarakat akan ingat sampai ke bilik suara. Sebab ia sudah punya nilai plus. Itulah beda partai dengan berdagang. Partai menjual orang, berdagang menjual barang dengan bagaimana triknya agar barangnya laku.
UU No 10/2008 tentang pemilu jelas calon yang duduk harus memenangi 30 persen suara dari daerah pemilihannya. Dengan 34 partai sekarang ini, rasanya tak ada caleg yang sanggup memenuhi kuota itu. Demikian juga dengan partai politik peserta pemilu, bila ingin memenangkan pemilu, tak ada jalan lain selain menjual orang-orang yang kredibel, orang-orang bersih dari praktik KKN.
Dan bagi partai, sebetulnya agak sulit mencari orang yang kredibel tersebut, sebab sudah pasti dia tidak mendapat tempat di partai. Partai jelas mengutamakan pengurus maupun simpatisannya, setelah itu baru melirik figur dari masyarakat umum. Namun tak dipungkiri juga di partai masih ada figur-figur kredibel tersebut.
Daerah basis. Kemenangan Cornelis dalam pilkada gubenur lalu, sejatinya bukanlan kemenangan PDIP, tapi lebih pada kerinduan masyarakat Dayak untuk ”merebut” kursi KB-1. Dan itu tergambar di daerah basis Dayak, terutama di tujuh kabupaten yakni, Sanggau, Sekadau, Landak, Bengkayang, Sintang, Melawi dan Kapuas Hulu. Lalu basis lainnya, Tionghoa di Singkawang.
Suka atau tidak suka, dalam pemilu apa pun, kita masih sulit melepaskan ikatan primodial, yakni etnisitas. Pun demikian dalam pemilu mendatang, faktor tersebut masih dominan.
Bila ingin memenangkan hati rakyat, partai harus menempatkan caleg sesuai daerah basis tersebut. Terutama soal nomor urut. Ingat ada 34 partai yang ”bertarung” meraih suara rakyat. Jadi nomor urut caleg sangat berpengaruh di daerah basis tersebut.
Betapa pun hebatnya seorang tokoh, bila ditaroh pada nomor sepatu atau urut bawah, hasilnya sudah bisa ditebak. Dalam pemilihan langsung seperti sekarang ini, calon tersebut pasti dilewatkan. Sebab masih ada figur lain yang nomor urutnya lebih bagus, dan itu yang menjadi pilihan masyarakat, bukan partainya.
Singkat kata, dalam pemilu, masyarakat tidak lagi fanatik denan partai politik tertentu, tapi ia lebih fanatik terhadap orang atau figur tertentu. Maka dalam pemilu kali ini, pimpinan partai mau tidak mau jangan lagi menjual logo partainya, tapi bagaimana menjual orang yang kredibel dan punya basis massa demi memenangkan partainya.□
Diposting oleh Tanto Yakobus di 5:14 PM 1 komentar
Sunday, August 3, 2008
Pasar Rakyat di Gunung Sehak
Kesan Angker Gunung Sehak Hilang
Oleh Tanto Yakobus
Entah sudah berapa kali saya melintasi kawasan angker Gunung Sehak. Yang jelas sejak zaman penjajah hingga tahun 2006 lalu, Sehak satu-satunya jalan darat menuju kawasan selatan ke pedalaman Kalbar atau sebaliknya.
Jalur alternatif untuk menuju kawasan perhuluan adalah melalui Sungai Kapuas. Namun seiring dengan kemajuan zaman, transportasi darat pun meningkat dengan yang dulunya hanya ada satu jalur menuju pedalaman atau pun sebaliknya dari pedalaman mencapai ibukota provinsi Pontianak, kini sudah ada Jalan Trans Kalimantan yang membelah hutan belantara di selatan Gunung Sehak menghubungkan Kecamatan Tayan dengan Kecamatan Sungai Ambawang tembus Kota Pontianak.
Itu jalur alternatif yang sangat singkat mencapai Kota Pontianak. Dulu, jarak tempuh dari Kabupaten Sanggau bisa makan waktu hampir 5 jam menyusuri jalan sepanjang 260 kilometer. Kini dengan terbangunnya jalur Tayan-Ambawang, jarak tempuh jadi berkurang 90 hingga 100 kilometer lebih.
Maka tak heran, banyak pihak memperkirakan bila Jalan Trans Kalimantan yang tembus ke Kalteng itu mulus, maka jalan lama yang melintasi Kabupaten Landak itu akan sepi. Nadi ekonomi pun diramal mati. Sebab orang lebih memilih jarak tempuh yang singkat.
