BERPEGANGLAH PADA DIDIKAN, JANGANLAH MELEPASKANNYA, PELIHARALAH DIA, KARENA DIALAH HIDUPMU...Amsal 4:13

Thursday, May 1, 2008

Sekberkesda Siap Gelar Pekan Gawai Dayak



SEKRETARIAT bersama kesenian Dayak (Sekberkesda) Provinsi Kalimantan Barat siap menggelar kembali pekan gawai Dayak (PGD) yang ke-23. Bukti kesiapan tersebut, pengurus Sekberkesda, DAD Provinsi dan panitia pelaksana melakukan audensi dengan Gubernur Kalbar, Drs. Cornelis, MH, Rabu (30/4) sekitar pukul 13. 00 WIB, dua hari lalu.

Audensi tersebut selain melaporkan kesiapan pelaksanaan PGD pada tanggal 20 Mei 2008 mendatang, panitia juga meminta saran dari gubernur terkait pelaksanaan gawai yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya itu.
Dalam pengarahannya, Cornelis minta tujuan gawai diperjelas, jangan tonjolkan hura-huranya, tapi gawai bisa mengambil nilai-nilai yang positif yang bisa diwariskan ke anak cucu dan masyarakat luas. “Saya ingin setiap suku bangsa yang ada di Republik ini yang punya budaya harus dilestarikan, termasuk kebudayaan Dayak itu,” tegas Cornelis di hadapan panitia yang diterimanya di ruang pertemuan gubernur.
Nilai budaya Dayak yang positif tersebut bukan hanya untuk dilestarikan, tapi bisa juga dijual ke masyarakat Indonesia maupun manca negara. “Sebab budaya yang demikian memang layak dijual untuk mendatangkan devisa lewat kunjungan para turis baik lokal maupun manca negara,” kata Cornelis.
Terkait dengan bantuan, Cornelis minta panitia tidak terlalu mengharapkan bantuan pemerintah, sebab sekarang pemerintah sangat ketat dalam hal pengeluarkan yang menyangkut keuangan, sebab setiap uang yang keluar harus dipertanggungjawabkan dan diaudit oleh akuntan publik, karena menyangkut uang negara. “Uang yang diaudit nilainya hanya Rp 100 juta, sementara biaya akuntan publik Rp 150 juta, mana sanggup,” ujar Cornelis seraya mengatakan, pemerintah tetap memberi bantuan.
Selain itu, Cornelis juga minta DAD agar membimbing panitia agar pelaksanaan gawai ini sesuai harapan bersama. “Bila gawai ini dikelola dengan baik, maka akan menjadi daya tarik tersendiri bagi Kalbar,” kata Cornelis.
Seperti pekan gawai Dayak yang dilaksanakan di Kuching, Malaysia, mereka sudah lebih maju dari kita. Selain masyarakatnya mandiri, pemerintah juga memberikan fasilitas seperti memberi hari libur dan jaminan keamanan selama kegiatan.
Kedepan Cornelis minta agar pekasanaan PGD ini masuk dalam kalender pariwisata Kalbar dan dianggarkan dalam APBD. Silakanlah DAD maupun MABM dan MABT mengemas kegiatannya masing-masing sebelum pembahasan APBD, Dayak dengan Pekan Gawai Dayaknya, Melayu dengan Festival Budaya Melayunya dan MABT dengan Cap Go Mehnya. “Terhadap kegiatan tiga budaya ini kita akomodir di Dinas Pariwisata dan menjadi kalender tahunan pariwisata Kalbar,” kata Kadis Pariwisata Provinsi Kalbar, Rihat Natsir Silalahi.
Sementara itu ketua panitia pelaksana, Drs. Paulus Lukas Denggol mengatakan, kepanitiaan sejak terbentuk Maret lalu sudah berkerja hingga hari ini. “Kegiatan kita sudah siap 60 persen,” jelas Paulus seraya menjelaskan PGD ini adalah yang ke 23. Sebetulnya ini yang ke 34, tapi satu tahun tidak diadakan, karena alasan keamanan, terkait kerusuhan antar etnis di Kalbar waktu itu.
Sekretaris Jendral Sekberkesda provinsi Kalbar, Tarsisius Ifan Sabandap, SH menjelaskan, lembaga yang dipimpinnya adalah lembaga otonom. Jadi bukan bagian dari DAD, tapi ia mempunyai hubungan kerja. Dan yang perlu digarisbawahi, yang melaksanakan gawai Dayak selama ini adalah Sekberkesda, bukan DAD. “DAD sifatnya fasilitator saja,” jelasnya.
Ifan yang baru saja terpilih sebagai Sekjan Sekberkesda mengatakan, saat ini ada 38 sanggar yang bernaung dibawah Sekberkesda. Menurutnya, pihaknya sudah minta kepada sanggar yang ada untuk berpartisipasi di PGD ini. Acaranya sudah jelas, selain display budaya, ada beragam perlombaan olahraga tradisional maupun pemilihan bujang dan dara gawai 2008. “Kita siap menggelar gawai yang bermartabat,” kata Ifan mantap.□By Tanto Yakobus, Foto AA Mering/Borneo Tribune