Kembali ke cerita Gunung Sehak. Sejak kecil saya sudah mendengar keangkeran Gunung Sehak. Cerita orang-orang tua, sepulang dari Pontianak, Gunung Sehak selalu jadi bumbu ceritanya. Mulai dari cerita mabuk akibat bus yang ditumpangi terombang-ambing mengikuti tikungan yang meliuk-liuk hingga cerita keangkerannya.
Konon, sopir bus maupun truk termasuk mobil pribadi sekalipun melintasi Gunung Sehak selalu konvoi. Bila kebetulan duluan tiba di sekitar Sehak, mereka akan istirahat sejenak sembari menunggu kendaraan lainnya. Setelah ada teman baru mereka masuk baik ke arah Pontianak maupun sebaliknya.
Bila terpaksa sendirian, maka sopir atau penumpang selalu berbekal rokok. Dan rokok itu mereka sulut ketika memasuki Sehak. Mereka pun tak lupa permisi baik langsung maupun mengucap dalam hati untuk melintasi Sehak. Kalau tidak permisi, akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Misalnya, ban kendaraan tiba-tiba kempes. Mesin mati mendadak. Atau apesnya lagi kecelakaan.
Sejak tahun 1990-an hingga awal tahun 2000, saya termasuk sering melintasi kawasan Gunung Sehak tersebut. Kebetulan saya menggunakan sepeda motor, ketika hendak memasuki kawasan itu, saya selalu teringat mitos dan cerita-cerita sebelumnya. Maka saya pun terpaksa membeli rokok, padahal saya bukanlah perokok.
Demi mitos itu, saya terpaksa menghisap rokok dan permisi dengan ”penguasa alam” Gunung Sehak. Kalimatnya sederhana saja, ”permisi saya mau lewat, tolong jangan ganggu saya”.
Dan saya pikir semua orang yang melintasi kawasan itu mengucapkan hal yang sama. Lalu ada juga cerita teman maupun para sopir, bila tidak menyulutkan rokok, saat melintas tiba-tiba saja tercium harum bunga tumbuh-tumbuhan atau bau busuk yang menyengat hidung. Atau kadang-kadang mendengar suara percakapan yang tak jelas.
Pun demikian ketika saya mengikuti bus umum, sopir atau kernetnya selalu melakukan hal-hal yang menjadi mitos itu. Kalau tidak menyulutkan rokok saat melintas, mereka bergumam permisi ke ”penunggu” di situ. Saya pikir mitos itu sudah menjadi rahasia umum para sopir maupun mereka yang bisa bolak-balik ke Pontianak.
Cerita-cerita angker Gunung Sehak tidak berhenti disitu, sudah berapa kali terjadi kecelakaan mobil masuk jurang. Memang kalo mobil masuk jurang lebih disebabkan faktor manusianya. Mungkin saja ia kelelahan atau ngantuk. Atau memang perangkat vital kendaraannya yang error.
Tapi bila terjadi kecelakaan, orang selalu mengkaitkannya dengan ”penunggu” di situ. Orang selalu bilang ”penunggu” murka dan mita tebusan atau sesajen. Dan berbagai macam lagi cerita yang membumbui kecelakaan itu.
Belum lagi cerita orang melihat hantu atau bayangan tanpa kepala dan sejenisnya. Atau perempuan tanpa muka duduk di badan jalan dan sebagainya. Cerita dari mulut ke mulut itu menambah seram Gunung Sehak.
Pasar Rakyat
Gunung Sehak angker! Itu cerita dulu. Sekarang wajah Gunung Sehak jauh berubah. Bila Anda dari arah pedalaman menuju Pontianak, sebelum memasuki tikungan zik zak pertama, Anda sudah menemukan deretan warung-warung rakyat. Bangunannya ada yang permanen dan ada pula yang terbuat dari anak kayu dan atap daun sagu atau terpal, ya sejenis pedagang kaki lima (PKL) di kota-kota besarlah.
Lalu di sebelah atas jalan ada sebuah surau. Sekarang surau itu padat sekali pengunjungnya. Tentu para pengunjungnya adalah mereka yang ingin melakukan salat. Bila kebetulan jam salat belum menunjukkan waktunya, biasanya orang-orang ngumpul dan menikmati kopi panas atau teh dingin. Lalu ada pula yang menikmati pemandangan alam dengan foto-foto bersama keluarga atau sobat. Lalu ada juga yang sekedar membasuh muka dengan air gunung yang jernih. Air itu juga dimanfaatkan sebagai air wudu bagi mereka yang hendak salat.
Banyaknya orang yang rehat dan ada penduduk lokal yang berjualan sayur-sayuran kampung, menjadikan kawasan itu tak ubahnya seperti pasar rakyat.
Beraneka ragam barang dijual. Umumnya yang mereka jual hasil hutan. Mulai dari rebung, pakis, daun ubi, lalu ada jenis umbi-umbinya seperti keribang, ubi rambat dan lain-lain.
Ada juga hasil ladang musiman, seperti sawi, bayam, cangkok manis dan lain-lain. Dan yang paling ramai ketika musim buah tiba. Berbagai buah ada di pasarkan di kawasan “angker” itu. Yang paling laris tentulah buah durian. Namun ada juga buah musim lainnya, seperti tamanang, cempedak, buah asam kalimantan, rambutan dan berbagai macam buah khas Borneo di pasarkan di situ.
Kalau sudah demikian, maka hilanglah kesan angker dan seram di kawasan itu. Siang malam orang selalu ramai. Bahkan suatu ketika saya pernah melintasi Sehak tengah malam, eh ternyata masih ada orang menikmati kopi panas sambil menunggu buah durian dagangannya.
Lalu bekas longsoran setinggi kurang lebih 30 meter, oleh anak-anak muda dijadikan tempat rekreasi atau tempat pacaran. Konon dulu pada zaman penjajahan banyak orang yang mati akibat kerja rodi atau kerja paksa membelah Gunung Sehak membangun jalan yang ada hingga sekarang ini. Belum lagi cerita Gunung Sehak salahsatu benteng pertahanan Jepang melawan Belanda. Maka di situ juga ada gua atau lubang Jepang yang penggaliannya secara paksa menggunakan tenaga penduduk lokal.
Bila ada yang mati secara tak wajar, maka arwah orang tersebut akan gentayangan—usil dengan orang yang melintas. Agar tidak usil, orang yang melintas harus menghisap rokok dan permisi dengan mereka. Tapi sekarang kayaknya mitos itu sudah dipatahkan.
Orang berjulan tidak hanya dari arah pedalaman menuju Pontianak, tapi juga dari arah Pontianak ke pedalaman atau ke Malaysia. Orang yang berangkat dari Pontianak atau Singkawang selalu menjadikan daerah Sehak untuk rehat. Selain sekedar membasuh muka, juga orang menghilangkan kantuk dengan secangkir kopi.
Di kaki gunung Sehak dari arah Pontianak menuju pedalaman, orang yang berjualan lebih ramai lagi. Ada beberapa bangunan sudah permanenn namun tak sedikit pula pondok-pondok sederhana. Mereka tidak hanya menjual hasil hutan, tapi juga ada yang berdagang sembako, rokok dan bahan bakar minyak (BBM).
Hasil hutan juga tetap ada, seperti durian, rebung, dan berbagai jenis binantang yang bisa untuk lauk, seperti burung, tupai dan beberbagai jenis ikan sungai juga ada, termasuk tengkuyung sungai.
Tenkuyung atau siput sungai ini adalah teman akrabnya rebung. Biasanya di kampung orang senang masak rebung campur tengkuyung. Rasanya, jelas makyos. Itu masakah tradisional Dayak maupun Melayu di pedalaman.
Bila dicampur dengan tengkuyung yang masih bercangkang, rebung yang biasanya pahit berubah menjadi manis rasanya, ditambah lagi wangian khas daun melinjo hutan.
Tengkuyung adalah sejenis siput yang banyak ditemukan di sungai-sungai di pulau Borneo ini. Hampir setiap sungai ada tengkuyungnya. Tengkuyung sungai ada dua jenis, yakni berbentuk kelonsong atau pajang dan ada yang pendek seperti keong emas.
Lazimnya, bila sayurnya rebung pasti tengkuyung lauknya. Selain sebagai campuran rebung, daging tengkuyung bisa diolah menjadi beberapa macam masakan. Termasuk bisa digoreng atau disambal.
Tengkuyung atau rebung hampir dipajang di setiap pondok-pondok kecil pinggir jalan itu. Harganya pun murah. 3 kilogram hanya dijual dengan Rp5000 saja. Para pemiliknya dengan setia menunggu penumpang yang mampir membeli. Untuk mengusir jenuh, mereka membersihkan pekaranan sekitar. Ada pula yang menanam pekarangan itu dengan sayur-sayuran dan ada juga menanamnya dengan bunga dan buah-buahan.