Baca Selengkapnya..

Sunday, April 20, 2008

Rubber Factories In West Kalimantan on Brink of Collapse

Antara/Borneo Tribune, Pontianak


RUBBER processing plants in West Kalimantan are now on the brink of collapse because of difficculties in meeting purchase contracts signed three months ago as the result of limited raw materials from the farmers. "Now competion, mostly unfair, has become widespread in obtaining the raw materials," chairman of the West Kalimantan Indonesian Rubber Producers Association (Gapkindo) Leo Abam said in Pontianak on Monday.

West Kalimantan has now 15 rubber processing factories with a capacity of 400,000 tons, but the province`s rubber production reached not more than 180 thousand tons, leaving a significant shortage.

He said that this condition was among others caused by increase in the number of rubber processing plants, while rubber production has yet to be raised.

Another reason was the fact that rainfall in the province in the last couple of months had been quite high, so that rubber production had dropped to 20 percent.

"The rubber raw materials smuggled to Malaysia through the various border posts, although incidentally, also contributed to the lack of supply in West Kalimantan," Leo Abam said.

He added that the inadequate initial processing by the farmers also caused an increase in cost the factories have to burden for improving the quality of the rubber basic materials from 60 percent to a 100 percent dried rubber.

"The extra cost reached Rp2,700 per kilogram," Leo Abam said. However the factories are still able to cover the extra cost as the price of the 100 percent dried rubber reached Rp23 thousand per kilogram.

In this context, he asked the regional administration not to encourage the establishment of more rubber processing factories. "It would be better to expand the existing rubber crops, because the prospect in the next five years will be promising," Leo Abam said.

The expansion includes financial support to the rubber growers because they are still facing lack of capital. One hectares of rubber trees needs Rp 3 million for the purchase of seedlings to care before harvest about three to four years after planting.

Baca Selengkapnya..

Sawit Mendominasi Izin Perkebunan di Kalbar


Antara/Borneo Tribune, Pontianak

DINAS Perkebunan Kalimantan Barat mengharapkan pemerintah kabupaten/kota tidak berlebihan memberikan izin untuk perkebunan kelapa sawit karena menimbulkan ketidakseimbangan komoditi unggulan.

"Jangan hanya terkonsentrasi untuk kelapa sawit. Harusnya ada keseimbangan dengan tanaman lain yang juga memiliki potensi seperti karet," kata Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Idwar Hanis di Pontianak, Sabtu.
Ia mengakui, kelapa sawit saat ini menjadi tanaman primadona. Namun, lanjutnya, jangan sampai tren untuk sawit menutup peluang investasi tanaman perkebunan lainnya. Menurut Idwar, karet termasuk potensi tanaman unggulan di Kalbar. "Masyarakat terutama di pedalaman telah terbiasa dalam mengelola karet," katanya.
Selain itu, karet melibatkan tenaga kerja dalam jumlah besar. Jumlah areal tanaman karet di Kalbar sekitar 466.445 hektare dengan jumlah petani 243.745 kepala keluarga. Sementara sawit berkisar 80 ribu kepala keluarga. Skala kepemilikan lahan untuk perkebunan karet oleh petani antara 1 - 2 hektare.
"Petani sebenarnya memiliki peluang untuk menambah areal usahanya. Ini harus diantisipasi pemerintah kabupaten/kota kalau ada investasi skala besar di karet," kata Idwar.
Hingga akhir 2007, pemerintah kabupaten/kota di Kalbar telah menerbitkan info lahan seluas 4,6 juta hektare lahan untuk perkebunan sawit. Angka ini naik cukup tinggi dibanding awal 2007 Setelah mendapat info lahan, pemohon harus mengurus izin lokasi, mempersiapkan analisa mengenai dampak lingkungan apakah layak atau tidak sebelum memperoleh izin usaha perkebunan. Meski info lahan yang diterbitkan amat luas, namun realisasi penanaman sawit di Kalbar sekitar 10 persen atau 400 ribu hektare.
"Info lahan seluas 4,6 juta hektare itu masih dalam koridor aman untuk target 1,5 juta hektare sawit di Kalbar," katanya. Ia menambahkan, terkait pemberian izin perkebunan sawit, Pemprov Kalbar mengingatkan kabupaten/kota untuk tidak mengarahkan ke lahan-lahan baru. "Gunakan lahan-lahan yang sudah pernah diberikan sebelumnya namun tidak dimanfaatkan," kata Idwar. FOTO by Mering