Nah, kesan angker Gunung Sehak berubah menjadi pasar rakyat. Yang dulunya sepi sekarang menjadi hinggar-binggar oleh keramainya baik mereka yang rehat maupun penduduk sekitar yang berjualan. Itu juga menambah penghasilan bagi masyarakat dan tentu saja peluang usaha dan pariwisata bagi pemerintah Kabupaten Landak. Sebab banyak hal yang bisa dijual di situ, mulai dari hasil hutan hingga hasil kerajinan masyarakat lokal. Derap langkah perekonomian masyarakat hidup di Gunung Sehak.□
Diposting oleh Tanto Yakobus di 1:03 PM 0 komentar
Friday, August 1, 2008
Simon Minta Kader Berpolitik Santun

Oleh Tanto Yakobus
Bupati Sekadau, Simon Petrus, S.Sos., M.Si yang terpilih dalam Muscab Partai Demokrat Kabupaten Sekadau, 13 Maret lalu, resmi dilantik sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Sekadau periode 2008-2013, Kamis (31/7) siang kemarin.
Acara yang dihelat di Resto Tenda Biru Jalan Sekadau-Sintang itu berlangsung khidmat dan dipadati ratusan kader dan simpatisan dari tujuh kecamatan se-Kabupaten Sekadau. Selain Muspida dan undangan juga hadir pengurus DPD Partai Demokrat Kalimantan Barat.
Drs. Meningan, ketua panitia pelaksana, dalam sambutannya, mengungkapkan, pelantikan kali ini sangat istimewa bagi partai demokrat, karena bertepatan dengan tanggal 31. Angka 31 mempunyai makna tersendiri bagi demokrat, sebab dalam undian yang dilakukan KPU pusat, partai demokrat pada pemilu 2009 mendatang, mendapat nomor undian 31. Selain itu, angka 31 juga bila dibalik, itu merupakan tanggal pelaksanaan Muscab DPC Partai Demokrat Sekadau, pada 13 maret lalu.
Lebih lanjut Meningan yang juga menjabat sebagai ketua bidang OKK DPC PD Kabupaten Sekadau ini, menegaskan nomor undian partai 31 mempunyai arti tersendiri bagi partai demokrat, yakni tiga perjuangan untuk mencapai satu tujuan. Pertama adalah, pengurus dan kader partai harus mensukseskan dan memenangkan pemilu legislatif pada 2009 mendatang. Kedua, kader dan simpatisan harus mensukseskan program pembangunan di Sekadau yang dalam hal ini bupati selaku ketua partai demokrat.
”Dan yang terakhir, kita sebagai kader harus mensukseskan dan mendudukan kembali Pak Simon Petrus untuk menjadi Bupati Sekadau kembali,” teriak Meningan yang langsung disambut riuh massa yang memadati resto yang serba biru itu dengan siaaap.
Jadi tegas Meningan, yang bicaranya berapi-api meminta kader dan simpatisan harus memenangkan tiga hal tersebut demi kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sekadau.
Di akhir sambutannya, Meningan membakar semangat kader partai dengan yel-yel partai yang sudah disepakati secara nasional dan ditambah dengan yel lokal sekadau. Dengan semangat Meningan menerikan kader dengan kata;
Apa kabar demokrat...?
Dahsyat! Siap menang!
Demokrat!
Jaya!
Demokrat!
Jaya!
Demokrat!
Jaya!
SBY!
Yes!
Semon Petrus!
Ok!
Sekretaris DPD Partai Demokrat Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Nicodemus R. Toun, MM yang mewakili Ketua DPD, Henri Usman, melantik pengurus DPC Partai Demokrat Kabupaten Sekadau, mengatakan, ada empat agenda besar yang harus disukseskan oleh kader demokrat Kabupaten Sekadau. Pertama, kader demokrat harus mensosialisasikan program pemerintah dalam hal ini program Presiden SBY—selaku ketua dewan pembina partai demokrat.
Setiap kader harus tahu apa itu program pemerintah. Misalnya sekarang ada program Jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat). Dulu namanya Askeskin (asuransi kesehatan keluarga miskin). Setiap kader harus paham dan bisa membantu masyarakat bagaimana cara mendapatkan Jamkesmas tersebut.
”Jangan kita sebagai kader justru tak tahu program tersebut. Itu tugas kita untuk membantu masyarakat. Ingat kita ini partai pemerintah,” tegas Nico yang juga anggota DPRD Sintang itu.
Selain Jamkesmas lanjut Nico, juga ada program KUR (kredit usaha rakyat) yang disalurkan lewat bank Mandiri. ”Di Kalimantan ini ada sekitar 800 juta dana KUR yang bisa dipakai masyarakat,” kata Nico.
Kader partai harus membantu masyarakat bagaimana cara mendapatkan KUR tersebut. Misalnya untuk para pedatang kue keliling, atau usaha produktif lainnya. ”Dana itu sudah dijamin pemerintah,” tegas Nico.
Kemudian agenda kedua, kita harus memenangkan pemilu legislatif minimal 15 persen. Bila kita mampu mencapai target minimal 15 persen, maka dalam mengusung calon presiden mendatang, kita tidak perlu lagi berkoalisi dengan partai lain. Tidak seperti sekarang, SBY justru dikerjai oleh menterinya yang berasal dari berbagai partai tersebut. Masyarakat tidak mengerti itu, masyarakat hanya tahu kebijakan yang tidak populis itu datang dari presiden, padahal itu kerjaan menterinya. Agenda ketiga, kita harus memenangkan dan mendudukan kembali Pak SBY sebagai presiden dalam Pilpres mendatang. ”Dan terakhir saya minta kader demokrat di Sekadau ini harus bisa meraih satu fraksi di DPRD, agar kita enak mengusung kembali Pak Simon menjadi bupati Sekadau kedepan,” katanya.
Politik Santun
Perasaan bahagia terpancar dari wajah Simon Petrus. Jalannya upacara pelantikan mengalir dan enak diikuti. Mars Partai Demokrat yang dinyanyikan menambah semarak suasana. Bait demi bait lagu ciptaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu mengelorakan semangat.
Terlebih semangat menancapkan panji-panji partai demokrat hingga ke pelosok kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Sanggau itu.
Kesempatan itu Simon mengatakan, setelah resmi menjadi ketua partai atau berpolitik praktis, dirinya ibarat pisau bermata dua. Pertama, sebagai ketua partai tidak ada pilihan selain mensukseskan dan memenangkan partai demokrat pada pemilu mendatang.
Untuk menang itu tidak mudah, perlu pengorbanan waktu, dana, pemikiran dan tenaga. Tapi sebagai makhluk Tuhan, ia punya keyakinan ada kekuatan lain yang bisa membantu usahanya. Dan yang tidak kalah pentingnya, dalam perjuangan adalah kekompakan dan kerjasama semua pihak. ”Saya selalu berprinsip, tidak ada sesuai yang tidak bisa dikerjakan asalkan kita mau bersatu padu,” ujarnya disambut riuh tipuk tangan hadirin.
Kemudian mata pisau yang lain, lanjut Simon, dirinya selalu bupati harus bisa menjadi pembina semua partai politik yang ada di Kabupaten Sekadau. Dirinya harus mengayomi dan bertindak adil terhadap semua partai yang ada. Ini pekerjaan yang tidak gampang. Sebab untuk bertindak adil itu tidak mudah. ”Rasanya kita sudah adil dengan semua pihak, tapi masih ada yang menilai lain dan itu sesungguhnya resiko pemimpin,” tegas Simon.
Sadar posisinya tersebut, Simon minta semua kader dan simpatisan partai demokrat untuk berpolitik secara santun. Berpolitik yang santun adalah bagaimana kita bisa membawa diri di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat akan melihat kita bukan dari apa yang kita bicarakan, tapi apa yang telah kita perbuat untuk masyarakat.
Kader demokrat jangan sampai menyakiti hati masyarakat, jangan membuat janji-janji yang kemudian tidak ditepati. ”Orang yang senang mengumbar janji atau menjual obat itu sama saja dengan politisi busuk,” katanya.
Menjelang pemilu ini, Simon minta kader untuk lebih dekat dengan masyarakat. Sebab dirinya yakin masyarakat sudah pandai menilai figur-figur mana yang bisa dan layak dipercaya untuk membawa aspirasi masyarakat.
”Bila figur itu sudah dikenal dengan baik di masyarakat, saya yakin partai yang mengusungnya menjadi calon legislatif akan mendapat dukungan masyarakat,” kata Simon didampingi istri tercinta, Scolastika.□
Diposting oleh Tanto Yakobus di 6:36 PM 0 komentar