Baca Selengkapnya..

Kalbar Tolak Program Bantuan Langsung Tunai

Antara/Borneo Tribune, Pontianak


KALIMANTAN Barat meminta Pemerintah Pusat tidak lagi menggulirkan program bantuan langsung tunai (BLT) tahun 2009 untuk penduduk miskin di luar Pulau Jawa guna mencapai target penurunan kemiskinan 8,2 persen.
"Kalau bisa, jangan lagi BLT disalurkan karena menimbulkan banyak persoalan," kata Gubernur Kalbar, Cornelis saat membuka Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang ) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RPKD) Provinsi Kalbar di Pontianak, Kamis.

Berdasarkan pengalaman penyaluran BLT tahun-tahun sebelumnya, banyak berujung kepada aksi demonstrasi warga ke bupati, walikota hingga Kantor Pos setempat. Selain itu, penyalurannya banyak yang tidak tepat sasaran.

"Banyak yang mengambil BLT itu punya telepon selular dan sepeda motor yang bagus. Mereka ini pula yang paling garang berdemonstrasi kalau tidak mendapat jatah BLT," katanya.

Menurut Cornelis, lebih baik bantuan untuk penduduk miskin diberikan dalam bentuk "pancing", bukan "ikan". "Jangan beri uang kontan, setuju?" kata Cornelis setengah bertanya di hadapan bupati/walikota se-Kalbar dan ratusan pejabat yang memenuhi Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar. Pertanyaan itu langsung dijawab "setuju" oleh semua yang hadir.

Ia menambahkan, kalau pun tetap dilaksanakan, harus dilakukan pendataan ulang penduduk miskin dengan melibatkan kepala desa, lurah di daerah masing-masing, dan menggandeng petugas Badan Pusat Statistik (BPS).

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalbar, Ida Kartini menyatakan, bantuan untuk masyarakat akan lebih tepat kalau diberikan dalam bentuk usaha produktif.

"Setiap penerima harus kreatif sehingga produk yang dihasilkan dapat diterima pasar," kata Ida Kartini. Dampak ikutan yang dirasakan akan semakin besar kalau masyarakat yang terlibat juga semakin banyak.

Meneg PPN/Kepala Bappenas, Paskah Suzetta, usai pengarahan Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat (Rakorbangpus) di Jakarta, Rabu (9/4), mengungkapkan bantuan tunai langsung (BLT/cash transfer) mungkin akan diluncurkan kembali pada 2009 di luar Pulau Jawa, jika pemerintah ingin mencapai target penurunan kemiskinan 8,2 persen.

"Kenapa dilakukan BLT? Ini harus dipahami terutama pada daerah yang angka kemiskinannya tinggi tapi penduduknya sedikit. Ini di luar Jawa," kata Paskah.

Menurutnya, jumlah penduduk miskin di pulau Jawa terlalu besar sehingga mereka akan diarahkan dengan bantuan langsung yang dikaitkan dengan penciptaan lapangan kerja yaitu "transfer cash for work" (bantuan tunai untuk kerja).

Baca Selengkapnya..

West Kalimantan Police Arrest Illegal Logging Suspect In Ketapang

Antara/Borneo Tribune, Ketapang


WEST Kalimantan Police arrested an illegal logging suspect identified as `Am` on Saturday (April5 ).
"`Am` was arrested while driving with a colleague from Jungkat heading for Pontianak at 10.30 pm Western Indonesian Time (WIB) on Saturday," West Kalimantan Police Chief Brig Gen Zainal Abidin Ishak said at a press conference here on Monday.

Police would continue to hunt two other suspects, identified as `As` and `Au`, for their alleged involvement in illegal logging activity in West Kalimantan province, he said. `
Am` was believed to be the person in the illegal logging syndicate tasked with bribing local authorities such as police, military, marine security and forestry service officers.
Six Ketapang District police officers suspected of having colluded with the illegal loggers were currently also under investigation.
West Kalimantan Police have so far named 26 people as suspects in illegal logging cases, consisting of 14 boat crew members, six officers of the Ketapang transportation service, eight illegal log owners (two of them still at large), and one mediator between illegal logging financiers and loggers.
The police had earlier seized around 12,000 cubic meters of illegal logs worth about Rp208 billion which were about to be smuggled to Malaysia from Muara Sungai Pawan, Ketapang District, West Kalimantan.

Baca Selengkapnya..

Friday, April 11, 2008

FRIENDSHIP WEEK



APAKAH Anda tahu hubungan antara 2 biji mata Anda? Mereka berkedip bersama, bergerak bersama, menangis bersama, melihat bersama dan tidur bersama meskipun mereka tidak pernah melihat antara satu sama lain... sebuah hubungan seharusnya seperti itu... hidup bagai neraka tanpa kawan... hari ini adalah hari "MINGGU KAWAN SEDUNIA"...

siapa kawan Anda? kirim message ini tuk semua kawan Anda termasuk saya jika saya salah seorang kawan Anda... lihat berapa banyak Anda dapat balik dari mereka... jika Anda mendapat lebih daripada 3, itu berarti Anda adalah seorang kawan yang penyayang...SELAMAT HARI KAWAN SEDUNIA (FRIENDSHIP WEEK)!!

Baca Selengkapnya..

Sunday, April 6, 2008

Kejahatan Kemanusiaan


Oleh Tanto Yakobus


ADA yang menarik dalam diskusi dengan ekonom dari Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri, yang berlangsung di kantor Redaksi Borneo Tribune, Sabtu (5/4) akhir pekan kemarin.

Dalam diskusi mengenai ekonomi global Indonesia itu, yang menarik bagi saya bukannya ulasan Faisal soal ekonomi makro Indonesia yang masih tidak menentu, tapi soal kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pemerintah pusat (Jakarta) terhadap kekayaan daerah di seluruh Indonesia.
Menurut Faisal, Indonesia ini memang negara yang tidak adil. Segala kekayaan yang berupa sumber daya alam mulai dari kayu hingga isi perut bumi yang berupa bahan tambang dan minyak bumi, semua dikerok untuk membangun Jawa.
“Semua kekayaan atau potensi itu diangkut untuk menumpuk pembangunan di Jawa (Jakarta) dan hasilnya pun orang di Jawa yang menikmatinya. Karena memang disana manusianya menumpuk,” ulas Faisal.
Dalam kasus seperti ini, pemerintah sudah melakukan dua kali kejahatan kemanusiaan, sudahlah kekayaan daerah dikerok dan diangkut ke Jakarta, yang menikmatinya juga orang-orang yang ada di sana. Sementara daerah hanya kebagian 10 persen dari bentuk pengembalian pajak.
Itulah yang menyebabkan ketimpangan pembangunan pusat dan daerah. “Kan Kasihan daerah yang memiliki banyak sumber daya alam, sementara dia miskin dalam pembangunan, termasuk manusianya juga miskin—ibarat tikus mati kelaparan di lumbung padi, itulah kira-kira,” kata mantan Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) di era Amien Rais itu.
Kejahatan lainnya, kata Faisal, selain pemerintah yang melakukan pengerokan kekayaaan daerah termasuk punggutan berupa pajak yang harus disetor ke Jakarta, juga para pengusaha. Puluhan bahkan ratusan perusahaan besar yang beroperasi di daerah, mereka melakukan eksploitasi sumber daya alam apakah bentuk HPH, tambang, perkebunan mulai dari skala kecil hingga besar. Mereka semua berkantor pusat di Jakarta.
Kondisi seperti ini secara otomatis mereka juga turut mengangkut kekayaan daerah dan menumpuknya di Jakarta pula. Maka tak heranlah, infrastruktur di daerah sulitnya bukan main, jembatan hanya bisa dihitung sebelas jari. Sedangkan di Jakarta jembatan layang silang menyilang.
“Mereka berkerja di daerah, tapi membayar pajak di Jakarta. Celakanya mereka pula yang menikmati subsidi bahan bakar minyak oleh pemerintah itu. Coba berapa banyak pimpinan atau karyawan perusahaan yang menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. Lalu bandingkan dengan mayarakat, berapa yang menggunakan kendaraan tadi? Lalu siapa sebenarnya yang menikmati subsidi itu,” kata Faisal lagi.
Diskusi yang berlangsung selama tiga jam itu mengalir tanpa batas. Walau Faisal seorang ekonom, tapi dia tidak alergi mendiskusikan persoalan politik. Menurutnya, dari berbagai survei yang dilakukan berbagai lembaga independen, untuk pemilu presiden 2009, belum ada tokoh yang sanggup menandingi popularitas SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Megawati, Jusuf Kalla masih jauh di bawah.
Jawaban masyarakat atas survei tersebut, dalam bidang politik dan demokrasi, masyarakat yang merasakan sudah berjalan dengan baik. Demikian juga dengan masalah keamanan, masyarakat merasa Indonesia sudah jauh lebih baik dan aman hidup di Indonesia.
Pun demikian soal penengakan hukum dan pemberantasan korupsi, semua sudah berjalan walau belum sepenuhnya dilakukan. SBY tidak ada masalah dengan keamanan, demokrasi dan pemberantasan korupsi. Cuma yang menjadi kelemahan SBY hanyalah masalah ekonomi. “Bila SBY ingin terpilih lagi, tidak ada jalan lain, dia harus membenahi masalah ekonomi ini,” tegas Faisal.
Faisal Basri juga melihat fenomena lain yang dihadapi Indonesia saat ini. Sebetulnya yang merasakan kesulitan ekonomi sekarang ini adalah masyarakat di perkotaan terutama di daerah Jakarta dan Jawa Barat. Sebab di sana terjadi penumpukkan manusia dan disana pulalah terjadi penumpukan kemiskinan.
Dengan harga barang yang naik, daya beli masyarakat jadi rendah. Sebetulnya itu tidak terjadi di daerah terutama di daerah pedalaman yang memiliki mata pencaharian seperti petani karet, kakao, lada dan sebagainya.
Ambil contoh karet saja kata Faisal, di Medan saya bertemu dengan petani karet, harganya mencapai Rp10 ribu perkilogramnya, sedangkan beras kualitas terbaik harganya masih dibawah harga karet tersebut, berkisar antara Rp7-8 ribu perkilogramnya.
Apalagi harga kakao, lada dan komoditas lainnya. Fenomena ini menunjukkan yang merasakan kesulitan ekonomi hanya mereka yang tinggal di perkotaan yang tidak punya pekerjaan alias pengangguran. Sedangkan bagi petani, kondisi sekarang ini justru menguntungkan mereka, ulas Faisal.□

Baca Selengkapnya..

Thursday, April 3, 2008

Tenun Ikat Dayak Sudah Langka


KITA mengenal begitu banyak ragam tenun di Indonesia, namun ada kain tenun yang sudah mulai langka di temukan di nusantara ini. Adalah kain tenun ikat dari Suku Dayak di Kalimantan (Borneo), kain tenun ikat tersebut, termasuk tenun yang paling indah
di dunia. Saking indahnya, kain tenun ikat Dayak banyak digemari masyarakat manca negara. Namun sayang belum ada yang mengelola pasar potensial tersebut, akibatnya, kini beradaannya semakin langka.

Di Kalimantan Barat (West Borneo) saja misalnya, kain tenun ikat Dayak hanya ditemukan di Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu lagi. Padahal dulunya kain tenun ikat Dayak ini hampir dikenal masyarakat di seluruh Kalbar.
Untuk mengobati rasa penasaran, Anda boleh berkunjung ke arena Nusantara Expo 2008 yang dipusatkan di Pontianak Convention Centre (PCC). Pameran yang berlangsung dari tanggal 2 hingga 6 April 2008 tersebut menampilkan berbagai hasil kerajinan dari usaha kecil menangah (UKM) di Nusantara ini.
Endang SSN, dari PT Prima Cipta Mandiri, selalu EO pameran mengatakan pameran nasional produksi dalam negeri dan gelar produksi UKM Provinsi Kalbar ini bukan saja berkeinginan untuk memperluas pasar bagi produksi unggulan daerah, tapi juga ingin menunjukkan kepada masyarakat luas, ternyata banyak hasil produk kita yang mulai langka, termasuk kain tenun ikat Dayak. Dan itu perlu dilestarikan, katanya.
Pada masa lalu, usai berladang, kala santai, menenun menjadi salah satu kegiatan yang dapat membunuh rasa bosan serta menghasilkan uang. Sehingga, banyak kaum wanita Dayak yang melakukannya. Mereka juga belajar secara autodidak.
Sama dengan alat tenun pada umumnya. Suku Dayak menggunakan gedok sebagai sarana mereka untuk menenun. Satu bulan merupakan waktu yang biasanya mereka butuhkan untuk menyelesaikan selembar kain tenun. Namun, jika dilakukan secara insentif, cukup hanya dua minggu.
Seperti kain tenun lainnya, tenun ikat Dayak butuh waktu pengerjaan yang cukup lama. Mulai pemintalan benang pewarnaan, memasukkannya satu per satu ke alat yang dinamakan gedo, sampai dengan pencipta motif.
Namun, proses panjang tesebut membuahkan hasil yang memuaskan pula. Tenun ikat suku Dayak mampu menembus pasar Eropa. Harga yang terbilang cukup murah, sekitar Rp.750.000 semakin memanjakan penggemarnya. Tapi sangat disayangkan, keberadaannya kini kian langka. Agar tetap ada, tugas wanita muda Dayaklah untuk mempertahankan tenun ikat Dayak tersebut agar tetap ada.□

Baca Selengkapnya..

Thursday, March 27, 2008

Juliette Bertandang ke Kantorku


MENGENAKAN kaos oblong, dan celana pendek, Joe, Andi dan Ale, tiga dari empat personil ’Juliette’ bertandang ke kantorku, harian Borneo Tribune di Jalan Purnama Dalam No. 02 Pontianak Selatan. Band pelantun tembang ’bukan aku takut’ yang kini berada di puncak popularitasnya itu tengah melakukan show ke Kota Khatulistiwa, Pontianak.

“Sebelum manggung di Pontianak, kami tampil di Gorontalo dan Manado, Sulawesi Utara. Dari sini kami lanjut ke Palembang dan Kupang,” ujar Joe, sang vokalis Juliette memulai perbincangan bersama kru redaksi yang mewawancarainya.
“Alhamdullah job Juliette sekarang ini sedang lagi banyak-banyaknya,” sambung Andi sang gitaris, Kamis (27/3) kemarin siang.
Joe menceritakan kehadiran Juliette di kota ini, untuk manggung di GOR Pangsuma Pontianak, Sabtu (29/3) lusa pukul 19.00 hingga selesai.
Juliette berjanji akan menggetarkan kota seribu parit ini dengan hits koleksi mereka. Seperti, Masih Seperti Dulu, Lagi Terluka, Teman Apa Teman dan Bukannya Aku Takut serta beragam tembang hits lainnya.
”Juliette akan menghebohkan Pontianak dengan sembilan tembangnya. Jadi nyesel kalau sampai gak nonton,” ujarnya lagi.
Tak hanya manggung saja, sambung sang vokalis, Juliette juga berencana mengunjungi studio-studio radio yang tersebar di seantero Kota Pontianak untuk menjalin persahabatan seraya melakukan promo terkait tembang-tembang mereka. ”Tak kalah penting, kami juga sudah tak sabar untuk mencicipi duren Pontianak,” paparnya seraya tertawa lebar.
Joe mengaku Juliette memang baru kali pertama show di Pontianak. Namun kalau berkunjung ke Pontianak sudah pernah dilakoninya bersama Andi. Saat diajak Andi main ke tanah kelahirannya di Kota Singkawang beberapa waktu lalu.
”Panas Pontianak sama dengan panas Jakarta. Tapi panas di Jakarta lebih dikarenakan polusi dan di Pontianak karena panas garis Khatulistiwa,” papar Joe lagi.
”Kita menggunakan nama Juliette karena nama itu sudah ada sejak dulu dan sudah tidak asing lagi di telinga banyak orang. Mudah-mudahan nama Juliette mudah diingat banyak orang dan para pengagum kami,” tutur Andi yang pulang ke kampung sendiri itu.
Musisi asal Kalbar ini mengaku bahwa nama Juliette itu tidak mempunyai arti yang khusus. Namun dia senantiasa berharap, nama Juliette itu harum dan pula selalu dekat di hati para penggemar di seantero Indonesia dan dunia. ”Amin,” ucap mereka serentak.
Andi pun menguraikan secara singkat kronologis lahirnya Juliette pada pertengahan Oktober 2005 lalu di Jakarta. Yang mana Juliette lahir dengan empat orang personilnya, Joe (vokal), Andi (gitar), Ale (gitar) dan Jerry (bass). Sedangkan pada drum dan keyboard, sejauh ini Juliette masih menggunakan additional.
”Karena mencari pemain drum dan keyboard itu gampang-gampang susah. Jadi kami memutuskan untuk sementara ini masih menggunakan additional. Dan juga kami berempat telah merasa cocok,” imbuhnya lagi.□


Baca Selengkapnya..

Tuesday, March 25, 2008

Heboh Bunga Wijayakusuma


PUKUL 20.00 WIB, Senin (24/3) tadi malam, hand phone ku berdering dengan rington khusus. Karena rington khsusu, tentunya itu panggilan dari istriku, Indri Handayani. Setelah ku angkat, istriku mengabarkan, bunga wijayakusuma di halaman rumah kami sedang mekar.

“Pah, gimana cara pakai kameranya, mama mau foto bunga wijayakusuma yang sedang mekar,” tanyanya kebingungan menggunakan kamera digital yang kebetulan malam itu ketinggalan di rumah.
Dari kantor aku mengarahkan bagaimana cara mengoperasikan kamera digital dimaksud. Mulai dari on, fokus hingga cara men-jepretnya. Namun karena dasar gaptek (gagap teknologi) istriku tetap tak bisa mengoperasikan kamera tersebut.
Lagi-lagi dia mengontak HP ku, bahwa dia tak bisa menggunakan kamera digital. Dari seberang aku katakan, “gak usah dipaksakan nanti justru rusak, tunggu aja deh papa pulang fotokan,” kataku singkat.
Pukul 23.00 pekerjaan rutinku editing berita atau naskah wartawan rampung. Setelah over ke bagian pracetak untuk layout, aku pun pulang.
Tiba di rumah pukul 23.30, aku lihat bunga wijayakusuma dalam pot di halaman rumah kami sedang mekar dengan indahnya. Sepertinya dia mengeluarkan seluruh kelopaknya untuk disaksikan sang malam.
Barang kali bunga ini malu, maka dia hanya mekar di malam hari. Bila siang bunganya akan kuncup kembali dan mungkin layu seterusnya gugur.
Momen cantik mekarnya bunga wijayakusuma sungguh menggemparkan tetangga kiri kanan rumah ku di Jalan Danau Sentaraum, Kompleks Sentarum Sejahtera 3 Blog I No. 24-26.
Aku pun malam itu mengambil gambar bunga yang sedang mekar itu dengan kamera digitalku. Berbagai posisi aku jepret. Hasilnya, seperti yang aku pajangkan dalam blogku ini.
Kegemparan warga terhadap bunga yang konon dekat dengan lingkungan kerajaan itu berlanjut hingga pagi harinya. Kebetulan bukan hanya bunga wijayakusuma yang ditanam istriku saja yang memekarkan kembangnya, tapi tetangga depan rumahku yang juga mengkoleksi bunga wijaya kusuma, juga memekarkan kembangnya sebanyak empat buah. Sedangkan di pot milik istriku hanya mekar dua buah.
Para ibu-ibu yang kebetulan mengantarkan anaknya sekolah, pada ngerumpi membicarakan mekar bunga wijayakusuma di halaman rumahku maupun teras depan tetanggaku itu.
Sang pemiliknya, Ny Ibrahim mengatakan, sebetulnya bunga wijaya kusuma ini ada dua jenis, tapi yang miliknya hanya warna putih sama dengan punya istriku. “Jenis lainnya warna merah, itu yang langka,” ujarnya kepada ibu-ibu yang mengerumuni bunga wijayakusuma yang bikin heboh itu.
Saking senangnya, istriku menjadikan mekar bunga wijayakusuma tersebut sebagai properties komputer anaku di rumah kami. Itulah cerita heboh mekar bunga wijayakusuma tadi malam. Ternyata bukan sekadar mitos, tapi nyata adanya.□

Baca Selengkapnya..